
Selamat malam guyss, nih aku balik lagi.
Selamat baca🤗🤗
***
Pagi ini terlihat sendu karena rintikan hujan sedari subuh tidak mau surut. Tangan Alika masih sakit untuk mengendarai motor, terpaksa ia harus mengikuti kemauan suaminya untuk berangkat kerja bersama.
Hari ini ia terlihat berbeda. Wajahnya tak diolesi bedak, bibir nya masih berwarna merah muda polos dan rambut yang terurai begitu saja. Sepertinya nafsu berdandan Alika hari ini telah sirna. Mungkin ini semua masih ada kaitannya dengan kejadian tadi malam.
Diperjalanan, ia tetap membisu. Matanya lurus menatap jalan, entah mengapa air mata suci itu ingin terus mengalir. Ia terus menahan suara isak nya agar tidak terdengar oleh sang suami.
Sakit sekali ! pasti.
Yang ia tahu, sampai detik ini Bilmar selalu menghujaninya dengan perlakuan cinta dan sayang, dan di detik ini pula lelaki itu telah berhasil menghancurkan kepercayaan yang sudah Alika buat dengan susah payah.
Selama dalam perjalanan, Bilmar merasa aneh dengan gelagat istrinya. Mulai dari bangun tidur, ketika sarapan dan saat ini. Alika terlihat seperti orang yang tengah berjalan dengan tatapan kosong.
"Sayang..?" disela-sela menyetir ia paksakan untuk menoleh sesekali ke arah Alika dan ke arah jalan.
Alika terus mematung, air matanya masih menetes turun. Bilmar meraih tangan Alika untuk digenggamnya. Karena hatinya masih patah, ia pun meloloskan genggaman itu tanpa suara dan kata.
Bilmar merasa aneh, mengapa dengan istrinya. Ia pun akhirnya menepikan mobilnya di bahu jalan industri menuju kawasan EG.
Memutar tubuhnya agak sedikit miring untuk melihat wajah istrinya lebih dekat.
"Kamu sakit sayang? mau ke Dokter?" tanya Bilmar sangat lembut, lebih lembut dibanding saat merayu Maura yang sedang menangis karena tidak diperbolehkan makan ice cream.
__ADS_1
Alika menyeka air matanya, dan hanya menggeleng. Ia tak kuasa untuk menatap mata Bilmar saat ini. Ia masih belajar untuk menjadi wanita mahal yang jika marah masih bisa untuk meredam sesaat.
Sungguh menyiksa ! memang.
"Kenapa nangis? apa aku ada salah sama kamu?" tanya Bilmar kembali, lalu menangkup wajah istrinya dengan kedua tangannya, untuk menatap lebih dekat dan Alika hanya mengarahkan matanya ke arah stir mobil. Ia hanya diam nestapa, sesakan didadanya terus membuih tapi tetap ia halau dengan usaha yang kuat.
"Kamu marah sama aku? kalau memang aku buat kamu kesal, tolong maafin aku ya?"
Bilmar meraih dagu sang istri untuk bisa menatap matanya, Alika hanya menggeleng lalu membuang arah wajahnya sedikit keluar.
Alika takut untuk bertanya siapakah wanita pengirim pesan itu dan apa penjelasan dari struk belanja kebutuhan wanita yang ia temukan tanpa sengaja. Dirinya takut jika Bilmar mengiyakan itu semua. Baginya lebih baik Bilmar tetap diam tidak usah menceritakan apa-apa kepadanya. Alika hanya ingin berpura-pura tidak mau tahu, agar ia merasa tenang tanpa dirasuki beban.
Ya begitulah sifat wanita ini.
"Jalan lagi, nanti kita telat!" Alika melepaskan tangan Bilmar dari dagunya, ia kembali memposisikan dirinya untuk duduk tegap menatap jalan.
Aneh.
Mungkin itu yang ada difikiran Bilmar Artanegara sekarang.
Satu jam kemudian mobil mendarat tepat di parkir khusus, yang hanya dia yang boleh menempatinya. Bilmar tidak mengidahkan kemauan Alika untuk turun sebelum EG, karena suasana masih rintik-rintik hujan. Ia tidak sampai hati jika istrinya akan demam karena dihujani dengan dinginnya air hujan yang masih mentetes.
"Ayo sayang, turun." Bilmar membukakan pintu dimana Alika sedang duduk saat ini, ia merangkul tubuh istrinya yang mungil dan menutupi kepalanya agar tidak basah.
"Ke ruangan aku dulu ya, sebentar!" Bilmar terus menggandeng tangan sang istri untuk masuk kedalam kantor EG pusat. Bilmar ingin berbicara lebih dalam dengan cinta nya.
Karena merasa hatinya sedang kacau, Alika hanya menurut saja dan mau untuk digandeng. Ia lupa jika sedari tadi banyak karyawan yang berlalu lalang sedang melihati mereka berlalu.
__ADS_1
"Pak---"
Dahi Katherine terlihat berlipat-lipat, ketika melihat bos nya menggandeng Alika dengan cepat tanpa memberikan salam berarti kepada nya.
"Ngapain tuh bos gandeng si bocah bar-bar?" dalam benaknya.
Lalu ia pun mulai teringat sesuatu dan mulai mengejar langkah mereka yang sudah mendekati ambang pintu ruang kerja Bilmar.
Dan...greekk...
Alika dan Bilmar terperangah melihat Kaneysa sedang duduk di kursi kerjanya.
"Hay sayang.." Panggil Kaneysa yang begitu bahagia ketika melihat Bilmar sudah datang, ia seperti buta karena tidak melihat ada Alika tepat berdiri disamping lelaki ini.
Kaneysa mulai melangkah cepat menuju Bilmar dan mengecup pipinya dengan buas lalu ia berbisik. "Aku kangen kamu, banget!"
Suara itu terdengar sangat fasih di telinga Bilmar dan juga istrinya. Bagai cuatan kilat menggema dan demi air mata yang belum bersih dari matanya, ia harus kembali disakiti secara berurutan.
***
Aku terharuu banget sama komenan positif kalian dukung banget aku..unch sosweet😘❤️ maaf kalo ada yg kelewat nggak dblas chatnya..insya allah kalian kesayangan akuu..hehehe🤗
Oh iya aku pengen promoin NOVEL TERBARU aku "Jangan berhenti Mencintaiku". Boleh cek di profil aku ya, jangan lupa jadikan Favorite di rak buku kalian.🖤🖤
Kaya biasa
Like dan Komen yaa..meminta kebaikan hati kalian untuk mem Vote dan Rate bintang dicerita ini..biar aku semangat.
__ADS_1
thankyou❤️😘😘