Mantanku PresdirKu Suamiku

Mantanku PresdirKu Suamiku
MPS 2 : Syarat dari Bilmar


__ADS_3

Haii selamat sore, aku lagi fokus nih sama karyaku Gifali dan Maura, kalian bisa mampir ya buat baca juga. Disana lagi titik episode menegangkan guyss✌️✌️


Selamat baca guyss


❤️❤️❤️


.


.


.


.


.


.


"Papa...." Maura terus mengajak Bilmar untuk bermain.


"Sayang, Papa lagi sakit Nak---" Alika mengelus punggung Maura yang masih bergeliat manja mencubit-cubit pipi sang Papa.


Terlihat Bilmar masih meringkuk miring didalam selimut ke arahnya. Terdengar lelaki itu sedikit mengiggil.


Alika juga berada diatas ranjang yang sama. Ia tengah menyusui Ammar. Karena Bilmar hanya diam, Maura pun berbalik untuk bergeliat manja di lengan sang Mama.


"Ma, kenapa Mama selalu menggendong Ammar?" Cicitnya polos. Ia kembali cemburu kepada Adiknya.


"Mama lagi menyusui adik, Nak. Dulu waktu Maura kecil juga seperti ini---" Jawab Alika sambil merapihkan rambut Maura yang begitu saja terurai sampai ke bahu.


"Kalau dulu Maura disusuinya sama Papa ya, Mah?"


Seketika Bilmar membuka kedua matanya, tak kala mendengar suara Maura yang mengiris hatinya. Kasin sekali ia, baru merasakan kasih sayang seorang ibu setelah berumur lima tahun.


Beruntunglah walau ia telat dalam merasakan kasih sayang itu, ada Alika yang muncul sebagai Mama sambungnya. Wanita yang begitu baik mau mencurahkan segala kasih sayangnya secara tulus dan murni untuk Maura.


"Maura mau main?" Suara Bilmar membuat Maura menoleh ke arahnya.


"Kok Papa bangun? Kata Mama kan Papa sakit, jadi kita nggak boleh main---" Cicitnya polos dan lugu.


Bilmar menarik Maura untuk masuk kedalam pelukannya. Menciumi anak itu sampai Maura terkekeh geli. Dia terus tertawa ketika sang Papa terus menggeletik perutnya.


"Anaknya Papah nih, muach---"


"Mama..." Serunya mengadu, ketika sang Papa tetap menggeliatkan kepalanya di perut sang anak.


Anak itu tertawa lepas. Maura bisa mendapatkan cinta seutuhnya ketika Mama dan Papanya sudah berkumpul di kamar bersamanya diatas ranjang. Mama dan Papa nya akan memeluknya sambil membacakan dongeng. Selelah apapun Bilmar, selagi ia bisa. Ia akan mengajak Maura untuk bermain.


Selama ada Ammar, Maura tidak mau lagi tidur sendiri dikamarnya. Ia memilih untuk tidur bersama mereka, apa lagi alasannya kalau bukan karena cemburu. Ia tidak mau kasih sayang nya terbagi begitu saja.


Namanya juga anak-anak.


"Nanti Maura akan punya adik lagi ya---" Ucap Alika pelan-pelan. Maura yang sedari tadi tertawa langsung melongo menatapi wajah Mamanya.


"Ada adik bayi lagi disini..." Maura menunjuk perut Alika. Anak itu tidak faham.


"Nanti Maura akan punya adik perempuan, umurnya tidak beda jauh dengan Maura. Namanya Gadis, nanti bisa jadi teman mainnya Maura."


Seketika garis senyum Alika begitu saja redup dikala ia mendapati wajah sang Anak yang terlihat berbeda.


"Kenapa Nak? Maura tidak suka punya adik lagi?" Tanya Bilmar, ia juga mengusap-usap punggung sang anak. Maura terlihat duduk dengan kaki menyila diantara Mama dan Papanya.


Maura menggeleng pelan dan menunduk kan kepalanya kebawah.

__ADS_1


"Maura nggak mau punya adik! Nanti dia nangis terus kaya Ammar, Mah---"


Memang tangisan Ammar selalu mengganggunya dikala sedang terbangun karena haus. Selalu saja mengagetkan dan membangunkan Maura ketika sedang tidur siang.


"Nggak Nak, adik Maura nanti sudah lebih besar dari Ammar. Sudah bisa diajak bermain, main masak-masakan, boneka dan yang lain. Pasti Maura tidak akan kesepian."


"Wah bermain bersama? Maura mau Mah! Yes hore ada teman main!!"


Seketika itu pula Maura berjingkrak-jingkrak di atas kasur. Anak itu sungguh polos, yang ia tahu hanya kata bermain dan mainan. Semoga saja setelah Gadis ditemukan, Maura bisa dekat dengannya tanpa ada jarak pemisah.


Maura pun turun dari kasur untuk menyambangi beberapa boneka-bonekanya di sofa.


"Sayang..." Alika beringsut untuk berbaring miring lalu masuk kedalam selimut yang sedang Bilmar gunakan.


"Ehmmm??" Bilmar mengelus-elus pipi sang istri.


"Bagaimana dengan ideku yang tadi? Apakah kamu mengizinkan aku?"


Setelah pulang dari rumah Ny. Gweny, Alika langsung berkata jujur kepada Bilmar tentang rencananya menyamar sebagai perawat disana. Ia tidak mau menutup-nutupi apapun lagi yang dapat membuat mereka salah faham untuk kesekian kalinya.


"Nggak ada cara lain, Bil! Aku harus bisa masuk terlebih dahulu kesana untuk melakukan pendekatan dengan keluarga itu---"


Bilmar tetap diam, ia masih mengelus-elus pipi Alika. Sudah berkali-kali Alika menanyakan hal ini dari sore sampai malam. Tapi Bilmar tetap dalam mode diamnya. Ia merasa serba salah, jika tidak membolehkan pasti Alika dan Binar akan kecewa.


Tapi jika ia membolehkan, ada rasa berat dihatinya kalau Alika harus letih dan lelah jika, harus bekerja sebagai Perawat mengurus seorang lansia.


"Nanti kamu capek sayang, waktu untuk kami pun pasti terbagi!"


"Aku akan bekerja layaknya perawat shif. Berangkat pagi pulang sore. Aku akan ada dirumah sebelum kamu pulang. Pokoknya aku akan tetap mengutamakan keluarga kita, Bil..." Alika tetap berusaha merebut hati suaminya.


Bilmar terdiam kembali. Ia mengubah posisinya untuk berbaring terlentang sambil berfikir. Kedua matanya menatap lurus ke arah lampu yang sedang menyinari kamar ini.


"Hm..." Desahan nafas terdengar dari mulutnya. Ia terus memijit pangkal hidungnya.


"Demi adiku, Bil! Adik kita. Aku ingin berbakti kepada Papa dengan cara membahagiakan Binar, aku tantenya Gadis. Sudah sepatutnya aku membawa kembali pulang keponakanku---"


Mendengar ucapan ibaan yang tersirat dari istrinya, membuat bati Bilmar jadi ikut menciut. Ia pun merasakan bagaimana bisa hidup tanpa anak-anak disampingnya.


"Baiklah kalau begitu, tap----"


Belum saja Bilmar menyelesaikan ucapannya, terdengar Alika sudah berseru senang dan bergeliat manja. Ia terus memeluk dada suaminya dan menghujani wajah Bilmar dengan berbagai kecupan.


"Etss! Tunggu dulu!"


"Kenapa, Bil?"


"Semua ini ada syaratnya---"


"Syarat??"


Ucapan Bilmar seperti Dejavu untuk Alika. Ia teringat ketika memberikan beberapa syarat kepada Bilmar ketika mereka akan menikah.


"Karma nih, Duh!" Rintih Alika dalam batinnya.


"Apa syaratnya?"


"....Aku ingin kamu hamil lagi, Al! Kamu mulai besok berhenti untuk meminum pil KB! Dan setiap malam aku akan menjenguk Sassy, bagaimana??"


Kedua mata Alika terbelalak, lidahnya seketika tercekat.


"Hamil lagi?? Bekas jahitan pasca melahirkan aja masih terasa linu kalau kita sedang berhubungan, Bil!"


Alika berdalih. Tentu setelah ia menangis ketika bercinta pasca melahirkan membuat Bilmar selalu bermain pelan dan lembut.

__ADS_1


"Masa si Al? Tapi kayaknya kamu nikmati kok, kadang kalau mau pelepasan suka keceplosan gitu bilang enak." Bilmar berdecis geli.


"Ih, Bil! Jangan frontal ada Maura!" Wajah Alika memerah, ia malu diketahui dan di godai.


"Nggak akan ngerti dia, Al! Kecuali dia nontonin kita, hahahaha---"


"Bener-bener ya kamu tuh!" Alika mencubit perut Bilmar.


"Tapi aki bener kok, masih sedikit linu, Bil!" Alika mencoba meyakini Bilmar dengan kebohongannya.


"Itu karena kamu nya tegang dan gugup sayang, kamu jadi kurang menikmatinya. Nggak apa-apa, nanti aku panjangin deh pemanasannya--" Bilmar kembali tertawa.


Alika terlihat mencebik. Mengapa jadi begini fikir nya.


"Jadi gimana nih permintaan aku? Kalau kamu nggak mau yaudah, nggak masalah! Kamu nggak usah capek-capek nyamar disana!" Bilmar memiringkan tubuhnya untuk memunggungi Alika.


Alika tidak ada pilihan lain. Ia sudah kepalang janji dengan Binara. Akan melakukan drama di rumah Ny. Gweny.


"Ya baiklah---" Desahnya panjang.


"Dimulai dari malam ini ya? Gimana?" Bilmar bangkit terduduk diatas kasur.


"Ada Maura Bil, lagian kamu juga lagi sakit gitu lohh---"


"Bakalan sembuh Al, kan bentaran lagi aku bakal minum obat! Obatnya yaitu kamu, si Sassy. Hahahahhaha...."


"Di ruang kerja? Kamar Maura? Atau di---"


"TAMAN!!" Alika berdecak malas.


"Jangan dong Al, nanti nyamuk sama tokek ikutan...."


"Auh ah bodo! Di mana aja juga kamu mah jadi, Bil." Alika beringsut untuk berbaring kembali dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


"Ayok ah sekarang!" Bilmar menarik tangan Alika begitu saja untuk mengikuti langkahnya keluar dari kamar.


"Mama..Papa, mau kemana?" Tanya Maura yang masih bermain di sofa dengan beberapa bonekanya. Anak itu selalu tidur malam akhir-akhir ini.


"Maura tunggu bentar ya Nak. Papa mau minum obat dulu sama Mama---"


"Ra...." Desah Alika seraya meminta pertolongan kepada anaknya. Bilmar terus menggandeng tangan istrinya agar secepatnya keluar dari kamar.


Dan malam panas pun terjadi, seperti biasa setiap malam Bilmar tidak akan merayu-rayu lagi Alika jika ia ingin bertemu Sassy. Alika pasti sudah faham jika Bilmar sudah memberi kode untuk itu.


Menang banyak Bilmar!


****


.


.


.


.


.


.


Untuk kalian yang belum bergabung ke grup chat ku bisa gabung ya, biar tau apa aja info update dari ku...atau sekitar info lainnya.


Bagi yang mau tau kisah Maura dan Gifali yang sudah dewasa, sudah bisa baca di karya ku yang ke tiga ya, boleh cek profil ku❤️

__ADS_1


Like Vote dan Komen ya guyss✌️😘😘🤗


__ADS_2