Mantanku PresdirKu Suamiku

Mantanku PresdirKu Suamiku
MPS 2 : Binara, benar kah ini kamu?


__ADS_3

Haiii selamat weekend


Aku kembali guyss


Ada yang bisa tidurkah, karena nungguin cerita ini? Tetap jaga kesehatan ya


Oke deh selamat baca


❤️❤️❤️❤️


.


.


.


.


.


.


.


Flashback Off


"Gimana nih Kak?" Binar terus mengulang-ulang pertanyaannya kepada Bilmar.


Lelaki itu tampak gusar, ia terus mencari cara dan ide agar bisa masuk ke dalam. Lalu bagaimana dengan dua penjaga kekar yang masih berada di pos nya. Tentu ini lah ganjalan terbesarnya.


Ting.


Secepat itu memang ide liciknya berjalan. Ia terus melihat segelas kopi kemasan yang masih di genggam oleh Binara yang dibelinya saat di kantin Rumah Sakit.


"Kenapa, Kak? Kamu mau?" Binara menyodorkan gelas kopinya kepada Bilmar. Lelaki itu pun menggeleng.


"Terus?" Tanya Binar kembali sambil menyeruput kopinya.


"Stop! Udah jangan diminum lagi!" Bilmar meraih gelas kopi itu dari tangan adiknya.


"Kenapa Kak?" Binara melongo.


"Kamu masih ada obat penenang atau apa lah yang bisa membuat penjaga itu tertidur?" Bilmar kembali menoleh ke arah dua penjaga yang masih segar bugar menjaga rumah itu.


"What??" Binara terperangah.


"Oh iya aku faham maksud Kakak. Kayaknya kalau obat penenang nggak ada Kak, adanya obat pusing tapi efek sampingnya emang buat ngantuk banget."


Binara membuka tasnya untuk mencari obat tersebut, obat yang selalu ada di tasnya. Obat khusus dari Dokter, ia akan meminumnya jika sedang merasakan sakit kepala hebat.


"Berapa lama reaksinya?"


"Ya, sekitar 2-5 menit, Kak."


"Oke, begini, Bin! Pokoknya kamu rayu dan berikan segelas kopi yang sudah dicampurkan obat itu kepada salah satu penjaga---"


Binar memotong cepat. "Tapi kan penjaganya ada dua, Kak?"


"Yang satunya serahkan padaku! Yang penting kita harus cepat tiba didalam. Perasaan ku ga enak, Bin!"


"Ya, Kak baik." Binara memasukan obat itu ke dalam kopi nya dan mengaduk-aduknya dengan jari tangan.


"Duh geli banget lihatnya---"


"Mau gimana lagi, Kak. Nggak ada sendok!"


"Ya udah sana, cepat kamu turun! Nanti aku menyusul."

__ADS_1


Dengan sikap mantap dan berani akhirnya Binara melangkah untuk mendekati dua penjaga. Namun satu penjaga terlebih dulu masuk kedalam rumah untuk mengambil sesuatu. Dan tinggalah satu penjaga di pos.


"Wah kesempatan bagus nih!" Ujar Binar, ketika langkahnya sampai di pos penjaga.


"Ada apa ya Bu?" Tanya penjaga itu.


Binar membuka kancing atas agar lehernya terlihat sedikit, sontak membuat penjaga kehilangan arah karena tertegun akan kecantikannya.


"Sendirian aja, Pak? Mau nggak kita ngopi bareng?"


Segala rayuan dan pendekatan ia lakukan kepada salah satu penjaga itu. Binara pun masuk ke pos dan duduk disampingnya.


"Ayo minum Pak, ini enak loh!"


Penjaga yang bodoh dan gampang untuk dirayu akhirnya termakan godaan Binara. Tak menunggu lama, penjaga terlihat meminum kopi itu dan reaksi yang ditimbulkan begitu cepat. Ia langsung teler tidak sadarkan diri.


"Bin, gimana?" Bilmar seketika muncul menghampirinya.


"Sip kak, nih lihat udah teler!"


"Penjaga yang satunya mana?"


"Ada apa ini?


Bilmar dan Binar terkesiap ketika mendengar suara lain muncul diantara mereka. Salah satu teman penjaga itu sudah muncul kembali dengan membawa dua gelas kopi ditangannya.


"SIAPA KALIAN?" Tanya nya menghentak ketika melihat temannya sudah tidak sadarkan diri.


Binara terlihat cemas tanpa menunggu lama Bilmar pun mengeluarkan jurus bela dirinya. Ia memukul tengkuk si penjaga dalam keadaannya yang masih kaget.


Bug.


Tubuh kekar itu jatuh kebawah. "Maaf ya Pak, bukan maksud kami!" Cicitnya.


"Bin, ayo tekan!" Binara langsung menekan tombol otomatis pembuka gerbang disana.


"Bravo! Ayo cepat kita kedalam!" Bilmar menggandeng tangan Binar untuk mengikuti langkah nya masuk kedalam.


"HEY! Siapa kalian??" Tanya Mba Ratna menghampiri Bilmar dan Binara yang tengah berjalan mengendap-ngendap untuk masuk kedalam rumah.


Belum saja mereka menjawab, sudah ada suara teriakan dari dalam sebuah kamar. Membuat mereka bertiga tersentak kaget


"Hah? Itu suara Alika, Bin!"


"Cepat cari Kak, akan aku urus pembantu ini!"


"Heh, kamu!" Teriak Mba Ratna ketika ingin mengejar Bilmar, namun Binara dengan cepat menghadangnya.


Flashback On


"Jangan Diego, aku mohon!"


Alika tetap menangis dan meronta-ronta agar Diego pergi menjauh darinya. Dan Diego sudah kepalang tanggung emosi dalam kebohongan yang Alika buat.


Tak lama kemudian


Brag.


Pintu terbuka lebar!


Bagg.


Bigg.


Bugg.


Belum sempat Diego menoleh, tubuhnya sudah begitu saja tersungkur jatuh ke lantai. Sebuah kepalan tangan panas sedang melayang tinggi ke arah wajah dan perutnya secara membabi buta.

__ADS_1


"DASAR ANJINGG!!"


Begitulah erangan Bilmar ketika mendapati Istrinya yang ingin diperkosa oleh Diego.


"BAJINGANN!!KEPARATT!!"


Bilmar meraih tubuh lelaki itu untuk dihajarnya kembali. Meninju wajah Diego sampai babak belur. Membuat Diego seketika oleng dan lemas, membuatnya tidak berdaya. Ia sedikit terkapar dilantai.


Bilmar terus bernafsu untuk menghantamnya kembali. Diego benar-benar tidak punya sedikit cadangan untuk membalas pukulan demi pukulan yang diberikan oleh Bilmar.


Alika terus merancau dan menangis, ia masih teramat shock dengan ulah Diego. Menatap fokus apa yang ada di matanya saat ini. Ia seperti tidak percaya, ada sang penolong yang telah datang untuk menyelamatkan harga dirinya yang sedikit lagi akan terenggut.


"KAKAK!" Munculah Binar lalu menghampiri Alika yang masih terguncang.


"Kak, tenang kami disini!" Binar terus memeluk Alika. Namun karena melihat Bilmar terus menghajar-hajar Diego, Binara pun melepaskan pelukan itu dan beringsut melerai Bilmar.


"Kak Bilmar udah cukup! STOP KAK! Dia bisa mati, nanti!" Teriak Binar.


Dalam sisa-sisa kelemahannya, Diego pun mendongakkan wajahnya ketika ia mendengar suara dan sosok Binara.


Binar pun berjongkok untuk menyentuh tubuh Diego.


"BINARA, benarkah ini kamu?" Seru Diego parau dalam kejapan matanya yang sudah terasa panas dan sakit diseluruh tubuhnya. Belum sampai ia mengelus wajah Binar, lelaki itu lebih dulu pingsan tidak sadarkan diri.


"Sayang..." Ucap Bilmar melihat Alika yang masih menangis dengan nafas tersengal-senga. Dengan cepat ia melompat ke atas kasur untuk meraih tubuh istrinya. Alika terlihat gemetar, badannya dingin. Ia teringat kembali dengan perlakuan Danu yang akan memperkosanya di gudang obat.


"Bil, aku takut---"


Desahnya memeluk Bilmar dengan kuat. Ia terus mengalungkan kedua tangannya dan menaruh kepalanya di ceruk leher suaminya.


"Tenang, tenang. Aku disini sayang.."


Bilmar mengusap-usap tubuh Alika dan terus menenangkan istrinya yang terlihat kacau.


"Diego..bangun! Diego..." Binara terus merancau lelaki ini untuk sadar dan bangun dari pingsannya.


"Kak, bagaimana ini?" Binara menoleh.


"Biar saja, biar mati sekalian. Aku tidak perduli dengan lelaki bajingann seperti dia!" Bilmar tetap memeluk Alika, ia tidak mau melepaskan istrinya sedikit pun.


"Bil?" Alika merintih.


"Sst! Udah tenang, jangan banyak bicara. Bentar lagi dia juga bangun sayang."


"DADDY!!"


Lagi-lagi suara mengagetkan terdengar. Ada Gadis yang sedang kaget melihat banyak orang di kamar Daddy nya.


"Suster?" Celosnya ketika melihat Alika tengah diredam shock oleh Bilmar. Ia kembali berjalan untuk menghampiri Daddy nya.


"Siapa kamu?" Tanya Gadis menatap wajah Binara yang sedari tadi mematung melihat wajah anaknya dengan jelas.


"Gadis? Ini Mama sayang..." Ucap Binara lembut, ia pun mulai mendekati Gadis untuk mendekapnya.


Dan


Blass.


Gadis menepis tangan Binara. "Siapa kamu? Kamu apakah Daddy ku?" Gadis beralih melihat Diego yang sedang jatuh tersungkur tidak sadarkan diri.


Tak lama kemudian para penjaga dan beberapa art pun datang bergerembol masuk ke dalam kamar untuk menolong Tuan nya.


Entah apa yang terjadi setelah ini, semoga saja masalah dengan Diego bisa cepat berakhir.


*****


Bentar lagi nih Bilmar akan dicium sama Maura dan Gadis❤️❤️

__ADS_1



__ADS_2