Mantanku PresdirKu Suamiku

Mantanku PresdirKu Suamiku
MPS 2 : Selamat Ulang Tahun, Suamiku


__ADS_3

Binara masih setia menemani sang Kakak di ranjang perawatannya. Mengusap-ngusap air mata Alika yang masih saja terus menetes. Deru nafas wanita itu memburu, tangannya masih saja mengusap-usap perutnya yang sudah mengempes. Tidak ada lagi gerakan aktif dari bayi kembar zigotiknya.


Bilka dan Abrar hanya menjadikan perutnya sebagai tumpangan sementara sebelum akhirnya memutuskan pindah ke rumah penciptanya untuk selama-lamanya.


"Mereka sudah dimakamkan, Kak. Kak Bilmar bilang akan terlambat ke Rumah Sakit karena harus mempersiapkan tahlilan untuk Bilka dan Abrar..."


Haruskah Alika mendengar ucapan itu?


Alika memiringkan tubuhnya dengan sejuta kekuatan dan ringisan. Rasa sakit pasca operasi caesar sangat menyiksa dirinya.


"Haruskah dihari ini, Bin. Aku kehilangan mereka?" tanya nya sambil menangis.


Alika memilih untuk memunggungi Binara. Tetesan air mata terus mengalir dari ekor matanya yang turun membasahi bantal. Binara ingin berucap sabar namun kalimat itu terasa ambigu. Ia hanya bisa mendengarkan apa yang ingin di keluh-kesah kan oleh Alika.


"Harusnya hari ini, aku dan anak-anak sedang menikmati kebersamaan dirumah untuk mendoakan Bilmar dipertambahan usianya. Membuat kue kesukaannya, mencium dan memeluknya..."


Binara lirih mendengarnya, tak kuasa air bening dari kelopak matanya pun turun begitu saja. Ia pun ikut tersiksa dengan keadaan sang Kakak. Mengapa harus seperti ini?


"Kasian sekali kamu, Kak. Sudah sakit karena luka operasi ditambah pula, sakit karena kehilangan. Ya Allah, kuatkanlah hatinya---" Binar bergemuruh dalam jiwanya. Ia bangkit untuk mencium pipi Kakaknya.


"Tidur aja ya, biar sakitnya cepat hilang.." Bisik Binara tepat ditelinga sang Kakak sambil mengelus-elus lengan Alika.


"Apa aku gak pantas menjadi Mama mereka, Bin?"


"Pantas, Kak. Kamu adalah Mama terbaik!"


"Aku perawat, Bin. Kenapa aku nggak peka! Kenapa disaat mereka nggak bergerak lagi, aku enggak sadar!" Alika mulai menyalahkan dirinya sendiri. Setan-setan yang berkeliaran mengapitnya terus saja mengumpatnya dalam cercaan.


Kamu bodoh, Alika!


Terlalu bodoh


"Tapi kamu hanya manusia biasa, Kak. Mungkin memang beginilah takdir si kembar. Tidak ada yang patut untuk disalahkan!"


Binara terus berusaha untuk menenangkan Kakaknya. Ia tahu ini adalah cobaan terberat Alika. Ibu mana di dunia ini yang mempunyai hati sekuat tembaga untuk tidak menangisi kepergian anak kandung mereka.


"Bilka dan Abrar akan menunggu kalian di pintu surga, Kak. Menurut pandangan Allah, kalian lah yang kuasa menghadapi cobaan ini---Kalian adalah orang tua yang terpilih.


Alika meraih telapak tangan sang adik untuk digenggam dan meletakannya diatas dada. "Aku nggak kuat, Bin.." tuturnya, lalu air mata itu semakin deras diiringi dengan bahu yang membuncang.


"Sakit, Bin..eugh.." Alika meringis sakit sambil menangis. Obat bius sudah menghilang, untuk bergerak saja sulit. Apalagi dalam 24 jam kateter urin belum bisa dilepas. Ia merasakan nyeri dimana-mana.


Namun yang lebih menyakitkan dari rasa sakit yang ada adalah kehilangan dua sosok malaikat hati yang ia cintai sepenuh jiwa selama delapan bulan, yaitu Mafaza Bilka dan Maginka Abrar. Mereka hanya akan menjadi adik bayangan dalam pandangan Maura Zivannya dan Maldava Ammar.


"Aku akan panggilkan Perawat, Kak. Kamu sabar dulu sebentar ya." Binar pun berlalu melepas genggaman tangan itu.


*****


Telapak tangan yang halus begitu saja menjamah punggung tangan Alika. Menjeramat masuk ke setiap jari-jemari wanita lemah ini. Lelaki tampan berbaju koko putih ini membaringkan tubuhnya dibelakang punggung istrinya. Dirasanya ada dengkuran halus dari bibir Alika.

__ADS_1


Lelaki ini merindukan wanita yang sudah berjuang di meja operasi untuk anak-anaknya. Wanita yang ia tinggal seharian karena untuk mengurusi pemakaman dan tahlilan kedua anak mereka dirumah. Barulah ketika hari sudah gelap ia kembali ke Rumah Sakit untuk bergantian menjaga istrinya.


Istrinya, hidupnya, jiwanya.


Deru napas Bilmar, harum tubuhnya dan belaian tangannya begitu saja membuat kedua mata Alika mengerjap perlahan. Ia mengedik sedikit kaget karena ada orang yang sedang membaringkan tubuh dibelakangnya.


"Assalammualaikum, cantik.." Bilmar mencium pipi nya.


"Aku harus kuat demi dia, kuat, kuat, kuat!" Batin Bilmar bergemuruh. Ia tidak mau menangis, tidak boleh, jangan!


"Waalaikumsallam, Bil.." suara serak itu menjawab.


Lalu hening diantara keduanya. Mereka saling menunggu untuk bersuara lagi. Alika menunggu penjelasan Bilmar dan Bilmar menunggu pertanyaan Alika. Tentu saja tentang kejadian hari ini, tentang pemakaman anak-anak mereka dan Bilmar masih menunggu ucapan selamat ulang tahun walau itu mustahil diucap oleh istrinya.


"Biarlah, mungkin dia lupa..." Bisik Bilmar kepada dirinya sendiri.


Alika masih menatap lurus ke hordeng tipis penutup jendela. Ia memutuskan untuk tidak menanyakan tentang pemakaman Bilka dan Abrar, hatinya belum kuat. Ia masih belum menerima hari ini.


"Eugh..." Ia masih meringis ketika ingin berusaha memutar tubuhnya. "Mau kemana sayang?" Bilmar bangkit dan memegangi lengan sang istri. "Bantu aku memutarkan tubuhku, Bil!" Bilmar pun membantu memposisikan tubuh istrinya ke arah mana yang ia inginkan.


"Ya Allah.." Ia terus mendesah ketika tubuhnya sedang bergerak sampai mendapatkan posisi yang nyaman baginya.


Kini Alika mengubah posisinya menjadi miring dengan satu tangan menyangga kepalanya. Pun sama dengan Bilmar. Pasangan suami istri saling menatap. Alika meratapi wajah suaminya, ia tahu suaminya baru saja selesai ikut membacakan Yassin untuk kedua anak mereka.


Bilmar menggenakan baju koko putih yang merupakan couple dengan gamis yang ia miliki dirumah. Alika pun menangis lagi. Ia teringat pakaian couple itu digunakan terakhir pada saat mengadakan acara syukuran Aqiqah Ammar.


"Kenapa baju ini dipakai pada saat tahlilan, kenapa bukan pada saat aqiqah Bilka dan Abrar.." tanya Alika.


Bilmar menyeka beberapa helaian rambut Alika yang menutupi pipinya, untuk di sampirkan ke belakang daun telinga. Bilmar mendongak sedikit untuk mengecup pipi Alika kembali, agak lama dan terdengar ringisan tangis mencuat darinya.


"Sudah sayang...terima semua ini dengan keikhlasan." Bisiknya. Ia pun kembali melepaskan kecupan itu lalu berbaring kembali menatap istrinya.


"Bilka dan Abrar kasian sayang, dia kedinginan didalam tanah.." Alika masih belum bisa menerima.


"Mereka pasti haus ingin susu---" sambungnya lagi.


Bilmar menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Mereka hangat sayang. Allah sedang memeluk anak kita, menjaganya!" setetes air mata kembali turun dari kelopak mata lelaki tampan ini.


Alika terdiam sambil terus menatap wajah suaminya dengan tatapan kosong tanpa jawaban. Mengapa jadi begini dalam batin Bilmar, kenapa harus dihari kelahirannya. Pasangan suami istri itu tidak akan menyangka bahwa ujian seberat badai dan topan seperti ini mampir juga menimpa rumah tangga mereka.


"Kenapa harus kita, Bil?"


"Karena menurut Allah kita lah yang kuat!"


"Apa kita akan kuat?"


"Pasti, Al! Kita akan bangkit lagi!"

__ADS_1


"Aku takut, Bil. Aku takut dengan kematian---"


Alika memejam kedua matanya. Ia meringis.


"Kematian itu pasti, toh saat ini kita sedang sama-sama menunggu. Menunggu giliran untuk dipanggil, oleh-Nya."


"Buka mata kamu, Al!"


"Nggak mau, aku takut!" Alika menggelengkan kepalanya.


"Buka dan tatap aku!"


Alika pun menyerah dan akhirnya membuka kedua matanya. Ia menatap lurus netra mata gelap suaminya.


"Kamu sayang sama aku?" tanya Bilmar


"Banget."


Bilmar tersenyum bahagia.


"Kalau gitu bantu aku untuk bisa mendidik kamu menjadi istri yang solehah. Yang bisa menerima takdir hidup anak-anak kita.."


"Tolong ringankan bebanku di Akhirat, ketika Allah mempertanyakan tanggung jawabku pada saat mendidik kamu di dunia---"


Suara Bilmar terdengar syahdu, lembut dan begitu temaran. Membuat kesenduan diwajah Alika menghilang, kelopak matanya yang terlihat sayu seketika merubah perlahan menjadi tegap. Suaminya benar, ini adalah takdir Allah.


"Seberat apapun harus kita lewati, Al. Jalan kita masih panjang. Masih ada dua anak yang harus kita besarkan yaitu Ammar dan Maura, atau mungkin anak-anak kita setelah Bilka dan Abrar nanti. Bilka dan Abrar tidak akan pernah tergantikan, mereka berdua tetap buah hati kita---Kita Mama dan Papanya, anak kita tidak akan tertukar. Ia tidak akan kedinginan, kehausan atau kelaparan. Allah menjaga anak-anak kita disana."


Mendengar suara hati Bilmar. Hati Alika begitu terenyuh, dadanya yang sedari sesak kini berubah menjadi sejuk. Rasa sakit diperutnya pun terasa berkurang. Hatinya semakin bermekaran ketika Bilmar mengatakan hal terakhir ini.


"Ada Mamaku, Mama mu dan Papa Samsul yang jagain kedua anak kita disana. Bahagianya mereka sudah berkumpul bersama disana, Al. Tugas kita disini hanya mengirimkan doa sebanyak-banyaknya untuk mereka semua..."


"Kamu faham maksudku?" Sambungnya lagi.


"Iya, aku faham, Bil." Alika mendekatkan kepalanya untuk bersandar di dada suaminya. Tidak ada lagi air mata yang menetes, walau tentu bayangan kejadian ini akan terus membekas di memory hidupnya.


Bilmar mengunci tubuh Alika dan mengecup pucuk rambutnya.


"Bil.."


"Hemm?"


Alika mendongakkan wajahnya. Lalu mengecup bibir suaminya.


"Selamat ulang tahun ya, suamiku.."


Sudut garis senyum Bilmar terangkat sempurna. Senyuman itu melebar, memperlihatkan gigi-gigi putih dan gusi yang sehat. Ia tersenyum bukan hanya ucapan selamat ulang tahun dari istrinya, tapi yang paling utama adalah ia bahagia karena menemukan kembali senyuman dari wajah Alika. Istrinya menatap dirinya penuh kasih dan sayang.


"Semoga keberkahan, kesehatan dan keselamatan selalu tercurah untuk kamu---Aamiin."

__ADS_1


****


__ADS_2