
Selamat pagi. Hai semua, semoga kalian selalu sehat ya.
Selamat baca
❤️❤️
.
.
.
.
.
.
.
Beruntunglah pendarahan yang terjadi pada kandungan Alika dapat dihentikan dengan cepat oleh bantuan tim medis. Ia harus mendapatkan perawatan yang intensif dari Dr. Obgyn untuk memastikan kalau apa yang Dokter sudah jelaskan itu jangan sampai terjadi.
Semua keluarga sudah berkumpul di dalam kamar perawatan. Maura lebih dulu dibawa pergi oleh Binar dan Rendi, karena para keluarga tidak mau Maura melihat kesedihan orang tuanya sekarang.
Bilmar menggelosor kan tubuhnya di sofa. Kepalanya di dongak kan ke belakang. Memejam kedua matanya lalu ada tetesan air bening yang begitu saja turun. Melihat isakkan tangis sang anak, Papa Bayu yang ada disebelahnya membawa tubuh Bilmar kedalam dekapannya. Lelaki yang akan menginjak usia 31 tahun itu terus menangis sesegukan di dada sang Papa.
"Sudah, Nak. Sabar..masih ada cara lain untuk mengobati calon anak-anakmu..." Papa Bayu menenangkan hati sang anak.
Lalu bagaimana dengan Alika?
Wanita hamil itu juga masih menangis di dekapan Papa Luky. Alika menangis di ceruk leher sang Papa, air matanya terus menetes turun membuat kemeja Papa Luky basah. Lelaki tua itu tahu sang anak dan menantunya sedang terguncang karena penjelasan Dokter kandungan beberapa jam yang lalu. Mereka masih sulit untuk ditenangkan.
"Sabar, Nak. Papa akan mendampingi kalian berobat kemana pun.." Papa Luky tetap menenangkan Alika, walau jiwanya pun terpuruk karena melihat sang anak kembali ke dalam lubang kesedihan.
"Papa yakin kedua cucu Papa ini pasti bisa bertahan sampai waktunya.." Sambung Papa Bayu kepada mereka berdua.
__ADS_1
Tangisan dari pasangan suami istri itu terlihat pecah. Orang tua mana yang siap jika mengetahui kalau calon anak mereka sedang berada dalam kegawatan.
"Mungkin dengan kejadian Nayla yang baru saja terjadi, menjadi pembuka jalan dari Allah agar kalian tau tentang kondisi dari calon bayi kembar kalian---Beruntunglah sejak dini kalian sudah tau masalahnya, coba saja kalau-kalau yang di takut kan langsung terjadi, kalian pasti akan lebih bersalah dibanding sekarang! Masih ada waktu untuk berobat agar anak kalian bisa terus dipertahankan, Papa yakin kalian bisa, jika mau sama-sama untuk saling bekerjasama.." Tutur Papa Luky.
Sontak ucapan itu membuat hati Alika dan Bilmar menjadi sedikit tenang. Mereka merasa apa yang dikatakan oleh Papa Luky adalah benar.
Bagaimana hati mereka tidak lega jika baru saja Dokter memberikan diagnosa yang mencengangkan untuk Alika dan Bilmar.
Dua jam yang lalu.
Terlihat Alika dan Bilmar masih duduk bersebelahan dengan tatapan serius menatap Dokter Obgyn mereka, dengan tiang infusan yang sedang berdiri tegak disamping tubuh Alika. Menurut Dokter Alika harus di rawat di RS dan diinfus karena ada cairan obat yang harus mengalir kedalam tubuhnya dan setiap pagi harus diambil darah.
Awalnya mereka terus mengucap syukur karena pendarahan yang baru saja terjadi tidak sampai merenggut kedua janin yang ada didalam kandungan Alika. Namun sepertinya pasangan suami istri itu belum bisa bernafas lega karena melihat raut wajah Dokter yang mendadak berubah dan menegang.
"Bagaimana kondisi bayi saya Dok?" Tanya Bilmar.
Lelaki tampan itu membuka pembicaraan untuk mewakili sang istri yang masih terdiam menatap layu wajah Dokter. Sepertinya ia tahu bahwa Dokter itu akan menjelaskan suatu masalah.
"Apakah ada masalah, Dok?"
"Ma--sa-lah?" Desah Alika dengan terbata-bata. Ia terus mengusap-usap perutnya yang sudah terlihat buncit.
Papa Bayu dan Papa Luky yang ikut berada dibelakang mereka terus berbisik untuk mengucap kata tenang kepada anak mereka masing-masing.
Dokter kembali menatap hasil print usg anak kembar mereka lalu kembali menatap Alika dan menjawab.
"Iya Bu, ada masalah dengan si kembar. Anak kembar ibu mengalami Twin to twin transfusion syndrome atau sering disebut dengan nama istilah TTTS. Dimana ibu hanya mempunyai satu plasenta saja untuk dua bayi kembar identik yang saat ini berada dalam kandungan Ibu."
"Dengan kejadian seperti itu akan membuat pembagian aliran darah dari plasenta untuk kedua janin tidak akan sama. Satu janin mendapatkan darah lebih banyak sedangkan janin yang lain kekurangan pasokan darah. Ibaratnya seperti orang transfusi darah, yang satu menjadi pendonor dan yang satu lagi menjadi resipien."
"Yang satu gemuk karena kelebihan cairan dan yang satu lagi kurus, seperti sedang terkena anemia berat. Ibu hamil yang mengalami kondisi seperti ini mempunyai air ketuban yang lebih banyak, masalah ini pun tidak boleh dianggap remeh. Saya harus melakukan terapi laser untuk mengeluarkan sedikit cairan ketuban agar tidak berlebih."
"Ya Allah..Bil?" Alika menoleh ke arah suaminya. Lelaki itu tetap mendengarkan penjelasan Dokter walau kedua matanya sudah berkaca-kaca.
"Apakah ada komplikasi yang akan terjadi dengan masalah anak kami, Dok?"
__ADS_1
Dokter mengangguk. "Ada Pak, komplikasi yang muncul bisa saja terjadi, seperti Anemia berat pada janin pendonor, kecacatan pada bayi resipien atau yang paling parahnya---" Dokter terhenti dari ucapannya. Ia terus menatap wajah Bilmar dan Alika yang sudah meredup sedari tadi.
"Katakan saja, Dok. Kami perlu tau komplikasi terberat tentang si kembar." Ucap Alika.
Ia tetap menguatkan jiwanya, tetap ingin mendengarkan sampai ke titik nadir hidup si bayi. Bilmar menoleh, menatap wajah istrinya yang masih menunggu penjelasan Dokter dengan kekuatan yang dipaksakan. Ia tahu istrinya tidak sekuat itu.
Dokter Obgyn menghela nafasnya berkali-kali, ia menatap Bilmar dan Alika secara bergantian.
"Mungkin saja salah satu dari mereka ada yang tidak bisa selamat atau yang paling terparahnya lagi bahwa mereka berdua bisa-bisa saja tidak terselamatkan!"
"Dari hasil pemeriksaan darah, Ibu Alika juga mengalami kenaikan darah yang cukup tinggi serta hemoglobin yang rendah. Ibu harus ekstra istirahat, mulai terbiasa mengkonsumsi makanan tanpa garam dan penyedap rasa. Harus kontrol setiap minggu, agar saya bisa memastikan bagaimana kondisi kedua bayi Ibu itu sampai benar-benar dianggap aman."
Lalu pecahlah tangisan dari mereka berdua. Masalah yang terjadi dengan anak mereka tentu tidak pernah terfikir sebelumnya. Mengapa harus mereka yang mengalaminya? Bisa tidak jika Alika mengandung dalam keadaan normal saja, tentu itu yang ada didalam fikiran Bilmar sekarang.
"Boleh sedih, boleh juga menangis. Tapi jangan pernah berucap kecewa dengan masalah ini. Ini semua adalah ujian yang sudah di ridho kan kepada kalian untuk menjalaninya. Bersemangat lah kembali! Kami akan selalu mendoakan kebahagiaan rumah tangga dan semua anak-anak kalian---Ayo Nak, peluk istrimu, Alika butuh kamu!" Ucap Papa Bayu.
Papa Bayu memberi kode ke pada Papa Luky untuk segera bangkit dari ranjang dan melepaskan pelukan Alika yang masih menangis.
"Pah?" Ucap Alika sambil mendongakkan wajahnya ketika sang Papa melepaskan tubuhnya dari pelukan sang anak. "Papa mau kemana Pah?" Tanya Alika.
"Bilmar, ayo...!" Papa Luky memanggil menantunya untuk menggantikan posisinya. Bilmar pun bangkit dari sofa dan berjalan untuk menghampiri Alika dan memeluknya.
Mereka pun kembali menangis dalam pelukan. Hati keduanya hancur, seakan kenyataan ini membuat harapan mereka sirna untuk terus berharap. Berharap bahwa apa yang menjadi masalah bisa dapat terselesaikan.
"Ayo Kak, kita keluar dulu. Biarkan mereka berdua disini!" Papa Bayu merangkul Kakaknya untuk meninggalkan kamar perawatan Alika.
"Bil?" Alika terus menangis. "Aku gak sanggup ngebayangin mereka gak ada!"
"Mereka akan tetap lahir! Kita harus tetap berjuang untuk mereka, Al. Bagaimanapun caranya!" Bilmar tetap menguatkan hati istri dan juga hatinya.
Tetaplah berjuang, Bilmar dan Alika, sampai batas titik terendah kalian.
***
Ikuti terus perjuangan mereka ya, sampai Alika melahirkan 😊 dan masa-masa menuju episode terakhir mereka ❤️💔
__ADS_1