
Hayyy kawan kawan semuahh! kalian seneng yah nungguin aku balik, makasi ya selalu memotivasi, aku mah nggak akan pandang bulu sama yang komen aneh dan baik, kalian tetap the best..wkwkw❤️❤️
oke deh, mari baca🤗🤗
***
"Jadi kamu sudah bertemu dengan Papa Luky?" gelak penasaran Rendi membuncah diwajahnya.
"I-ya sudah Ren."
"Lalu, kenapa harus mencurigainya? jelas-jelas ia sudah menyetujui perceraian kalian kan?
Bilmar menarik nafasnya dalam-dalam lalu membuangnya dengan kasar. "Itu dia masalahnya Ren!"
"Maksudnya--?"
"Awalnya saya merasa persetujuan dari Papa Luky adalah angin segar buat kita semua. Namun melihat kejadian Alika barusan, membuat saya ragu untuk mempercayai ucapannya. Saya lupa Ren, jika Papa Luky itu berkuasa dan dia cukup kejam. Tidak mungkin begitu saja mengalah dengan kemauan saya untuk meninggalkan Binara."
Terlihat aura redup terpancar dari wajah Rendi, ia menghalau nafasnya berat, menyandarkan begitu saja tubuhnya dikursi. Lalu menggelosor lemas.
"Nggak mungkin kan, keinginan saya untuk menikahi Binara harus merelakan nyawa Alika dulu?"
Terlihat kulit tenggorokan Bilmar mulai naik turun, menelan saliva nya dalam-dalam. Kepalanya begitu penat memikirkan hal ini. Ia takut jika nyawa istrinya terancam. Ketegangan begitu mencuat dari wajah mereka.
"Nyawa dibayar nyawa! akan saya pastikan Papa Luky menderita jika memang terbukti dia yang mencelakai istri saya, tidak akan ada ampun dari saya, Ren!"
Rendi melihat aura kemarahan terpancar dari kedua bola mata Bilmar. Tidak dapat dibayangkan jika nyawa Alika melayang begitu saja, mungkin Bilmar akan menjadi gila seketika.
"Sayang..?" panggil Alika dari luar pintu, ia tidak berani begitu saja masuk ketika Rendi dan Bilmar sedang berbicara dengan khusus di ruang kerja.
"Ingat ya Ren, laksanakan perintah saya. Cari informasi seakurat mungkin tentang peristiwa barusan!"
__ADS_1
Rendi mengangguk tanda faham, mereka pun bangkit dari kursi untuk berlalu meninggalkan ruangan.
"Ayo kita makan malam dulu Bil, Ren. Makanan sudah siap, Binar sedang menatanya di meja makan." ucap Alika ketika mereka sudah bertemu diambang pintu ruang kerja.
"Baiklah aku bersemangat, karena calon istriku yang tengah menyiapkannya." ucap Rendi begitu semangat sambil berlalu duluan ke meja makan meninggalkan Alika dan Bilmar yang masih berdiri didepan pintu.
"Kamu ngomongin apa sama Rendi, sayang? Kamu udah minta maaf kan sama dia?"
"Ckk..minta maaf karena sudah membuat dia kalah? hahaha."
"Sayang..!" wajah istrinya mengerut.
"Kenapa kamu turun ke bawah, kan sudah aku bilang kalau butuh sesuatu, tinggal katakan. Aku akan segera datang."
"Perutku lapar, Bil! cacing-cacing didalam sini kayaknya udah nari-nari minta jatah."
"...Hust, kok cacing sih. Mungkin aja dede gemes sudah berkembang didalam perut kamu sayang." Bilmar mencium pipi Alika sambil mengelus perutnya yang rata tidak bergelambir.
"Persatuan kenikmatan antara kamu sama aku." Bilmar berbisik ditelinga Alika dengan aroma nafas dari mulutnya dengan sangat sensual dan menggoda.
Seketika Alika menggetarkan tubuhnya karena tak kuasa menahan bulu kuduknya yang sudah mulai bangkit.
"Ih apaan sih, Bil. Kamu tuh kaya hantu tau nggak, buat aku merinding kaya gini. Udah ayo kita makan." Alika berlalu meninggalkan Bilmar duluan ke meja makan.
Terlihat Binara tengah menuangkan nasi di semua piring yang ada dimeja. Rendi terus melihati Binar dengan wajah bahagia, ia merasa bermimpi bisa membawa Binar keluar dari kungkungan nestapa yang selama ini menerkamnya.
"Tante, aku nggak mau ini. Mau nya ayam aja." ucap Maura yang sudah duduk rapih tengah melihati Binar meletakan daging di piringnya.
"Iya sayang." Binar meletaki paha ayam dipiring anak itu.
"Mungkin seperti ini gambaran dirumah, kalau kita sudah menikah nanti sayang, kita duduk semeja dengan anak-anak kita." Rendi meraih punggung tangan Binar untuk diciumnya.
__ADS_1
"Ehem..!" Bilmar berdehem agak kencang, membuat Binar menarik tangannya dengan paksa. Alika hanya tertawa sambil menarik bangku untuk ia duduki disamping Binar.
"Bucin banget sih Ren." gelak tawa Bilmar kembali menggema, membuat Rendi dan Binar menjadi malu tidak tertahan.
"Kaya sendirinya nggak aja!" celetuk Alika meledeki suaminya. Bilmar hanya bisa memiringkan bibirnya karena ucapan Alika yang memang betul adanya.
Terlihat mereka sudah berkumpul dimeja makan bulat dirumah ini. Hanya dentuman sendok dan garpu menghiasi telinga mereka yang saling membuat hening. Memang peraturan yang diterapkan Bilmar apabila sedang menikmati makan jangan ada yang berucap, walau masih saja sering dilanggar oleh Alika dan Maura.
Melihat ekspresi Binar, Alika dan Bilmar yang begitu serius membuat Rendi tidak tahan melawan gelak tawanya.
"Kamu kenapa Kak?" suara Binar yang akhirnya memecah keheningan diantara mereka semua.
"Nggak Binar, aku hanya lucu melihat kalian yang sedang menikmati makan di atas satu meja yang sama."
"Memangnya kenapa Ren?" tanya Alika menyelidik.
"Lucu aja, melihat istri kedua dan istri ketiga begitu akur malam ini dimeja makan, sungguh pandangan menakjubkan sepanjang abad kehidupan di kerajaan Bilmar Artanegara, aku tidak menyangka seorang Presdir EG sudah menikah untuk ketiga kalinya." ucap Rendi dengan tawa terpingkal-pingkal, sambil memegangi perutnya yang mulai sakit karena terus tertawa.
Dengan cepat Bilmar melempar tahu tepat masuk didalam katupan mulut Rendi yang tengah terbuka lebar. Lalu mereka berbalik meledeki Rendi. "Kena azab kamu, hahaha." ucapan Alika mengiringi tawa yang mengalir dari Bilmar dan Binara.
Kini mereka saling berbahagia dengan pasangan masing-masing yang mereka cintai. Melupakan sementara berbagai kejadian yang tidak enak dihati mereka.
Bagaimanakah sekarang? Bilmar harus tetap dengan Binar dan menceraikan Alika, agar wanita ini selamat? atau Rendi tetap menikah dengan Binar, namun nyawa Alika tetap saja tidak dapat terselamatkan?
Lagi-lagi Alika akan menjadi suatu pilihan untuk keluarga ini.
***
Ih..Wow, terharuu banget aku tuh 😭😭 liat komenan kalian. Dengan kalian terenyuh membuat aku semangat 45!❤️❤️
Like, Vote dan Komen ya😘🤗
__ADS_1
Makacih, with love gaga❤️😘