Mahkota Untuk Ayah.

Mahkota Untuk Ayah.
Part 54 ( Mahkota Untuk Ayah)


__ADS_3

"Aku pamit sebentar ke belakang tuan muda," ucap Afikah.


Meminta ijin pada Roni untuk pergi sebentar.


Roni yang mendengar ucapan Afikah menatap bingung Gadis itu karena Dia tidak mendengar apa yang diucapkan oleh Afikah padanya, lalu dengan sedikit tubuh Dia didekatkan untuk berbisik dengan Afikah.


Gadis itu seperti mengerti akan maksud Roni karena memang musik yang sangat besar jadi wajar saja suara kecilnya tidak akan didengar oleh yang duduk di samping itu.


"Aku mau pergi sebentar ke belakang tuan muda!" ucap Afikah lagi.


Masih dengan perkataan yang sama ketika Dia membisik mulutnya mendekat kuping Roni.


"Baiklah. Apa kamu mau aku temani?" jawab Roni menawarkan.


"Tidak perlu tuan muda, aku hanya pergi sebentar nanti juga balik lagi," jawab Afikah menolak.


Setelah menjawab ucapan Roni Afikah melangkah pergi dari kerumunan para tamu sedangkan Roni hanya memandang gadis pujaan hatinya itu dari jauh hingga tubuh Dia benar-benar hilang dari tatapan Roni.


Akhirnya Roni kembali fokus pada momen dansa romantis Adrian dan Jenny yang masih berlanjut walau banyak pikiran di kepala Pria ini akan kepergian tiba-tiba Afikah.


oeww...


Wee...


Suara muntah Afikah di kamar mandi.


Gadis itu menatap diri di cermin setelah membasuh mulutnya, Afikah menarik nafas dalam-dalam entah kenapa Ia ingin sekali makan Stroberi.


Kini Afikah berdiri diam di balkon fila rumah Jenny  Dia menarik nafas melihat langit malam dengan sesak mendalam di dadanya, menutup mata untuk masuk dalam mimpi buruk  baginya itu namun, entah mengapa ia ingin tinggal di mimpi itu dengan tenang.


Aku ingin diam di sini aku tahu Dia hanyalah angin yang bisa dirasakan namun, sulit untuk aku miliki. Begitu menyakitkan mengingat kenangan buruk ini namun, mengapa hatiku terluka melihat Dia dengan orang lain?


Rambut panjang Afikah terurai sedikit terbang di sana akan hembusan angin malam itu, matanya terpejam meresapi setiap momen yang begitu menyakitkan dalam mimpi buruk bersama Adrian selama ini.


Bulu mata lebat nan lentik tampak melengkung  secara alami,  dipadukan dengan hidung mancung dan bibir mungilnya yang kecil tampak sempurna untuk Afikah.


Make up wajah yang tipis namun, tidak menghilangkan kecantikan mulus wajah ketika sinar rembulan menerpa kulit mulusnya di malam itu.


Afikah menarik nafas dalam-dalam dengan hembusan angin nan dingin menyentuh seluruh tubuh Dia membuat ia merasa kedinginan dan bulu kuduknya berdiri semu karena dingin.


"Jangan berdiam sendiri sayang aku masih disini untuk menemanimu," ucap suara berat seorang pria.


  Tiba-tiba langsung memeluk Afikah dari belakang membuat Gadis ini kaget dan langsung membuka mata melotot.


"Siapa kamu? Lepaskan!? Anda salah orang tuan," ucap Afikah.


Mulai memaksa tangan kekar yang kini melingkar di bagian perut sangat erat untuk segera dilepaskan dari sana.


"Sebentar saja beby aku tahu apa yang kamu butuhkan," ucap suara berat pria itu dengan pelan dan seksi dikuping Afikah.


Hal itu membuat bulu gunduk Afikah berdiri merasa geli di kulitnya dan tidak nyaman akan sikap pria yang suara berat seperti seorang pria  sudah berumur.


"Jika anda tidak lepaskan aku maka, aku akan berteriak meminta tolong!" ancamnya.


Dengan nada tegas penuh tekanan sambil tangannya tidak henti berusaha melepaskan tangan itu dari sana.


Mendengar ancaman Afikah bukannya takut pria berumur itu mengukir senyuman miring dari dua sudut bibir sambil menatap tajam ke leher jenjang Afikah.


"Berani sekali Gadis lemah sepertimu mengancam aku!" Suara ancaman yang menakutkan terdengar di telinga Afikah.

__ADS_1


Saat berucap dengan nada halus namun, menakutkan , Dia pun  segera melepaskan kedua tanganya yang melingkar di perut Afikah tadi.


Gadis malang ini lega akan hal itu meremas jari-jemarinya dengan kuat Dia berpikir bahwa suara itu adalah Roni tapi, Afikah salah bukan Roni melainkan Antonio paman Adrian.


"Berani sekali tuan muda Roni memeluk aku seper. Seperti  ini," ucap Afikah.


Dia yang awalnya tegas kini hilang dengan nada  pelan karena kaget akan sosok yang berdiri di hadapanya itu dengan tatapan penuh gairah pada Afikah.


"Paman!"


Kaget Dia akan sosok Antonio yang tiba-tiba berdiri di hadapanya itu dan bersikap kurang ajar pada Afikah.


"Mengapa kamu sangat kaget? Hei aku manusia bukan monster," kata Antonio.


Masih dengan nada halus mengoda dan ingin menyentuh tangan Afikah namun, segera ditepis kasar oleh Afikah.


"Maaf. Maaf, kan aku tadinya aku pikir..." ucapan Afikah terhenti ketika Antonio memotong ucapan Dia.


"Adrian! Hei ayolah Dia sendiri tidak melihatmu ponakan aku malah memilih melihat wanita lain, jadi kamu jadilah milik aku maka aku menjadi milikmu." Tersenyum manis pada Afikah.


Setelah berucap Antonio langsung  mmenarik kasar pingang ramping Afikah mendekat pada tubuhnya hingga tubuh gadis itu menempel di bidan dada Antonio dengan penuh nafsu kedua tangan melingkar di pinggang Afikah, dan mendekatkan bibirnya yang berkumis untuk segera melahap bibir ranum istri dari ponakannya itu yang selama ini terbayang di pikiran Antonio terus menerus hingga membuat dirinya hampir gila akan hal itu.


Tfuii...


Afikah membuang air liur pada wajah Antonio dengan emosi yang membuat Antonio menutup matanya ketika ludah  Afikah menempel dikulit wajahnya. 


Pria berumur itu  menongkak kuat gigi-giginya di dalam sana lalu ia membuka kedua bola mata dengan menatap tajam Ia langsung mencekram kuat di dagu Afikah lalu dengan kasar mendorong tubuh Gadis malang ini ke tembok tiang balkon rumah.


"Berani sekali anda menodai wajah saya dengan ludah kotormu itu!" lirih Antonio dengan nada menakutkan dan melotot membunuh pada Afikah.


Dengan emosi dan nafsu Dia mencoba menyelesuri kulit leher jenjang Afikah  yang mulus, bibir kumis tebalnya itu. Namun, Gadis itu masih memiliki sisa tenaga yang di kumpulkan menginjak sepatu Antonio hingga menusuk di jari-jari kaki Antonio membuat pria itu kesakitan segera mengangkat kakinya dan melepaskan tubuh Afikah.


Dengan tatapan nafsu Antonio kembali ingin memaksa untuk mencicipi kulit Afikah dengan bibirnya.


"Lepaskan!!!"


"Tolong!!!" teriak Afikah.


Meminta tolong dengan suara keras agar didengar oleh  orang lain.


"DIAM!!!" Marah Antonio nada tinggi.


"Menurut Lah!"


"Bahkan suara kecilmu itu tidak akan membuat orang lain mendengar karena musik sudah menutupinya. Nikmatilah malam ini dengan aku ambilah uang ini  malam ini kamu milik aku."


Antonio berucap sambil melemparkan uang tebal ke tubuh Afikah hingga semua uang itu berserakan di bawah kaki Gadis ini.


"Dasar pria mata keranjang! Aku tidak butuh uangmu!" ucap Afikah menatap dingin Antonio dalam dirinya  penuh ketakutan.


Um...


Antonio emosi mendengar ucapan Afikah sikap kasar Pria tua itu memaksa mencium Afikah namun, tidak dikasih Afikah walau tangan kasarnya mencekram kuat leher Gadis malang itu hingga kuku-kukunya menusuk kulit Afikah dan Gadis itu kesakitan tapi tetap saja ditolak Afikah masih berusah keras melawan.


"Apa yang paman lakukan!" teriak  Roni yang melihat perlakuan kasar Antonio pada Afikah.


Antonio yang mendengar ucapan Roni dengan syok melihat kaget keponakanya itu dan wajah cemas menghampirinya.


"Paman apa yang anda  lakukan pada diri Afikah?"

__ADS_1


"Dia mengoda aku untuk melakukan mesum dengan dirinya karena aku menolak jadi Dia memaksa,"


"Apa?" Afikah tidak percaya.


"DIAM!!!"


"Paman jelas-jelas aku melihat anda memaksa Afikah bagaiman mungkin..."


"Ada apa ini?" tanya Adrian.


Yang tiba-tiba langsung mencela ucapan Roni ketika Dia yang kaget saat mendengar teriakan sahabat ini di saat Adrian selesai beerdansa romantis dengan Jenny.


Bukan hanya Adrian saja papa, mama, nenek, dan Jenny serta semua tamu-tamu yang mendengar teriakan Roni berlari ke arah suara itu.


"Paman! Afikah! Roni!"


"Apa yang kalian lakukan?"


"Tanyakan pada pamanmu itu,"


Ketus Roni emosi sambil mengandeng  kedua pundak  Afikah lembut menatap tajam Antonio.


"Kamu tidak apa-apa! tanya Roni.


Menatap cemas pada Afikah.


Gadis ini hanya menganggukkan pelan Kepala tanpa menjawab Dia masih syok berat.


"Ini salah paham Gadis itu mengoda aku Dia mengatakan pada aku bahwa Dia membutuhkan uang dan meminta aku bercumbu dengan dia jadi..."


"CUKUP!!!"  teriak Roni emosi tingat tinggi.


"Berani sekali kamu teriakin paman aku seperti itu karena gadis ini!" ucap Adrian tidak terima.


"Lepaskan Dia! AKU BILANG LEPASKAN DIA!" perintah Adrian menatap tajam Afikah.


"Jika tidak!"


"Tuan muda ini bukan salah tuan Roni tapi.."


"Mingir!"


"Jangan kasar padanya!"


Celah Roni menatap tajam Adrian.


"KAU!" ucap Adrian yang langsung menarik kasar kerak baju Roni.


"Jangan tuan muda!"


Teriak Afikah mencoba mengehentikan pertengkaran antara Roni dan Adrian.


"Aku  bilang minggir!!!"  teriak Adrian.


Yang langsung mendaratkan  ayunan tangan kasar tepat diwajah Afikah saat itu juga.


Plak...


Tamparan keras dari tangan kekar Adrian mendarat di wajah Afikah di depan semua orang.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2