
Tuh kan aku kembali lagi, kalian sih manggil-manggil aku terus..ya nggak apa-apalah untuk kalian❤️❤️
Selamat baca yaa
🤗🤗🤗
****
Dua bulan pun berlalu, Kini kandungan Alika sudah memasuki usia sembilan bulan. Ia selalu menuruti semua perintah dan nasihat dari Dokter spesialis kandungannya.
Di masa-masa menuju kelahiran sang Anak. Kedua Papa dan Suaminya sangat memprotec Alika. Karena ruang geraknya semakin susah, setiap hari Bilmar akan memandikan serta menggosok tubuh sang istri. Membantu ia berpakaian.
Kedua kakinya terlihat sudah bengkak walau kata Dokter hasil laboratorium Alika sangat baik, namun tetap saja sebagai suami. Bilmar akan selalu mengkhawatirkannya.
Berat anaknya pun cukup besar, hampir 4,5 kg. Alika sudah tidak diperkenankan lagi minum ice cream. Berat badan Alika saja sudah melesat naik sampai 30 kg.
Padahal minuman itu yang sangat ia pantang, namun ketika mengandung, semua yang dipantang malah menjadi suatu keharusan baginya.
"Sayang, kamu jangan minum es lagi!" Seru Bilmar dari ruang tv, ketika ia melihat Alika tengah membuka kulkas.
"Enggak, Bil! Aku hanya minum air dingin--"
"Mama, minum es sama air dingin itu kan sama aja..." Maura tertawa melihati Alika yang selalu mengeles jika Bilmar melarang.
Entah mengapa akhir-akhir ini Alika selalu ingin minum manis dan air dingin. Ia akan sering berlama-lama didepan kulkas atau menyuruh Bik Minah untuk berbelanja, mengisi stok makanan dan minuman yang ia ingini.
"Nak, temani Mama yuk. Kita ke taman belakang!"
Maura yang masih bersandar di lengan sang Papa sambil melihati acara televisi, segera bangkit menuruti ajakan sang Mama.
"Mau ngapain disana, Al?"
"Mau makan rumput!! Ya, mau jalan-jalan aja, mumpung matahari nya belum terlalu panas. Kan kata Dokter juga, aku harus banyak jalan sayang---"
"Ya, baiklah. Maura temani Mama ya. Kamu kalau ada apa-apa teriak yah!"
Ya, santai aja dulu Bil. Sebelum hiruk pikuk lahiran istrimu kembali membuatmu huru hara. hahahaha!
Bilmar kembali menonton tv. Karena hari ini adalah weekend dan dia tidak punya kesibukan apapun selain hanya duduk bersantai. Rumah pun terasa sepi, karena Papa Bayu dan Papa Luky sedang pergi bermain Golf.
Alika terus berjalan-jalan ditaman belakang, Maura terus menggandeng tangan sang Mama.
Lalu
"Mama, aku capek!" Keluh Maura
Tidak terasa sudah 4x putaran mereka berjalan di taman yang cukup luas. Maura pun melepaskan tangannya dari sang Mama.
"Ya udah Maura istirahat dulu. Mama nggak apa-apa jalan sendirian--"
"Mah, aku ambil minum dulu ke dalam ya!" Maura pun berlalu untuk masuk lagi menuju dapur.
"Loh, Mamanya mana?" tanya sang Papa yang melihat Maura masuk tanpa istrinya.
"Aku haus Pah! Mau minum dulu, Mama masih jalan-jalan di taman--"
"Kalau sudah selesai minum, langsung kembali ke taman ya, Nak!"
"Iya, Pah--"
__ADS_1
Maura pun berinsiatif membawakan Mamanya air minum dingin tanpa disuruh. Ia pun kembali memutar langkahnya menuju taman belakang.
Kemudian
Teriakan Maura begitu saja menggema, ketika melihat sang Mama telah jatuh di taman. Alika terus mengerang kesakitan sambil memegangi perutnya.
Seketika Bilmar loncat dari sofa untuk berlari ke taman belakang.
"Sakit banget, Bil!" Alika terus mengeluh. Dengan sekuat tenaga dan tarikan nafas Bilmar menggedong tubuh Alika yang begitu berat.
"Masya Allah, berat banget!" Serunya dengan urat-urat leher yang begitu saja tersembul keluar.
"Aaaahhh! Ya udah jangan digendong!" Alika berdecak sambil terus merintih.
"Iya maaf sayang..."
Bayangkan saja, wajah Alika dan tubuhnya saat ini. Tapi tetap di mata Bilmar wanita itu selalu sexy dan menggoda hasratnya setiap malam.
Apalagi dengan perintah Dokter untuk terus memperbanyak hubungan suami istri, tentu saja Bilmar tidak akan melewatkannya begitu saja.
Brug.
Alika diletakan di sofa dengan hati-hati oleh Bilmar.
"Sakit, Bil! Sakit banget!!" Alika terus mengerang.
"Bik Minah, Mang dana---" Bilmar terus memanggil mereka semua untuk datang menghampiri.
"...Iya Den?"
"Kenapa Den---?"
"Ah, sayang!!" Alika terus berteriak, ia terus memeras kain baju Bilmar.
"Ya Allah, Non kaya nya mau melahirkan Den. Ini namanya sudah mules."
"Mamang siapin mobil ya Den." Mang Dana pun berlari keluar untuk menyiapkan mobil.
"Bik, tolong bawa turun perlengkapan persalinanku ya. Sudah di siapkan, tinggal di ambil. Di sofa ranjang!" Alika menjelaskan dengan terbata-bata.
"Baik, Non!" Bik Minah pun bergegas pergi.
"Mama? Mama sakit ya? Ayo kita ke Dokter Pah!" Maura terus memegangi tangan sang Mama.
Alika hanya mengangguk dan mencium anak ini. Alika sudah tidak bisa berfikir sekarang, ia terus meremas tangan Bilmar, ketika rasa sakit itu terus menyerang.
"Ayo atur nafas kamu sayang--"
Alika terus mengikuti apa aba-aba dari suaminya.
"Nah, bagus. Pelan-pelan. Ayo ulangi lagi!" Bilmar terus membuat Alika menjadi rileks dan tenang.
Dan benar saja, Alika kembali tenang. Bilmar pun mendesah karena rasa khawatirnya sudah sedikit kendur.
Tapi
"Sayang, sakit lagi!!" Alika kembali mendekap Bilmar dan meremas-remas lengan bajunya.
Dilihatnya Bik Minah sudah turun dan membawa tas yang perintahkan oleh Alika tadi. Bilmar pun mulai menggendong kembali tubuh Alika dari sofa untuk bangkit berjalan menuju mobil.
__ADS_1
"Tolong bawakan ke dalam mobil, Bik! Dan kabari Papa Bayu dan Papa Luky serta Binar. Katakan kepada mereka untuk langsung datang ke Rumah Sakit! Alika mau melahirkan!"
"Baik, Den."
"Jangan menangis, Nak. Mama nggak apa-apa sayang--" Dalam keadaan sakit, Alika masih saja memperhatikan Maura. Ia tidak mau Maura menangis terisak seperti itu.
Alika terus menggigit bibir bawahnya untuk menahan sakit, pada saat ia merasakan nyeri kembali hadir menyiksa perutnya.
"Jalan, Mang!!"
Mobil pun melaju membawa keluarga kecil ini yang sebentar lagi akan bertemu dengan penghuni rumah baru. Pernikahan mereka akan kembali terasa lengkap, karena ada dua anak yang akan menggema telinga mereka di rumah. Ada Maura dan ada Bilka? Atau Ammar??
Karena bayi ini masih saja menggoda sang Mama dan Papa untuk tidak mau memperlihatkan jenis kelaminnya.
Kita tunggu saja, Apakah Bilka, anak perempuan yang akan tumbuh cantik seperti Maura? Atau kan Ammar, anak lelaki yang akan tumbuh gagah seperti sang Papa.
Maura terus menoleh ke kursi belakang, ia terus melihat sang Mama yang masih meringis kesakitan di dalam pelukan sang Papa.
"Mama sabar ya, Adik bayi jaga Mama kita ya!"
***
.
.
.
.
.
Makasi banyak untuk kalian yang sudah Like, Vote aku dan kasih semangat. Karena Kalian juga cerita ini terus mengalir.
Oh iyaa selagi kalian nunggu aku Update, bisa loh baca karya ku yang lain:
1.Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
2.Gifali dan Maura
3.Dua Kali Menikah
Bisa klik di profil aku ya, terus pilih karya
Berikan aku bukti semangat dari kalian dengan cara :
VOTE
LIKE
RATE
dan
KOMEN YA🖤🖤
sekali lagi👇
Thankyou readers kesayangan🥰
__ADS_1
With love, gaga😘