
Haiii selamat pagi guys.
Aku kembali
Oke deh selamat baca ya
❤️❤️❤️
.
.
.
.
.
.
Terlihat di meja rapat tatapan aneh serta kening berkerut-kerut tengah berdesir di antara Pak Adit, Katherine dan para klien penting tersebut, ketika Bilmar melangkah masuk kembali bersama Alika.
Bilmar tetap percaya diri untuk membawa istrinya masuk ke dalam ruang meeting untuk menemaninya. Tanpa harus meminta persetujuan dari pihak manapun.
Dalam hati mereka pasti berkata untuk apa keberadaan Alika saat ini, namun mereka masih ingat karena Alika adalah pemegang hak waris tertinggi di Artanegara, mempunyai kekuatan untuk memegang ahli saham di antara Acorp dan EG.
Tentu Pak Adit dan Katherine akan kembali bersikap biasa dengan kehadiran Alika yang diikut sertakan oleh Bilmar. Tentu saja bukan itu kebenarannya. Melainkan Bilmar sedang berusaha menyembuhkan rasa ketakutan yang masih bertahta di hati dan jiwa istrinya.
"Bisa dilanjutkan lagi?" Tanya Bilmar kepada asisten klien tersebut.
"Baik Pak.." Jawabnya.
Bilmar duduk disamping Alika, tangannya terus menggenggam tangan sang istri. Terlihat Alika juga ikut konsentrasi dalam menikmati jalannya presentasi yang sedang dijelaskan oleh klien dari Jepang tersebut.
Tak berapa lama kemudian klien penting itu menyudahi presentasinya mengenai proyek yang akan mereka kerjakan bersama EG. Namun sebelum Bilmar bersuara, Alika terlebih dulu bertanya.
"Bagaimana jika proyek ini gagal atau tidak sesuai dengan harapan kita bersama? Semisal barang yang dijual, tidak sesuai dengan target penjualan di pasaran. Jaminan apakah yang akan diberikan untuk EG setelah itu?" Tanya Alika kepada mereka.
Bilmar menoleh senyum ke arah istrinya. Ia merasa takjub. Lelaki itu terus menggenggam tangan Alika. Jika saja tidak ada orang, sudah pasti ia akan menghujani wajah Alika dengan berbagai kecupan, karena ia merasa bangga dengan kecerdasan istrinya. Semua ini mengalir begitu saja dari otak nya, karena sejatinya Alika tidak mempunyai ilmu apapun tentang bisnis sebelumnya.
"Walau dalam keadaan kamu yang seperti ini, kamu masih saja brilian sayang..." Gumamnya senang.
Melihat Alika yang seperti ini membuat Bilmar seperti mempunyai angin untuk menyembuhkan rasa trauma dan keanehan yang sekarang masih menghantui istrinya.
Akhirnya Alika dan Bilmar bersama-sama menjadi partner dalam rapat penting kali ini. Lelaki itu merasa terbantu dengan sumbangsih pemikiran dari sang istri tercinta.
Satu jam kemudian rapat pun selesai dengan lancar. Bilmar dan klien penting tersebut mendapatkan keputusan terbaik akan kerja sama yang sudah mereka sepakati.
"Makasi ya sayang.."
"Iya, Bil.."
****
Entah mengapa mendung serasa tetap mengikuti Bilmar. Padahal sebelum sampai di Rumah Sakit Bilmar merasa kondisi Alika tidak terlalu berat. Karena ia merasa istrinya masih bisa menimpali apa yang dibicarakan oleh dirinya dan orang-orang di sekitarnya.
Namun Bilmar salah!
__ADS_1
Menurut Dokter Spesialis Jiwa, Alika sedang mengalami yang namanya gangguan kecemasan berat. Ia mengalami depresi yang cukup serius didalam jiwanya. Satu jam lebih Bilmar meminta secara khusus kepada Dokter tersebut untuk memeriksa dan mengkaji keadaan Alika.
"Hampir di perkosa dua kali, mendapatkan tekanan secara berulang, shock karena pernah menjadi sasaran pembunuhan dan mungkin saja berbagai prahara keributan kecil antara Bapak dengan istri yang pernah ada."
"Tentu semua ini adalah konflik pendukung untuk membuat gangguan kecemasan didalam diri istri Bapak menjadi berkali lipat meningkat. Ia akan merasakan ketakutan karena rasa bersalah dan rasa penyesalan yang belum bisa ia lupakan!"
"Pinta saya hanya satu, Bapak harus terus berusaha sabar, lembut dalam menghadapinya. Selalu diajak bicara tentang kebahagiaan, bantu untuk melawan rasa cemas itu apabila kembali melanda. Banyak istirahat, buat rasa nyaman dan minum obat teratur. Insya Allah, Ibu akan kembali membaik."
Bilmar terus terbayang-bayang akan ucapan dokter tersebut. Hatinya seperti diremas karena terasa begitu remuk dan linu. Ia tidak akan menyangka jika selama ini Alika memupuk beban moril itu sendirian. Ia tidak pernah mau berkata jika hatinya sedang sedih atau susah.
"Assalammualaikum..." Ucap Alika dan Bilmar bersamaan ketika mereka sudah sampai diambang pintu rumah.
"Waalaikumsallam..."Jawab Papa Luky, Binara dan Rendi bersamaan. Mereka pun segera bangkit dari duduknya untuk menyambut kedatangan Alika dan Bilmar.
"Binar bagaimana dengan Gadis?" Tanya Alika spontan.
Bilmar hanya memberi gelengan kepala kepada Binar sebagai kode untuk tidak dulu membahasnya. Binar pun mengangguk dan faham.
"Tentu saja aku berhasil Kak, besok aku akan menemuinya lagi seperti tadi pagi..." Tukas Binara mantap.
Alika pun tersenyum dan mengangguk.
Binara mendorong saliva nya lamat-lamat karena ia berhasil membohongi sang Kakak. Tentu ini dilakukan karena ingin memberikan rasa nyaman kepada Alika untuk melupakan sebentar masalah Gadis yang menjadi buah fikir nya selama ini.
Melihat tatapan sendu dari Bilmar Membuat Papa Luky faham jika Alika memang sedang sakit. Dirinya menghampiri Alika dan membawanya untuk duduk di sofa.
Bilmar pun duduk di single sofa. Ia terus menatap wajah istrinya dengan tatapan sedih, remuk dan hancur. Dibalik senyuman wanitanya tersimpan sekali banyak tragedi yang belum bisa ia lupakan.
Bilmar menggelosor kan tubuhnya di sofa. Kepalanya di dongak kan ke belakang. Memejam kedua matanya untuk menahan tangis. Namun sepertinya hatinya sudah tidak bisa menahan lagi.
Meletakkan telapak tangannya di wajah, serta bahu yang terlihat membuncang, ia pun menangis terisak-isak. Air matanya menetes begitu saja.
Alika pun melepas dekapan sang Papa untuk bangkit dan menghampiri suaminya. Bilmar merengkuh tubuh istrinya dan di dudukan diatas pahanya. Bilmar meletakan kepala didada istrinya dan melingkarkan tangannya di pinggang Alika. Lelaki itu terus menangis dan menangis.
"Sembuh sayang..sembuh, aku ingin kamu yang dulu!" serunya dengan suara yang sudah terasa gamang. Air bening dari hidungnya pun terasa mengalir bercampur dengan air mata.
"Aku sedih banget lihat kamu kayak gini, Al!" Bilmar makin menjadi-jadi dalam tangisannya yang membawa semua orang menjadi pilu menatap mereka.
Air mata Papa Luky tambah menetes begitupun Binara. Rendi pun memandang penyesalan tiada tara kepada Kakak iparnya.
"Jangan menangis lagi ya sayang, bantu aku untuk sembuh ya..." Ucap Alika sambil mencium pucuk rambut suaminya.
*****
Setelah dirasa istrinya sudah selesai menyusui Ammar dan menemani Maura sampai tertidur. Bilmar ingin kembali menjemput Alika untuk kembali ke kamar.
Karena hari sudah malam dan Alika harus beristirahat lagi.
Krekk
Pintu kamar anak- anaknya dibuka, namun hanya kekosongan dan kehampaan disana. Jantung Bilmar berdebar, langkahnya grasak-grusuk dan kedua matanya mencari-cari terus dimanakah istrinya berada.
Merasa Alika tidak ada di dalam kamar anaknya, ia pun memutar langkah dengan nafas yang cukup cepat untuk mencari keberadaan istrinya. Jujur ia belum bisa mengenali Alika seperti dulu, ia hanya tahu istrinya sedang sakit sekarang. Ia takut Alika kabur atau melukai dirinya dengan benda-benda tajam. Segala terkaan tidak baik kini berlingkup jelas di otak nya.
Lalu
Dadanya begitu saja mencelos kelegaan. Ia hembuskan nafas kasar itu lalu diganti dengan nafas yang lebih pelan.
__ADS_1
"Sayang..." Panggil Bilmar ketika langkah kakinya terhenti di ambang pintu dapur. Ia melihat sang istri tengah mengaduk-adukan sendok kedalam susu yang ia buat.
Alika menoleh ke arah Bilmar dengan wajah lugu dan senyum yang tidak pernah surut.
"Duduklah di meja sayang, aku akan antar kan susu ini buat kamu." Ucapnya.
Namun Bilmar tidak mengidahkan ucapan Alika. Ia terus melangkah untuk menghampiri istrinya.
"Disini aja minum susunya.."
"Ayo duduk, Bil. Gak baik kalau minum sambil berdiri." Alika menggandeng tangan Bilmar dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya memegang segelas susu.
"Ayo duduk disini!" Alika memundurkan salah satu kursi meja makan dan mempersilahkan Bilmar untuk duduk disana.
"Minumlah sayang..aku bantu memegangi gelas susunya.."
Dengan anggukan penuh cinta, Bilmar pun meminum langsung susunya tanpa tersisa. Ia merasa sikap Alika seperti sudah sedikit membaik dan kembali seperti biasanya Mungkin karena obat dari Dokter sudah bekerja untuk menenangkan hati dan otaknya.
Bilmar pun bangkit lalu menggendong Alika dengan ala bridal style. Alika hanya menurut tidak meronta-ronta seperti biasa. Kali ini Alika malah terlihat sangat romantis dan berbeda. Ia mengalungkan kedua tangannya dileher Bilmar, mencium pipi suaminya dan membelai-belai rambut sang suami selama perjalan menuju kamar mereka.
Tentu Bilmar semakin terangsang akan hasratnya yang begitu membara. Padahal maksud dirinya hanya ingin membawa Alika kembali ke kamar dan tidur malam ini.
"Turun dulu disini sayang...aku ingin memeluk kamu..." Serunya dengan manja, ketika langkah mereka sudah sampai ke tepi ranjang.
Simpul senyum Bilmar makin merekah, kelopak matanya yang sedari tadi sore bengkak kini sudah berangsur hilang. Tanpa menunggu lama ia pun merentangkan kedua tangannya untuk menyambut pelukan dari sang istri.
Blass.
Alika melolongkan kedua tangannya dibawah lengan Bilmar dan memeluk erat suaminya. Kepala nya diletakan didada Bilmar yang tegap, bidang dan begitu wangi.
"Kamu nyaman, Al?" Tanya Bilmar sambil mengusap-usap rambut istrinya lalu turun ke punggung.
"Iya, Bil..." Jawab Alika dengan pejaman mata. Ia terus memeluk lelakinya dengan penuh rasa sayang.
"Malam ini boleh aku sentuh kamu, Al?" Tanya Bilmar sangat hati-hati.
Alika hanya mengangguk tanpa menjawab.
Bilmar melepaskan pelukannya dan menatap wajah istrinya lebih dalam. Ingin menanyakan hal ini lebih pasti.
"...Boleh?" Tanya nya lagi.
Alika mengangguk senyum. "Iya, Bil." Jawabnya mantap.
Seketika tubuh Bilmar memanas, ia begitu bahagia bisa mendapatkan hak nya walau dengan perizinan terlebih dahulu. Awalnya ia takut istrinya akan menolak dengan trauma yang masih bertahta.
"Aku janji kok nggak akan minta nambah..." Bilmar tertawa pelan.
"Mau nambah berkali-kali juga gak apa-apa.. aku senang sayang."
Wajah Bilmar begitu bahagia. Ia tidak akan menyangka jika Alika akan mengucapkan kejujuran hati nya. Karena biasanya Alika hanya bilang Jangan lama-lama ya, Bil.
Tanpa menunggu waktu lama, ia pun bergegas untuk melepas semua kancing piyama Alika, menanggalkan semua yang ia pakai dan terjerembab jatuh ke bawah. Kulit tenggorokan Bilmar terlihat naik turun ketika melihat sang istri sudah polos dalam kemulusan nya.
Mendorong tengkuk leher Alika agar kedua bibir mereka bertemu. Bilmar ******* habis dan mendominasi permainan bibir itu. Tangannya sudah bergerilya ke lekukan tubuh istrinya. Tanpa melepaskan ciumannyaa, Bilmar membaringkan tubuh istrinya di ranjang mereka.
Dan romansa percintaan dalam malam romantis kali ini, berhasil Bilmar dapat kan. Tentu saja malam kali ini akan menjadi malam panjang untuk Bilmar melepas dahaga nya.
******
__ADS_1