Mantanku PresdirKu Suamiku

Mantanku PresdirKu Suamiku
MPS 2 : Lelaki itu Diego!


__ADS_3

Haii selamat pagi


Aku kembali guyss


Selamat baca yaa


❤️❤️❤️


.


.


.


.


.


.


.


Setelah membutuhkan waktu satu jam perjalanan untuk membelah kemacetan jalan raya di sore hari, kini mereka bertiga sudah sampai dirumah.


Terlihat Alika, Bilmar dan Binara sudah duduk di sofa ruang tamu.


Alika masih menyandarkan kepalanya sambil memejam kedua mata. Bilmar beringsut mendekat untuk memijiti bahu, lengan dan tangan sang istri. Ia tahu wanitanya tengah kelelahan.


Melihat Alika yang seperti ini membuat Binara menatapnya dalam sendu.


"Mama..Papa.." Seru Maura dari anak tangga yang ditemani Bik Minah sambil menggendong Ammar.


Alika dengan cepat membuka kedua matanya, ia tersenyum lebar. "Sayang, sini Nak. Mama kangen---"


Maura pun berhambur ke pelukan sang Mama. Alika menciumi anak itu tanpa henti. "Hemm..udah wangi anak Mama." Alika mendengusi tubuh sang anak.


"Mama kerja ya?" Tanya Maura dengan segala kepolosannya.


"Iya sayang..."


"Papa aja yang kerja, Mama dirumah sama aku dan adik..." Cicitnya sendu.


Binara semakin merasa bersalah. Dia sedikit menundukkan wajahnya dan menyesal. Mengapa ia bisa melibatkan kakaknya dalam keadaan seperti ini. Tapi ia tidak punya pilihan apapun, selain mengandalkan Kakaknya.


"Mama kerjanya nggak lama kok, Nak. Hanya beberapa hari aja, habis itu akan selalu dirumah lagi bersama Kakak dan Adik." Sambung Bilmar dengan segala keterpaksaannya. Jika bukan karena keinginan sang istri yang ingin menolong Binar. Ia pasti akan meminta Alika untuk terus berada dirumah.


"Nah betul itu kata Papa..." Sahut Alika.


"Tapi Maura boleh nggak Mah, ikut Mama kerja?"


"Kalau Mama kerja, Papa kerja dan Maura ikut kerja. Terus yang jagain Adik siapa? Nanti kalau adik nangis gimana? Maura nggak kasian sama Ammar?"


Maura yang masih mendekap dada sang Mama menolehkan wajahnya ke arah Ammar yang masih berada dalam gendongan Bik Minah. Ia terdiam seraya berfikir, ia lupa jika saat ini dia sudah menjadi Kakak tertua dan harus bisa menjadi wakil dari Mama dan Papa nya untuk menjaga Ammar.


Maura mengangguk. "Iya Mah.."

__ADS_1


"Nah gitu dong, ini namanya anak Mama yang paling pintar dan cantik." Alika kembali menciumi Maura dan menggelitik perutnya.


"Pah, gendong dulu Maura. Mama mau menyusui Ammar----" Alika menoleh ke arah Bilmar.


"Ayo sini Nak, sama Papa." Bilmar meraih tubuh putrinya.


"Sini, Bik..." Bik Minah menyerahkan Ammar kepada Alika.


Alika pun meraih Ammar dan menggendongnya. Seketika wanita ini melepas dua kancing bajunya untuk mendekatkan bibir Ammar dengan pangkal payudaranya.


Bayi lelaki yang baru memasuki usia dua bulan ini terlihat begitu montok dan gembil. Ammar adalah anak yang kuat menyusu.


"Pelan-pelan sayang..nanti kamu tersedak!" Alika terus mencium pipi Ammar. Hilang sudah rasa lelahnya ketika ia sudah melihat kedua anaknya dalam keadaan baik-baik saja selama ia tinggal bekerja.


Binara hanya bisa diam menunggu apa yang ingin Kakaknya katakan. Ia terus melihati keharmonisan Alika dan Bilmar serta kedua anaknya. Siapapun wanita yang menginginkan seorang anak pasti akan terenyuh melihat momen seperti ini.


"Bin..." Alika menoleh ke arah Binar. Terlihat sang adik sedang menyeka genangan air matanya yang akan turun menetes ke pipi.


"Iya Kak.."


"Kamu nangis, Bin?" Sambung Bilmar.


"Aku bahagia aja lihat kalian bahagia kayak gini.." Binara melengkungkan garis bibirnya agar menunjukan senyum bahagia disana.


"..Kamu juga sebentar lagi akan bahagia, Bin. Tinggal menunggu waktu aja. Walau sekarang aku sedang bingung..."


Binar menyelak cepat, ia gelisah. "Bingung kenapa Kak?"


"Ceritain aja semuanya sayang, biar Binar lega.." Ucap Bilmar.


"LUMPUH, Kak?" Serunya nyaring. Kedua matanya seketika memerah. Hidupnya terasa hancur. Ibu mana yang akan senang jika mendengar anak kandungnya tengah menyandang status tidak sempurna sekarang.


"Iya, anakmu hanya bisa berjalan dengan bantuan tongkat jalan."


"Apakah disana anakku diperlakukan dengan baik Kak?" Tanyanya khawatir.


Alika menatap wajah adiknya dengan serius. Binara tau jika Alika sudah menatap seperti ini pasti ada yang tidak beres.


"Secara garis besar anakmu diperhatikan oleh Daddy nya. Namun sangat dibenci oleh Omanya---"


Bilmar memotong cepat. "Maksudnya Ny. Gweny, Al?"


Alika mengangguk. "Aku baru tau kejadian itu setelah aku kembali sehabis bertemu dengan kamu. Ny. Gweny terlihat sedang marah-marah dan memukuli Gadis dengan gagang sapu! Wanita itu bilang, kalau Gadislah penyebab suaminya meninggal, aku belum bisa mengutik info apapun tentang itu.


"Ya Allah..." Binara kembali terguncang. "Nggak bisa dibiarin, aku harus kesana untuk menjemput anakku!"


"Sabar Binar, jangan gegabah. Kalau kamu mengambil tindakan tanpa perencanaan, sama aja kamu nggak menghargai usaha ku hari ini!" Alika mengecamnya.


"Tapi Kak, aku khawatir dengannya..." Desah Binar frustasi.


"...Awalnya pun sama aku ingin menculik Gadis secepatnya dari sana, tapi itu nggak mungkin. Melihat Gadis sangat dekat dengan Daddy nya, ia pun tidak mau pergi tanpa lelaki itu."


"Apakah anakku mencintainya?" Tanya Binar.


"Sangat mencintainya Binar. Daddy nya sangat memanjakan, memperhatikan dan menyayangi Gadis, maka dari itu aku bingung bagaimana cara melepaskannya dari lelaki itu!"

__ADS_1


"...Lelaki yang menyukai kamu?" Sambung Bilmar dengan tatapan tidak suka.


Binara semakin membulatkan kedua matanya seraya membutuhkan penjelasan tentang ucapan Bilmar.


"Jadi begini, lelaki itu sebelumnya sudah pernah bertemu denganku.."


Alika menjeda ketika tatapan rahang Bilmar terlihat sudah mengeras, sebelum ia salah faham dan akhirnya mengumpat Alika kembali meneruskan ucapannya dengan cepat.


"Dimana posisinya waktu itu kita habis kembali dari Sukabumi dan kamu tiba-tiba sakit saat diperjalanan, maka aku menyuruh Binar untuk menurunkan ku di sebuah kafe agar bisa membelikan mu makanan serta minuman."


"Lalu?" Ucap Bilmar dan Binar secara bersamaan.


"Ia tidak sengaja menabrakku ketika ingin masuk kedalam toilet kafe. Aku pun tidak terlalu memperhatikan dirinya. Namun ketika aku sampai dirumah Ny. Gweny, aku kaget karena bertemu dengan dirinya lagi dan anehnya dia mengingat pertemuan kami itu. Namun aku tetap membantah agar penyamaran ku tetap berjalan dengan mulus."


"Tapi sepertinya lelaki itu menyukaiku, dia bilang ingin menikahiku, Bin. Maka----"


"A--apa Al??" Hentakan nyaring begitu saja terdengar, siapa lagi kalau bukan dari lelaki posesif dan pencemburu itu. Melihat istri ditatap oleh lelaki lain saja ia sudah berdecis bagai ular, apalagi mendengar istrinya ingin dinikahi oleh lelaki lain..."


"...Brengsek! Sialann! Keparatt!" Semua rentetan bahasa terkutuk mencuat dari mulut Bilmar.


"Papa sedang panggil siapa? Kenapa Papa marah-marah?" Tanya Maura polos. Ia masih melihat wajah Bilmar yang berangsur memerah menahan emosi.


Binara dan Alika sedikit tertawa mendengar keluguan dari sang anak. Yang benar saja, siapakah manusia yang mempunyai nama seperti itu.


"...Sabar sayang, lekaki itu nggak tau jika aku sudah menikah. Aku ingin terus mengikuti alurnya untuk merebut Gadis darinya."


"Duhh...Tapi Al?" Desah Bilmar frustasi. "Aku takut, kamu berbalik menyukainya..."


"Ya nggak lah, dihati aku hanya ada kamu..." Alika meraih tangan Bilmar untuk diciumnya. Bersikap manja seperti ini pasti akan selalu bida meluluhkan hati Bilmar yang terasa panas mendidih. "Udah punya anak dua, udah nggak perawan. Siapa lagi yang mau?" Alika berdecis geli.


"Ada unsur apa dia mengadopsi anak jika keadaannya ia belum menikah?"


"Pertanyaan itulah yang masih menggangguku sekarang. Memang umurnya sudah cukup matang. Kalau tidak salah umurnya 34 Tahun, padahal Mam---"


"....Hahaha! Bujang lapuk, tentu tenaganya masih kuatan aku!"


Sambung Bilmar dengan bangga. Membuat Alika dan Binar menoleh dengan tatapan dingin.


"Oke maaf Nyonya-nyonya..silahkan dilanjut!" Bilmar mengubah tatapan jenakanya menjadi mencebik.


"Tapi ia belum menikah, padahal Ny. Gweny selalu menyuruhnya untuk segera melepas masa lajang. Ny. Gweny juga bilang aku mirip dengan wanita yang mungkin pernah ada dihidup anaknya----"


"Siapa lelaki itu Kak?" Tanya Binara cepat.


"Namanya Diego, Bin---" Jawab Alika dengan wajah biasa.


Seketika Binara bangkit dan berdiri.


"APA??"


Sepertinya nama itu mempunyai keanehan tersendiri untuk Binara. Wajahnya terperangah, seketika ia merasa ada sengatan listrik yang memacu kerja jantungnya untuk berdegup kencang.


"Tidak mungkin kan?" Desahnya.


****

__ADS_1


Like dan Komen ya guyss, dukung aku dengan vote kalian ya❤️❤️


__ADS_2