Mantanku PresdirKu Suamiku

Mantanku PresdirKu Suamiku
MPS 2 : Kepergian Maura.


__ADS_3

Aku kembali guyss


Selamat baca yaa


❤️❤️❤️❤️


.


.


.


.


.


.


.


Alika masih menatap wajah Nayla amat dalam. Ia terus menerka-nerka siapakah wanita cantik yang ada dihadapannya sekarang. Nayla terus menatap senyum ke arah dirinya dan sang suami.


Bilmar melirik ke arah Alika, ia meraih tangan istrinya yang sedang mengepal kuat lalu ia letakan diatas pahanya. Ia ingin memberi ketenangan di hati Alika dengan ucapan Nayla sebentar lagi.


"Bagaimana Kak? Apa Maura sudah bisa aku bawa sekarang?"


Mendengar pertanyaan Nayla, membuat Alika menaikan satu alisnya amat tajam. Tidak ada senyum ramah darinya.


"Maura? Maura anak saya?" Tanya nya menyelak. Ia terus memastikan bahwa telinganya tidak salah mendengar.


"Apa maksud kamu? Mau dibawa kemana anak saya? Kamu siapa??" Tanya nya masih dalam nada baik.


"Ini Nayla, Al. Dia adiknya Kannya---"


Nayla memotong cepat. "Kak Kannya, Mama kandungnya Maura." Nayla mengingatkan Alika kembali.


Alika tersentak kaget. Dadanya terasa bergemuruh, ia diam dan mematung. Bilmar tetap menggenggam tangan istrinya dengan kuat. Ia merasakan kalau tangan Alika menjadi dingin dan berkeringat.


"Mau dibawa kemana? Kenapa mendadak?" Tanya Alika sendu. Wanita itu terlihat sedih dan sendu.


"Hemm.." Kening Nayla mengkerut. Ia pun menoleh untuk menatap Bilmar. Alika pun mengikuti arah mata Nayla untuk ikut menatap suaminya.


"Bil?" Seru Alika, ia seperti menunggu penjelasan Bilmar tentang tatapan Nayla yang seperti mengandung sebuah isyarat. Kalau mereka sudah membahas masalah ini lebih dulu dibelakang dirinya.


"Satu minggu yang lalu, aku menelpon Kak Bilmar untuk meminta ijin menjemput Maura. Kedua orang tuaku rindu dengan cucunya. Kebetulan akan ada acara pernikahan adik bungsu kami di Maldives. Sebagai perwakilan dari Almarhum kakak tertua kami, maka Papa dan Mama meminta Maura untuk ikut bersama kami kesana...kurang lebih satu bulan."


"APA??" Jawab Alika sambil bangkit berdiri. Dirinya kaget, sekaget-kaget nya. Mulutnya begitu saja menganga. Ia terus menatap wajah Nayla tanpa bisa menjawab apapun. Dadanya begitu saja sesak, ia terus mendorong salivanya jauh kedalam kerongkongan yang sudah kering kerontang. Ia menoleh tajam ke arah suaminya. Hatinya sakit sudah di bohongi mentah-mentah.


"Aku tidak punya banyak waktu Kak. Mama dan Papa sudah menunggu kepulangan ku bersama Maura. Karena sore ini kami akan berangkat ke Maldives." Ucap Nayla lagi. "Bisa dibereskan baju-baju Maura? Tidak usah terlalu banyak yang di bawa, karena kami bisa membelikannya disana----"


Ucapan Nayla terhenti, ketika melihat Alika begitu saja melangkah pergi, meninggalkan dirinya dan Bilmar. Wanita itu marah, kecewa dan sedih.

__ADS_1


"Al?" Bilmar memanggil Alika yang sedang berjalan sambil menangis. Waktu satu bulan untuk berpisah dengan putrinya, tidak pernah terlintas dalam benaknya. Maura yang selalu menyerahkan kehidupannya kepada sang Mama, apakah bisa ia pergi selama itu dari Alika.


Alika ingin menolak, namun ia tidak punya daya dan upaya. Ia hanyalah ibu sambung yang tidak mempunyai hak apapun untuk melarang. Walau hatinya tidak rela jika Maura akan dibawa begitu saja dan selama itu.


Ia pun masuk kedalam kamar Maura. Terlihat Maura, Gadis dan Binara sedang bermain di atas ranjang.


"Kamu kenapa Kak?" Tanya Binar ketika melihat Kakaknya menangis tersedu-sedu. Dari belakang terlihat Bilmar menyusul Alika yang tengah merajuk.


"Sayang..." Desahnya.


Alika pun menoleh dan memutar tubuhnya, lalu dengan sengaja ia mendorong tubuh Bilmar dan memukul-mukul dada suaminya.


"Dasar pembohong! Tega-teganya kamu bohongin aku, Bil! Masalah penting kayak gini, kamu gak cerita sama aku! Aku juga mamanya, aku juga berhak tau! Kamu hargain aku gak sih?"


Alika terus memaki Bilmar, ia menangis dalam hentakan emosi di dadanya.


"Ada apa ini, Kak? Kenapa kamu marah-marah?" Tanya Binar mencoba melerai keributan yang kembali melanda kedua kakaknya.


"Kak, ada apa?" Binara beralih menanyakan hal ini kepada Bilmar. Lelaki itu hanya diam, menatap wajah Binar dengan tatapan sedih. Ia tahu dirinya salah karena tidak jujur dari awal.


"Waktu itu kamu lagi sakit sayang, aku gak mungkin menambahkan beban fikiran kamu dengan masalah Maura."


"Aku?" Ujar Maura polos ketika namanya disebut.


Mendengar suara Maura yang mencelos begitu saja membuat Binara menoleh dan membawa anak itu untuk pergi dari kamar. Binar tidak mau Maura dan Gadis ikut melihat pertengkaran Bilmar dan Alika untuk kedua kalinya di hari ini.


Alika memutar tubuhnya untuk menarik koper Maura dari dalam lemari, ia lempar begitu saja ke luar. Ia kesal dengan Bilmar, ia benci lelaki itu. Membuka koper Maura dan memasukan sedikit demi sedikit baju-baju Maura kedalam. Bilmar masih berdiri dibelakang Alika, sesekali ia memegang lengan istrinya namun Alika menepisnya dengan kasar.


"Apa artinya diri aku buat Maura selama ini? Kalau masalah penting kayak gini aja, kamu gak minta pendapat aku dulu!"


Blag.


Alika mengeluarkan satu koper lagi dari dalam lemari dengan begitu kasar. Ini adalah suatu pelampiasan kekecewaan darinya untuk sang suami.


"Tega-teganya kamu gak jujur sama aku!" Alika terus saja menyudutkan Bilmar dalam masalah ini. Ia tidak mau menyerap atau mendengarkan pembelaan dari Bilmar terlebih dulu.


"Al?" Ucap Bilmar lembut. "Udah sini sama aku aja ya, kamu tiduran aja ya. Kamu masih lemah..." Bilmar meraih sekumpulan baju yang ada ditangan Alika.


"Jadi kamu biarin Maura pergi gitu aja? Ke luar negeri satu bulan? Kamu tega liat aku gak bisa tidur karena akan terus mikirin dia? IYA BIL???" Alika menjatuhkan pakaian itu begitu saja di lantai. Ia menatap dua bola mata suaminya dengan tatapan kesal yang berapi-api.


"Jahat kamu sama aku! Selama ini kamu hanya pakai tenaga aku untuk mengurus Maura, tapi kamu sendiri gak pernah mikirin perasaan aku!!" Alika kembali mendorong tubuh suaminya agar menjauh darinya.


Bimar tidak marah, ia tahu dirinya salah. Ia pun ikut menangis melihat istrinya seperti ini. Bukan hanya Alika yang sakit, dirinya pun perih karena akan jauh dari anak kandungnya. Tapi bagaimana lagi, Maura juga anak Kannya. Keluarga Kannya juga mempunyai hak akan diri Maura.


Alika pun duduk dilantai, ia membereskan baju-baju yang tengah ia buang barusan dan ia lipat kembali untuk dimasukan kedalam koper. Sesekali ia memegangi dadanya yang begitu sakit karena rasa sakit bagai tertusuk pisau. Lalu ia beralih untuk mengelus-elus perutnya yang masih datar.


"Aku gak tahan hidup sama kamu, Bil!" Alika terus merancau, ia terus meluapkan rasa kecewanya kepada Bilmar.


"Sayang, maafkan aku, Al.." Bilmar memelas dan merintih. Ia berkali-kali ingin memeluk, mendekap dan menggenggam tangan istrinya namun Alika terus menepis, menolak dan mendorong tubuh Bilmar. Lelaki itu terjungkal beberapa kali ke lantai.


*****

__ADS_1


Dua koper sudah siap di ruang tamu. Alika masih memeluk Maura dengan erat. Maura yang tidak mengerti kenapa dirinya diperlakukan seperti itu oleh sang Mama. Semua mata memandangnya dengan wajah sedih.


"Maura ingat pesan Mama ya Nak, nanti Maura jangan nakal, harus mau makan sendiri dan jangan sering makan ice cream!" Ucap Alika dengan suara terbata-bata, air matanya terus menetes pelan.


Maura hanya bisa melongo menatap wajah Mamanya yang sudah deras akan air mata. Ia menyeka air mata sang Mama dengan kedua tangannya.


"Mama, kenapa Mah?" Tanya Maura lugu.


"Ayo peluk Mama, Nak. Maura jangan kangen sama Mama ya Nak, Mama aja yang kangen. Maura jangan ya---" Alika memaksa Maura untuk memeluk dirinya dengan sangat erat. Maura masih tidak mengerti kenapa Mamanya bersikap dan berucap seperti itu. Alika tidak bisa membayangkan bagaimana putri kecilnya ini tahu jika ia akan pergi tanpa orang tua disisinya.


Ketika sudah selesai memeluk anak itu, Alika pun menyerahkan Maura kepada Bilmar.


"Antarkan ia ke mobil!"


Alika langsung memalingkan wajahnya untuk menatap ke arah yang lain. Alika tetap duduk di sofa, ia tidak kuat jika harus mengantar kepergian Maura sampai ke mobil.


"Kak, sabar..." Binar mengelus-elus punggung Kakaknya.


Bilmar menggendong putrinya dan menciumnya berkali-kali. Lelaki itu pun menangis. Ia menoleh ke arah Nayla yang masih setia menunggu.


"Tolong jaga Maura, Nay. Kabari tentangnya setiap hari. Semua baju-baju dan perlengkapan lainnya sudah ditata rapih oleh Mamanya di dalam koper."


Nayla mengangguk dengan senyuman.


"Pasti Kak, aku akan mengabari tentang Maura setiap saat!"


Alika masih saja menangis di dekapan Binara. "Baiklah aku permisi..."


Nayla ingin mendekati Alika, namun Binara lebih dulu membuat kode mata agar Nayla langsung pergi tanpa harus bertatap muka dengan sang Kakak.


Alika terus menangis sesegukan.


"Mah, Mama kenapa Pah? Kok nangis?" Tanya sang anak yang masih dalam gendongan Papanya, lalu ia pun beralih menatap wajah Bilmar.


"Papa juga nangis ya?" Cicitnya lugu. Bilmar hanya menggelengkan kepalanya dan mencium kembali wajah anak perempuan tercintanya.


"Ayo Nay!" Bilmar mengajak Nayla untuk melangkah pulang. Maura tetap bersikap biasa karena ia masih dalam gendongan sang Papa.


Lima menit kemudian, suara kencang Maura terdengar begitu saja ketika ia sudah dimasukan ke dalam mobil secara paksa. Bilmar melepas pelukannya dari tubuh Maura. Tubuh anak itu pun meronta-ronta dengan hebat.


"MAMA!! PAPA!! MAMA...MAMAAA!!!"


****


Atuhlah kalian mikirnya pelakor mulu🤭🤭, aku mah ga suka bahas pelakor-pelakoran selain di BDCT. HAHAHA✌️✌️


Kasih like dan komentar yang banyak buat aku ya.


Kakak tinggal dulu ya, Ammar. Jaga Mama dan Papa ya❤️


__ADS_1


__ADS_2