Mantanku PresdirKu Suamiku

Mantanku PresdirKu Suamiku
MPS 2 : Siapakah kamu sebenarnya?


__ADS_3

Haii selamat malam


Aku kembali guyss


Oke deh selamat baca ya


❤️❤️❤️


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


"Lama sekali kamu datang! Jangan terhasut dengan muka manis anak itu! Dia sungguh menjijikan!!" Ny. Gweny memalingkan wajahnya.


Ia terus saja mengumpat dan memaki-maki Gadis tepat di wajah Alika yang baru saja sampai dan menepi diujung ranjang wanita tua ini.


Alika hanya diam dan menatapnya kesal.


"Berani-beraninya ia merendahkan keponakan kandung ku! Jika saja terbukti dirimu yang membuat Gadis cacat, aku akan mengirimmu ke penjara!" Gumam Alika.


Namun untuk kelancaran strategi, Alika harus bisa menata hatinya agar tidak tersulut emosi. Ia harus tetap menjadi Orang lain untuk Gadis.


Alika bangkit untuk meraih tas nya dan mengambil alat tensi darah digital untuk mengukur tekanan darah Ny. Gweny.


"Maaf Nyonya, ulurkan tangan anda..." Ucap Alika dengan nada datar.


Ny. Gweny pun menoleh dan mengulurkan tangannya. Dengan segera Alika menyingkap lengannya dengan kain yang akan menyambung ke balon tensian.


Alika terus menunggu angka diastolik dan sistolik yang masih bergerak berubah-ubah untuk menetap dan tertahan.


"I80/90, Nyonya..." Ucap Alika berbohong. Dengan cepat ia mematikan tombol off pada tensian digital, agar Ny. Gweny tidak menoleh ke arah alat itu karena kaget.


"Kok bisa tensi ku tinggi seperti itu?" Tanyanya.

__ADS_1


"...Itu karena Nyonya terlalu banyak marah-marah. Tensi darah anda jadi naik drastis, saya harap Nyonya bisa kendalikan emosi. Tidak memaki atau mengumpat orang lain!" Alika menjelaskan dengan padat, lugas dan jelas.


Ia masih malas menatap perempuan tua ini. Hatinya berkecamuk benci. Ia terpaksa membohongi Ny. Gewny, agar perempuan itu tidak lagi memarahi Gadis.


"Apakah aku ada salah denganmu?" Tanya Ny. Gweny merubah wajahnya menjadi semanis gula. Ia takut jika Alika berbalik tidak simpatik kepadanya.


"Mungkin bukan dengan saya, Nyonya---" Jawab nya sembari bangkit dari tepian ranjang untuk kembali memasukan benda itu kedalam tasnya yang ada di meja.


"Lalu?" Ny. Gweny kembali bertanya. Entah peka atau tidak, kalau Alika sedang menyindir wanita tua ini.


"Marsela, Nyonya----Mungkin anda harus berdamai dengan anak itu!" Balas Alika sambil menarik resleting tasnya. Ia pun bergegas untuk meraih sebuah nampan yang sudah berisi air putih di gelas dan beberapa obat disana.


Berjalan kembali mendekati Ny. Gweny.


"Jangan bahas tentang anak itu! Aku benci melihatnya, karena dia, suamiku jadi meninggal!" Kedua mata Ny. Gweny terlihat berkaca-kaca.


Alika membulatkan kedua matanya. Ia sedikit terperangah dengan beberapa kebenaran yang sedang tertata untuk terungkap.


"Bagaimana maksud Nyonya?" Tanya Alika menyelidik.


Ny. Gweny hanya memandang aneh dan menatap tidak suka ketika Alika bersemangat untuk mengetahui masalah inti keluarganya.


"Aku malas membahasnya! Cepat berikan obatku!" Ny. Gweny berdecak kesal. Alika dengan sigap memberikan obat-obat itu agar wanita ini menelannya dengan baik.


Alika terdiam sebentar, ia termenung.


"Maaf Nyonya, jika anda tidak menyukainya. Kenapa Marsela harus di adopsi--"


Ny. Gweny menyelak cepat.


"Tau dari mana kamu? Bahkan orang yang ada dirumah ini saja tidak tau kalau anak itu bukan anaknya Diego?" Ny. Gweny menajamkan kedua matanya, ia beringsut untuk memajukan wajahnya agar lebih jelas menatap kedua bola mata Alika.


"Siapakah kamu sebenarnya?"


Alika terlihat mengerjap, kulit tenggorokanya begitu saja naik turun. Jantungnya bergemuruh kencang, mati lah alika. Ia sudah diketahui.


Kemudian


Blak.


"Aww...." Alika mendesis sakit ketika bahunya di sentak oleh Ny. Gweny.


"Mengapa kamu melamun, Berliana?"


"Ya Allah..." Desahnya dengan nafas penuh kelegaan. "Hanya lamunan ku saja berarti. Alhamdulillah aku belum diketahui. Sebaiknya aku harus berhati-hati jika berbicara tentang Gadis!"


"Ehm, maaf Nyonya. Mungkin saya hanya letih sekarang, jadi sedikit kurang fokus. Maafkan saya ya, Nyonya---"


Alika merendah.

__ADS_1


"Baik lah tidak apa, maaf juga aku banyak memaki dan memarahimu. Pulang lah, jam dinas mu sudah selesai---" Ny. Gweny membawa arah mata Alika untuk menatap jam di dinding.


"Oh iya sudah jam tiga sore. Baiklah Nyonya, selamat istirahat. Tolong dengarkan nasihat-nasihat saya ya, Nyonya harus bisa menstabilkan emosi Nyonya!"


"....Karena Nyonya harus tetap sehat dan bugar. Nyonya harus terus berada disamping Tuan Diego dan memastikan hidupnya bahagia bersama keluarga barunya nanti!"


"Karena anak lelaki anda itu, hanya akan mempunyai anda saja Nyonya! Ketika Gadis berhasil aku rebut kembali----" Ujarnya dalam hati.


Ny. Gweny terlihat tergugu dalam batinnya. Terlihat dari raut wajahnya kalau ia membenarkan ucapan Alika.


"Baiklah kalau begitu saya permisi, Nyonya!" Alika bangkit berjalan meraih tasnya dan berlalu keluar kamar meninggalkan wanita tua itu yang masih diam, dalam dinding besar yang sudah ia bangun sejak beberapa tahun yang lalu.


*****


Sebelum pulang Alika kembali melangkah untuk masuk kedalam kamar Gadis. Ia rindu lagi dengan anak itu.


"Sayang..." Panggilnya kepada Gadis yang masih bermain boneka diatas ranjang.


Gadis menoleh dan melemparkan senyumnya. "Sus, sini..." Gadis melambaikan tangannya.


Alika pun menghampiri Gadis dan menemaninya bermain sebentar.


"Suster mau kemana?" Tanyanya melihat Alika yang sudah mengepit tas di lengannya. Ia tahu jika Alika ingin pergi.


"Sela mau ikut sama Suster?"


"Kalau Daddy ikut, Sela ikut---"


Alika kembali terdiam.


"Sangat susah sepertinya melepaskan Gadis dari Diego, anak ini sudah kepalang cinta dengan lelaki itu!" Batinnya.


"Sela mau ketemu sama Mama?"


"Hemm.." Wajah anak ini seketika redup, kepalanya menunduk. Lalu tak lama menggeleng.


"Loh kenapa sayang? Tanyanya. Alika meraih dagu Gadis agar anak itu kembali menatapnya. "Mama Sela masih ada, Nak! Kita pergi yuk dari sini?"


"Pergi?? Apa maksud kamu??"


Seketika wajah Alika meregang kencang, kedua matanya terbelalak. Ia kaget setengah mati ketika ada suara lain tengah hadir diantara percakapannya dengan Gadis.


Ia pun menoleh, menggigit bibir bawahnya dan meringis.


"Tuan-----"


****


Like dan komen ya guyss, vote nya juga jgn lupa, makacih❤️

__ADS_1


__ADS_2