Mantanku PresdirKu Suamiku

Mantanku PresdirKu Suamiku
Tolong cari sampai dapat!


__ADS_3

Hayy cinta-cintaku...aku kembali nih❤️


selamat week end ya guyss.


Yuk selamat bacaa


🤗🤗


***


Sore pun menghilang merubah menjadi malam yang hangat. Terlihat Alika sedang menyiapkan makan malam untuk di nikmati oleh keluarga besar mereka. Walau dalam keadaan sedikit mual dan muntah, ia tetap bisa menyelesaikan begitu banyak hidangan malam ini.


Dari sofa ruang tamu ada Rendi yang masih berkutik dengan layar notebook nya. Ia tetap bekerja tidak mengenal waktu. Selalu gigih dan giat, maka dari itu lah Bilmar mempercayainya.


Di balik kamar Binara, terlihat ada Papa Luky yang tengah duduk ditepian ranjang. Ia terus menggenggam tangan putrinya yang masih terdiam sedikit terguncang. Binar masih menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur dengan tatapan lurus melihati sudut kamarnya.


"Maafkan Papa ya, Nak. Maafkan segala kesalahan yang pernah Papa buat kepada Binar dan Kakakmu. Papa sangat menyesal!" ucapnya sendu.


"Binar hanya takut Pah, Papa diketahui. Apakah Kakak dan yang lain bisa menerima ini semua sepertiku?"


"Maka dari itu, Binar harus membantu Papa, agar Papa nggak diketahui. Menyimpan rahasia ini rapat-rapat. Sisanya biar Papa yang atur. Papa nggak ada pilihan lagi, Nak!"


"Iya Pah, Binar faham. Aku juga nggak ingin kehilangan mereka."


"Binar harus sehat, fokus dulu dalam pernikahan kalian, Papa yakin Binar akan bahagia seperti Kakak. Maafkan kesalahan Papa dimasa lalu kepada Binar ya, Nak!"


"Apakah nanti Papa bisa mencari tahu tentang keberadaan Gadis? Apakah Papa bisa menerimanya kembali sebagai cucu Papa?"


"Iya, Nak. Papa akan berusaha mendapatkannya kembali demi Binar."


Guratan bahagia terpancar dari wajah Binara. Seketika itu pula ia bangkit untuk memeluk sang Papa.


"Ya Allah, begitu banyak dosa yang telah aku perbuat. Tolong ampuni aku."


"Oh ada Papa disini---?" suara Alika terdengar ketika langkahnya masuk kedalam kamar Binara.


Mereka berdua pun menoleh ke arah pintu.


"Kesini, Nak! Papa ingin memeluk kalian berdua."


Alika pun menghampiri mereka dan Papa Luky melepas satu tangannya untuk mendekap Alika yang baru datang.


"Papa dan Binar, kenapa menangis?" tanyanya bergantian melihati bola mata sang Papa dan adiknya yang basah begitu saja.


"Aku bahagia Kak, karena Papa akan mencari keberadaan anakku. Iya kan, Pah?" tanya nya lagi memastikan.


"Alhamdulillah Ya Allah, aku bahagia mendengarnya. Tentu aku akan membantumu juga sayang." Alika mengelus wajah sang adik.


Papa Luky tetap memeluk mereka, menciumi mereka bergantian dan lalu memejamkan mata untuk terus menikmati keindahan yang kini sudah berhasil ia gapai.


"Ayo kita turun ke bawah, makanan sudah tersaji. Alika sudah memasak banyak untuk Papa dan Binar."


"Wah, masakan Kakak. Aku rindu banget, kayak nya udah lama nggak makan masakan kamu, Kak! Nafsu makan ku jadi kembali nih."


"Ya udah ayo kita turun, Papa juga udah lapar."


Mereka pun bangkit untuk berlalu menuju meja makan. Papa Luky tetap merangkul ke dua putrinya.


Rendi yang melihat mereka mulai menuruni anak tangga, langsung mematikan layar notebooknya. Ia pun bersiap menanti istrinya dibawah.


Lalu


"Mama....!" ada teriakan anak kecil yang baru saja sampai diambang pintu. Ia berlari untuk memeluk sang Mama.


"Sayangku, anak Mama..." Alika memeluk Maura dan menciumi anak itu dengan amat kerinduan.

__ADS_1


Langkah Papa Bayu dan Bilmar pun mengikutinya dari belakang. Terlihat Bilmar sudah membawa koper dan beberapa kantung plastik yang berisikan keperluan Alika selama menginap.


"Sayang, kamu bawa apa aja? Kenapa kopernya besar sekali? Bil, inget loh. Aku ini hanya menginap, bukan minggat...sayang!"


Seketika mereka yang mendengar pun tertawa. "Iya nggak apa-apa, sayang. Buat jaga-jaga. Aku udah menyiapkan segala keperluan kamu disini. Baju, Mukena, peralatan mandi, obat-obatan, susu, vitamin dan beberapa cemilan, takut-takut kamu lapar kalau tengah malam."


"Oh sayang, baiknya kamu..." Alika memberikan wajah malu-malu merah merona.


Semua mata terpana melihat kemesraan mereka.


"Baiknya Kak Bilmar, semoga saja kamu juga bisa berbaik hati kepada Papaku nanti, jika suatu saat kamu akan mengehtahui ini semua!"


"Binar, bagaimana keadaanmu, Nak?" tanya Papa Bayu. Binar pun mencium punggung tangannya. "Alhamdulillah sudah baik Pah, kayak nya Binar kecapean. Jadi kambuh." cicitnya sendu.


"Sabar, Nak. Namanya orang mau nikah itu pasti bawaannya stress dan gugup. Nggak apa-apa itu wajar." Papa Bayu bergantian merangkul Binara lalu dibawanya menuju meja makan. Papa Luky dan Rendi mengikuti langkah tersebut.


Sedangkan Alika mengantar Bilmar ke lantai atas untuk membawakan koper miliknya kedalam kamar.


Bug.


Koper dan kantung belanjaan sudah diletakan diatas lantai.


"Kamu tidur bersama Binar malam ini?"


"Iya sayang, memangnya kenapa?"


"Lalu bagaimana dengan ini---?"


"Apa?"


Alika menunggu apa yang akan dikeluarkan oleh Bilmar dari kantong celananya.


Seketika kedua mata Alika melolong terbelalak hebat. Dengan cepat ia menutup kedua mata Maura yang masih terbuka dalam gendongannya.


"Kok?"


"Gila kamu tuh, masih sempat-sempatnya bawa permen karet!!"


"Wah permen karet, Maura mau, Mah." Maura melepas paksa tangan Alika yang masih menutupi kedua matanya. "Papa, aku mau."


Alika memberi delikan mata tajam ke wajah suaminya.


"Nggak Nak, cuman orang dewasa yang boleh memakan nya." Bilmar berdecis geli.


"Terus gimana dong nasib dia? Aku udah beli banyak soalnya?" Bilmar masih menggenggam kotak merah itu ditangannya.


"Ya nggak disini dong, Bil! Lagian juga kan kamu nggak menginap disini, mana bisa kita...hmm.." Alika menghentikan ucapannya agar tidak terdengar jelas oleh Maura.


"Siang tadi kan kamu yang kasih ide buat cari alat pengaman, ya udah aku langsung cari dan beli banyak untuk stock 9 bulan kedepan."


jawabnya polos.


"Ya ampun udah nikah tiga kali, anak mau dua. Masih nggak cerdas! Ya nggak sekarang dong, Bil! Nanti---"


"Nanti kapan sayang--?" ucap Bilmar setengah merengek mengikuti langkah Alika yang sudah melangkah terlebih dahulu darinya untuk meninggalkan kamar Binar.


"Pusing aku tuh, yang ada didalam fikiran kamu hanya itu aja, nggak ada yang lain apa!" Alika terus menggerutu menuruni anak tangga. Maura terus tertawa melihati wajah Papa nya yang sedikit merajuk dibelakang mereka.


"Mah, Maura mau permen karet..." bisik anak ini.


"Aduuuh..." desahnya frustasi.


Alika makin stress dengan kelakuan bapak dan anak ini.


***

__ADS_1


Mereka semua pun sudah tertib di meja makan. Banyak pilihan menu yang begitu menggugah selera. Semua mata memandang bahagia terutama kepada sosok ibu hamil ini yang sedang menyendokki nasi ke piring mereka satu-persatu.


"Pantas aja Bilmar sedikit berisi sekarang, Alika selalu memanjakan lidah dan perutnya dengan masakan seenak ini." tutur Rendi sambil menikmati masakan Alika.


"Tapi Kak, maafkan aku ya. Sepertinya kalau kita sudah menikah, aku belum bisa menyajikan makanan seperti ini untuk kamu. Aku belum bisa masak." sambung Binara ke arah calon suaminya.


"Tenang ada Kakak, Bin! Selama 4 hari kedepan aku akan mengajarimu memasak. Kamu harus bisa, Karena kata Mama. sebagaimana pun tinggi jabatan seorang istri, ia harus tetap turun untuk menguasai dapur. Seorang istri harus bisa memberikan makanan dengan gizi terbaik untuk suami dan anak-anak mereka kelak."


"Pah, aku bahagia sekali. Ada Kakak ditengah-tengah kehidupan kita. Aku sayang kamu, Kak!" Binara memeluk erat sang Kakak dan mencium pipinya.


Papa Bayu mengelus bahu Papa Luky yang terlihat dari mata nya mulai berkaca-kaca karena air mata bahagia.


Dua keluarga menjadi satu dan sebentar lagi akan diramaikan oleh riang relung suara anak-anak bayi dari mereka.


Lalu


Kring..kring...


Dering ponsel Bilmar sangat nyaring terdengar.


Ia pun mulai merogoh saku celana untuk meraihnya.


"Ya, hallo..?"


Dengan sekejap, kedua matanya tertegun fokus. Lurus dan tajam, melebar dan membulat. Terdengar peletukan gigi didalam mulutnya.


"Apa..!!!"


Bilmar pun berdiri, menghentakkan kepalan tangannya di meja makan. Sontak membuat sendok dan piring saling bergesekan.


Lagi-lagi semua mata memandangnya dengan rasa berdebar penuh kecemasan.


"Tolong cari sampai dapat..!"


Hanya ada dengusan emosi keluar dari Bilmar Artanegara. Matanya kembali memerah. Maura terlihat bersembunyi memegangi tangan sang Mama. Ia begitu takut melihati perangai sang Papa saat ini.


***


Oh yaa selagi kalian nunggu cerita ini update kalian juga bisa baca karyaku yang lain ya:


1.Bersahabat Dengan Cinta Terlarang


2.Jangan Berhenti Mencintaiku


3.Dua Kali Menikah


Bisa klik di profil aku ya, terus pilih karya


Berikan aku bukti semangat dari kalian dengan cara :


VOTE


LIKE


RATE


dan


KOMEN YA🖤🖤


sekali lagi👇


Thankyou readers kesayangan🥰


With love, gaga😘

__ADS_1


__ADS_2