
Hayy readers kesayangan🖤🖤🤗
malam ini aku kembali😘😘
yuk guys mari baca
***
Setelah hentakan terdengar dari kepalan tangan Bilmar. Semua mata yang ada terus menatapnya tak usai-usai. Mereka menunggu penjelasan dari Bilmar tentang siapakah penelpon barusan.
Bilmar masih berdiri mematung dan membisu.
"Sayang..ada apa?" suara lembut sang istri membangunkannya dari lamunan. Bilmar pun menoleh agak lama melihati Alika yang masih terduduk di kursinya.
"Ayo duduk, sayang!" Alika menarik lengan Bilmar agar kembali duduk disebelahnya. Ia menuangkan air ke dalam gelas lalu menyodorkannya untuk di minum sang suami.
"Kenapa sayang? Ada apa? Kenapa kamu marah-marah seperti ini?" hanya Alika yang berani bertanya. Melihat Bilmar seperti ini, membuat mereka menjadi sedikit takut untuk mengeluarkan suara terlebih dahulu.
"Aku kehilangan jejak si penembak itu, tadi polisi memberi kabar kalau mereka minta beberapa hari lagi untuk mendapatkan kembali jejak mereka!" balas Bilmar dengan suara datar. "Aku sudah terlalu lama, menunggunya!"
Jag.
Dua bola mata Binara menatap bulat ke wajah Papa Luky. Dengusan nafas gugup terdengar keluar pelan darinya. Namun Papa Luky hanya memberi kedipan cepat sebagai kode kalau Binara jangan cemas. Ia tidak boleh memberikan kesan kaku agar dapat dicurigai oleh mereka semua.
"Tutup sajalah kasus ini, sayang--!"
"Enggak! Aku akan tetap menyelidiki kasus ini, walau sampai ke ujung dunia pun, pelakunya akan aku jebloskan ke dalam penjara!"
"Papa setuju dengan suamimu, Nak! Pati harus dibayar dengan pati begitu juga nyawa harus dibayar dengan nyawa. Walau sekarang keadaan Rendi dan Alika sudah sehat kembali, tetap masalah ini harus di urus. Kita harus menindak lanjutinya, agar si pelaku jera dan tidak mengulanginya lagi!"
"Betul sekali, Aku jadi penasaran, siapa sih pelaku dari semua ini? Siapa orang yang tega melalukan hal keji seperti ini! Aku merasa tidak punya musuh, begitu pun Alika!" susul Rendi terlihat geram.
"Sudahlah sayang, tutup saja perkara ini! Aku kasian sama kamu, jadi mikirin masalah ini terus. Toh juga saat ini aku sudah kembali sehat, Kak Rendi pun sama."
Bilmar mendelikan matanya.
"Apa kamu bilang? Tutup perkara ini? Segampang itu, Al? Mereka itu hampir saja merenggut nyawa kamu! Nyawa Rendi! Kamu itu hampir mati karena mereka! Buat aku hampir jadi gila! Kamu ngerti nggak sih perasaan aku---?"
__ADS_1
"Atau mungkin saja saat ini mereka sedang menyiapkan siasat baru? Sudah, Bin! Alika malam ini tidak jadi menginap disini. Aku khawatir dengannya!" Bilmar melemparkan pandangan memaksa kepada Binara.
"Loh, Kok?Jadi aku yang nggak boleh menginap disini? Apa hubungannya?" Alika menyahuti Bilmar dengan tatapan tidak suka.
"Sudah..sudah! Kenapa jadi ribut begini?" Papa Bayu menyelak perdebatan mereka. "Kenapa tidak boleh, Nak?"
"Iya, Bil. Memangnya kenapa kalau Alika menginap disini? Bukannya kamu sudah mengizinkan anak Papa untuk menginap?" sambung Papa Luky masih bersikap normal.
"Betul, Bil! Kasihan calon istriku, dia ingin bersama Kakaknya dulu beberapa hari ini!" Rendi ikut memintanya.
Binara hanya bisa terdiam. Bukan karena ia setuju, melainkan ia tengah berfikir bagaimana nasib Papanya jika diketahui.
Lalu
Kedua matanya dialihkan untuk melihat ke arah Rendi yang masih terpaku melihati Alika dan Bilmar yang sedang bersiteru.
"Bagaimana juga dengan kamu Kak? Apakah kamu juga akan membenci Papa ku?" batin Binara mengiba.
Bilmar memejamkan kedua matanya. Lalu menghembuskan nafasnya ke udara.
"Sekarang penjahat itu masih berkeliaran, mungkin saja ia tengah mengumpat di area rumah ini untuk menyusun strategi? Bisa-bisa Alika mati setelah ini! Aku tidak merasa aman, jikalau Alika jauh dariku Pah, Ren!"
Bilmar kembali menatap wajah istrinya. "Kita pulang kerumah ya, kamu harus nurut apa kata-kataku!" suara tegas penuh tekanan namun tidak ada nada tinggi didalamnya.
"Tapi Bil, Alika disini akan aman, Nak--"
"Dari mana Papa tahu? Mengapa Papa bisa seyakin itu?"
Binara semakin lekat melihati Bilmar. Ia takut malam ini mereka akan ketahuan.
"Karena Papa sendiri yang akan menjaga kedua putri Papa!" Papa Luky menatap hangat wajah menantunya.
Ia tahu Bilmar bersikap seperti ini, karena sangat mencintai putrinya.
"Hemm..sudah, Kak! Nggak apa-apa, bawalah Kakakku pulang. Aku tahu kamu mencemaskan keadaan istrimu." Binara baru mengeluarkan suaranya sedari tadi. Ia tidak mau membuat Kedua kakaknya ribut karena tidak mau mengalah. Ia juga tidak mau masalah ini terlampau jauh.
"Bin?" Alika menoleh melihati wajah sang adik.
__ADS_1
Binara memberi kedipan mata dan sedikit anggukan, bahwa Alika harus mengikuti kemauan Bilmar saat ini.
Alika hanya menghela nafas nya pelan. Melolos begitu saja disandaran kursi. Menatapi sang Papa dengan wajah sedih.
"Sudah, Nak! nggak apa-apa." ucap Papa Luky pelan kepadanya.
Seketika makan malam kali ini berubah menjadi kelam mencekam. Kehangatan yang sedari tadi menjamah mereka begitu saja musnah dengan cepat.
Bilmar masih terlihat tegang. Ia terus memijit-mijiti celah dahinya. Ia berjanji akan mendapatkan si pelaku agar diberikan hukuman setimpal.
***
Oh yaa selagi kalian nunggu cerita ini update kalian juga bisa baca karyaku yang lain ya:
1.Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
2.Jangan Berhenti Mencintaiku
3.Dua Kali Menikah
Bisa klik di profil aku ya, terus pilih karya
Berikan aku bukti semangat dari kalian dengan cara :
VOTE
LIKE
RATE
dan
KOMEN YA🖤🖤
sekali lagi👇
Thankyou readers kesayangan🥰
__ADS_1
With love, gaga😘