
Ini bonus buat kalian, episode ke tiga dihari ini. Walau aku udah back to work tapi tetep nyempetin nulis buat kalian cemuah yang semakin penasaran, hati aku jadi tergugah nih. Makaci loh😘.
yuk ah mari baca
❤️❤️
***
Bilmar, Binar dan Rendi sudah keluar dari ruangan Papa Luky. Rendi dan Binar begitu soray gembira dengan keputusan hari ini yang membuat mereka akan secepatnya bersatu.
Mereka saling merangkul dalam melangkah, penuh suka, cita, tawa dan canda. Lain hal dengan Bilmar yang masih menatap mereka dengan kaku dari belakang.
Kelegaan hati belum terpancar semua dari raut wajah Bilmar, ia masih merasa terancam. Ia belum sepenuhnya percaya dengan tatapan Papa Luky yang begitu saja senang melihat dirinya sudah berpisah dari Binar. Ia masih harus terus menjaga Alika sampai rekaman cctv di jalan itu bisa membuktikan kecurigaannya selama ini.
"Pak, nggak apa-apa?" tanya Pak Khalid, meraih lengan Papa Luky yang mendadak merasa sakit lagi dibagian dada nya, untuk melangkah menuju sofa. "Mau saya panggilkan Dokter, Pak?"
Ingatan tentang Alika makin terngiang-ngiang dalam benaknya, ia ingin sekali bertemu dengan gadis itu yang selalu mengingatkannya dengan Alisa.
"Bisa kah untuk menyelidiki seseorang, tanpa menggunakan foto dan nama lengkap?" tanya Papa Luky disela-sela rasa linu yang sedang membuncah.
Kerutan dikening Pak Khalid terlihat berlipat-lipat, ada rada keingintahuan yang besar untuk menanyakan lebih dalam.
"Ah, tapi sudahlah. Tidak jadi, ini hanya fikiran bias ku saja!" sambung Papa Luky yang sudah mendaratkan dirinya di sofa sambil duduk berselonjor.
"Bapak harus ke Dokter, takut-takut nanti kambuh Pak."
"Baiklah, tolong buatkan jadwal untukku bertemu dengan Dokter Jantung, besok!"
"Siap Pak, baik.."
"Ya sudah pergi lah, aku hanya ingin istirahat!"
Papa Luky menaruh kedua tangannya didada lalu memejamkan matanya perlahan, hari ini ia cukup stress dan lelah. Memang lucu drama alam saat ini. Dikala ia ingin bertemu dengan putri kandungnya, disaat itu pula ia ingin menghantamnya sampai tidak bernyawa.
***
Mobil mereka telah sampai di garasi rumah. Terlihat Binar sudah turun duluan dari dalam mobil lalu berlari-larian untuk masuk, menemui Alika. Memberitahukan kebahagiaan yang sudah terbayang didepan mata.
"Ren!" panggil Bilmar, menghentikan langkah kaki Rendi untuk menuruni mobil.
"Iya, Bil?"
"Bagaimana hasil rekaman cctv jalan itu? apakah sudah ada progressnya?"
"Belum, Bil. Aku belum sempat, mungkin sore ini atau besok siang. Secepatnya aku akan cari tahu, kamu jangan khawatir!"
__ADS_1
"Baiklah Ren, terima kasih. Saya berhutang kepadamu."
Lalu
"Tapi Bil..!" kalimat itu kembali terucap dari cuatan Rendi yang saat ini menghalau Bilmar untuk turun dari mobil.
"Kenapa Ren?"
"Kamu masih mencurigai Papa Luky, Bil?atas kejadian yang menimpa Alika?"
Bilmar menghela nafasnya sebentar, hanya menatap Rendi tanpa membuka mulutnya untuk menjawab.
"Lihat kan tadi bagaimana Papa Luky begitu menerima kita dengan sangat baik, ia sudah merestui hubungan ku dengan Binar, ia juga akan melakukan hal yang sama untuk kalian, Bil!"
Rendi berusaha untuk mengusir kecurigaan Bilamar yang masih bertahta. "Saya juga inginnya begitu Ren, saya sangat mencemaskan nyawa istri saya. Dia itu..hidup saya!" jawab Bilmar dengan peluh amat lirih, ia sandarkan begitu saja tubuhnya disandaran mobil menatap lurus dinding garasi didepan matanya. "Baiklah, aku akan cari tahu rekaman cctv itu, biar bisa membuat kita semua lega. Ayo, Bil kita turun. Alika sudah menunggu mu didalam!"
"Kakak..." panggil Binara dari ambang pintu ketika melihat Alika sedang menata makan siang mereka dimeja makan. Alika mendongakkan wajahnya lalu dengan cepat melangkah untuk berlari-larian ke hadapan Binar. Ia tidak sabar ingin mendengar cerita yang sudah lama ia tunggu-tunggu dari tadi.
Jangan lari-lari Alika, kamu harus tetap berjalan pelan-pelan, perhatikan keadaan perutmu yang sebentar lagi akan berbeda dari biasanya!
"Kak, kamu cantik banget, mau kemana?" tanya Binar yang bergantian takjub melihat penampilan Alika saat ini.
Alika terlihat sangat anggun, ia memutuskan memakai baju pemberian Bilmar dari hasil seserahan pernikahan mereka. Sebuah dress yang menempel ditubuhnya, memperlihatkan lekukan lengan dan sedikit paha atas begitu bebas terlihat. Kulit putih dan mulusnya begitu indah bersarang disana. Dengan rambut yang terikat tinggi, memperlihatkan leher Alika yang begitu jenjang dengan kalung berlian berinsial huruf B, mengampar disana.
Alika begitu sangat berbeda, bahkan Bilmar sekalipun belum pernah melihatnya seperti ini. Siapa pun laki-laki yang akan memandangnya, pasti akan tergoda iman nya.
Kemudian
Langkah Rendi dan Bilmar muncul mengikuti dari belakang, Bilmar begitu terpana saat ini. Ia terus melihati wanita yang kini berada disamping Binara. Begitu cantik dan manis.
"Kamu istriku, kan?" tanya Bilmar tanpa mengedipkan kedua matanya. Ia sangat takjub dan terperangah. Terus menghiasi senyuman di kepalanya. Tetapi itu tidak berangsur lama.
"Rendi!" suara nyaring menggelegar tercuat dari bibir Bilmar, ketika melihati lelaki itu terus melihati Alika tanpa jeda. "Eh iya Maaf-maaf! aku terkesima, tidak pernah melihat Alika berpenampilan seperti ini. Sangat cantik seperti Binara, calon istriku." Rendi mencolek ujung dagu Binara yang sedang memiringkan bibirnya.
"Ganti baju, sekarang!" ucap Bilmar dengan tatapan dingin. Bilmar berubah menjadi emosi dan marah.
"Loh kenapa sayang? baju ini kan kamu yang belikan?"
"Ayo cepat ganti bajumu sekarang!"
"Nggak mau, kenapa sih kamu? jadi ribet kaya gini!"
Karena dirasa Alika sangat keras kepala tidak mau mendengarkan ucapannya. Terpaksa Bilmar meraih tubuhnya untuk digendong secara paksa.
"Ahh..lepas! lepas! Binar, tolong Kakak!" Alika meronta-ronta ketika tubuhnya dibawa ke dalam dekapan suaminya sambil menaiki anak tangga menuju kamar mereka.
__ADS_1
Binar hanya bisa memberikan tatapan meringis karena ia juga takut dengan perangai Bilmar yang sedang emosi saat ini.
"Ahhh lepasin Bil, tangan aku sakit!"
Brakk..
Menjatuhkan tubuh istrinya dengan kasar di ranjang. "Aihkk...sakit Bil!"
"Udah tau masih sakit, kenapa penyanggah lengannya dibuka?"
"Aku sudah enakan sayang.." jawab Alika merayu
"Ganti baju mu, sekarang!" kelakar Bilmar.
"...Nggak mau!"
"Kenapa sih?" hardik Bilmar.
"Kamu yang kenapa, Bil? Aneh ah kamu, inikan kamu yang belikan, kenapa sekarang jadi nggak suka?"
"Aku cuman ingin kamu pakai baju seperti ini hanya didepan ku saja! tidak boleh, didepan lelaki lain!"
"Bil! tapi itu kan Rendi, terus cuman ada Mang Dana dirumah ini,"
"Ya, maka dari itu tidak boleh! ayo cepat lepas!"
"Bil, nggak mau ah. Aku suka baju ini. Kata Binar aku cantik." Alika mulai bangkit turun dari ranjang untuk kembali turun ke meja makan.
"Ganti baju mu dulu, Al!" Bilmar meraih tubuh Alika untuk menariknya paksa.
"Hari ini aja Bil, besok nggak akan aku pakai lagi, udah tanggung dipakai!"
"Kenapa sih kamu susah banget diberi tahu? aku nggak mau kamu dan tubuh kamu ini ada dalam bayangan lelaki selain aku, aku nggak rela! ayo cepat lepas!"
"Kamu kenapa sih, Bil? kok aneh gini? masa cuman karena baju, kamu jadi marah-marah sebegini nya sama aku?" Alika menatap sedih wajah Bilmar yang ia rasai aneh setibanya dirumah. Wajah Bilmar memang sedikit berbeda saat ini.
Ia marah bukan karena perihal cemburu yang memang sedang bertahta dalam benaknya.
Tapi ia juga sedang cemas memikirkan keselamatan Alika dari kecurigaannya terhadap Papa Luky yang belum bisa terungkap. Membuat dirinya menjadi uring-uringan dan langsung sensitiv.
Begitu dasyatnya cinta Bilmar untuk Alika.
***
Like dan Komen yah😘❤️
__ADS_1