Mantanku PresdirKu Suamiku

Mantanku PresdirKu Suamiku
Selamatkan Kedua Putriku, Berliana & Binara!


__ADS_3

Hayyy attcuu balik lagi nih, mauu berapa episode hari ini? hihihihi🤭🤭


yuk ah mari baca


karen aku sedari tadi ngerasa tegang ketika ngetik part ini💔💔


****


"Kak, kita jadi ke kantor kalian?" Tanya Binar yang masih berdiri dibelakang Alika, melihati Kakaknya sedang menyiapkan makan siang untuk Bilmar dan Rendi serta beberapa cemilan yang akan ia bawa ke klinik untuk Bella dan Sofia disana. "Iya, Bin jadi. Aku mau bawa kamu keliling EG dan ke tempat kerjaku, biar kamu nggak bosan disini."


Binar mengangguk walau dengan hati yang sepertinya mendadak tidak enak. "Kak, kalau nanti Kak Bilmar marah bagaimana? Katanya kan kita harus tetap dirumah?" Binar mencoba mengingatkan Alika agar menjauh dari amukan Kakak lelakinya.


"Nggak apa-apa, Bin. Yang ada mereka akan senang, kita kesana untuk membawakan makan siang ini."


"Tolong bawa tempat bekal ini ke jok motor ku ya Bin." Alika menyodorkan paper bag yang sudah berisi beberapa kotak bekal kepada Binar ketika ia sudah selesai menata makanan didalamnya. "Tunggulah didepan, aku ingin ke kamar Maura dulu, untuk pamit kepadanya."


"Baik Kak." Binara berlalu dengan membawa jinjingan itu untuk melangkah menuju motor matic kepunyaan Alika.


Tanpa menunggu lama, Alika sudah terlihat kembali muncul untuk menghampiri Binar yang masih berdiri disamping motor. Ia pun meraih satu helm yang dipakaikan dulu dikepala Binar. Binara hanya tersenyum bahagia melihat perhatian dari sang Kakak Ipar yang tak lain adalah Kakak Kandungnya selama ini. Ia pun memasang helm yang satunya lagi dikepalanya, lalu menaiki motor untuk menyalahkannya. "Ayo naik, Bin!"


Mereka pun bergoncengan diatas motor, keluar dari gerbang tinggi kediaman Bilmar Artanegara. Binar terus memeluk perut Alika dengan erat, ia terasa kaku karena belum pernah naik motor. Papa Luky selalu menjadikan ia ratu dari kecil hingga saat ini. Berbeda dengan Alika, yang begitu kuat, mandiri dan bisa apa saja.


Mereka tampak riang, bersenda gurau menikmati sepanjang jalan industri, hanya memberikan hawa sejuk karena semilir angin kibasan daun-daun dari pohon yang rindang.


"Enak banget ya, naik motor. Aku senang Kak." Binar terus memeluk perut Kakaknya, menikmati alam yang terus melihati kepergian mereka.


Alika hanya menangguk bahagia. Ia sangat senang bisa memberikan keceriaan dan kebebasan di wajah Binara.


Berliana dan Binara, adalah dua putri yang telah lama terpisah karena ego kedua orang tuanya.


Tak lama kemudian dari kepergian mereka, terlihat ada mobil yang mulai melaju pelan tepat beberapa meter dari belakang motor yang kini tengah ia kendarai.

__ADS_1


Entahlah bagaimana Semesta akan menyelamatkan mereka saat ini.


***


Seketika tubuh tegap dibalik jas lelaki paru baya ini terlihat terjerembab, lemas tidak berdaya, ia hampir merosot jatuh dari posisi nya saat ini. Nafasnya begitu tersengal-sengal seperti habis berlari maraton ditengah lapangan. Pak Khalid dengan sigap cepat meraih kedua lengan Papa Luky yang sudah hampir mendarat dilantai. kedua matanya terbelalak, terus menatap dalam lamunan, dadanya terasa sakit dan sesak.


"Ya Allah? Jadi selama ini anakku itu, istrinya Bilmar?" Gumamnya sambil meremas dada bagian kirinya, kedua matanya terpejam. Ia merasa shock. Ternyata selama ini anak yang tengah ia cari, tidak pernah lari kemana-mana. Selalu ada disetiap lekukan hidup keluarga Artanegara.


"Alisa! saya mengutuk kamu..!" Papa Luky berseru sambil mehentakan genggaman tangannya dimeja, membuat getaran hebat disana. Lalu dadanya kembali terguncang, keringat dinginnya mulai bercucuran tidak berarah, dengan nafas masih tersengal-sengal. Ia kembali meraih Handhpone nya untuk menelpon seseorang.


"Iya Pak jangan takut saya sebentar lagi akan melangkah ke TKP!"


Tutt...sambungan telepon dimatikan oleh si pembunuh bayaran.


Biadab!


"Dasar brengsek!" ucap Papa Luky ketika sambungan telepon itu begitu saja dimatikan oleh si pembunuh bayaran. "Ya Allah, ampuni saya!" Tuturnya memucak histeris.


Papa Luky langsung bangkit dari kursi. "Minggir Khalid!" Ia mendorong tubuh lelaki itu agar tidak menghalangi langkah kakinya yang sudah tidak beraturan. Terus berlari-lari untuk meraih tubuh Alika sebelum pembunuh bayaran itu dengan cepat menemukannya terlebih dahulu.


"Tolong kamu turun, saya sendiri yang akan menyetir!"


Tak lama kemudian, gesekan suara ban mobil dengan aspal basement begitu berdecit menimbulkan suara begitu nyaring disana. Karena Papa Luky begitu cepat melajukannya.


Pak Khalid terlihat kalah cepat dalam menyusul Papa Luky di basement.


Papa Luky terus melajukan mobilnya dengan cepat, ia tidak perduli jika harus menabrak dan menyerempet mobil-mobil yang menghalanginya dijalan. Ia hanya ingin anaknya, ingin cinta dari buah hatinya.


Ia terus menelpon kedua lelaki itu namun tidak ada jawaban. Beberapa tamparan dari tangannya ia layangkan sendiri ke wajahnya, ia terus menghardik dirinya dengan caci maki penuh penyesalan. Air matanya begitu saja mengurus deras.


"Tolong Ya Allah, selamatkan Anakku. Aku mohon!"

__ADS_1


Tak lama kemudian mobilnya sudah sampai di garasi rumah Bilmar. Ia membuka pintu mobil dengan kasar lalu berlari melangkah untuk masuk kedalam rumah.


"Alika?" ia terus merancau memanggil-manggil nama anaknya.


"Ada apa Pak Luky? mencari nyonyah?" sapa Bik Minah yang membuat Papa Luky seketika terhenti dari langkahnya yang blingsatan.


"Iya, dimana dia? dimana anakku?" tanyanya dengan amat gugup gempita. Bik Minah hanya memberikan raut kebingungan dengan apa yang baru ia dengar barusan.


"Nyonya pergi sama Non Binara, Pak--"


"Hah? kemana?" Papa Luky memotong cepat ucapan itu, membuat Bik Minah kaget dengan gelak ucapan Papa Luky yang begitu keras.


"Ke ECO GROUP, Pak. Sekitar setengah jam yang lalu--"


Belum sampai selesai Bik Minah mengakhiri ucapannya, Papa Luky sudah lebih dulu berlalu dengan cepat untuk kembali membawa langkah kakinya menuju EG.


Jantungnya semakin bergemuruh, ia semakin terperanjat. Dadanya semakin sesak, semoga saja dirinya tidak mengalami serangan jantung mendadak saat ini. Karena alam sedang menuntun langkahnya untuk menolong putri-putrinya.


"Ya Allah, kenapa jadi begini. Bagaimana kalau mereka----!" ada jeda kalimat yang tak berani ia ucapkan. Ia tidak membayangkan jika kedua putrinya malah menjadi korban sekaligus. "Brengsek! sialann! keparatt! bedeebah! bodoh!" Papa Luky terus menghardik dirinya sendiri didalam mobil. Ia sudah tidak bisa berfikir jernih saat ini. Mungkin sebentar lagi ia akan menggila, jika menemukan keadaan kedua putri nya dalam keadaan tidak bernyawa.


Ia semakin menggila lagi ketika dirinya diingatkan ucapan Alika beberapa tempo lalu, jika gadis itu tengah mengandung.


"Astagfirullohaladzim, Ya Allah!" ia menangis terisak didalam mobil, ia tidak menyangka dengan rencana kejahatannya ini akan merenggut nyawa tiga orang sekaligus. Pembunuh bayaran akan terus melaksanakan tugas dengan baik sesuai perintah sang pemesannya!.


Semoga saja dirinya cepat datang tepat waktu, jika tidak! Tuhan akan mengganjarmu berkali-kali lipat.


***


Bagaimana kah setelah ini? bagaimana nasib Berliana dan Binara? apakah yang akan terjadi dengan mereka?


Berikan semangat kalian untuk aku yaa..

__ADS_1


Like, Vote, Rate and Komen..


Thankyou, with love Gaga.❤️❤️


__ADS_2