
Haiii, Aku kembalii lagi🤭. Abis kalian manggil-manggil terus🤪🤪
Selamat baca ya guyss
🤗🤗🤗
***
Deru ombak pantai terus menggelitik telinga Bilmar agar segera membuka matanya. Ia baru nyenyak tidur setelah melaksanakan Shalat Subuh. Kepalanya masih terasa pusing dan tubuhnya tidak enak. Karena hasrat yang begitu mendidih terbiarkan begitu saja tanpa bisa tersalurkan.
Ia terus merengkuh guling di dekapannya, membiarkan sinar matahari begitu saja masuk lewat celah-celah ventilasi jendela.
Mentari pagi yang sudah muncul di peraduan terlihat terus menemani langkah Maura yang masih berlari-lari disekitar area paviliun mereka. Sang Mama terus mengikuti sang anak untuk menyuapinya makan.
"Jangan lari-lari, Nak. Nanti kamu muntah sayang..." Alika kembali menyuapi nasi ke mulut putrinya.
"Mah, ayo kita kesana!" Maura menunjuk ke arah pantai dan menarik tangan Alika.
Walau waktu saat ini sudah menunjukan pukul 09:00, tetap saja pantai masih sepi dari pengunjung. Membuat Maura semakin bebas bermain pasir.
Mau tidak mau Alika terus mengikuti kemana mau nya anak ini. Ia tidak mangkir jika udara di tepi pantai sangat sejuk dan memberikan suasana damai kepada jiwanya.
Sesekali ia terbayang akan wajah sang Papa. Ia merindukan lelaki itu.
"Aku telepon ah..." Alika merogoh kantong celana untuk meraih ponselnya.
Maura terus berlari-larian sampai jauh beberapa meter dari jarak sang Mama. Seketika langkah kakinya terhenti berbarengan dengan langkah dua anak kecil yang membuatnya kaget.
Mereka saling menatap layaknya anak kecil yang akan bermain dengan anak tanpa dikenalnya.
"Hai, kalian siapa?" tanya Maura.
"Kak, lihat itu Pantainya---" ucap adik perempuan kepada Kakak lelakinya. Umur mereka semua hampir sebaya.
Kakak beradik itu akhirnya pergi melangkah menuju pantai, meninggalkan Maura yang telah menyapa mereka begitu saja.
"Sini, dek. Jangan jauh-jauh!" ucap Kakak kepada adiknya.
"Kalian mau apa disini?" Maura sudah berada dibelakang mereka. Ia merasa senang karena mendapat teman sebaya dirinya. Wajar saja, Maura lebih banyak menghabiskan waktu dirumah, ia tidak mempunyai teman bermain.
"Kita mau lihat pantai--" Jawab sang Kakak.
"Aku Maura!"
Maura menyebutkan namanya didepan mereka. Membuat Kakak beradik ini menjadi saling bertatap.
"Aku Gifali, dan ini adikku Gana--"
__ADS_1
Dari jauh dengan pandangan samar-samar ada Alika yang tengah melangkah setengah berlari untuk meraih tubuh anaknya.
"Maura ngapain disini? Ini udah jauh dari paviliun!" ucapnya kepada sang anak, lalu arah matanya berputar ke wajah Gifali dan Gana.
"Kalian sama siapa kesini, Mama dan Papa nya kemana?" Alika melolongkan pertanyaan. Seketika ia khawatir jika anak ini sedang tersesat dan orang tua mereka tengah cemas mencari.
"Itu disana tante--" balas Gana mengangkat jari telunjuknya. Ia menunjuk ke area penginapan Binara.
"Tante antar kalian pulang ke penginapan kalian ya sayang, nanti Mama sama Papa cemas mencari kalian.."
Terlihat Gifali dan Gana begitu saja menurut. Berbeda dengan Maura yang seketika merubah raut wajahnya.
Ia seperti tidak suka mendengar Alika menyebut mereka dengan panggilan sayang.
"Mama, gendong!!" cicit Maura manja. Alika pun menggendong Maura lalu menggandeng tangan kedua anak itu di kiri dan di kanan dirinya.
Mereka terus berjalan lurus memasuki area penginapan Binara.
Sebelum langkah Alika terhenti, ia melihat Pak Farhan tengah berbincang dengan seorang penginap laki-laki dan seorang wanita hamil yang sedang menggendong anak perempuan yang umurnya tidak jauh dari mereka.
Lalu anak perempuan itu berteriak ke arah Alika yang masih berjalan ke arah mereka.
"Mama, itu Kak Gifa dan Kak Gana---", seketika kedua orang tuanya menoleh secara bersamaan dengan langkah Alika yang terhenti dihadapan mereka.
"Loh, Kakak dari mana?" tanya sang Mama anak tersebut. Terlihat Gana meminta gendong kepelukan Papanya yang masih berdiri melihati mereka. "Kak, kan Papa bilang jangan main jauh-jauh!"
"Ya Allah, maaf ya Mba. Sudah merepotkan, karena masalah ini kami jadi tidak fokus. Ayo Nak, ucapka terimakasih kepada tante--" sang Mama menyuruh mereka mengucap kalimat terima kasih.
"...Terima kasih tante."
"Tante, terimakasih ya--"
Ucap kakak beradik itu bersamaan.
"Ada masalah apa ini Pak?" Alika bertanya kepada Pak Farhan.
"Begini Nyonya, Bapak ini merasa sudah memboking paviliun. Tapi nyatanya saat ini semua paviliun sudah terisi penuh--"
"Nggak apa-apa, Pak. Saya mengerti, mungkin kemarin saya kurang jelas dalam mendapatkan infonya--" selaknya cepat.
"Ayo Mah, kita kembali saja.."
"Tapi, Pah? Kasian anak-anak--"
"Ya, mau bagaimana lagi, kamar nya penuh Mah."
Sang suami terus memberikan pengertian kepada sang istri yang terlihat sudah lelah karena perjalanan jauh. Apalagi kondisi istrinya tengah hamil di tambah lagi mereka membawa tiga orang anak ke pulau ini, karena memang untuk berlibur.
__ADS_1
Selintas Alika mendengar ucapan mereka yang masih diliputi rasa bingung dan kekecewaan.
"Begini saja Pak Farhan, berikan penginapan di paviliun Berliana saja. Disana kan masih ada beberapa paviliun yang kosong!"
"Tapi Nyonya, paviliun Berliana kan khusus untuk keluarga Artanegara saja?" Farhan mencoba mengingatkan.
"Nggak apa-apa, Pak! Ini akan menjadi tanggung jawab saya! Ayo Mba, Mas dan Anak-anak ikut saya." Alika memberi alarm perizinan untuk mereka.
"Mba, maksudnya bagaimana? Saya masih belum faham?" tanya Papa dari ketiga anak ini.
"Saya kasian dengan kalian, apalagi dengan keadaan istrinya Mas yang tengah mengandung, perjalanan kembali keluar pulau sangatlah melelahkan. Karena penginapan Binara sedang penuh, saya akan mengizinkan kalian dulu untuk menginap di paviliun khusus keluarga kami, bagaimana apakah setuju?"
Pasangan suami istri ini saling menatap. Ada rasa bahagia dan rasa tidak enak.
"Kami takut merepotkan, apa nggak akan menjadi masalah nantinya, karena kami memakai penginapan keluarga kalian?" tanya wanita itu kembali.
"Jangan khawatir, semua sudah menjadi persetujuan saya! Oh iya, Pak Farhan tolong diurus semua barang-barang Mba dan Mas ini ya---!"
"Baik, Nyonya! Pak tolong ikut saya ke bagian reservasi.." Farhan meminta lelaki itu untuk mengikutinya.
"Terimakasih banyak ya Mba, maaf berkali-kali karena sudah merepotkan."
Alika mengangguk dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Saya Alika dan ini putri saya, Maura--"
"Saya Nadifa dan tadi suami saya, Galih. Serta mereka semua adalah anak-anak kami, Gifali, Gana dan Gelva.."
****
.
.
.
.
.
Nah kan kalian salah tebak😛😛😛🤭, jauuh banget atuh dari pelakor mah🤭🤭. Tenang guyss, aku kan udah janji episode2 menuju akhir season satu, aku hanya ngebahas tentang kebahagiaan mereka aja. Cuman mau bahas Alika dan Bilmar. Tapi kayaknya kurang asik, Kalau Bilmar pusing sendiri seengaknya ada Galih lah yang akan ikut nemenin🤣🤣🤣
Bagi kalian yang udah baca karya aku yang berjudul " Bersahabat dengan cinta terlarang, pasti udah tau banget siapa Nadifa dan Galih..bagi yang belum tau, boleh kok baca kisah mereka jugaa❤️❤️❤️
Makasi yah yang selalu minta lanjut lalu VOTE aku. Aku merasa dihargai🤩🖤 dan aku juga mau mengucapkan terimakasih kepada pihak mangatoon yang telah membantu aku untuk melaporkan aksi pembajakan cerita ini ke pihak youtube oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Mungkin juga pelakunya lagi baca 🙁🙁. Jangan ya, kasianin aku dong. Nulis 1 episode kaya gini, butuh 2-3 Jam, maka hatiku perih kalau cerita ini disebar luaskan begitu saja untuk menyokong materi💔💔💔
Gitu aja guyss info dari akuu.
__ADS_1
Like, Vote dan Komen yaa❤️❤️😘