
Haiii bonus malam buat kalian.
Selamat baca yaa
❤️❤️❤️❤️
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Setelah menidurkan Gadis di kamarnya. Alika pun kembali untuk bekerja merawat Ny. Gweny. Memberikannya obat, mengecek tensi darah dan kebutuhannya yang lain.
Aku ingin melamar mu untuk putraku, Berliana." Ucap Ny. Gweny.
Alika dan Ny. Gweny terlihat duduk berhadapan di tepi ranjang dan Diego masih berdiri di ambang pintu kamar Maminya. Ia terlihat bahagia ketika melihat sang Mami begitu bersemangat untuk meminang Alika.
"Ayo Berlian, terima lah lamaran dari Mamiku---Aku ingin kamu menjadi istri dan ibu dari Sela, serta anak-anak kita yang lain nantinya." Ucap Diego penuh harap.
Lidah Alika begitu saja tercekat. Ia susah menurunkan salivanya ke tenggorokan. Detak jantungnya terus menderu-deru. Netra mata cokelatnya terus memutar kesana kemari. Ia terus berdoa agar cepat keluar dari masalah yang makin menjerat lehernya.
Jari-jemarinya melekuk dan meremas tepian baju dinasnya. Sesekali menggigit bibir bawahnya dan memberikan senyuman manis namun getir.
"Maaf Nyo---" Seketika ucapan Alika terhenti ketika mendengar suara lain diantara mereka.
"Tuan, maaf ada yang mencari dibawah. Seorang Perawat sepertinya." Suara Mba Ratna terdengar dari luar pintu, membuat Diego menoleh ke arah art itu.
"Maksudnya gimana Mba?"
"Ada Perawat yang nyariin Tuan..."
Diego kembali membawa arah matanya untuk menatap Alika yang masih berbalik menatapnya dari tepian ranjang.
Deg.
Deg.
Deg.
__ADS_1
"Hah? Perawat? Apakah? Ya Allah?" Desah Alika dalam hatinya.
Wajah Alika mendadak pucat, matanya terbelalak dan deru nafasnya semakin kencang.
"Sebentar lagi aku akan mati ditangan Diego!" Batinnya kembali mengguncang jiwanya.
"Perawat?" Suara bisik dari Ny. Gweny, ia masih belum sadar dengan apa yang ia dengar, wanita tua ini masih terus berfikir dan mencerna.
"Nyonya maaf, saya tinggal dulu!"
Alika pun bangkit untuk meninggalkan kamar. Langkahnya sangat pelan, ia berdiri didekat pegangan tangga. Memperhatikan siapa yang tengah berbicara dengan Diego dibawah.
Ia pun memberanikan dirinya untuk menuruni anak tangga dengan langkah amat berat. Manik mata cokelat miliknya terus melihat Diego yang masih fokus mendengarkan ucapan dari Perawat asli itu.
"Saya Maria, Tuan. Perawat yang dikirim oleh Dokter Miguel. Untuk mengurus Ny. Gweny, maafkan saya, karena baru bisa masuk bekerja di hari ini."
"Apa?" Seru Diego. Lelaki itu kaget setengah mati. Ia dibohongi oleh wanita yang baru saja ingin ia nikahi.
Tamatlah riwayatnya!
"Ya Allah..." Alika kembali menutup kedua mulutnya ketika ia tahu bahwa Perawat yang asli telah datang untuk menguak siapa jatidiri Alika yang sebenarnya.
Diego pun menoleh ke belakang.
Dan
Blass.
Alika sudah berdiri membeku di bawah anak tangga. Tangannya mencengkram kuat pegangan tangga, ia terkejut ketika mendapati tatapan Diego yang menyeringai garang kepadanya. Tentu membuat Alika semakin takut. Alika si itik dan Diego si Buaya. Buaya pasti akan melahap habis mangsanya.
Habis lah Alika!
Diego pun menghampirinya. Ia mendelik tajam menatap benci karena sudah dipermainkan. Mereka kembali bersitatap, jika beberapa jam saja Diego masih menatap cinta kepada Alika, saat ini sudah berbeda. Tatapan Diego bagai malaikat pencabut nyawa yang siap menerkam jiwa dan tubuh Alika.
"Di--di---e---go---" Ucap Alika terbata-bata ketika ia mencoba untuk menenangkan Diego yang masih menatapnya dengan tatapan wajah iblis.
Tanpa banyak kata dan gerakan, secepat kilat Diego langsung menarik tangan Alika untuk ikut bersamanya. Ia membawa tubuh mungil itu untuk masuk ke dalam kamarnya.
Alika begitu saja dihempaskan di ranjang miliknya. Tubuh mungil itu terpental begitu saja, Alika meringis dengan tekanan tubuh yang begitu saja tersambar dengan ranjang.
Diego melangkah mendekat. Melepas satu persatu kancing kemejanya.
"SIAPA KAMU?"
Satu kancing pertama berhasil di buka.
"APA MAKSUD KAMU MENIPU KAMI?"
Satu kancing kedua berhasil di buka.
Alika beringsut untuk bangkit dan memundurkan tubuhnya ke sudut tepi ranjang. Ia menggelengkan kepalanya dan mulai menangis. Kedua tangannya memeras kain seprei.
__ADS_1
Lalu ia bangkit dan mencoba memutar namun Diego dengan sigap meraih kembali tubuh mungil itu untuk di lempar kembali ke ranjang. Alika pun kembali menundurkan tubuhnya ke arah manapun.
"Jangan Diego! Jangan lakukan ini!"
Alika terus memohon dan meminta, namun Diego tetap melangkah dan mendekat serta terus membuka kancing kemejanya sampai lekuk dada atletisnya terlihat telanjang.
"SIAPA KAMU??" Diego kembali menyentak membuat Alika mengedikkan pangkal bahunya karena kaget dan ketakutan.
"Ayo sayang kita lakukan, kamu tetap akan jadi istriku kan?"
Diego menyeringai bagai serigala lapar. Hatinya merasa sakit karena sudah dipermainkan oleh wanita yang mulai ia sukai.
Maafkan aku Diego, aku nggak bisa nikah sama kamu! Aku hamil anak orang lain!!
Diego terus terbayang-bayang dengan ucapan sesosok wanita di masa lalu. Yang membuat hidupnya seketika berantakan. Tentu ia tidak mau terjadi kedua kalinya dengan Berliana.
Ia benci dibohongi
Ia benci di dustai.
Ia tidak mau lagi gagal.
Ia tidak mau lagi frustasi
Ia tidak mau lagi kalah
Ia tidak mau ditinggalkan.
"Ayo Berliana, aku janji nggak akan sakit, sayang! Aku janji akan menikahimu setelah ini!"
"Jangan Diego, aku mohon!"
Alika tetap menangis dan meronta-ronta agar Diego pergi menjauh darinya. Dan Diego sudah kepalang tanggung emosi dalam kebohongan yang Alika buat.
Tak lama kemudian
Brag.
Pintu terbuka lebar!
Bagg.
Bigg.
Bugg.
Belum sempat Diego menoleh, tubuhnya sudah begitu saja tersungkur jatuh ke lantai. Sebuah kepalan tangan panas sedang melayang tinggi ke arah wajah dan perutnya secara membabi buta.
"DASAR ANJINGG!!"
*****
__ADS_1