Mantanku PresdirKu Suamiku

Mantanku PresdirKu Suamiku
MPS 2 : Si Pencemburu


__ADS_3

Bilmar Pov.


Setelah menempuh perjalanan dengan waktu kurang lebih dua jam. Kini kami sudah sampai ditempat tujuan yang istriku mau. Alika tetap ingin minum air kelapa muda sambil menikmati air mancur di kota ini. Walau tubuhku lelah, aku tetap mengiyakan kemauannya. Bagiku, tidak lah sulit hanya untuk mengantar ia kesini. Karena istriku itu sudah banyak berkorban untuk aku dan anak-anak. Serta, Alika tidak pernah meminta macam-macam hal yang sulit kepadaku.


"Kamu capek ya sayang?" tanyanya ketika kami baru turun dari dalam mobil.


Aku terus memapahnya berjalan walau langkah kakinya terasa berat, karena terus menopang perut nya yang semakin besar. Kedua kaki nya juga sudah terlihat bengkak-bengkak. Aku mencemaskan nya tapi ia selalu saja bersikap tenang. Ia hanya tidak ingin membuatku cemas dan khawatir.


"Sayang..itu es kelapa mudanya!" Alika menunjuk ke sebuah pondokan rumah makan yang menjual kelapa muda.


Aku mengangguk dan mengikuti langkahnya untuk berjalan kesana. Memesan dua buah kelapa muda untuk kami nikmati. Ku dapati wajah istriku begitu berbinar, senyumnya terus saja mengembang. Sesekali menatapku dengan wajah bahagia, dua bola matanya membulat ketika si abang penjual tengah mengupas kelapa muda yang sangat inginkan.


Walau waktu saat ini sudah menunjukan jam satu siang, dimana hari sedang terik-teriknya jika sedang berada di Jakarta, namun berbeda hal di Purwakarta. Suasana terlihat adem dan sejuk. Angin begitu saja mengkibas-kibas tubuhku dan Alika untuk menyapukan cairan keringat yang terus menetes membasahi wajah kami.


"Disini sejuk kan sayang?"


"Iya, Al...kamu pernah ke kota ini?" Bilmar kembali bertanya.


"Aku pernah kesini waktu masih SMP, Bil. Mama dan Papa Samsul membawaku ketika ia ingin menginap dirumah temannya. Mama dan Papa pernah mengajakku minum air kelapa muda dipinggiran danau itu.." Alika menunjuk sebuah danau yang terlihat sepi.


Tak berapa lama, dua buah kelapa muda sudah kami dapatkan. Sudah dikupas dan siap untuk diminum. Alika menolak untuk minum ditempat, ia ingin meminumnya bersamaku didepan danau.


Aku menjinjing dua buah kelapa itu ditangan kiriku sedangkan tangan kanan menggandeng tangan istriku. Kami kembali berjalan kaki di sepanjang trotoar menuju kawasan danau yang selalu memberikan atraksi air mancur dengan meriah.


"Atraksi nya malam, Pak, Bu. Kalau siang sudah nggak ada." Jawab penjaga pintu kawasan wisata ketika Alika menanyakan jadwal air mancur hari ini.


"Baiklah, Pak. Terima kasih banyak...tapi kalau hanya duduk disini boleh kan?" Alika menunjuk pinggiran pagar yang sebagai akses masuk untuk menikmati air mancur secara dekat dari pinggir danau.


"Boleh, Bu, Pak, silahkan..."


"Makasi ya Pak."


***


Kami duduk bersebelahan dipinggiran pagar danau sambil menyeruput air kelapa muda. Walau ubun-ubun ku sudah mendindih karena setia menunggu selama setengah jam untuk mendengarkan apa yang ingin Alika ceritakan namun belum kunjung ia suarakan. Aku menatap ritme dadanya yang begitu cepat, ada kesengalan nafas disana.


"Hmmmp..." Ia mengusap perutnya, aku lihat perut buncit yang tersibak didalam kain baju itu bergerak-gerak.

__ADS_1


"Hai sayang nya Mama dan Papa, udah pada bangun ya, Nak?" Alika berbicara sendiri kepada mereka. Aku menjulurkan tanganku untuk mengusap-usap perutnya.


"Wah tau aja nih kalau Papanya yang usap, pasti gerakannya lebih cepat.." Ucapnya sambil menatapku.


Terasa perut Alika semakin keras dan mengetat. Aku tidak akan menyangka anak kembar ini bisa bertahan sampai sejauh ini, mereka tetap mau bertahan didalam perut istriku.


"Katanya kamu mau cerita, Al. Ada masalah apa memang?" Aku terpaksa membuka suara.


Aku lihat helaan nafas panjang mencuat dari bibirnya. Tatapannya, ia bawa lurus menatap danau. Seperti ada raut rindu, cemas dan kegelisahan. Untung saja suasana sedang sejuk, aku tidak berkeringat sama sekali walau saat ini hatiku sedang diliputi rasa penasaran tinggi.


"Sebenarnya ini hanya mimpi, Bil. Aku gak punya artian lebih dalam, untuk menarsir kan mimpi ini, hanya saja terasa aneh..."


"Aneh? Memangnya kamu mimpi apa sayang?"


"Sudah seminggu ini aku bermimpi dengan mimpi yang sama dan terus berulang-ulang. Memang sih, aku terasa senang setelah bermimpi.." Jawabnya.


Aku melihat simpul senyumnya begitu saja timbul. Ada secerca kesenangan dari raut wajah istriku.


"Mimpi apa sayang?" tanyaku kembali.


Aku semakin dibuat penasaran. Alika menoleh ke arahku lalu membawa tatapannya lagi untuk menatap patung singa yang berada ditengah-tengah danau, yang biasanya dipergunakan untuk atraksi air mancur.


"Mungkin kamu sedang rindu Mamamu, Al, atau pun sebaliknya, Mama tau karena sebentar lagi kamu akan melahirkan cucunya---"


Aku tetap menguatkan hatinya, aku tahu ia sedang rindu Mama mertuaku. Syukurlah hanya ini masalahnya, fikirku.


Namun ternyata tidak,


"Tapi kebesokan nya aku bermimpi lagi dengan hal yang sama, Bil. Sama persis, namun kali ini Papa Samsul yang datang---" Alika terdiam, ia masih mengusap-usap perutnya. Kembali ia meminum air kelapa mudanya. Aku tahu ia hanya ingin menepis mimpi yang terasa aneh untuk kami. Mengapa mimpi itu datang berurutan dan sama.


"Mungkin Mama dan Papamu rindu sama kamu sayang, maka mereka datang, kita harus perbanyak doa lagi untuk mereka."


Istriku mengangguk walau tatapannya belum memperlihatkan kelegaan.Seperti masih ada yang mengganjal dihatinya.


"Ada lagi?" tanyaku.


Alika mengangguk sambil kembali menyeruput air kelapa mudanya yang ku tahu sudah habis sejak tadi.

__ADS_1


"Ini, minum saja punya ku..." Aku meraih buah kelapa muda dari pangkuannya lalu menggantinya dengan punya ku. Entah mengapa dengan hal yang akan Alika ucap membuat dadaku berdebar-debar.


Ada apa? Batinku bergejolak.


"Tentang mimpi lagi?" Aku kembali bertanya. Aku sangat menghaluskan suaraku, agar Alika mau terus terang tanpa meninggalkan keganjalan lagi dihatinya. Aku ingin ia melepaskan semua penat yang merundung batinnya.


"Aku kembali bermimpi yang sama sayang..." Alika menoleh dan menatapku yang sedang berbalik menatapnya. Kulihat bayanganku ada di pelupuk matanya. Memang sedekat itu aku dengan istriku.


Aku genggam tangannya. "Mimpi seperti Mama dan Papa Samsul yang sedang duduk sambil mengusap-usap perut kamu sayang?" tanyaku memastikan.


"Iya, Bil..." Alika mengangguk.


"Siapa yang datang?" tanyaku penasaran. Namun hal yang tidak pernah aku sangka, ketika Alika menyebutkan nama itu.


"Mas Aziz yang datang, Bil. Mimpi ini sangat berbeda, karena ia menangis menatapku. Ia juga sempat mengusap perutku tanpa bicara. Aku merasa aneh, was-was dan juga bingung. Dan lebih parahnya lagi saat ini aku merasakan takut----Apakah ada suatu pertanda dibalik semua mimpi itu?"


Jag.


Jantungku begitu saja berdebar tidak karuan. Seperti ada remasan yang memelintir didalam. Mengapa harus nama lelaki itu yang disebut oleh Alika. Inilah aku dengan sejuta kecemburuan untuk istriku. Walau Aziz sudah tiada, tetap saja mendengar Alika menyebut nama mantan suaminya yang sudah meninggal, membuat hati ku remuk.


Aku memang terlalu mencintai Alika. Bahkan ketika aku tahu roh Aziz datang, walau hanya kedalam mimpi saja, aku tetap tidak mentolerir hal itu! Aku tidak menyukainya. Jika sejak tadi aku akan memberikan tanggapanku diakhir ceritanya, maka saat ini aku hanya diam.


Membawa arah mataku menatap patung air mancur itu kembali. Tangan yang aku pakai untuk menggenggam tangan Alika, aku biarkan terlepas. Membuat Alika meraih daguku untuk menoleh dan melihat matanya.


Alika tersenyum. "Kamu marah ya?" tanyanya polos dan benar, aku memang sedang marah. Aku hanya terdiam dan membawa arah mataku untuk melihat kesana kemari. Aku jaga agar tidak menatapnya.


Alika meletakan kepalanya dibahu ku. Meletakan satu tangannya untuk memeluk leherku.


"Jangan marah, Bil. Tetap saja saat ini aku milikmu seutuhnya. Mungkin Mas Aziz rindu, karena aku mulai mengabaikannya.."


Aku hanya mengangguk pelan, menikmati keheningan ku. Aku sudah tidak fokus dengan isyarat, pertanda atau hal yang dicemaskan dari mimpi itu. Aku fikir semua mimpi itu hanyalah bunga tidur.


Malah saat ini kepalaku terasa pening, aku takut Alika merindukan lelaki itu. Begitu cemburunya aku, bahkan ketika aku tau lelaki itu masuk kedalam mimpinya, aku tetap merasa tidak rela. Alika hanya boleh memimpikanku, memikirkanku, merindukanku dan mencintaiku.


Titik, tidak pakai koma.


****

__ADS_1


Si pencemburu❤️



__ADS_2