
Hayy readers setiaku, aku balik lagi nih. Selamat weekend ya🖤
yuk mari kita baca
🤗🤗
***
Di Acorp.
Terlihat Binar dan Papa Luky masih menikmati makan siang yang dibawakan oleh Alika barusan. Semenjak mendengar penjelasan dari Binar tentang ke gamangan sang Kakak. Membuat Papa Luky menjadi tidak enak hati.
Ia terus memikirkan anak sulungnya. Hatinya kembali redup dan sedikit ada rasa khawatir kalau Alika akan marah kembali padanya.
"Baru saja aku raih hatinya, apakah anakku itu sedang cem---?"
"Menurut Papa, apakah Kak Alika sedang cemburu pada ku?"
Kedua mata Papa Luky langsung tergelak, ketika batin dan ucapan Binara seketika kompak untuk merangkum makna tersebut.
"Nggak lah, Nak. Kakakmu itu anak yang baik, mungkin dia hanya kaget saja. Nanti Papa akan coba untuk berbicara padanya."
"Tapi Pah, bukan seharusnya Kakak juga bisa membantu kita disini? aku tahu Kak Alika adalah orang yang cerdas. Ia juga suka memberikan ide-ide cemerlang untuk kemajuan EG kepada Kak Bilmar!"
"Ya sudah kamu nggak usah fikirkan apa-apa, biar itu menjadi urusan Papa. Sekarang yang penting, Binara harus tetap belajar dan fokus di Acorp, mengerti ya?"
"Iya Pah, Binar mengerti." jawabnya sambil memasukan sendok nasi kedalam mulutnya.
"Enak sekali masakannya, Papa jadi ingat sama masakan Mamamu dulu. Persis, rasa dan bentuk masakannya seperti ini."
"Berarti dulu, Mama pintar masak ya Pah."
"Iya, Mamamu adalah wanita serba bisa. Maka Papa begitu mencintainya, dia memang wanita yang cerdas. Sepertinya semua kecerdasannya menurun kepada kamu dan Kakakmu."
Papa Luky tersenyum, melihat Binara bisa berangsur sembuh dari penyakitnya, bisa menata kembali tentang hubungan asmara dan kepercayaan diri untuk bekerja. Membuat Papa Luky tiada henti untuk berucap syukur. Di tambah lagi, dengan Alika yang sudah mengakui dirinya sebagai Papa. Semua ini semakin membuat Papa Luky bahagia dan sejahtera.
"Nanti sore Papa, akan datang kerumah Bilmar untuk menjenguk Kakakmu, apa Binar mau ikut?"
"Binar mau banget Pah, tapi kayanya nggak bisa ikut sekarang. Binar dan Rendi sudah ada janji sama WO pernikahan kami, nggak apa-apa kan Pah?
"Oh ya baiklah, tidak apa-apa. Nak! fokus saja dulu untuk menyiapkan pernikahan kalian."
Binara hanya mengangguk senang. Mereka kembali menikmati makan siang dengan lahap dan penuh nafsu untuk menghabiskan semua makanan yang ada.
***
"Alika..?"
"Indra...ya?" jawab Alika, ketika namanya dipanggil oleh seorang lelaki yang kini sedang berhadapan dengannya.
"Apa ada yang sakit, Nak?" tanya Indra ke arah Maura. Terlihat anak itu hanya menggeleng dan terus memegangi tubuh sang Mama yang mulai bangkit untuk berdiri.
__ADS_1
"Maafkan anakku ya Al, dia suka gemas kalau liat anak cantik seperti anak kamu ini." Ia pun berbalik menatap ke arah anaknya " Ayo Kamil minta maaf sama anaknya tante!"
Kamil hanya diam tidak bersuara, kedua wajahnya hanya menunduk ke atas tanah.
"Sudah nggak apa-apa Ndra, namanya juga anak kecil. Habis berantem nanti baikan lagi, nangis lagi terus main bareng lagi, ya gitu aja terus." Lalu Alika mengusap kepala Kamil.
"Nggak apa-apa Nak, Maura sama tante nggak marah sama kamu." ucap Alika lembut, membuat Indra merasa bahagia mendengarnya. Seketika kedua anak itu pun main bersama kembali.
"Mba, maaf bakso nya sudah jadi." ucap Abang bakso yang menyusulnya kesini. "Saya letakan disana ya, Mba!" sambil menunjuk bangku taman yang sedari tadi Alika pakai untuk duduk. Di luar jalan, terlihat Mang Dana tengah menikmati semangkok baksonya.
"Kamu mau bakso juga Ndra?" Alika menawarinya. Indra hanya mengangguk, terus sana menatapi Alika tak jemu-jemu.
"Satu lagi ya bang--"
"Siap, Mba!"
Alika dan Indra pun berjalan menuju bangku taman untuk duduk sembari menikmati Bakso dan melihati anak- anak mereka bermain. Alika sempat memanggil Maura dan Kamil untuk mendekat menikmati makan bersama dengan mereka, namun kedua anak itu tidak mengidahkan, sepertinya mereka kembali asik bermain.
"Nggak nyangka ya, udah lama baru ketemu sama kamu lagi, Al." Indra membuka suara untuk mengawali kembali percakapan mereka.
"Anak kamu cantik, tapi nggak mirip sama kamu. Mungkin sama Papa nya ya?"
Alika hanya senyum mengangguk. "Anak kamu juga manis, mirip sekali sama kamu, Ndra."
Alika mulai menikmati bakso nya yang terlihat sudah dingin karena tersapu dengan udara.
"Aku fikir kamu akan menikah dengan Bilmar setelah lulus SMA. Nyatanya tidak ya?" ucapan Indra seketika membuat Alika menjatuhkan bakso yang sudah berada dimulutnya ke atas tanah.
Alika hanya menggeleng sambil terus menenggak air minum ke dalam kerongkongannya.
"Soalnya ketika itu, aku sempat kaget. Papa nya mengundang Papa ku untuk hadir dipesta pernikahan Bilmar dan calon istrinya. Aku fikir yang ada diundangan itu nama kamu, ternyata bukan."
"Iya Ndra, tapi sekarang aku dan Bilmar itu sudah--"
"Otomatis sudah putus dong? aku fikir dia begitu menyayangi kamu Al. Tapi ya sudah lah itu semua sudah menjadi masa lalu sekarang. Syukurlah kamu juga sudah menikah. Saat ini kamu kerja atau hanya jadi ibu rumah tangga, Al?"
Bagi Alika sepertinya percuma saja menjelaskan tentang hubungan dirinya dengan Bilmar, toh pertemuan dengan Indra mungkin tidak akan berlanjut lagi setelah ini.
Semoga saja!
"Selain jadi IRT aku juga kerja, Ndra. Jadi Perawat di klinik perusahaan."
"Wah, hebat. Aku tersanjung mendengarnya. Kamu kenapa bisa ada disini, Al?"
"Oh itu, aku tadi habis dari kantor Papaku Ndra. Kebetulan lewat taman, jadi aku mampir mau ajak anakku main sebentar."
"Kamu sendiri, sedang apa disini Ndra? Mamanya Kamil? lalu sekarang kamu bekerja dimana?" ucap Alika kembali.
"Ini, Mas." Abang bakso kembali datang menyodorkan satu mangkok lagi untuk Indra. "Makasi ya bang."
"Aku bekerja di kantorku sendiri, Al. Biasalah meneruskan kembali usaha Papaku. Aku dan Mamanya Kamil sudah bercerai. Aku membawa Kamil, sementara mantan istriku membawa anak kedua kami."
__ADS_1
"Maaf ya pertanyaanku, membuat kamu mengingat luka lama, Ndra."
"Nggak apa-apa, Al. Perceraianku dengannya juga sudah memasuki usia dua tahun. Jadi sudah lewat masa-masa sulit seperti itu!"
Indra terus mengaduk-ngaduk baksonya.
"Mama..." panggil Maura dan Kamil berlari beriringan mendekati mereka. Alika pun mulai menyuapi Maura dan Kamil secara bergantian.
"Bagaimana kamu bisa putus dengan Bilmar, Al? aku tau dia itu adalah lelaki yang amat posesif dan sangat mencintai kamu dulu? aku dengar kabar selentingan dari teman-teman, katanya juga dia sudah kembali dari London. Apa kalian tidak mau bertemu?" ucap Indra tertawa sedikit menggoda untuk meledek Alika. "Oh iya suamimu sekarang bekerja diman--?"
Ucapan Indra begitu saja terhenti dan tercekat ketika ia melihat Mang Dana tengah berlari ke arah Alika dengan langkah blingsatan. Nafas Mang Dana tersengal-sengal.
"Non, kita pulang sekarang ya."
"Kenapa Mang?"
"Den Bilmar sudah sampai dirumah, Non. Sedang marah-marah katanya, Non disuruh cepat pulang kerumah sekarang!"
Tanpa menunggu lama, Alika meletakan mangkuk baksonya dengan cepat. Seketika Ia pun menggendong tubuh Maura untuk bangkit berdiri. Wajahnya terlihat agak panik.
"Indra maaf kan, aku harus pulang duluan. Sampai ketemu lagi ya, Dada...Kamil, tante sama Maura pulang dulu ya!"
Alika pun setengah berlari sambil menggendong tubuh Maura.
Terlihat mulut Indra masih ternganga hebat, keningnya berkeru-kerut. Ia tidak salah dengar ketika Mang Dana menyebutkan nama Bilmar barusan.
"Hah?"
Mungkin sekarang Indra masih bertanya-tanya ada hubungan apa Alika dan Bilmar, yang ia tahu Bilmar sudah menikah dengan wanita lain. Ia terus melihati sosok bayangan Alika dan Maura yang pergi meninggalkan mereka.
Sungguh Indra sangat terperanjat.
****
Berikan aku semangat dari kalian dengan cara
VOTE
LIKE
RATE
dan
KOMEN YA🖤🖤
sekali lagi👇
Thankyou readers kesayangan🥰
With love, gaga😘
__ADS_1