
"Jangan menyalahkan Tuhan untuk setiap kesulitan yang kamu hadapi namun, selalu berserah padanya untuk setiap hal yang kamu alami dalam hidupmu."
"Tuhan tidak pernah menghukum hambanya melebihi batas kemampuan Dia begitu menyayangi umatnya terkadang manusia salah menafsirkannya dalam kehidupan."
usapan air mata pada wajah yang sangat pucat di sana.
Afikah kembali mengingat perkataan masa lalu ibunda panti asuhan yang pernah menampungnya, ketika Dia duduk dengan senyum melihat mentari pagi baru terbit dari ufuk timur.
Tatapan kosong pada mentari pagi dengan kekosongan hidup di mata Afikah Tubuhnya yang lemas karen belum makan apa-apa dari semalam namun, itu tidak membuat Gadis muda ini mengeluh Gadis itu hanya diam tanpa mengatakan sepatah kata pun Dia hanya merenungkan takdir yang sedang di alami.
Afikah menyandarkan kepala ke tembok memory kekerasan hidup kembali terputar dalam pikiran Afikah di mana sejak kecil Dia sudah diejek dan dihina habis-habisan oleh teman-teman panti padanya.
Tergenang air mata di kedua bola mata Afikah yang secara pelan mengalir dari pinggiran mata, di tengah-tengah kesedihan tiba-tiba,
BYURRRRR....
Satu siraman air dari ember mendarat di sekujur tubuh Afikah, yang membuat Ia kaget dan langsung bangkit berdiri menghadap ke arah air itu datang di sana Ia melihat seorang pria berdiri dengan melotot bunuh pada Afikah.
"Tidak bisakah anda menghargai seorang pelayan? Aku tahu bahwa..."
"BERANI SEKALI KAMU BERKATA SEPERTI ITU PADAKU!" kata Adrian emosi.
Dia menatap tajam Afikah saat ia mencela ucapan gadis itu, dengan emosi Adrian langsung menjambak kasar rambut Afikah lalu menyeret gadis itu dengan kasar keluar dari gudang.
"Jika dari kalian ada yang mencoba ikut campur masalah wanita hina ini maka jangan harap keluarga kalian selamat!" ancam Adrian.
Pada semua pelayan dan pengawal yang saat itu menyaksikan betapa kejamnya Adrian menyiksa Afikah setiap hari.
"Lakukan pekerjaan kalian! Jangan menjadi seorang detektif di rumah ini!" perintah Adrian.
Dengan tegas dan bernada tinggi pada semua pekerja di rumahnya yang membuat semua kembali melakukan tugas mereka.
"Mengapa tuan muda terus menyiksa istrinya? Pada hal nona muda sangat baik padanya," papar salah satu pekerja.
"Sungguh malang nasib gadis itu," imbuh yang lain.
Adrian menyeret tubuh tubuh Afikah ke kolam renang. Lalu Ia membaluti kepala Afikah dengan penutup sebuah kain hitam yang menutupi seluruh kepala Afikah tidak ada perlawanan dari gadis itu Dia sama sekali tidak meminta ampun atau menangis.
__ADS_1
Ia hanya diam seribu kata ketika Adrian mulai menggikat kedua tangan dan kakinya dengan tali.
"Kelihatanya kamu sangat bahagia jika aku menghukum!" ucap Adrian.
Ketika melihat tidak ada perlawanan sama sekali dari Afikah.
"Berkata pun itu tidak akan membebaskan aku dari penyiksaan inì," jawab Afikah nada dingin.
"Masih berani kamu menjawab perkataanku!" seru Adrian.
Yang langsung mengapit kencang kedua pipi Afikah dengan tangan yang berotot pada kain yang menutup di sana.
"Sekarang rasakan akibat dari perbuatanmu sendiri! Bukan aku yang menyiksamu namun, kelakuan hina dari tubuh sampahmu itu yang membuatmu seperti ini!" teriak Adrian.
Langsung dengan kasar menghempaskan tubuh Afikah hingga jatuh mengenai bibir keramik kolam yang membuat kain penutup di kepala Afikah dimana itu dahi Gadis malang ini mengeluarkan darah bercucuran jatuh membasahi wajah Afikah yang masih terbungkus oleh kain hitam tipis itu.
Afikah hanya diam menahan sakit dan sesak di dadanya yang semakin menjadi.
"Jika tubuhku hina untuk apa kamu nikmati malam itu? Jika tubuhku hina untuk apa kamu menodai diri aku dan merusak masa depanku!" jerit Afikah.
Dengan keras dibawah sana ketika penutup kain di kepalanya terlepas dari kepala Afikah saat itu yang tidak kuasa menahan tangis masih tertahan dan sesak di dada.
"Diam!!!"
"HENTIKAN!!!" teriak Afikah.
Dia tidak terima akan ucapan Adrian yang sama sekali tidak benar.
"Beraninya kamu meneriaki aku!" seru Adrian mengeraskan rahang.
Langsung menceburkan tubuh Afikah dengan kasar ke dalam kolam dengan tangan dan kaki yang sudah terikat di mana kepala Afikah masih bersimbah darah di dahi.
Darah yang ada di dahi Afikah kembali berbalut dengan air mengenai kulit luka di dahinya yang membuat Gadis malang ini kesakitan.
Dia menahan semua luka itu dengan nafas yang sesak dan tubuh yang semakin lemah karena dari semalam belum ada sesuap nasi yang masuk ke dalam perutnya hingga Afikah yang masih berusaha menahan lapar namun ia terlanjur meminum banyak air kolam hingga tubuhnya tidak sanggup menahannya dan Afikah pingsan di dalam sana.
"Biarkan dia di sana jangan ada yang mencoba menyelamatkan dia! Jika salah satu dari kalian ada yang mencoba menyelamatkan dia maka tahu sendiri akibatnya! Sampai aku bilang angkat dia barulah kalian angkat dia, apa kalian paham!?" ucap Adrian.
__ADS_1
Pada semua pelayan rumah dan memberi tugas untuk beberapa pengawal menjaga Afikah yang ada di pinggiran kolam.
Namun, jauh dari pikiran Adrian tidak tahu bahwa Afikah sudah tidak sadarkan diri lagi di dalam sana.
Setelah berpesan Adrian pun kembali melangkah pergi meninggalkan Afikah dan yang lainya.
"Mengapa tuan muda sangat kasar dengan nona muda? Apa salah gadis itu padanya?" kata pelayan yang satu.
"Aku tidak tahu namun, sikap tuan muda pada nona Afikah dan nona Jenny sangat bertolak belaka," lanjut yang satu lagi.
Obrolan mereka berakhir ketika salah satu pengawal datang dan memerintah mereka untuk kembali melakukan pekerjaan mereka semua seperti biasa.
"Jangan bergosip. Jika tidak ingin lidah kalian dicabut dengan tang," tegas bodyguard Adrian.
Pada kedua pelayan yang tadi bergosip.
"Ampun tuan kami tidak akan bergosip lagi," meminta seribu maaf.
"Lanjutkan tugas kalian! Jangan ikut campur urusan tuan muda!" jawab bodyguard itu dan berlalu pergi.
Hari mulai petang Afikah akhirnya sadarkan diri namun, Gadis itu sangat terkejut ketika dirinya melihat bahwa Dia ada di sekeliling orang-orang yang semua serba hitam dengan memegang pistol di tangan mereka masing-masing dan memasang wajah seram di sana.
Afikah melihat ruangan yang ia tempati dan sekelilingnya dan ternyata ia masih ada di gudang yang sama.
Dengan perut kosong dan menahan lapar Afikah ingin meminum air putih akibat kebanyakan minum air jadi ia kehabisan nafas tadi.
Namun, siapa yang menyempatkan Afikah itulah pertanyaannya.
"Berikan makanan ini padanya! Biarkan dia makan makanan basi ini!" perintah Adrian.
Dengan tatapan tajam saat muncul dari pintu dengan membawa kedua botol bir bintang lima di tangannya dan melangkah menghampiri Afikah lalu ia melempar piring makan ke lantai tepat di hadapan Gadis itu.
"Apa maksudmu?" tanya Afikah bingung.
"Diam!!!"
Plak...
__ADS_1
Tamparan keras lagi-lagi dan lagi dari tangan kekar Adrian ada wajah Afikah dengan nada emosi membara.
Bersambung.