Mantanku PresdirKu Suamiku

Mantanku PresdirKu Suamiku
Malam di Menara Eiffel


__ADS_3

Buat kalian..dua episode hari ini.


keep reading guyss😘


***


"Kok kamu jadi marah kaya gini?" Bilmar mencoba menenangkan istrinya yang masih disulut emosi.


"Terus? maksud kamu aku harus haha hihi liat kamu cium dia?"


"Ralat ya please..dia yang cium aku. Aku tuh mau nya, cuman cium kamu sayang." jari telunjuk Bilmar mencolek dagu Alika.


"Issh..!" Alika menepis kasar. "Tapi kamu nikmatin kan?"


Alika memundurkan kursinya untuk memaksa bangkit dari sana. Ia pergi meninggalkan sang suami yang masih mematung dikursi meja makan.


Berjalan cepat menuju ke luar pintu restauran dan Bilmar mengikutinya dari belakang. Ketika langkah mereka saling berdekatan, Alika akan lebih cepat memajukan langkahnya meninggali Bilmar.


"Tunggu aku !" Bilmar berhasil menghadang langkah Alika untuk berhenti. Memegang kedua lengan istrinya untuk menatap dirinya dalam-dalam.


"Aku bisa jelasin, kamu jangan dulu marah!" Bilmar memelas untuk memohon sedikit pengertian dari Alika.


Mereka seperti sepasang kekasih yang sedang merajuk tanpa ada rasa malu melanda, ketika berada ditengah-tengah keramaian lalu lalang orang berjalan.


Bilmar terus menggenggam tangan Alika dan wanita itu pun melepasnya. Berjalan lagi meninggalkan lalu dihadang kembali oleh Bilmar. Terus menerus seperti itu sampai kemudian langkah Alika terhenti ketika dirinya tepat berada di tengah-tengah Menara Eiffel.


Kedua matanya melebar lalu membulat, mendongkan wajah ke atas untuk menatap puncak Eiffel yang sangat indah.


"Wah menakjubkan!" desis Alika merasa tidak percaya bahwa dirinya benar-benar sedang berada ditempat ini.

__ADS_1


Meraih tangan Alika kembali, wanita ini pun menurunkan wajahnya seketika.


"Aku bawa kamu kesini, biar kamu senang, biar kita bisa bulan madu dengan bahagia. Aku mau buat kamu selalu mengenang moment ini..!"


Sendu adalah suatu kata yang bisa menggambarkan wajah Bilmar saat ini.


"Aku bisa jelasin masalah yang tadi." Bilmar menggenggam erat tangan sang istri, berusaha sekuat tenaga untuk bisa mencairkan hati Alika yang dingin seperti es dan keras nya seperti batu.


"Nggak usah dijelasin..!" Alika menepis genggaman tangan Bilar lalu melangkah maju untuk meninggalkan Bilmar lalu berujar kembali "Karna aku nggak pe---"


"Nggak perduli? karna kamu nggak cinta sama aku?" potong Bilmar cepat. Sontak ucapan itu membuat langkah kaki Alika berhenti total.


Ia berdiri mematung, menatap lurus yang ada dihadapannya. Tubuhnya tetap membelakangi Bilmar, ia tetap kokoh tidak mau menolehkan wajahnya ke arah Bilmar.


"Aku tau Al, rasa cinta di hati kamu itu udah nggak ada buat aku! iya kan..?"


Mata Alika terus melebar, dada nya terasa sesak. Entah mengapa? apa yang terjadi? mengapa ia harus marah melihat seorang wanita tengah memeluk dan mencium suami yang baru ia nikahi dua hari?


"Bahkan aku nggak pernah sekalipun dengar kamu panggil aku dengan kata sayang ! nggak pernah genggam tangan aku dan mengiring diri aku untuk mendapatkan hak yang sudah menjadi kewajiban kamu untuk memenuhinya !"


Itu semua benar, Alika selalu menjauh dari nya. Menutup hatinya, ia malas jika bermanja-manja dengan Bilmar. Jikalau pun ia harus memanggil kata cinta itu adalah suatu bentuk keterpaksaan belaka, namun itu dahulu. Sebelum beberapa waktu yang lalu disaat Bilmar berhasil membuat Alika berpacu dalam hasratnya, menimbulkan kenangan indah disana dan yang terakhir membuat ia cemburu buta atas sikap Frida kepada Bilmar.


Ia terus menutupi bahwa dirinya sudah mulai mencintai Bilmar.


"Apa kamu nggak ingat masa-masa kita dulu? bolos dari kelas, bohong sama guru, alesan nya sakit perut mau ke toilet, taunya biar kita ketemuan di pohon toge belakang kantin..!"


Bilmar membalikan tubuhnya. Mengelap wajahnya dengan kasar, meraup beberapa oksigen di udara. Kini tubuh mereka saling membelakangi ditengah-tengah Menara Eiffel.


Mendengar kalimat terakhir membuat Alika sedikit mereda dari amarah nya. Tetapi itu lah Alika ia begitu gengsi untuk secepat itu memaafkan Bilmar. Sepertinya alam pun telah mengutuk kekerasan dirinya untuk mengubah nya menjadi suatu kelembutan, ia sudah tidak tahan lagi untuk mau membalikan badannya berlari dan memeluk lelaki itu.

__ADS_1


Namun niat diurungkan ketika ia melihat sebuah kereta dorong bayi telah berjalan cepat menukik mengikuti alur jalan menjauh dari wanita-wanita yang tengah berlari untuk meraihnya kembali.


"Oh my God !" Alika pun berlari ikut mengejar kereta bayi yang terus menggelinding. Ia melupakan dan meninggakan Bilmar yang masih berada membelakangi tubuhnya.


Dirasa tidak ada respon dari sang istri, ia pun menoleh dan terbelalak kaget ketika hanya mendapati hembusan angin melolong dari posisi istrinya barusan.


"Alika?" teriak Bilmar memanggil sang istri yang entah sudah pergi kemana.


Dari arah kanan terlihat Aldi berlari-lari menghampiri Bilmar. Nafasnya tersengal-sengal tidak beraturan. Ia seperti sudah siap jika kepalanya dipenggal saat ini, ketika bisa kecolongan untuk melupakan sejenak keberadaan Tuan dan Nyonya yang telah membayar nya mahal.


Ia tidak tahu jika Bilmar dan Alika sudah meninggalkan restauran di hotel semenjak tadi, karena ia tengah sibuk mengobrol dengan para Tour Guide yang lain.


"Maaf Mas, saya---"


"...Cari istri saya sekarang !"


"B--baik !" Bimar dan Aldi sama-sama panik saat ini.


Entah bagaimana nasib mereka setelah ini.


***


Seneng aku tuh liatin komenan kalian, ikut terenyuh dan baper...


Kaya biasaa buat aku terus semangat dengan


Like dan Vote dari kalian yaa


Ditunggu komen nya...makasi guyss🖤🖤🖤

__ADS_1


sehat selalu⛑️⛑️


__ADS_2