
Haii, adakah yang rindu? Malam-malam nggak bisa tidur, lagi baca novel mereka terus dari awal terus aku kangen guys, yaudah aku buat lagi cerita mereka. Ini hanya bonus ya hihihii
Oke deh selamat baca❤️
.
.
.
.
.
"Mama!!" suara Maura malam-malam begitu melengking terdengar dari dalam kamarnya. Ia memanggil-manggil Mamanya untuk cepat datang menghampirinya.
Tentu saja suara itu membuat kedua mata Alika terbuka cepat. Ia menepuk bahu Bilmar untuk bangkit dari atas tubuhnya. Kebiasaan Bilmar seperti biasa tertidur didada istrinya ketika habis melakukan olahraga cinta.
"Bangun sayang...itu Kakak teriak-teriak." Alika memaksa untuk mendorong tubuh suaminya agar mau bangkit.
"Udah biarin aja, paling juga teriak karena digodain sama Ammar. Papa ngantuk, Mah. Papa masih mau peluk Mama." cicit Bilmar manja. Ia tetap memeluk tubuh polos istrinya.
"Mama ..." suara Maura kembali terdengar.
"Tuh, kan Pah. Udah ayo bangun dulu, kayak nggak ada hari aja!" Alika berdecak sebal.
"Besok kan kamu ada seminar keperawatan di Bandung. Tiga hari lagi, nanti aku gimana kalau kangen kamu, Mah!"
Alika memutar bola matanya jenga. "Kemarin kan udah dibahas, Pah. Papa juga udah ijinin Mama.."
"Terpaksa----" Bilmar memotong cepat.
"Tiga hari tuh nggak lama, Pah. Minggu juga Mama udah pulang lagi kerumah--Udah bangun, Mama mau ke kamar Kakak dulu!"
Bilmar masih berusaha merayu istrinya agar tidak berangkat seminar dan menginap selama beberapa hari di Bandung. Ia ingin ikut menginap bersama Alika disana, namun Alika melarang karena Maura dan Ammar masih dalam suasana sekolah. Mereka tidak bisa ditinggal. Mengingat Maura dan Ammar bagai Tom and Jerry versi manusia.
Tak lama kemudian Bilmar bangkit melepas persatuan mereka. Lalu menggulingkan tubuhnya disamping Alika. Menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan kembali melanjutkan tidur.
Sedangkan Alika, walau ia sudah mengantuk namun kedua matanya tetap dipaksakan terbuka. Ia kembali mengenakan piyama dan menguncir rambut nya tinggi seperti ekor kuda. Alika berlalu dari kamar untuk melangkah menuju kamar Maura.
"Kamu kenapa, Kak? Kok teriak-teriak malam-malam?" tanya Alika kepada Maura yang masih setia duduk di meja belajarnya.
"Marahin Adek, Mah. Dia numpahin susu di buku PR Kakak!" Maura mengadu. Anak perempuan yang sudah duduk dibangku kelas satu SMP itu menangis tersedu-sedu.
"Lihat nih, Mah. Kakak harus ngerjain PR ulang!" Maura semakin menangis.
"Maafin Adek, Kak. Mungkin Adek nggak sengaja. Ya udah sini Mama aja yang ngerjain PR Kakak." Alika terus menenangkan hati putrinya agar tidak marah dan menangis lagi. "Biar nanti Mama yang nasihatin Ammar."
__ADS_1
"Nggak usah Mah, biar Kakak aja yang ngerjain lagi." jawab Maura sambil menyeka air matanya. Namun terlihat matanya sudah sedikit mengerjap karena menahan kantuk.
"Ayo, Kakak tidur!" Alika meraih tangan Maura untuk digandengnya menuju ranjang.
"Mata kamu tuh udah merah, Kak! Masalah PR biarin Mama yang kerjain, nanti Mama yang salin ulang."
Maura mengangguk dan mulai memejamkan kedua matanya. Ia pun tertidur dan akhirnya melimpahkan tugas sekolah kepada sang Mama. Alika mulai mengerjakan tugas Maura, walau kedua matanya pun sudah berat dan besok ia harus sudah berangkat pagi-pagi menuju Bandung. Ia hanya tidak ingin kedua anaknya tidak bertengkar, lebih baik ia yang berkorban untuk menutupi kesalahan Ammar. Ia tidak mau Maura membenci adiknya.
****
Setelah selesai mengerjakan PR Maura, kini Alika masuk kedalam kamar putranya, Maldava Ammar Artanegara. Anak lelaki yang ia lahirkan dari rahimnya sendiri delapan tahun yang lalu.
Ceklek.
Alika masuk ke kamar anaknya dan menyalahkan lampu.
"Dek ...?" panggil Alika.
Tentu ia tahu Ammar belum tidur. Anak laki-laki itu hanya berpura-pura tidur dan sedang menenggelamkan tubuhnya dibawah selimut. Ia takut Mamanya akan memarahi dirinya atas perkara Maura barusan.
Ammar adalah anak lelaki jahil yang tidak bisa berhenti untuk menggoda Kakaknya atau teman-teman perempuannya disekolah.
"Ammar ..." Alika memanggilnya lagi. Lalu ia duduk ditepi ranjang. Menarik selimut Ammar yang bermotif karikatur grup sepakbola Manchester United.
Dengan wajah jenaka menurun dari sang Papa membuat Alika tidak bisa menahan untuk mencubit perut Ammar yang tengah tersenyum jahil kepadanya.
"Kenapa sih, Dek, jahil banget sama Kakak?"
"Bukannya pelit, Nak. Kakak tuh sayang sama kamu. Kakak hanya lagi ngejalanin perintah Papa yang masih nggak bolehin kamu pegang gadget." Alika mencoba meluruskan kesalah fahaman di hati Ammar.
"Masa udah seminggu, Papa masih marah aja, Mah---" Ammar mencebik.
"Bukan hanya Papa yang masih marah, Mama juga masih kesal sama kamu!"
Ammar melirik dan menatap Mamanya. Lalu bergeliat manja di lengan Alika.
"Mah, tapi beneran aku nggak sengaja nonjok Farhan waktu itu!"
"Tapi beneran kan ditonjok sama kamu?"
"Iya abisnya aku nggak suka, Mah. Farhan itu udah buat Hana nangis, dia ledekin Hana katanya, kaki Hana hitam!"
Ammar kembali memperlihatkan kekesalannya jika mengingat Farhan, teman sekelasnya. Memang betul buah yang jatuh tidak akan jauh dari pohonnya. Seperti sikap Bilmar yang pemberani kini turun langsung kepada Ammar.
Mendengar penuturan sang anak membuat Alika tidak bisa menahan gelak tawanya.
"Apa tadi? Kakinya Hana hitam?" Alika mengulang pertanyaan dan cepat mengunci bibirnya rapat-rapat ketika melihat tatapan aneh dari sang putra.
__ADS_1
"Tuh, kan, Mah. Mama juga ngeledekin Hana!"
"Ma----af, Nak. Mama lucu aja dengarnya."
Ammar hanya mengerucutkan kedua bibirnya seperti itik yang ingin diterkam buaya.
"Pokoknya Mama minta, Adek jangan lagi godain Kakak! Harusnya Adek yang jagain Kakak, disayang, di peluk jangan dibuat marah apalahi nangis. Karena kelak, kalau Mama dan Papa nggak ada, Kakak lah yang akan menjadi pengganti Mama dan Papa untuk Adek, ngerti kan, Nak?"
Ammar terdiam dan memperlihatakan rasa menyesalnya dan akhirnya ia pun mengangguk pelan.
"Iya, Mah. Maaf! Adek enggak sengaja ngejatuhin susu tadi di buku Kakak."
"Besok Adek minta maaf sama Kakak ya, biar Kakaknya nggak marah sama kamu, Nak."
"Iya, Mah."
"Gitu dong anak Mama yang paling ganteng."
"Mah kita nggak ke makamnya Bilka sama Abrar? Adek kangen sama mereka tau, Mah."
"Mama juga, Nak. Kangen sama adik-adikmu. Iya udah nanti sehabis Mama pulang dari seminar, kita pergi ke makam ya."
Ammar mengangguk tanda setuju. "Iya udah ayo sekarang tidur. Biar besok kamu nggak telat bangun lagi!"
"Berdoa dulu ya, Nak. Baru sehabis itu tidur."
titah Alika sambil merapihkan selimut Ammar.
"Iya, Mah." Ammar tersenyum ketika sang Mama melepas satu kecupan dikening nya.
****
Dua hari berlalu.
Terlihat Bilmar kembali memasuki ruangan kerjanya sehabis melaksanakan rapat dengan para kolega EG. Ada yang berbeda dari tatanan baju kantornya hari ini. Antara dasi dan kemejanya hari ini tidak selaras. Tentu saja, karena sang istri sudah dua hari ini tidak ada dirumah. Tidak lagi memilihkan kemeja, dasi, jas kantor dan sarapan serta makan malam untuknya.
Bilmar sudah setengah mati merindukan Alika yang sedang mengikuti seminar keperawatan gawat darurat di Bandung. Setiap malam ia sulit tidur, karena disebelah sisinya kosong tidak ada tubuh mulus yang bisa ia peluk lagi.
Bilmar masih melamun memikirkan ide yang sejak tadi mengembang di fikiran nya.
"Kayaknya kalau Kakak sama Adek ditinggal semalam aja, mereka nggak masalah deh. Kapan lagi kan menginap di hotel berduaan sama istri?" Ide mesumnya mencuat begitu saja.
"Udah saat nya nih, Alika hamil lagi." gumam Bilmar sambil tertawa. "Kalau di hotel kan, bisa beronde-ronde. Kalau dirumah kan susah, mau lama-lama sekarang tuh udah nggak bisa! Anak-anak nggak bisa lepas dari Mamanya, mau nya nempel mulu kaya cicak."
Bilmar terus saja bergumam pada dirinya sendiri. Ia terus menimang-nimang keinginannya untuk menyusul Alika.
"Ah, Baiklah. Aku tetap akan menyusul Alika. I'm Comming Sassy, yeahh..."
__ADS_1
*****
Mai ingeti lagi, Ini hanya bonus buat kalian dan karena aku juga lagi kangen buat nulis cerita mereka. Tapi bonus ini jangan diharapkan akan terus update ya, soalnya suka-suka aku mau UP nya kapan aja, heheheh✌️