
Hayy, aku balik lagi nih. Episode KETIGA loh dihari ini? jangan lagi kalian bilang aku nggak rajin UPDATE guys , ngilu Hidung aku dengarnya...ett kok Hidung sih?😂😂😛ðŸ¤
Gimana baik kan aku??🤗
Yuk mari dibaca guyss
***
"Pah?" sapa Alika dengan kedua matanya yang berkaca-kaca.
Papa Luky dengan cepat menaiki anak tangga untuk meraih tubuh putrinya. "Kamu kenapa, Nak? kok nangis?"
Merangkul putrinya lalu dibawanya turun. Mengusap-usap bahu Alika untuk menenangkannya dari isakkan tangis yang masih mengembang hebat.
"Sayang, maafkan aku!"
Terdengar rintihan Bilmar amat peluh, seketika membawa kedua mata Papa Luky untuk menoleh kebelakang. Terlihat Bilmar masih berdiri dibelakang punggung Papa Bayu.
"Bilmar!!" Papa Luky menyeret kedua matanya untuk menatap sang menantu dengan tatapan tajam. Wajah Papa Luky seketika memerah berubah menjadi garang bagai mafia kelas kakap.
"Kamu apakan anak saya?" Papa Luky meradang, suaranya nyaring tidak tertahan. Kedua matanya menyalah-nyalah seperti sudah siap untuk membakar apa saja yang ada dihadapannya.
"Kak?" cegah Papa Bayu, menutup akses Papa Luky agar tidak mendekat ke arah putranya. Ia takut Bilmar akan dipukuli habis-habisan.
"Pah.." ucap Alika mengelus dada sang Papa.
"Kenapa kamu, Nak! diapakan kamu sama suamimu? ayo jawab Papa!"
"Sayang, aku menyesal. Aku minta Maaf!" Bilmar memohon ampun. Ia terus meratapi sang istri.
"Jadi kamu? kurang ajar! berani kamu menyakiti hati anak saya!" Papa Luky menepis bahu sang adik untuk memberikannya celah menggapai tubuh Bilmar dengan kedua tangan secara kasar.
"Saya, bisa habiskan kamu saat ini juga!"
"Papa...jangan, Pah!" Alika dengan cepat memegang tangan sang Papa untuk tidak memukul Bilmar.
"Jangan Pah, dia menantu Papa!" Alika memelas.
"Pukul aja Pah! Bilmar memang salah!" Bilmar menatap Papa Luky dengan wajah frustasi.
Buggg.
Tanpa ampun, Papa Luky mendaratkan kepalan tangan nya mengudara ke wajah sang menantu. Pukulan ini lebih menyakitkan dari pukulan yang diberikan Papa Bayu beberapa menit yang lalu. Tubuh Bilmar begitu saja terkulai lemas dilantai.
"Pah..!"
"Kak..!"
Alika dan Papa Bayu bersamaan memanggil Papa Luky untuk segera mengakhiri pukulannya yang terus berputar-putar diwajah Bilmar.
__ADS_1
"Papa nggak masalah, kalau kalian harus bercerai saat ini juga!"
Papa Luky tetap menghajar Bilmar dengan sangat beringas tanpa iba. Papa Luky tidak rela melihat keadaan Alika yang seperti ini. Rambut berantakan, baju terlihat robek-robek dan tanda lebam disekitar tulang selangka dada Alika.
"Kamu fikir, anakku seorang wanita binnal? mana janjimu akan menjaga anakku? bahkan demi Alika kamu meninggalkan Binar! lalu setelah mendapatkannya! kamu buat dia seperti sampah, tidak berharga! keparatt kamu!"
Buggg.
Hantaman demi hantaman terus menyangsang di wajah Bilmar.
"Pah, udah Pah. Cukup! Bilmar, suami aku Pah! Bapak dari anak-anakku!"
Rintihan Alika membuat Papa Luky bergeming. Ia terus menatapi wajah Bilmar yang sudah hancur lebur.
Seketika ucapan Alika membuat ia menarik dirinya dari beberapa pukulan yang sudah ia berikan kepada sang menantu.
"Sayang, kamu nggak apa-apa kan?" tanya Alika setengah berjongkok untuk memegang wajah sang suami.
Dengan cepat, tangan Papa Luky meraih tangan Alika untuk berdiri dan ikut pergi bersamanya.
"Ayo ikut pulang sama Papa, rumah kamu bukan disini, Nak!"
"Kak? semua ini kan bisa dibicarakan baik-baik!" Papa Bayu menenangkan sang Kakak.
"Ah! tidak perlu! dari awal saya tidak suka Alika menikah dengan Bilmar! masih banyak yang pantas untuk menikahi putri saya, tanpa memperlakukannya dengan kasar!"
"Pah? jangan kaya gini, Bilmar sangat mencintai Aku, Pah. Dia seperti ini karena hanya salah faham dan cemburu!"
"Baru cemburu saja sudah begini! lama-lama kamu mati ditangannya, Nak!"
Papa Luky tetap menarik menggandeng tangan Alika dengan erat.
Alika masih menoleh ke belakang, melihati Bilmar yang sudah mulai bangkit di bantu oleh Papa mertuanya.
"Sayang..?" panggil Bilmar. Ia terus menyeret tubuh dan kakinya dengan tenaga seadanya. Menggapai kembali tubuh istrinya yang mulai berlalu.
"Pah, Bilmar mohon jangan bawa Alika pergi Pah! dia istriku! aku tidak mengizinkan Papa membawanya!"
Dengan cepat Bilmar menggapai tangan kanan Alika dan menariknya.
"Lepaskan tangan kamu!" Papa Luky terus menarik tangan kiri anaknya.
Papa Luky dan Bilmar saling menarik-narik tangan Alika. Tubuh Alika terdorong kesana kemari karena keegoisan mereka.
Akhirnya Bilmar mengalah, ia melepaskan tarikan tangannya. Karena ia tidak ingin Alika merasakan sakit dengan perlakuan seperti itu.
"Bil?" Alika terus menoleh ke arah suaminya, ia terus berlalu dalam genggaman sang Papa.
Bilmar kembali mengejar mereka dengan langkah terseok-seok. Alika dimasukan cepat kedalam mobil. Bilmar mengetuk-ngetuk pintu mobil agar istrinya mau turun.
__ADS_1
"Pah, aku mau turun!" ucap Alika kepada sang Papa. Namun Papa Luky tetap memutuskan untuk membawa putrinya pergi dari sini.
"Nggak! kamu ikut sama Papa!"
"Sayang? ayo turun. Maafkan aku, Al!" suara Bilmar yang gaduh terus saja terngiang-ngiang ditelinganya.
Dengan cepat Papa Luky menekan pedal gas untuk menjalankan mobil meninggalkan rumah Papa Bayu.
Bilmar terus mengejar mobil Papa Luky ke jalan walau sudah keluar dari pintu gerbang. Ia terus berlari menyusul lajuan mobil untuk meraih tubuh sang istri kembali.
Alika terus menolehkan wajahnya ke belakang untuk melihat langkah sang suami yang mulai redup.
"Pah! Alika mau turun! aku nggak bisa pergi tanpa izin dari Bilmar, Pah!"
Sontak pedal rem begitu saja di injak oleh Papa Luky. Mobil pun berhenti cepat ditengah jalanan yang kosong. Bersamaan itu pula Bilmar menjatuhkan tubuhnya di atas aspal. Tubuhnya terasa lemas dan sakit, ia tidak mampu mengejar Alika kembali.
"Sayang!!!" Alika berteriak kencang, ketika berhasil membuka pintu mobil. Ia pun berlari untuk meraih tubuh Bilmar yang sudah terkulai lemas.
"Sayang, tolong maafkan papa ku ya." ucap Alika mengangkat kepala Bilmar yang sudah terbentur aspal jalan yang kasar. Bilmar pun bangkit untuk duduk, lalu meletakan tangannya melingkar di ceruk leher sang istri.
Terlihat Papa Bayu yang sedang berlari untuk menyusul Bilmar, seketika menghentikan langkah kakinya.
Begitu pun Papa Luky yang masih setia berdiri didekat pintu kemudi untuk tidak melangkah mendekat ke arah mereka.
"Maafkan aku sayang, aku khilaf! aku hanya takut kehilangan kamu, Al. Kamu segalanya bagiku. Jangan tinggalkan aku, Al!" Bilmar memohon ampun dan merintih panjang dengan hentakan dada yang sesak.
Alika terus memegangi tubuh sang suami yang masih mendekapnya dengan erat. Menaruh kepalanya diceruk sang istri.
Lama-kelamaan Alika merasa tubuh Bilmar begitu berat mendekapnya, begitu saja lemas tidak berdaya. Ia pun mendongakkan wajah sang suami, begitu kagetnya ia ketika mendapati kedua mata Bilmar sudah terpejam. Suaminya pingsan tidak sadarkan diri.
"BILMAR..!!!"
***
Aku cukup terharu lihat komentar kalian semua, dan semua nya ku baca sampai habis. Makasi loh apreciatenya, aku sungguh tergugah. Karena tanpa kalian, aku bukanlah apa-apa. Semoga saja aku sehat dan ide-ide untuk cerita ini bisa terus berkembang sampai endinya tiba.
Berikan aku bukti semangat dari kalian dengan cara :
VOTE
LIKE
RATE
dan
KOMEN YA🖤🖤
sekali lagi👇
__ADS_1
Thankyou readers kesayangan🥰
With love, gaga😘