
Mobil Bilmar kini sudah mendarat di garasi rumah. Ia masih mengatur pola nafasnya untuk tetap bersikap tenang. Ia terdiam sebentar lalu menangkupkan kepalanya di stir kemudi. Seraya menekan-nekan kepalanya disana. Ia bingung harus memulai pembicaraan dari mana dengan istrinya tentang kemauan Nayla akan Maura.
"Alika pasti akan marah besar! Dan ia akan langsung mendatangi Nayla untuk mengambil Maura!" Batin Bilmar.
Berkali-kali ia menghembuskan nafasnya dengan kasar, kepalanya terasa pusing karena masalah sepertinya selalu saja datang, tidak kunjung usai. Ya begitulah hidup, hanya hidup di negeri dongeng yang selalu bahagia tanpa masalah.
Ia pun turun dari mobil sambil melonggarkan dasi di kerah lehernya. Bilmar berjalan gontai menuju ruang tamu. Fikirannya terus berpusat kepada Maura dan Alika.
"Assalammualaikum, Sayang. Aku pulang.." Suaranya terdengar sayu.
Hal yang pertama kali ia lakukan ketika sampai dirumah, hanya memanggil nama istrinya. Alika akan menerjang dirinya dengan sebuah pelukan dan ciuman selamat datang. Tentu sikap seperti itu yang selalu didambakan oleh para suami dimuka bumi ini.
Alika akan menyempatkan mandi, berdandan terlebih dulu sebelum suaminya datang. Walau sebelumnya ia sedang sibuk didapur, menyusui Ammar atau melakukan hal yang lain. Ia tidak ingin Bilmar menemukannya dengan keadaan masih kumel dan bau bawang.
Blus.
Bilmar menjatuhkan dirinya di sofa, sambil terus memijit-mijit pangkal hidungnya. Ada rada cemas sebelum ia mengatakan semuanya kepada Alika. Ia merasa guntur sudah siap-siap berada diatas rumahnya untuk mengiringi teriakan Alika sebentar lagi. Hati Bilmar semakin kalut dan kosong.
"Sayang? Mah---?"
Bilmar kembali memanggil Alika. Biasanya sang istri akan datang dengan segelas air putih ditangannya dan melepas kaos kaki dan sepatu suaminya. Namun sudah lama Bilmar menunggu, istrinya tidak kunjung datang.
"Alika?" Ia kembali memanggil.
Terlihat Bik Minah sedang berlari kecil menghampiri majikannya yang terus merancau nama istrinya.
"Den maaf, Non sama Bapak pergi keluar."
Bilmar mengerutkan dahinya.
"Pergi?" Tanya nya menyelidik. Lalu ia merogoh kantong celananya, takut-takut Alika sudah mengabari lewat pesan namun ia belum membacanya.
"Nggak ada pesan masuk dari Alika---" Bilmar terus melihat ke layar ponselnya. Lalu ia mendongak kembali menatap Bik Minah.
"Alika sama Papa kemana, Bik? Perginya dengan Ammar juga?"
"Ammar gak dibawa, Den. Non Alika hanya pergi sama Bapak."
"Pergi kemana? Mereka tinggalin pesan?" Bilmar merasa aneh mengapa bisa Alika pergi hanya berdua dengan Papa Bayu, apakah ada masalah genting, mengapa dirinya tidak diberi tahu.
"Katanya Bapak tadi mau ke rumah Mamanya Maura, den---Non Kannya."
"APA??"
****
"Apakah ada Tuan dan Nyonya Wibowo?" Tanya Papa Bayu yang masih berada di kursi kemudi kepada para penjaga gerbang rumah Kannya dan Nayla.
__ADS_1
Alika yang berada disebelahnya terus saja berdoa, agar apa yang ia curigai memang benar menjadi nyata bahwa Maura tidak pernah pergi ke Maldives atau mungkin sudah pulang namun keberadaannya di sembunyikan.
Para penjaga yang mengenal wajah Papa Bayu langsung bersikap hormat. "Ada Tuan, silahkan masuk---"
Alika terlihat geram, ia mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Matanya menatap tajam ke arah pintu gerbang yang sedang terbuka otomatis.
"Benar kan Pah, Nayla memang membohongi aku dan Bilmar! Tega-teganya dia, menyembunyikan Maura selama ini!" Alika mendengus kesal. Ia terlihat tegang, sepertinya bayi yang ada dalam perutnya pun merasakan itu. Alika terlihat terus menghela nafas dan mengelus-ngelus perutnya.
"Kok agak keram ya, Pah?" Papa Bayu mengusap perut Alika ketika ia sudah mematikan deru mesin mobilnya.
"Sakit, Nak?"
"Tiba-tiba kencang, Pah."
"Ayo nafasnya diatur, Nak!" Papa Bayu mencoba membantu Alika untuk relaks. Ia terus mengusap-usap perut Alika dengan lantunan doa.
"Ayo minum dulu---" Papa Bayu menyodorkan air mineral yang ada di dalam mobil.
Gleg gleg gleg.
"Ayo kita turun, Pah! Alika ingin cepat bertemu Maura..." Ucapnya sambil mengelap basahan air minum yang masih terasa membasahi bibir dan dagu nya.
Papa Bayu mengangguk. "Ayo, Nak. Pelan-pelan turunnya ya!"
Mereka berdua pun turun dari mobil untuk melangkah menuju pintu utama rumah keluarga Wibowo. Rumah yang tidak kalah megah dengan rumah Bayu Artanegara.
Pintu utama terbuka begitu saja, Alika dan Papa Bayu melongo kan kepala kedalam, untuk melihat suasana rumah. Namun hanya keheningan yang terpancar dari dalam.
"Assalammualaikum..." Salam Papa Bayu lalu diikuti oleh Alika.
Hanya ada suara hembusan angin, tidak ada yang menjawab salam mereka.
"Apa mereka sengaja bersembunyi, Pah? Karena mengetahui kedatangan kita?"
"Walau mereka bersembunyi sampai ke lubang semut pun, Papa pasti akan membawa Maura lagi ke tangan kamu, Nak!" Papa Bayu mencoba untuk menenangkan sang menantu, ia tidak ingin Alika kembali menegang. "Jangan khawatir ya---"
Alika menganggukan kepalanya samar, ia tahu Papa mertuanya hanya ingin membuat hatinya semangat lagi.
Lalu.
Tak lama kemudian.
Ada langkah kecil yang sedang menuruni anak tangga menuju keberadaan mereka yang masih diambang pintu.
Rambut yang terurai panjang begitu saja terkibas-kibas ketika terus berlari dengan cepat untuk menyergap Alika.
"MAMA...!" Seru Maura.
__ADS_1
Alika dan Papa Bayu menoleh ke arah suara yang sudah lama mereka rindu kan.
"Ya Allah, sayang..anak Mama!" Alika langsung memeluk Maura. Anak yang telah hilang dari penglihatannya selama dua bulan. Anak yang tidak pernah lagi merengek meminta ini dan itu kepada sang mama selama ia di sembunyikan. Anak yang selalu membuat Alika uring-uringan selama menanti kepulangannya. Alika dan Maura sama-sama menangis dalam pelukan yang mereka buat.
"Sayang--Putri Mama---Cintanya Mama---" Alika terus mencium wajah anaknya tanpa henti. Kembali memeluk, mencium dan memelum lagi.
Maura pun sama, ia juga mencium Mamanya.
"Mah...Maura kangen." Anak itu terus memeluk sang Mama dengan sangat erat. "Mah gendong, Mah!" Maura mengalungkan kedua tangannya dileher Alika.
Dengan helaan nafas panjang dan ringikan dada, dengan cepat Alika menggendong sang anak yang paling ia rindukan.
"Kok kamu kurus, Nak?" Alika terus memperhatikan kondisi sang Anak.
"Kakek..." Seru Maura, Papa Bayu pun mencium sang cucu.
"Hemmm..." Suara deheman nyaring terdengar dari arah lain. Membuat Alika dan Papa Bayu menoleh dan merubah tatapan mereka menjadi benci karena tidak suka.
"Kamu?" Alika menaikan satu alisnya, ia bukan lagi Alika yang manis dan lemah lembut, tapi sudah berubah menjadi Alika yang garang.
"Turunkan, Maura! Saya Mamanya sekarang!" Tatapan Nayla terlihat begitu menantang.
"Nayla, jaga bicara kamu!" Hardik Papa Bayu.
Alika tertawa nyeleneh. "Gila kamu? Mau saya bawa untuk berobat? Untuk menyadarkan tindak pidana yang telah kamu lakukan?"
Nayla terkekeh. "Apa? Tindakan pidana?"
"Karena kamu sudah menyembunyikan Maura dari kami, membuat alasan palsu untuk memenjarakan dia di istana kamu---"
Alika melayangkan satu jarinya untuk menunjuk lurus ke wajah Nayla. Dua bola mata Alika terus memancarkan emosi dan kekesalan hatinya.
"Tidak ada yang bisa merebut Maura dari Bilmar. Dia Papanya kandungnya punya hak tertinggi untuk Maura!" Alika mengeraskan rahangnya.
Nayla terkesiap dengan sikap Alika yang berani dan begitu menakutkan. Ia tidak akan menyangka jika Alika yang bertubuh mungil akan berani mengatakan hal seperti itu. Bukan hanya Nayla tapi Papa Bayu juga tertegun melihat perangai menantunya.
Tapi Nayla tidak patah arang, ia tetap melangkah mencoba untuk meraih Maura dari gendongan Alika. Papa Bayu pun mencoba melerai namun wajahnya tidak sengaja terkena hentakan tangan dari Nayla.
Melihat mertuanya mengeluh sakit sontak membuat hati Alika makin memanas. Dengan cepat ia mengayuh kan tangannya ke atas dan mendaratkan dengan keras di pipi kiri Nayla.
"Mama..." Maura hanya menangis sambil terus memeluk sang Mama.
"Kurang ajar kamu, berani tampar saya!"
*****
Aku ijin libur nulis untuk besok ya, Semoga rindu kalian terobati❤️
__ADS_1
Setelah ini Papa Bilmar pasti akan gendong Mama Alika.