
Sesuai janji untuk kalian, episode selanjutnya
Selamat baca ya
❤️❤️❤️❤️
.
.
.
.
.
Setelah menurunkan Alika ditempat biasa. Bilmar pun melajukan mobilnya kembali. Bukan menuju kantor seperti yang ia bilang. Tapi melesat dan menjemput Binara ke rumah Papa mertuanya.
Bilmar dan Binar tetap akan menjalankan misi untuk hari ini. Perasaan Bilmar sekarang sudah tenang tidak terganjal lagi. Ia semakin bersemangat untuk membantu Binara mendapatkan Gadis.
Tak berapa lama kemudian, sampailah ia dikediaman Luky Artanegara.
"Bentar ya Den, bibik panggil Non Binar dulu.." Bik Darmi mempersilahkan Bilmar untuk menunggu dulu di ruang tamu.
"Iya, Bik."
Binar terlihat keluar dari kamarnya sambil membawa beberapa tas yang bergembol-gembol. Kedua mata Bilmar terlihat naik turun melihati sang adik yang terlihat aneh.
"Itu apa, Bin? Kita hanya membuntuti mereka dari jauh kan?" Bilmar terlihat khawatir dengan gelagat sang adik.
Binar meletakan seluruh tas itu dihadapan Bilmar. Membuang seluruh nafasnya yang berat karena berhasil membawa tas-tas besar itu dengan langkahnya yang tertatah-tatah.
"Kakak amnesia ya? Bukannya sesuai rencana kemarin, kamu mau menyamar untuk masuk kedalam rumah itu? Mau melihat langsung keadaan disana dan memastikan langsung apakah lelaki itu Diego yang kita maksud?"
Bilmar teringat meringis. Ia membenarkan, itu memang rencananya kemarin. Tapi setelah nasihat yang diberikan oleh istrinya tadi pagi, membuat ia menjadi urung untuk melaksanakan penyamaran ini.
"Iya sih tapi itu kemarin, Bin---"
"Terus sekarang nggak jadi nih? Cepet banget sih berubahnya, kaya bunglon tau nggak!" Binar berdecak.
Tapi itulah Bilmar, ia agak sedikit goyah. Karena dari dalam lubuk hatinya, ia masih penasaran dengan sikap Diego kepada istrinya. Dan apa yang benar-benar terjadi disana.
"Ya baiklah. Aku tetap dalam rencana awal kita."
Binara langsung menarik Bilmar untuk duduk disofa.
"Nah gitu dong, ini baru Kakaku..." Binar tersenyum bahagia.
Lalu ia mulai mengeluarkan segala perlengkapan dan peralatan menyamar.
"Yang bener, Bin. Pakai kayak beginian??" Seru Bilmar ketika melihat Binar mulai mendandaninya dengan bedak.
__ADS_1
"Udah diam aja, aku mau buat kamu satu tingkat lebih jelek. Kakak juga pasti nggak akan ngenalin kamu kok?
Bilmar meraih kaca untuk melihat wajahnya.
"Harus pakai tahi lalat segala?" Tanya Bilmar.
"Ya mana ada sih, yang nyamar jadi ganteng sama cantik. Yang ada juga mukanya pada ditutupin Kak!"
"Kok aku jadi jijik si, Bin. Lihat wajah jadi kayak gini?"
Mendengar ucapan Bilmar membuat Binara tidak fokus. Wanita itu jadi tertawa dan goresan gambar bulatan hitam di pipi Bilmar semakin melebar.
"Tuh kan yang bener, Bin. Jadi tompel kan!!"
"Hahahahaha----" Binar tertawa lepas.
"Udah diam jangan berisik, kamu ganggu konsentrasi ku, Kak!" Binar menekan rasa lucunya untuk menghilang sementara.
Setelah selesai menggambar bulatan di pipi Bilmar. Ia kembali meraih kumis mainan yang entah didapat dari mana.
"Nggak ah Bin, segala pakai kumis?" Bilmar menjauh dari tangan Binara.
"Kak, kalau nggak pakai ini. Diego dan Kakak pasti mengenali kamu!"
"Udah deh nurut aja..." Binar mulai memasang kumis lebat itu diatas bibir Bilmar.
"Eh kok miring ya.."
Lalu
Kumis lebat yang sudah terpasang disana akhirnya dicabut paksa oleh Binar tanpa ampun. Perihnya seperti sedang menarik bulu kaki dengan cara Waxing.
"Ahhh, Alika tolong---!" Bilmar memanggil-manggil nama istrinya karena menahan rasa pedih ketika kumis mainan itu ditarik dengan cara kejam.
Binara tertawa pelan. "Maaf Kakakku sayang, aku refleks. Hehehehe---" Binara kembali meletakan kumis itu dengan baik.
"Nah bravo! Kalau kaya gini kan, enggak kaya buronan yang lagi dicari-cari sama polisi."
"...Seseram itu Bin?"
"Seram wajah asli kamu sih Kak." Binara kembali meledek Bilmar.
"Huh..." Bilmar mendesah.
"Ayo pakai ini..."
Binara mengibaskan rambut palsu panjang yang terurai agak bergelombang dikepala Bilmar.
"Pakai wig juga? Topi aja kan cukup!"
"Enggak cukup Kak. Udah deh nurut aja kenapa sih."
__ADS_1
Wig palsu sudah terpasang, kumis sudah menempel dan tompel sudah tercetak di pipinya. Bayangkan lah bagaimana wajah Bilmar saat ini.
"Aduh, Bin. Jelek banget sih! Aku malu kalau ketemu istriku dengan keadaan kayak gini!!" Bilmar menatap wajahnya di cermin kembali. "Apa nggak bisa dibuat ganteng sedikit kaya artis kesukaan Alika?"
Bilmar mengeluh tetapi beda hal dengan Binara. Ia tetap tidak lepas dari gelak tawanya.
"Ini...cepat pakai!" Binara menyodorkan kemeja khas pekerja.
"Hemm..baju siapa nih?"
"Udah cepet pakai, kita harus cepat mengejar waktu!"
Binara langsung mengubah posisi duduknya supaya tidak melihat Bilmar yang tengah berganti pakaian. Dengan segala keterpaksaan ia pun mau mengubah penampilannya seperti ini.
"Udah nih!"
"Buahahahahaha...." Binar kembali tertawa ketika mendapati Bilmar dalam keadaan menyamar seperti ini.
"Sungguh keren Kak! Aku aja nggak bisa ngenalin kamu sekarang, upss...."
"Eh tunggu deh. Kok badan aku jadi gatal sih, Bin, pakai baju ini? Kamu dapat baju ini dari mana?"
"Aku sewa sama bapak-bapak yang udah pensiun dari tempat kerjanya." Binar melebarkan senyumnya.
"Pantes kaya masih ada bau-bau balsem gitu! Ada-ada aja deh kamu! Pakai kemeja yang lain kan bisa, sumpah deh gatal! Duh bisa kurapan nih---"
"Udah deh Kak, tinggal pakai doang! Kamu tuh harus menghargai usaha aku! Semalaman loh aku cari-cari barang ini semua."
Bilmar menarik sudut bibirnya ke atas. Ia mencebik.
"Terus itu apa lagi?" Bilmar menunjuk ke arah tas besar.
"Ya itu alat yang akan kamu bawa sebagai penambah penyamaran kamu."
"Sebenarnya aku harus jadi apa disana?"
"TUKANG AC!"
"Hah???
"Keren kan? Kan kalau kayak gini jadi Kakakku ganteng-ganteng tukang AC---
"...Bukan lagi jadi ganteng-ganteng serigala?"
"Hahahhaa...bukan. Mana ada sih serigala ganteng??"
Bilmar hanya menghela nafasnya. Ia tidak habis fikir dengan imajinasi Binara yang sangat brilian.
Hahahahahah..parah si Binar🤣🤣🤣.
*****
__ADS_1
Like dan Komen ya guysss❤️