
BONUS untuk malam ini❤️ lagi-lagi hanya untuk kalian yang aku cinta.
selamat baca ya guyss
🤗🤗🤗
***
Mereka pun melangkah bersama menuju area paviliun Berliana. Maura yang masih dalam gendongan Alika kemudian berbisik tepat di telinga sang Mama.
"Mah? Mama memang sayang sama mereka?" Maura menarik kembali wajahnya untuk melihat ekspresi sang Mama yang sedang mengerutkan kening ke arahnya. Alika melihati wajah Maura yang melirik ke arah Gifali dan Ganaya.
"Tadi Mama bilang sayang sama mereka.." lalu Maura menjatuhkan kepalanya di perpotongan leher Alika. Anak ini terlihat sendu karena cemburu. Ia melingkari kedua tangannya di leher Alika.
Alika hanya mengusap tubuh sang anak, yang terus mengulang-ulang perkataannya. Ia tidak ingin menjawab dulu, karena Nadifa dan anak-anaknya pasti akan mendengar.
"Mah? Mama sayang ya sama mereka---?"
Dan terus saja Maura seperti itu tidak mau berhenti sebelum Alika menjawab pertanyaannya. Anak ini sungguh lugu, ia mengerti rasa sayang, namun tidak tahu maksud dari kata sayang itu sendiri.
Wajar saja ia merasa berbeda. Alika tidak pernah memanggil anak lain dengan kata sayang, seperti kepadanya. Entah bagaimana nanti jika adik nya lahir? Bagaimana kecemburuannya dengan sang adik?
Tentu Alika dan Bilmar harus terus mempunyai segudang kesabaran untuk selalu memberikan penjelasan yang tidak usai-usai kepada anak sulung mereka.
Dari jauh terlihat Galih sedang berlari-lari menyusul langkah mereka.
"Masya Allah, lebih indah di sini ya di banding paviliun sebelumnya---" Kedua mata Nadifa terlihat begitu terpana dengan keasrian area paviliun yang akan mereka tempati.
Bilmar yang sudah bangun dari tadi langsung berenang di kolam renang khusus area paviliun mereka. Dengan cepat ia membuka kaca mata renangnya ketika melihat istri dan anaknya di apit oleh pasangan suami istri dan tiga orang anak yang sama sekali tidak ia kenal.
"Siapa tuh---?" Bisiknya. Kemudian ia keluar dari kolam renang, melepaskan riakan air yang sedari tadi ia gunakan untuk pelampiasan pelupa hasratnya.
Bilmar berjalan menghampiri mereka, dengan keadaan bertelanjang dada dan hanya menggunakan celana renang.
"Kamu udah bangun sayang?"
Bilmar mengangguk dan melirik ke arah mereka. "Siapa, Al?"
"Oh ini kenalkan sayang, ini Mba Nadifa dan Mas Galih, serta ketiga anak mereka..."
Bilmar yang masih basah-basah akhirnya berkenalan dengan mereka. Alika pun mulai menjelaskan kejadian yang terjadi barusan dengan mereka kepada Bilmar.
Seketika wajah Nadifa dan Galih mengembang senyum setelah Bilmar memberikan respon positif dengan kehadiran mereka disini.
"Masuk dulu sayang, basuh tubuhmu. Nanti kamu masuk angin!"
"Iya, Baiklah. Maaf semua, saya duluan--"
Mereka semua mengangguk dan Bilmar pun berlalu dari pandangan mereka.
Pak Farhan tetap membantu Galih untuk mengangkat beberapa koper milik mereka kedalam paviliun.
"Kami nggak nyangka loh, bisa dapet fasilitas mewah kaya gini, Mba. Terimakasih ya---" Nadifa tidak berhenti untuk terus mengucapkan kata terimakasih.
"Rezeki kalian berarti. Ya sudah, kalau begitu saya pamit dulu ya, Mba. Agar kalian semua bisa beristirahat dengan nyaman disini!"
"Ayo, Nak. Cium tangan tante--" perintah Nadifa kepada semua anak-anaknya.
Gifali, Gana dan Gelva bergantian mencium punggung tangan Alika.
"Iya say----" Seketika ucapan itu dihentikan olehnya tak kala Maura kembali melihati wajahnya.
"Ya udah tante sama Maura pamit ya."
Alika pun melangkah meninggalkan paviliun mereka untuk kembali ke paviliun miliknya.
"Mah?"
"Iya, Nak?"
__ADS_1
"Mama sayang ya sama mereka?"
"Nggak Nak, Mama cuman sayang sama Maura dan Papa--"
"Tapi tadi Mama panggil mereka sayang!" Suaranya sudah mulai merintih, sudah dipastikan ia akan menangis. Betul saja, sebelum langkah Alika masuk kedalam, Maura sudah menangis terisak. Ia terus menangis sampai mengundang Bilmar untuk keluar kamar.
"Kenapa sayang, kok nangis?"
Bilmar meraih tubuh Maura yang terus menangis. Anak ini hanya menaruh kepalanya di bahu sang Papa dan tidak mau menghentikan gelak tangisnya.
"Kenapa sayang..?" tanya nya kepada Alika.
"Pah, Mama udah nggak sayang sama aku!" Maura akhirnya berbisik pelan ditelinga Bilmar. Ia mengadu sejadi-jadinya. Alika hanya berpura-pura tidak dengar, ia membiarkan saja Maura menumpahkan rasa sedihnya. Jika dilihatnya anak itu sudah lega, maka barulah ia akan menjelaskan dengan baik, tentang kecemburuan anak itu.
"Kenapa?" Bilmar kembali bertanya dengan gerakan bibir tanpa mengeluarkan suara.
Alika hanya mengedipkan mata meminta Bilmar agar dulu berhenti bertanya. Alika terus mengusap-usap rambut Maura yang terurai sampai ke bahu.
***
Malam kembali datang, terlihat Alika menutup jendela kamar agar angin malam tidak masuk menjamah tubuh mereka.
Serta di ranjang sudah ada Maura dan Bilmar yang tidur dengan posisi saling memunggungi, ada jarak sedikit diantara mereka agar Alika bisa masuk untuk tidur di perapitan tersebut.
"Mimpi indah ya, Nak--" Alika mencium pipi sang Anak, yang sampai saat ini masih merajuk karena cemburu. Lalu ia mengubah posisinya untuk berbalik ke arah tubuh suaminya.
Ia elus dari bagian pundak sampai ke ujung jari tangan. Seketika itu pula telapak tangan Bilmar terbuka dan mengunci jari-jari istrinya.
"Aku kangen kamu, Al---" suara Bilmar terlihat serak.
"Kamu seharian ini sibuk banget, kemana-mana berduaan aja sama Maura--"
Alika berdecak geli. "Sama anak cemburuan! Papa sama Anak sama-sama pencemburu, nggak baik sayang!" Alika menjembil hidung Bilmar yang bangir.
Alika pun akhirnya menjelaskan mengapa Maura bisa merajuk seperti itu.
"Ya wajar, Al. Yang dia tahu, kamu hanya sayang sama dia, aku dan keluarga kita. Mungkin dia kaget, ketika kamu berbicara manis seperti itu kepada anak sebayanya."
"Ya beda dong. Itu kan adiknya, pasti Maura akan sayang banget."
Alika mengangguk, walau hatinya masih gamang. Ia kembali menoleh dan mencium kembali pipi sang anak.
"Mama hanya sayang sama Maura, Nak---" desahnya panjang.
Bilmar pun bangkit untuk duduk berselonjor, meraih tangan istrinya. Kedua wajah mereka pun kembali bertatapan.
"Lanjutin kemarin yuk, Al. Mumpung Maura udah pulas!"
"Nanti dia bangun kalau dengar kita berisik, Bil!"
"Ya makanya jangan berisik, biar dia nggak bangun---!"
Karena rayuan sang suami yang terus menerus menuntutnya. Akhirnya Alika pun mau mengikuti apa kemauan suaminya malam ini.
Mereka pun kembali bermain cinta disebelah sang Anak. Bilmar selalu mendekap bibir sang istri, ketika Alika lupa untuk tidak bersuara. Dan benar saja, ketika keduanya sudah merasa diujung.
"Mah, Pah?" Terlihat Maura sudah duduk menyila dengan tatapan tidak jelas karena kamar yang sudah gelap.
Bilmar menarik wajahnya yang sedari tadi bersandar di ceruk leher Alika. Seketika dua mata mereka saling bertatap. Malu untuk menoleh.
Namun karena kamar ini sudah gelap. Maura hanya melihat bayangan sang Papa tengah berada diatas sang Mama yang di baluti oleh selimut tebal.
"Papa! Mau cekik Mama ya--!! Lepas Pah, Lepas!!" Maura memukul-mukul tubuh sang Papa yang masih bernaung didalam selimut.
Lagi-lagi anak ini salah faham. Maura pun menangis kembali. Ia berteriak-teriak menyebut nama sang Mama. Beruntunglah Alika dan Bilmar masih menggunakan pakaian atas, betul firasat Alika. Maura pasti akan bangun.
"Kamu sih! Udah sana, tidur di luar!" Alika mendorong suaminya untuk bangun. Bilmar pun bangkit sambil melilit selimut menutupi bagian bawahnya. Alika dengan cepat meluruskan daster tidurnya agar kembali menutupi kedua paha nya.
"Sstt, sayang..udah, Nak. Jangan nangis.." Alika kembali meniduri Maura sambil terus mengusap-usap tubuhnya.
__ADS_1
Lagi-lagi Bilmar gagal untuk menyelami Sassy.
***
Bilmar masih menatap bibir anak pantai dari kejauhan. Ia terus melipat kedua tangannya di dada. Ia terus memijit-mijit celah dahi nya. Pusing itu kembali melanda.
"Tadi anaknya nangis, Mas?"
Bilmar agak sedikit kaget dengan suara yang tiba-tiba datang. Lalu ia menoleh dan mendapati wajah Galih di sampingnya.
"Eh, Mas. Iya biasa, mimpi buruk kayaknya--"
"Mimpi buruk karena lihat Mama dan Papa nya lagi asik olahraga?" ucapnya nyeleneh namun nyata. Galih pun tertawa.
"Hemmm..." Bilmar mengerutkan dahinya. "Mas ini paranormal? Kok bisa tau?"
Galih kembali tertawa. "Anak saya udah tiga Mas malah mau empat sebentar lagi, yang Mas rasain sekarang, udah sering saya rasain---" Galih melangkah lebih maju meninggalkan Bilmar selangkah di belakangnya.
"Tapi kok masih bisa nyetak anak terus? sampai empat lagi..adeuh.." keluh Bilmar
"Berarti benarkan yang tadi? Anak Mas nangis karena emang masalah itu?" Galih kembali menggoda. Padahal ia hanya asal tebak, dan Bilmar yang lugu kemudian masuk perangkap.
Hap! Lalu di tangkap! Lah, kok kaya cicak gini???
Bilmar seketika merubah wajah dramatisnya menjadi wajah mengerut dan mencebik. Ia pun ikut duduk di samping Galih. Kedua lelaki ini akhirnya saling berbincang di ceruk anak tangga menuju ke bibir pantai. Mereka saling bercerita tentang kehidupan, pekerjaan, dll.
"Saya juga sebenarnya lagi pusing, Mas!"
"Pusing kenapa Mas?" tanya Bilmar menyelidik.
"Ya mirip sama yang, Mas Bilmar alami barusan---"
Karen sebelum ini, Galih pun kepergok ketika ingin melakukannya bersama Nadifa di Sofa. Anaknya berteriak dan menangis ketika hendak mengambil air minum ke dapur. Mereka mengira ada setan yang sedang mengerang dalam suasana yang gelap gulita.
"Senasib!! Nggak apa-apa lah, yang penting saya nggak merasa menderita sendirian!"
"Hahahahaha..." gelak tawa mereka kembali menggema.
****
Kan bener seengaknya Bilmar nggak pusing sendirian, Galih juga bisa nemenin🙊😁. Tapi mungkin Bilmar harus banyak belajar dari Galih yang udah berhasil bobol Nadifa sampai 3 orang anak🤪🤭
Makasi banyak untuk kalian yang sudah Like, Vote aku dan kasih semangat. Karena Kalian juga cerita ini terus mengalir.
Oh iyaa selagi kalian nunggu aku Update, bisa loh baca karya ku yang lain:
1.Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
2.Jangan Berhenti Mencintaiku
3.Dua Kali Menikah
Bisa klik di profil aku ya, terus pilih karya
Berikan aku bukti semangat dari kalian dengan cara :
VOTE
LIKE
RATE
dan
KOMEN YA🖤🖤
sekali lagi👇
Thankyou readers kesayangan🥰
__ADS_1
With love, gaga😘