
Haii selamat pagii menuju siang❤️
aku kembali guyss
Selamat baca yaa
🤗🤗
***
Pagi ini Bilmar memutuskan untuk berenang kembali. Lagi dan lagi kepalanya masih terasa sakit dan berat. Mungkin saja jika ia sudah kehilangan kesabaran, Alika akan diculik olehnya beberapa waktu dari pandangan Maura.
Entah mengapa dengan kejadian kemarin, Maura yang masih terlihat cemburu terus saja menempel di ketiak sang Mama. Ingatan salah faham nya tentang Bilmar pun masih membekas.
Ketika Bilmar masih mendayukan kedua tangannya di dalam air, terlihat Alika dan Maura tengah berjalan ke arahnya untuk ikut berenang.
"Sayang, kita mau berenang---"
"Ayo sini, turun!" Bilmar meraih tubuh Maura dan dipasangkannya ban pelampung untuk menyangga tubuh sang anak agar tidak tenggelam. Setelah itu ia meraih tubuh istrinya untuk masuk kedalam air.
Alika dan Bilmar sama-sama mempunyai kehebatan dalam olahraga renang. Terbukti ketika pelajaran olahraga di SMA, mereka menjadi perwakilan dan menjadi juara dalam perlombaan renang antar kelas.
Bilmar dan Alika saling menyatu ketika mengajari Maura untuk berenang kesana-kemari.
"Om, Tante---"
Alika dan Bilmar seketika menoleh melihat Gifali, Gana dan Gelva yang sudah berdiri dipinggiran kolam. Mereka sudah rapih dengan pakaian renang yang telah mereka gunakan.
"Kami boleh nggak berenang disini?" tanya sang Kakak untuk mewakili adik-adiknya.
"Iya, Tante, Om. Papa menyuruh kami untuk berenang."
"Tentu dong say----" Alika pun langsung teringat dan menoleh ke arah Maura yang sedang melihat ke arahnya. la masih di dalam dekapan sang Papa. Anak itu menunggu apa yang akan diucapkan sang Mama.
"Ayo, Nak. Boleh!" Alika dengan cepat merubah seruannya. Ia pun mulai membantu anak-anak itu untuk masuk kedalam air. Bilmar pun mencoba meraih tubuh mereka.
"Aku nggak usah pakai ban, Om. Aku sudah jago berenang!" ucap Gifali bangga. "Oh ya baiklah, buat adik-adikmu aja kalau begitu ya--" Bilmar memakaikan ban pelampung untuk Ganaya dan Gelvani.
Namun, dengan cepat. Stimulus otaknya pun berjalan.
"Dasar kambing!! Enak banget si Galih. Nyuruh saya nemenin anak-anak nya berenang! Di saat bersamaan dia lagi indehoy sama istrinya!" Bilmar pun dengan langkah cepat keluar dari kolam renang. "Bukan teman sepenanggungan kalo kayak gini, uhh!"
"Sayang, kamu mau kemana?" tanya Alika yang masih didalam kolam renang bersama sekumpulan anak-anak. "Tunggu sebentar, Al. Aku haus ingin minum--"
Bilmar pun berjalan cepat untuk masuk kedalam paviliunnya. Ia bergegas mendekati gagang telepon yang berada di dinding.
"Ya, Hallo Pak?" suara Pak Farhan terdengar.
"Pak, tolong semprotkan cairan anti nyamuk di sekeliling dalam paviliun Tn. Galih ya!"
"Cairan nyamuk, Tuan??"
"Iya, tadi beliau bilang, kalau didalam paviliun nya banyak nyamuk. Semalam kurang nyenyak tidur katanya---" Bilmar terus menahan rasa gelinya. Ia ingin cepat sekali tahu bagaimana reaksi Galih ketika Pak Farhan datang ke tempatnya.
Lalu
Tanpa menunggu lama, Pak Farhan sudah berdiri tegak didepan pintu paviliun Galih yang terkunci rapat.
__ADS_1
"Nggak ada orangnya, Pak--" Pak Farhan menolej ke arah Bilmar yang tengah berdiri di belakangnya.
"Ada orangnya didalam. Ayo Pak, ketuk terus!!"
Pak Farhan terus mengetuk pintu itu berkali-kali.
Akhirnya yang ditunggu pun datang juga. Benar saja Galih keluar dengan bertelanjang dada hanya boxer yang ia kenakan.
"Tuh kan bener! Lagi mau indehoy!! Dasar Kambing---" Bilmar terus tertawa melihati Galih yang terlihat tegang.
"Ada apa Pak?" selak Nadifa yang muncul dari dalam, ia terlihat sedang merapihkan pakaiannya.
"Ini Bu, Pak. Saya mau menyemprotkan cairan nyamuk, katanya semalam kurang nyenyak tidur."
"Hah?" Galih kaget. Sontak kedua matanya diputar untuk melihat Bilmar yang masih berdiri mentertawainya.
"Kampret nih biawak! Pasti akal-akalan dia aja!!" Galih pun memaki dalam batinnya.
"Emang iya Pah?" Nadifa menoleh ke arah suaminya, untuk menanyakan kebenaran itu. Yang ia rasa, semalam tidur mereka sangat nyenyak sekali.
"Tapi ya udah, Pak. Silahkan aja!" Nadifa akhirnya memutuskan untuk memperbolehkan Pak Farhan kedalam paviliun mereka.
"Baik, Bu."
Nadifa pun mengikuti langkah Pak Farhan kedalam.
Galih menaruh kedua tangannya di pinggang sambil terus menggeleng-gelengkan kepalanya ke arah Bilmar yang sedang tertawa lepas. Galih kembali tegang dan frustasi.
"Mau ikut berenang nggak? Hahahaha--" Bilmar terkekeh.
Seketika itu Bilmar berlari ketika Galih hendak melemparkan sendal ke arahnya.
***
Terlihat Alika dan Nadifa tengah menggelar karpet di sekitaran perpohonan taman yang dekat dengan bibir pantai. Sudah dua jam mereka menghabiskan waktu bersama didapur untuk memasak makan siang.
Mereka duduk saling mengampar. Alika dan Nadifa terus berbincang-bincang melihati anak-anak mereka yang tengah bermain.
"Aku fikir kamu sedang nggak hamil, Mba." ucap Nadifa kepada Alika.
"Iya, ya. Soalnya masih belum kelihatan Baru 2 bulan lebih 1 minggu, Mba!"
"Wajar soalnya tubuh kamu mungil. Saya juga dulu gitu kayak kamu. Oh iya ada mual-mual nggak?"
"Nggak sih Mba, untungnya kehamilan pertama in---" seketika Alika mengunci ucapannya. Bisa curiga Nadifa, jika Alika berkata jujur bahwa ini adalah kehamilan pertamanya. "Oh maksud saya, kehamilan kedua ini, nggak terlalu berat. Sesekali aja mual dan muntahnya---" Alika hampir saja keceplosan, kalau tidak Nadifa pasti akan bertanya tentang jatidiri Maura.
"Kalau Mba bagaimana pengalaman kehamilan anak pertama?" Alika masih ingin tahu, karena baginya ini adalah ilmu yang harus ia korek dari Nadifa yang sudah berpengalaman dalam mengurusi 3 orang anak.
Sontak pertanyaan itu membuat Nadifa tertegun, ia tetap tersenyum walau hatinya lirih. "Oh itu, iya, Mba. Pengalaman pertama saya waktu mengandung Gana---" Benar saja kan, Nadifa keceplosan karena menahan rasa gugup.
"Gana??" Alika mengulangi, sebelum Nadifa menjelaskan lebih jauh kepadanya. Ia takut Nadifa lupa. "Oh iya, maksud saya pengalaman pertama saya ketika mengandung Gifali."
Sekumpulan saliva terdorong begitu saja ke dalam kerongkongan Nadifa. Ia terpaksa berbohong untuk menutupi jati diri Gifali.
Alika dan Nadifa sama-sama berdalih saat ini. Mereka akan tetap membisu untuk tidak menceritakan lebih jauh mengenai keluarga mereka. Gifali dan Maura akan tetap menjadi keutamaan untuk Alika dan Nadifa.
"Bisaan kamu, Mas! Nggak baiklah gangguin orang kayak tadi!" keluh Galih menghampiri Bilmar yang masih asik mengambil gambar foto istri-istri mereka dari jauh.
__ADS_1
Bilmar menoleh ke arah Galih, menyingkirkan kamera dari wajahnya. "Nggak enakan nahan pusing, hahahah--"
"Kan kita udah sepakat, jadi teman senasib!"
"Iya memang, tapi Mas Galih melangkah star duluan tanpa aba-aba ke saya!" Bilmar berdecak, ia kembali mengambil gambar dengan kameranya.
"Okelah deal! Kita gantian, bagaimana?" Galih memberikan penawaran.
Seketika Bilmar kembali menoleh.
"Oke! Deal. Tapi ingat, jangan ada dusta di antara kita!" seru Bilmar
"Deal!!" balas Galih mantap. Lalu mereka berjabat tangan sebagai sikap awal untuk saling mendukung.
Entah bagaimana rencana mereka setelah ini, berhasilkan kedua lelaki ini untuk bisa baby moon bersama para istri mereka tanpa terganggu kembali dengan sang anak.
Tunggu aja🤪🤭
****
.
.
.
.
Ya gitu lah guys, kambing sama biawak kalau ketemu...nggak tauu jadi apa🤭🤭🤭. Oh iyaa aku juga buat kisah ke empat anak Nadifa dan Galih di karya ku yang berjudul "Jangan berhenti mencintaiku", disana udah ada siapa yang akan aku jodohkan dengan Gifali🤭🤭🤗. Silahkan baca ya, masih baru memang baru 5 episode.
Makasi banyak untuk kalian yang sudah Like, Vote aku dan kasih semangat. Karena Kalian juga cerita ini terus mengalir.
Oh iyaa selagi kalian nunggu aku Update, bisa loh baca karya ku yang lain:
1.Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
2.Jangan Berhenti Mencintaiku
3.Dua Kali Menikah
Bisa klik di profil aku ya, terus pilih karya
Berikan aku bukti semangat dari kalian dengan cara :
VOTE
LIKE
RATE
dan
KOMEN YA🖤🖤
sekali lagi👇
Thankyou readers kesayangan🥰
__ADS_1
With love, gaga😘