Mantanku PresdirKu Suamiku

Mantanku PresdirKu Suamiku
MPS 2 : Aku Muak Melihat Anak itu!


__ADS_3

Haii guyss, Bonus nih, episode ketiga dihari ini


Nih buat kesayanganku yang selalu nanya kenapa si Thor, kok Alika yang nyamar?? Ya kan tugas Alika disini sebagai perawat Ny. Gweny guys. Karena notabenenya dia juga PERAWAT, buat nginfus, nensi, suhu, ngasih obat dll. Nggak mungkin kan aku masukin Binara yang nyamar secara dy bukan perawat, mana ngerti ngurus orang sakit? Ck!🤭. Kalau Binar yang nyamar, pasti nggak akan lolos dari awal Guys, malah kayaknya bakal diusir💔💔


Oke deh selamat baca


.


.


.


.


.


.


.


Setelah ia menenangkan hati suaminya. Alika pun turun dari mobil untuk masuk kembali kerumah Ny. Gweny. Alika sudah memesankan minuman dan makanan lewat layanan Go Food untuk Bilmar. Lelaki itu tetap memutuskan untuk tetap menunggu Alika sampai jam kerjanya selesai.


Tap.


Langkah nya seketika terhenti ketika ada art yang tengah berlari ke arahnya.


"Duh Sus, kemana aja?" Seru Mbak Ratna, salah satu art dirumah ini. Raut wajahnya terlihat sedang ketakutan.


"Kenapa Mba?" Tanya Alika terperangah.


"Nyonya marah Sus!" Mba Ratna mengatur ritme nafasnya yang tersengal-sengal, agar mudah untuk berbicara dengan jelas.


"Marah kenapa?"


"...Karena tidak melihat keberadaan Suster ketika Nyonya sudah terbangun dari tidur siangnya..."


"Ya Allah----Baik Mba, terima kasih."


Alika langsung mengambil langka seribu untuk menaiki anak tangga agar sampai dengan cepat di kamar orang tua itu.


Ia menyesal mengapa berlama-lama berbicara dengan Bilmar didalam mobil. Tentu karena sikap suaminya yang ketakutan tentangnya, membuat ia menjadi dalam masalah saat ini.


"DIAM KATAKU!"


Suara keras Ny. Gweny lagi-lagi menggema dari dalam. Terdengar juga ada suara isakkan tangis anak kecil disana.


"Gadis?" Desah Alika ketika sudah sampai didepan pintu kamar orang tua itu. Siapa lagi anak kecil yang ada dirumah ini, jika bukan keponakannya.

__ADS_1


Tanpa salam dan tanpa ketukan, ia langsung membuka pintu kamar.


Krek


Alika muncul diambang pintu, Ny. Gweny seketika menoleh, wanita itu terlihat masih diranjang dengan sebuah gagang sapu ditangannya. Ia begitu kaget dengan kedatangan Alika. Di hadapannya terlihat Gadis tengah duduk menggelosor sedang menangis histeris.


"Nyonya ada apa ini? Apa yang anda lakukan?"


Alika langsung berlari menggendong Gadis. "Ayo Nak, Suster gendong ya---"


Merasa diketahui, Ny. Gweny pun membuang gagang sapu itu dengan sembarang arah. Ia mengubah raut wajah emosinya menjadi raut manja seperti anak bayi.


"Kamu kemana saja sayang. Anak itu telah mengganggu tidurku!" Ucapnya sendu.


Alika menoleh ke arah Gadis yang masih menangis terisak. Ia tidak percaya, mana mungkin Gadis yang menyakiti wanita tua ini.


"Apa yang dilakukannya kepada anda Nyonya? sampai hati Nyonya menyiksanya, seperti ini?"


"Sudah! Jangan mengintrogasiku. Kamu tidak ada hak, walaupun aku menginginkanmu menjadi menantuku!" Ucap Ny. Gweny dengan suara amat garang.


"Sudah Nak, sudah. Jangan menangis lagi ya."


Alika berbisik lembut kepada Gadis, mengusap-usap tubuhnya yang masih ia gendong dengan erat. Tentu suara lembut dan usapan hangat berhasil meluluhkan hati Gadis. Perlahan air mata itu surut, ia merebahkan kepalanya di leher Alika.


Alika sangat mengecam perbuatan perbuatan Ny. Gweny yang amat tidak terpuji. Tega-tega nya ia tengah melakukan kekerasan kepada ahli waris Artanegara.


"...Maaf Nyonya, tadi saya ishoma dulu sebentar. Karena saya tau Nyonya sedang tidur, makanya saya memanfaatkan waktu yang ada!"


"Hemmm...baiklah!"


"Nyonya sudah makan? Setengah jam lagi waktunya Nyonya minum obat."


"Entah kenapa kepalaku terasa pusing, ini pasti karena ulah anak itu!"


Ny. Gweny mengangkat telunjuknya ke arah Gadis. Anak itu terlihat mengerjap, dengan gerakan cepat ia memalingkan wajahnya untuk tidak melihat Ny. Gweny.


"Tolong bawa dia pergi dari sini, aku muak melihat anak itu!!"


"...Baik Nyonya, tunggu sebentar. Saya akan kembali lagi untuk mengecek tensi darah anda."


"Ayo sayang, kita turun ya--" Bisiknya pelan sambil membawa Gadis untuk keluar dari rumah ini.


Gadis tetap merebahkan wajahnya di leher sang Tante. Air mata Alika tidak sengaja menetes begitu saja, dikala ia tahu bahwa keadaan Gadis tidak dalam keadaan baik-baik dirumah ini.


Gadis seketika menarik kepalanya dan melihati wajah Alika. Ia mendengar ada isakkan tangis dari wanita yang mengendongnya.


"Suster kenapa menangis?" Cicitnya polos.

__ADS_1


Alika terus memandangi wajah cantik tidak berdosa itu dalam-dalam.


"Ya Allah, jika melihat Gadis aku jadi teringat Maura, putriku. Tentu hatiku tidak tega jika anakku dilakukan seperti itu! Binar pun pasti shock jika melihat keadaan Gadis sangat memilukan seperti sekarang."


Alika mengusap rambut Gadis, mengelap keringat-keringat yang ada disekitaran dahi anak itu. Menyeka sisa kebasahan air mata disana.


"Ada yang sakit Nak? Biar Suster obati ya?"


"Ini...." Gadis menunjuk ke arah kakinya. Memang terlihat sedikit lebam biru disana.


Bug.


Alika meletakan Gadis dengan hati-hati ditengah ranjang. Ia meminta kepada Mbak Ratna untuk membawakan air kompresan hangat dibaskom.


"Ini Sus...." Mba Ratna menyodorkannya. Terlihat Alika mulai memeras handuk dan mengompres dibagian yang lebam.


"Makanya Non, Mbak kan udah bilang. Jangan minta naik keatas, nanti Non dipukulin lagi sama Oma---" Mba Ratna menasehati Gadis.


Alika menoleh. "Ada apa sebenarnya Mba? Kenapa Sela diperlakukan seperti ini?"


"Hemm itu Non----" Ucapan Mba Ratna seketika terhenti ketika merasa ada yang membuka pintu kamar Gadis.


Krek


Pintu kamar terbuka cepat.


Alika dan semuanya pun menoleh.


"Sus, cepat ke kamar Nyonya! Nyonya sudah memanggil!" Ucap Mba Titik, art juga dirumah ini.


"Ya oke Mba..." Ia kembali membawa pandangannya ke arah Gadis. "Suster akan kembali, tunggu ya Nak--" Alika mencium dahi Gadis. Melihat sikap Alika yang begitu perhatian kepada Gadis, sontak membuat keanehan dan kebingungan di raut wajah dua art tersebut.


Gadis mengangguk senang, garis senyumnya menggema kembali diwajahnya.


"Titip dulu ya, Mba!" Pinta Alika kepada mereka.


Alika pun bangkit dari ranjang.


Lalu


"Sus...." Alika menoleh ketika mendengar suara Gadis memanggilnya. "Dada..." Serunya sambil melambaikan tangan.


Terlihat air mata kembali menetes kedua pipi Alika. Hatinya teramat sakit melihat keponakannya yang lumpuh dan sering mendapatkan perlakuan kasar.


"Kalau bisa aku ingin membawamu keluar dari rumah ini sekarang juga!"


******

__ADS_1


Like dan Komen ya.❤️❤️


__ADS_2