Mantanku PresdirKu Suamiku

Mantanku PresdirKu Suamiku
Harusnya aku yang kamu peluk!


__ADS_3

Padahal sekarang tuh aku dah tarik selimut dan mau langsung tidur, Karena aku lelah hari ini. Tapi ngeliat komenan dan semangat kalian, nggak kerasa tangan aku jadi ingin nulis lagi.


Kalian tuuh emang selalu ngebakar hati aku untuk terus semangat🤗🤗


bonus episode ke tiga dihari ini, buat kalian


selamat malam, selamat baca


****


Pagi telah tiba, Papa Luky kembali melangkahkan kakinya untuk terlebih dahulu menemui Binara. Karena semalam ia belum meminta maaf kepada putri bungsunya itu. Karena info dari Perawat jaga bahwa pagi ini Rendi dan Binara sedang berada ditaman Rumah Sakit untuk berjemur dibawah matahari.


Ia pun membawa langkah kakinya kesana menyusuri lorong Rumah Sakit untuk menemui anak dan calon menantunya.


Sesampainya ditaman, Binara sudah menyambut kembali Papa Luky dengan hangat. Sejak semalam ia berfikir, kalau kenyataanya ini memang harus dihadapi dan diterima dengan baik. Karena masalah Ini bukan seutuhnya kesalahan Papa Luky seorang, ada keegoisan dari Mama Lisa yang begitu saja memisahkan mereka untuk bersama.


"Maafkan Papa ya, Nak. Papa sayang sekali sama Binara, Papa juga sayang sama Kakakmu. Kalian itu sangat berarti untuk Papa." ucap Papa Luky menggenggam tangan Binara dengan penuh penyesalan, Rendi yang masih duduk dikursi roda hanya bisa mengedipkan mata ke arah Binara, seraya kode untuk menerima permintaa maaf dari sang Papa saat ini.


"Kalau ini kenyataannya, Binar bisa apa Pah? Cuman bisa menerima saja dengan lapang dada."


"Maafkan Papa ya Nak, Papa janji. Akan selalu menjaga Binar dan Alika. Putri-putri kesayangan Papa."


"Apakah saat ini Papa bahagia?" Binar menatap wajah Papa Luky amat serius dan dalam. "Tentu, Nak. Papa sangat bahagia sekarang."


Lalu tatapan Binar, ia alihkan ke arah Rendi, kemudian menghela nafasnya pelan. Ingin ia katakan apa yang sudah terjadi saat pagi tadi sebelum pergi ke taman. Tapi ia rasa, itu hanya akan menyakiti hati Papa nya yang kini sedang bahagia.


"Binar kenapa, Nak?" Papa Luky mengerti bahwa Binara tengah menyembunyikan sesuatu.


Mendengar panggilan lembut dari sang Papa yang sudah ia rindukan bertahun-tahun. Membuat ia tidak berhenti untuk bersyukur dan menerima kesalahan Papanya begitu saja yang sudah tega membohonginya selama ini.

__ADS_1


Dirinya yakin betul jika sang Papa sudah berubah dari sikapnga yang dulu setelah bertemu dengan Kakak kandungnya, Alika.


"Alika masih belum bisa menerima kehadiran Binar sebagai adiknya, Pah." sambung Rendi saat ia tahu Binar hanya bisa bungkam tidak mau menjelaskan.


Papa Luky menarik wajahnya dengan cepat dari Rendy untuk diputar ke arah Binara. "Betul begitu Nak, bagaimana maksudnya?"


"Tadi pagi-pagi sekali, Binar ke kamar Kak Alika. Aku membawakannya air hangat untuk membantu membasuh tubuhnya, namun..." ada jeda dari Binara untuk menelan saliva nya. "Namun kenapa, Nak?"


"Kak Alika, mengusir Binar Pah. Ia bilang, ia mampu untuk melalukannya sendiri. Kak Alika tidak sehangat dulu perlakuannya kepada Binar, hanya ada tatapan benci dimatanya."


Ada air bening yang sedang menggenang-genang dikelopak mata Binara. Papa Luky pun mulai memeluk anaknya itu dengan amat dalam. Mereka menangis bersamaan, saling mendekap untuk memberikan semangat satu sama lain. Rendi pun ikut menyeka matanya untuk menghapus air mata yang tanpa sengaja turun begitu saja.


"Sini, Ren!" Papa melepas pelukannya dari Binar untuk beralih meraih kursi roda rendi untuk mendekat ke arahnya. Papa Luky pun mendekap Binara dan Rendi secara lekat dalam pelukannya. Mereka saling bersatu dan berjanji untuk selalu bersama dibawah langit yang biru.


Namun semua kebahagiaan itu berbanding terbalik di pandangan Alika saat ini. Hatinya seperti cemburu ketika melihat Papa Luky tengah merangkul Binara dan Rendi dengan begitu amat cinta dan sayang.


Sebelum ini.


Bilmar hanya bisa mengelus bahu Alika untuk menenangkan. Ia tahu istrinya kembali terguncang. Namun sepertinya Semesta menginginkan pertemuan itu terjadi, dari jarak 6 meter kini Papa Luky, Rendi dan Binar tengah menatap Alika dan Bilmar yang bertepatan dihadapannya.


Tatapan gersang


Tatapan benci


Tatapan tersakiti


Tatapan dibohongi


Semua merangkul hebat dibenak Alika. Tidak bisa dibohongi lagi, hatinya memang mulai cemburu. Entah mengapa ia ingin diperlakukan sama, seperti yang kini dilakukan Papa Luky terhadap Binara.

__ADS_1


Tiba-tiba saja hatinya mulai menciut, rasa kesedihan kembali hadir. Ia tidak menyangka hidupnya akan rumit seperti ini. Papa Luky dan Binara masih menatapi Alika dengan wajah sendu dan rindu. Namun mereka tidak bisa melakukan apapun disaat Alika memberikan tatapan acuh dan benci.


"Apa kamu ingin kembali ke kamar sayang?" tanya Bilmar untuk memilih membawa Alika pergi dari sini. Ia tahu pandangan saat ini begitu sakit, ia pun merasakan Papa Luky amat mencintai Rendi dibanding dirinya.


"Iya, Bil. Aku mau." balas Alika pelan. Lalu belum selangkah Bilmar untuk memutari kursi roda Alika, seketika saat itu pun terhenti ketika datang sesosok lelaki yang membuat mereka terhibur.


"Papa?" panggil Alika dan Bilmar secara bersamaan,ketika melihat kedatangan Papa Bayu yang baru saja tiba dari luar negeri.


Bilmar terlebih dahulu mencium punggung tangan Papanya lalu memeluknya dengan lama. Papa Bayu terus mengusap-usap punggung putra tunggal nya itu.


Kemudian Alika dengan khidmat melakukan yang sama seperti Bilmar. Tapi kali ini berbeda, Alika menangis terisak-isak ketika ia memeluk perut Papa Bayu yang masih berdiri dihadapannya. Papa Bayu pun mengelus-elus rambut menantunya yang masih duduk dikursi roda.


"Sabar ya, Nak. Papa sekarang ada disini untuk Alika." lalu tatapan mata Papa Bayu ia bawa pergi ke arah Papa Luky yang masih melihati mereka dari jauh.


"Harusnya aku yang kamu peluk, Nak. Bukan Bayu!" gumam Papa Luky dengan lirih di hatinya. Binara kembali menggenggam tangan sang Papa untuk memberinya kekuatan. "Pah, ada Binara disini. Papa yang sabar ya, Kakak pasti akan menerima keberadaan kita!"


Papa Luky merasa dadanya begitu sakit dan perih. Lebih sakit dari pada tertusuk pedang sekalipun, Anak kandung yang ia inginkan kini membenci dan menolak kehadirannya. Ia begitu cemburu, ketika melihat Alika memeluk Bayu dengan amat erat. Ia pun sama ingin mendapatkan cinta dari Alika.


Kini sang anak dan sang ayah, tengah merasakan sama-sama cemburu dalam hal yang berbeda. Semoga dengan rasa seperti ini, timbullah rasa rindu dan cinta untuk sang Papa yang selalu menanti-nanti dirinya.


Sepertinya alam ingin bermain-main dulu dalam pertemuan mereka. Papa Luky harus meraih hati Alika dengan berbagai pengorbanan kembali, karena didunia ini tidak ada yang begitu saja gratis. Tidak semua bisa didapat dengan mudah.


***


Berikan aku semangat terus ya...


Like Vote Rate dan Komen..🖤🖤


Thankyou readers kesayangan🥰

__ADS_1


With love, gaga😘


__ADS_2