
π Sebelum baca author mau sapa dulu ya... Halo semua terimakasih banyak untuk selalu setia dengan novel ini maaf jika author jarang balas komentar dan upload lama, terimakasih banyak buat dukungan semuanya. Upload setiap hari tidak menentu jam updatenya sesuai real life author ya, Dukung selalu author ya dengan vote, komentar, dan beri hadiah jika memiliki sedikit rejeki hehehe gak maksa guys kalian baca saja itu sudah sangat berarti untuk author πΊππππ
~ Sekian... selamat membaca~
"Siapkan makan siang kami! Setelah itu kamu boleh pergi!" ucap Adrian.
Dia mengehentikan Afikah yang mau beranjak pergi.
"Apa?" tanya Afikah bingung sendiri.
Afikah bertanya sambil memutar tubuh menatap Adrian yang sudah membuka jas kantor, meletakan di kepala kursi dan melangkah pergi ke toilet yang ada dalam ruang kantor tersebut untuk mencuci tangan.
"Itu tidak perlu Adrian. Ada aku jadi biarkan saja aku yang menyelesaikan tugas ini!" jawab Adrian tersenyum manis pada Afikah namun, senyuman yang hanya menjatuhkan Afikah saja.
"Itu tidak perlu Jen! Biarkan saja Dia yang menyiapkannya karena, dirinya seorang pelayan!" jawab Adrian dingin dari toilet.
Inilah jawaban yang aku inginkan Adrian aku tahu kamu sangat menyukaiku bukan wanita hina ini, batin Jenny.
Afikah yang mendengar ucapan Adrian meremas jari-jemarinya sangat kuat sambil kembali melangkah untuk menyiapkan makan siang untuk Jenny dan Adrian tanpa berucap sepatah kata pun.
Saat Afikah menyiapkan makan siang Jenny menatapnya dengan sinis sambil membungkuk tubuh sedikit ke bawah mendekat pada Afikah yang sementara menyiapkan makan siang langsung kaget dan melihat Jenny yang tersenyum menatap Dia.
"Aku tahu kamu menyukai Adrian tapi, jangan berharap untuk mengantikan posisi aku dari Dia karena, kamu hanyalah seorang istri di atas kertas,"
Ucap Jenny dengan pelan sambil terus mengukir senyuman pada Afikah dengan tatapan serius.
"Apa? Maksud nona?" tanya Afikah.
Dia yang kaget akan ucapan Jenny sangat jauh dari wanita itu dari sifat biasanya.
Percakapan antara Afikah dan Jenny berakhir ketika Adrian kembali melangkah masuk sambil menatap heran mereka yang seperti orang kedapatan melakukan kesalahan.
"Ehem..." batuk Jenny seolah Dia batuk pada hal tidak.
"Ada apa ini?" tanya Adrian curiga.
"Tidak ada apa-apa aku hanya mengobrol hal biasa bersama dengan Afikah," jawab Jenny asal.
"Bukan begitu nona muda Afikah?" Tambah Jenny.
Dia tahu bahwa ucapan Dia mengagetkan Adrian dan Afikah yang menatap heran pada Jenny lalu mereka saling melempar pandangan satu sama lain.
"Ahh... Ah ya nona," jawab Afikah seadanya.
__ADS_1
Masih dengan ekspresi wajah yang heran pada Jenny.
Apa maksudnya? Mengapa Jenny bersikap sangat berbeda dari biasanya...?
"Entah apa yang kalian bahas tapi tidak sepantasnya kamu memangil nama Dia dengan sebutan itu karena derajat itu ada padamu."
" Afikah hanyalah seorang pelayan dan akan tetap seperti itu," kata Adrian dingin dengan wajah serius duduk di sofa untuk segera menyantap makan siang bersama Jenny.
Sedangkan Afikah yabg mendengar ucapan Adrian semakin mengeratkan remasan jari-jemarinya tangannya kuat di bawah sana sambil menatap dingin Adrian dengan wajah yang marah namun, tidak diekspresikan wajah itu pada kedua yang sudah duduk.
Di samping Adrian Jenny menatap Afikah dengan senyum menjatuhkan harga diri Gadis malang ini.
"Aku sudah menyelesaikan tugasku layaknya seorang pelayan atau pembantu sesuai perintah tuan muda jadi, aku pamit pergi," jawab Afikah.
Dengan tatapan sendu air mata yang mulai tergenang di sana masih ditahan olehnya.
Adrian yang mendengar ucapan Afikah langsung menatap ke arah Gadis itu, orang yang selama ini selalu mengacaukan pikiran konsentrasi Adrian.
Tatapan Pria ini sangat berbeda dari sikap biasanya kali ini pandangan itu sangat hangat pada Afikah seperti tatapan yang bersalah menyadari ucapannya begitu kejam untuk istrinya.
"Terimakasih Afikah baiklah kamu boleh per..." ucapan Jenny terhenti.
Adrian yang tiba-tiba langsung memotong ucapan nya.
"Baiklah...," jawab Afikah.
Hanya menahan luka di dalam sana akan setiap ucapan Adrian yang terus menyakiti hatinya.
"Jenn!" panggil Adrian tiba-tiba mengagetkan Jenny.
Gadis yang duduk di samping Dia ini sudah menyelesaikan makan siang segera memegang tangan Adrian mengelus lembut di sana sambil menatap dalam Pria yang sangat dicintai itu tanpa menjawab ucapan Pria ini.
"Tinggalkan aku sebentar dengan Afikah! Ada hal yang ingin aku bicarakan dengan Dia," tambah Adrian menatap Jenny.
Ucapan yang benar-benar mengagetkan Jenny untuk pertama kali seorang Adrian memintanya pergi hanya untuk berbicara dengan seseorang yang menurut Jenny jelas-jelas bukan siapa-siapa bagi mereka.
"Apa? Ahh ... baiklah," jawab Jenny ragu.
Gadis itu mencoba untuk tidak mau banyak tanya jadi Ia secepatnya pergi tanpa menunggu jawaban Adrian.
"Nanti akan aku jelaskan padamu! Terimakasih sudah mengerti," jawab Adrian menatap sekilas ke arah Jenny.
Setelah menjelaskan pada wanita pengganggu itu Adrian menatap dingin Afikah yang sedang berdiri terpaku diam membisu di depan pintu menatap dalam Afikah.
__ADS_1
Pria itu segera melangkah menuju pintu dengan tatapan yang sangat dingin mengunci pintu, suasana dalam kantor itu diam dan hening seperti orang sedang mengheningkan cipta.
Afikah masih menarik nafas dalam-dalam tanpa bersuara memegang dadanya yang sedari tadi terasa sesak saat, Afikah yang mau memukul dadanya tiba-tiba Ia kaget akan sebuah tangan kekar melingkar di perutnya di bawah sana.
"Apa yang yang tuan lakukan?" tanya Afikah spontan kaget.
Ia segera melepaskan tangan itu dari tubuhnya.
"Maaf..." lirih Adrian tiba-tiba bagaikan petir yang menyambar Afikah saat itu.
"Maaf? Untuk?" tanya Afikah tidak percaya.
"Jangan banyak tanya diam lah aku hanya ingin melakukanya," ucap Adrian saat mendekatkan wajahnya dekat telinga Afikah dengan tatapan yang sangat dalam pada Gadis itu pandangan yang sangat berbeda dari biasanya.
"Kamu tidak perlu minta maaf! Seperti katamu aku hanyalah pelayan jadi ucapan maaf itu harusnya aku yang ucapkan bukan!" ucap Afikah.
Dia kembali melepaskan pelukan Adrian.
"Bukan begitu aku tahu bahwa ak--" suara Adrian putus-putus.
"Ingat aku adalah wanita yang kamu BENCI pernikahan ini hanya ada di atas kertas!" kata Afikah menatap dingin Adrian.
Adrian menutup matanya entahlah biasanya Ia akan marah akan setiap ucapan Gadis ini apalagi ini pertama kali Gadis ini memangil nama Dia dengan sebutan kamu bukan tuan muda.
Jika biasanya Ia langsung emosi kali ini terasa berbeda dengan dirinya yang Dia sendiri tidak paham akan rasa sakit yang mendalam di dalam sana.
"Afikah, Hei!" suara lembut Adrian.
Dia memegang lembut kedua pipi Afikah menatap dalam tapi tidak dengan Afikah yang menatapnya dingin.
"Kamu marah?"
"Aku membenci kamu tuan muda! SANGAT BENCI!"
Tetes bening mengalir los dari wajah Afikah saat matanya bertemu mata Adrian.
( Di posisi Afikah tidak Mudah ya guys apalagi Dia belum tahu kalo lagi hamil aduhhh runyam ini)
Cast Afikah.
__ADS_1
Bersambung.