Mantanku PresdirKu Suamiku

Mantanku PresdirKu Suamiku
MPS 2 : Kabar baik dari Twins


__ADS_3

Selamat pagi guys


Aku kembali


Selamat baca yaa


❤️❤️❤️


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Kediaman Luky Artanegara.


Terlihat Binara sedang melangkah kan kakinya untuk keluar dari kamar mandi dengan hanya lilitan handuk di dadanya. Rambut yang di kuncir tinggi ke atas, memperlihatkan mulus dan jenjang akan lehernya. Aroma sabun pun masih menempel lekat di tubuhnya. Sisa kebasahan air shower pun masih menetes di belakang punggungnya yang mempesona. Membuat Rendi yang sudah berpakaian kantor dengan rapih di depan cermin seketika menoleh ke arah istrinya. Libido nya naik kembali, Rendi mendamba istrinya lagi.


Ia pun menghampiri Binara dan memeluk sang istri dari belakang. Binara masih sibuk memilih-milih dress yang akan ia gunakan untuk pergi kerumah Alika di depan lemari.


Cup.


Binara tersenyum ketika merasakan kecupan hangat dari Rendi di tengkuk lehernya dengan hasrat yang membara. Lelaki lembut itu terus saja mencium ke bagian manapun yang ia suka.


Tangannya terus bergerilya kemana-mana. Dengan cepat ia memutarkan tubuh Binara untuk menghadapnya dan Rendi langsung mendaratkan bibirnya di belahan bibir Binara yang masih terbuka.


"Kak?" Seru Binara ketika Rendi sudah melepaskan ciumannya, lalu sang suami beralih menurunkan kepalanya ke bawah leher Binara.


"Kamu masih mau lagi?" Tanya Binar.


Rendi tidak menjawab. Ia terus sibuk dengan permainannya. Handuk yang tengah terlilit di tubuh Binara seketika terlepas dan menjadikan diri wanita itu polos begitu saja. Rendi membuat hasrat Binara kembali muncul dan memancing istrinya untuk melakukannya sekali lagi.


Binara terus dimabuk kepayang dengan permainan bibir dan jari jemari Rendi. Ia tidak perduli jika Rendi akan telat ke kantor dan ditunggu oleh Papa Luky di meja makan.


Rendi menggendong Binara untuk direbahkan lagi diranjang. Mereka berdua sama-sama tertawa. Binara melepaskan dasi suaminya yang sudah terpasang di kerah kemeja kantor.


Dan percintaan itu pun kembali dilakukan.


Karena cinta tulusnya untuk Binara, ia tidak pernah menyesal ketika mendapatkan Binara yang sudah tidak sempurna lagi. Pernah menikah dan melahirkan seorang anak. Baginya Binara tetap gadis perawan yang membuat ia menjadi candu setiap hari.


"Rendi..Binar.." Suara Papa Luky terdengar dari luar pintu.


Kening Papa Luky terlihat mengerut beberapa kali ketika mendengar suara tidak jelas dari dalam. Lalu stimulus otaknya pun berjalan cepat, ia tahu pasti yang sedang dilakukan oleh anak-anaknya didalam. Tanpa mengetuk pintu, akhirnya ia merapatkan telinganya ke dalam. Untuk memastikan terkaannya.


"Duh benar nih lagi enak-enak." Ucap Papa Luky ketika mendengar desahan Binara dan Rendi yang saling bersautan didalam dengan begitu nyaring.


Papa Luky membidikkan bahunya, ia takut jika anak nya mengetahui dirinya ada disini. Seketika itupun Papa Luky cepat berlalu untuk angkat kaki dan turun kembali ke lantai bawah.


"Darmi.."


"Iya Tuan..."


"Kalau nanti Binara dan Rendi sudah turun, bilang aja kalau saya duluan kerumah Kakaknya!" Ucap Papa Luky kepada Bik Darmi.


"Tuan mau langsung kerumah Non Alika? Mau saya bawakan apa Tuan?"


"Gak usah Darmi, saya hanya sedang khawatir karena kemarin Alika muntah-muntah terus. Saya takut dia sedang sakit."


"Wah atau jangan-jangan sedang mabok, Pak.."

__ADS_1


"Sst, gila kamu. Mabok dari mana? Alika gak pernah minum-minum, Darmi!"


"Bukan Pak, maksud saya. Siapa tahu Non Alika sedang isi lagi Pak----"


Papa Luky menyelak cepat. "Hamil maksud kamu?"


"Nah itu Pak maksud saya, muntah-muntah terus siapa tau sedang hamil lagi. Tapi kasian ya Pak, Ammar kan masih kecil."


Wajah Papa Luky seketika berubah menjadi perangai yang membahagiakan. Garis senyumnya terangkat ke atas menekan bagian pipi yang sudah berkeriput. Ia sangat senang jika benar Alika hamil lagi, sudah di pastikan ia akan mendapatkan cucu kembali.


"Orang hamil biasanya suka ngidam apa ya? Saya udah lupa waktu Ibu mereka mengidam dulu.." Tanya Papa Luky.


"Tapi Pak, ini hanya perkiraan saya aja. Belum tentu juga kan kalo Non hamil, bisa aja masuk angin---"


Wajah bahagia itu kembali redup. "Iya juga ya, saya gak kefikiran." Papa Luky tertawa. "Tapi doakan aja Mi, siapa tau anak saya memang hamil lagi."


"Aamiin. Bawain aja buah mangga muda Pak, syukur-syukur emang Non lagi hamil. Ya kalau enggak kan bisa tetap dimakan."


Papa Luky mengangguk. "Ya baiklah Mi, nanti saya akan mampir ke toko buah."


"Mau jalan sekarang Pak?" Mang Dadang menghampiri Tuannya yang sudah berdiri dipertengahan ruang tamu. "Iya Dang, kita jalan sekarang. Tolong antar kan saya dulu ke rumah Alika."


"Baik Tuan.."


Entah bagaimana jika lelaki tua itu tahu kalau sang anak memang tengah hamil muda bahkan sedang mengandung bayi kembar. Tentu segala kebahagiaan mengalir kembali di keluarga Artanegara.


Papa Luky akan amat senang karena ia hanya bisa mengharapkan cucu dari Alika, mengingat Binara hanya mempunyai kesempatan kecil untuk hamil kembali.


****


"Assalammualaikum..." Suara Papa Luky membuat kedua cucunya menoleh.


Terlihat Gadis dan Maura tengah bermain boneka-bonekaan di atas permadani ruang televisi.


"Kakek!!" Seru Maura yang lalu bangkit dan berlari memeluk Papa Luky. Sang Kakek pun membalas pelukan itu dengan erat dan amat cinta.


"Gendong Kek.."


Begitulah Maura. Ia suka sekali kalau dirinya di gendong oleh siapa saja. Gadis hanya menatap biasa ke arah Papa Luky. Sejatinya anak itu belum tau siapa lelaki yang tengah ia pandangi.


"Ayo sini Nak, Kakek gendong..."


Jika biasanya Gadis akan menolak kalau didekati oleh orang yang belum ia kenal, namun sekarang sangatlah berbeda. Ia mengangguk penuh suka. Papa Luky akhirnya meraih tubuh Gadis dengan satu tangan kirinya. Ada helaan nafas ketika ia berhasil menggendong dua anak tersebut.


"Hmm..harus selalu minum susu penguat tulang nih, biar tetap lincah gendong cucu-cucu..." Gumamnya bahagia.


Gadis hanya diam, ia terus menatap Papa Luky dengan wajah datar. Tidak ada penolakan darinya, malah ia merasa nyaman. Padahal ia sangat sulit untuk didekati oleh orang yang belum ia kenal.


"Tuan datang sendiri?" Tanya Bik Minah yang mencari keberadaan Binara atau Rendi.


"Nanti Binar dan Rendi menyusul kesini, Oh iya Minah, tolong semua makanan itu dibawa ke atas meja..."


Papa Luky membawa arah mata Bik Minah kepada belanjaan yang dibelinya sebelum sampai kesini.


"Tuan belanja? Banyak banget nih makanannya..." Ucap Bik Minah sambil berlalu membawa semua belanjaan itu ke meja makan.


"Iya Minah, beberapa susu dan cemilan untuk Gadis dan Maura."


"Wah, ada mangga muda juga Pak?" Tanya Bik Minah ketika menemukan buah itu dari salah satu kantong belanjaan.


"Iya itu buat----- Oh iya, Alika mana?" Ucapannya terhenti ketika sedari tadi belum melihat batang hidung Alika dan Bilmar.


"Oh iya Tuan. Non sama Aden sedang pergi. Saya gak tau perginya kemana, pagi-pagi banget sebelum adzan subuh. Mandi juga belum, masih pakai pakaian tidur.."


"Hah? Kemana ya? Kok pagi-pagi banget?" Desah Papa Luky seraya berfikir.


Tak berapa lama kemudian.


Terlihat Alika dan Bilmar baru saja sampai di ambang pintu. Di sisi kedua tangan Bilmar menggenggam kantong belanjaan yang cukup besar.


"Mama..Papa..." Seruan Maura membuat Papa Luky menoleh dan memutar tubuhnya.

__ADS_1


Maura seperti biasa merentangkan kedua tangannya untuk diraih dan digendong oleh Alika.


"Suster..." Gadis pun memanggil Alika dengan wajah senang.


Melihat dua anak perempuan itu memanggil namanya, Alika langsung saja ingin berlari untuk menghampiri Papa, Maura dan Gadis.


"Al jangan..." Seru Bilmar mengingatkan. "Jangan lari-lari, jangan gendong-gendong!"


Alika mengangguk malas. Ia tetap melangkah menghampiri mereka.


"Kamu dari mana, Nak?" Tanya Papa Luky ketika tangannya dicium oleh Alika.


"Baru pulang dari Rumah Sakit Pah, lalu belanja..."


"Papa kesini sendiri?" Tanya nya lagi.


"Mah gendong.." Maura menggeliatkan kedua tangannya untuk memeluk leher sang Mama.


"Suster gendong.." Gadis pun melakukan hal yang sama seperti Maura.


Alika sungguh tidak tega melihat dua anak itu yang bersamaan ingin meminta digendong olehnya.


"Kamu sakit Nak? Kata dokter sakit apa?" Tanya Papa Luky kembali.


"Alika gak sakit Pah.." Selak Bilmar sambil mencium tangan Papa mertuanya.


"Lalu, kenapa kemarin kamu muntah-muntah? Atau jangan-jangan benar ucapan si Darmi, kalau kamu sedang--"


"Hamil Pah, Alika memang hamil lagi." Sahut Bilmar sambil mengelus perut istrinya.


"Karena Mama sedang hamil, Maura dan Gadis gak boleh minta gendong dulu ya..." Ucap Bilmar kepada dua anak perempuan itu yang hanya melongo menatap sang Mama.


"Alhamdulillah ya Allah.." Ucapan syukur begitu saja mengalir dari Papa Luky. Ia pun mengecup dahi sang anak.


"Selamat ya Nak..Papa ikut senang.."


"Dan bonusnya lagi, Alika sedang hamil anak kembar Pah..."


"APA? Kembar??" Suara kaget itu bukan berasal dari Papa Luky. Namun dari Binara yang baru saja sampai di ambang pintu bersama Rendi.


"Alhamdulillah, yang benar Kak?" Binara kembali bertanya ketika langkahnya sudah sampai disamping tubuh Alika.


"Iya Binar, aku akan punya anak lagi.."


"Selamat ya Al, Bil..kalian dipercaya lagi mempunyai anak oleh Allah.."


"Makasi ya Ren, kamu juga harus selalu optimis. Kalian pasti akan mempunyai anak lagi.." Bilmar memberikan semangatnya.


"Iya Ren, Bin. Yang penting kalian jangan lupa selalu berdoa dan berusaha. Apalagi sekarang sudah ada Gadis, semoga menjadi penambah semangat untuk kalian.."


"Tapi kan Ammar masih kecil Kak? Lagian kamu nih Kak, gak bisa apa kalau nahan dulu gak buat anak! Kan kasian Kakakku, harus mengandung lagi dengan posisi Ammar yang masih dua bulan. Akan membuatnya letih!" Binara berbalik kesal kepada Bilmar. "Doyan banget..." Tambahnya lagi.


Bilmar hanya tertawa. "Jangan salahin aku, Bin. Kakakmu yang menggoda aku terus tiap malam."


Alika mendelikan matanya ke arah Bilmar "Enak aja kamu tuh!" Ia memutar matanya untuk menatap Binara.


"Jangan didengerin Bin, Bilmar emang suka ngaco kalau ngomong!"


"Apa gak sebaiknya abis melahirkan si kembar, kamu minta untuk di steril aja Kak. Biar gak terlalu banyak anak."


"Et! Enak aja, Alika gak akan KB atau di steril, Bin. Kalau hamil lagi ya gak apa-apa dong, itu kan rezeki dari Allah. Ya kan sayang?" Bilmar mengedipkan satu matanya untuk menggoda sang istri.


"Siapa tau kan anak-anak kita nanti jadi tim kesebalasan?" Ucapnya dengan mudah. Alika hanya memiringkan bibirnya dan melototkan matanya.


"Tuh kan Bin, Pah, Ren. Bilmar tuh emang suka ngaco kalau ngomong!"


"Iya Kak, kamu tuh mau punya anak atau main bola sih?? Dikira Kakak aku gawang apa, nyetak anak terus..euhhh!" Binara memutar bola mata nya jenga. Membuat semua orang tertawa mendengarnya.


Sungguh mereka terlihat sangat bahagia karena kehamilan Alika. Papa Luky amat tidak menyangka jika putrinya akan memberikan ia cucu kembar sekaligus. Semoga dengan kehamilan si kembar selalu membuat teduh keluarga Artanegara.


****

__ADS_1


Nanti Twins mirip siapa ya?🤭🤭



__ADS_2