
Hayy kesayanganku. Selamat malam, kayanya MT nya lagi eror nih guys, tapi sabar aja ya.. aku tetap kembali untuk menemani kalian.
semoga aja MT nya cepat pulih.
Yuk guyss mari baca
🤗🤗
***
Dua bola mata Alika masih terpacu melihati pepohonan rindang di sisi jalan yang mengiringi perjalanan pulang mereka.
Bilmar terus mengemudi. Di sebelahnya ada Papa Bayu yang masih sibuk menatap layar ponselnya. Sesekali Bilmar melirik ke arah spion untuk melihat Alika yang hanya terdiam, memalingkan wajahnya keluar jalan, sambil mengelus-elus tubuh Maura yang sudah tertidur di paha nya.
Hanya keheningan yang ada diantara mereka.
Terlihat wajah Alika seperti kesal menahan tangis. Baru saja ia akan merasakan kebahagiaan untuk menginap dirumah sang Papa yang baru saja ia pijak untuk pertama kali.
Bilmar faham, namun ia tidak iba untuk hal itu. Bagi nya keselamatan Alika nomor satu di hidupnya.
"Kamu kenapa?" tanya Bilmar tetap menatap lurus jalan di hadapannya. Membuat Papa Bayu seketika menoleh ke arah anaknya yang masih mengemudi.
Alika hanya terdiam, ia tidak mau menjawab pertanyaan yang Bilmar tujukan kepadanya. Ia masih kesal.
Karena merasa pertanyaannya tidak di jawab. Bilmar pun ikut kesal. Ia menekan pedal gas nya untuk melaju lebih cepat. Sontak membuat Alika teperjak. Ia sedikit takut melihat Bilmar seperti ini. Namun ia enggan untuk bersuara.
Ia tetap diam, hanya diam.
Kemudian.
Dengan sekuat tenaga, Bilmar membanting stir kemudinya ke arah kanan, menukik tajam. Membuat percitan ban terdengar nyaring, ia berusaha menahan agar mobilnya tidak menabrak pohon yang sebentar lagi menyentuh kereta kencana nya.
Dan
Buggg.
Dahi Alika terbentur keras menghantam jok depan yang sedang diduduki oleh Papa Bayu.
Lain hal dengan Papa Bayu dan Bilmar, tubuh mereka tetap tertarik ke belakang karena seat belt yang kokoh tengah melindunginya.
Karena hentakan keras, membuat Maura terbangun dan menangis histeris. Terlihat Alika tengah bersandar sambil memejamkan matanya, satu tangannya di letakan pada bagian dahi yang sakit.
"BILMAR!" pekik Papa Bayu.
Lelaki paruh bayah ini juga tidak kalah shock dengan sikap Bilmar yang hampir saja membunuh mereka.
"Maaf Pah, Bilmar nggak fokus."
"Kamu nggak apa-apa, Nak?" Papa Bayu menoleh ke belakang, untuk mengecek keadaan Alika. Lalu ia mulai meraih tubuh Maura yang masih menangis. Bilmar langsung turun dari pintu kemudi untuk masuk ke pintu penumpang.
"Kamu nggak apa-apa sayang?" tanya Bilmar dengan rasa panik yang begitu hebat. Ia mulai meraih tangan Alika yang masih mendarat diatas dahinya.
Plass
Alika menepis tangan suaminya.
__ADS_1
"Lihat kan?? Kayak gini maksud kamu untuk, MENJAGA AKU??" delikan mata tajam tercuat dari bibir istrinya.
"Aku bisa mati kapan aja, tanpa menunggu si penembak itu datang kembali! Seperti sekarang contohnya! Sekarang aja kamu hampir, BUNUH AKU!!"
Alika menyadarkan Bilmar, bahwa sikap cerobohnya saat ini dapat membuat keluarganya dalam bahaya.
"Maaf, Bil! Kamu jangan sombong untuk terus bilang bisa jaga aku!"
"Karena kamu itu bukan, TUHAN!!"
Alika meluapkan emosi yang masih bertahta menyerang batin nya. Disertai sakit di bagian dahi yang masih hangat menghantam jok.
Bilmar hanya teperanjat, tidak percaya Alika akan bisa meledak semarah ini.
"Bil, sudah!" Papa Bayu mencoba melerai. Ia menepuk bahu Bilmar agar menyudahi perdebatan ini. Papa Bayu mengedipkan matanya agar Bilmar tidak terpancing.
"Ayo kembali lah mengemudi!" Papa Bayu kembali membawa matanya kedepan, ia terus menenangkan Maura yang saat ini sudah tidak merengek lagi. "Ayo tidur lagi, Nak! Ada Kakek disini."
Bilmar menjalankan mobilnya kembali. Melajukan dengan pelan dan hati-hati. Jantungnya bergemuruh kencang. Ia tahu angin pertengkaran sudah mulai mengikuti perjalanan mereka sampai tiba ke rumah.
***
"Ayo aku obati dahi kamu!" Ucap Bilmar yang sudah berdiri disamping ranjang Maura. Terlihat Alika masih mengelus-elus tubuh putri nya yang sudah terlelap. Bilmar terpaksa menyusul Alika kesini, karena sudah dua jam Alika tidak kembali ke kamar, menemaninya disana.
Alika hanya diam. Ia tidak mau menoleh.
"Ayo..!" Tangan Alika begitu saja dilepas dari tubuh anaknya lalu di tariknya paksa.
"Lepas!" Alika menarik kembali tangannya yang sudah di genggam oleh sang suami.
"Pergi?? Kenapa aku harus pergi, ini kamar anakku!" Bilmar mulai tersulut emosi.
"Ini juga kamar anakku!" Alika menyahuti ucapan Bilmar tanpa takut.
"Kamar anak kamu?? Kamu lupa siapa penguasa di rumah ini??" Bilmar berdecis geli.
Melihat Bilmar terlihat mengejeknya. Alika pun bangkit dari ranjang, lalu berdiri sejajar dengan tatapan Bilmar.
Wajah Alika mengerang. Dengusan nafas kasar begitu saja keluar dengan jelas.
"Ya, dia memang anak kamu. Bukan anak aku! ini juga rumah kamu. Aku hanya menumpang disini! PUAS KAMU!!"
Alika tak kuasa menahan tetesan air matanya yang sudah terjatuh sedari tadi, terus membelenggu kelopak matanya.
Ia pun mendorong tubuh Bilmar untuk tidak menghalangi langkah kakinya, yang akan ia bawa keluar dari kamar Maura.
Bilmar mengikuti langkah kaki Alika dari belakang. Sesekali ia merengkuh lengan istri nya dan Alika begitu saja melepas dan menghalaunya.
"Tunggu! Kamu kenapa sih? Marah sama aku?" Bilmar membekukan langkah Alika agar berhenti untuk menatap dirinya.
"Kamu masih, TANYA??"
"Istri mana sih yang nggak akan sedih, di pisahkan paksa begitu saja dari Papa dan Adiknya? Di sana rumah aku juga, Bil! Apa salah aku menginap disana---??"
"Masih masalah itu yang kamu bahas?" Selak cepat lelaki ini.
__ADS_1
"Aku begini karena untuk melindungi kamu, Al!"
"Melindungi dalam arti apa?? Kamu malah menyiksa batin aku, Bil! Kamu terlalu mengekang aku! Kamu posesif! Ini semua berlebihan, NGGAK LUCU!!"
Alika menaikan dagunya untuk menantang Bilmar. "Kamu sangat berbeda dengan Mas Aziz! Aku menyesal nikah sama kamu!"
"Apa kamu bilang? Menyesal??"
"Iya aku menyesal nikah sama kamu! Kamu egois! Keras kepala! Aku udah nggak tahan sama kamu! Aku mau kita pisah!"
Sontak ucapan itu membuat Bilmar semakin gelap mata. Emosi nya bergejolak hebat. Kedua rahangnya dikeraskan tergurat dibalik kedua pipinya. Kedua mata lelaki ini semakin menyala-nyala. Nafasnya naik turun. Ia mendengus kasar.
Lalu
Pakkk
Tamparan keras mendarat di tulang dahi Alika. Membuat wajah Alika berpaling ke arah kanan.
"Aku nggak suka kamu banding-bandingkan! Aku selalu menjaga perasaan kamu sampai detik ini, untuk tidak membanding kan kamu dengan mantan istriku!"
"Aku tidak pernah dengan mudahnya mengucapkan kata-kata tidak berakhlak seperti itu! Aku suami kamu. Aku yang seharusnya kamu patuhi!"
Alika masih terperangah. Wajahnya menunduk begitu saja ke atas lantai. Ada jejak tangan yang masih memegangi pipinya yang masih terasa panas karena hentakan suaminya.
Bilmar masih menatapinya garang. Emosinya kacau, jiwanya belum stabil. Ia masih terpengaruh geram karena pernyataan polisi tadi, ditambah lagi sikap Alika yang sulit diatur. Kata perceraian dan menyinggung nama Aziz. Sangat membekas dan menyakiti hatinya.
Bilmar dan Alika adalah sesosok pasangan yang sama-sama keras kepala. Semoga saja mereka bisa menyatu kembali seperti minyak dan air yang butuh proses.
***
Oh yaa selagi kalian nunggu cerita ini update kalian juga bisa baca karyaku yang lain ya:
1.Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
2.Jangan Berhenti Mencintaiku
3.Dua Kali Menikah
Bisa klik di profil aku ya, terus pilih karya
Berikan aku bukti semangat dari kalian dengan cara :
VOTE
LIKE
RATE
dan
KOMEN YA🖤🖤
sekali lagi👇
Thankyou readers kesayangan🥰
__ADS_1
With love, gaga😘