Mantanku PresdirKu Suamiku

Mantanku PresdirKu Suamiku
Membusuklah, di penjara!


__ADS_3

Hayu selamat malam. Alhamdulillah kepalaku udah mendingan🤗🤗, makasi ya doa-doa nya😘😘. Terharuu aku tuh.


Yuk guys selamat baca yaa


****


Bilmar terus memapah tubuh Alika yang masih menangis. Langkah kaki mereka cepat menyusuri lorong Rumah Sakit untuk memasuki kamar perawatan. Karena kabar terakhir dari Rendi, Papa Luky sudah sadar dan rawat dikamar biasa.


Bersyukurlah keadaanya sudah membaik, berkat doa-doa dari putri-putrinya yang sedari tadi menyebut namanya agar lekas pulih.


Bilmar terus menggenggam tangan istrinya. Telapak tangan Alika begitu dingin dan basah, jelas saja ia sangat shock karena mendapatkan serangan bertubi-tubi. Dengan kebakaran di gudang tadi dan serangan jantung ringan yang dialami oleh Papanya.


"Papa..!" seru Alika ketika sudah sampai diambang pintu. Ia pun berlari menghampiri sang Papa yang masih berbaring terlentang di ranjang. Alika pun menjatuhkan kepalanya di dada sang papa dan memeluknya.


"Papa baik-baik aja, Nak. Alika jangan menangis.." ucap Papa Luky lirih, ia mengelus-elus tangan putrinya yang tengah mendekapnya. Lalu berusaha mencium pucuk rambut putrinya.


"Kenapa Papa bisa kambuh? Lalu dimana Binar dan Rendi sekarang?"


Mereka tidak melihat keberadaan Binar dan Rendi sedari sampai.


"Papa hanya kurang istirahat, Nak. Papa mau pulang, makanya Papa suruh Binar untuk urusi administrasi sekarang.."


"Jangan dulu pulang, Pah. Papa masih sakit, lebih baik di rawat dulu disini.." sambung Bilmar, ia pun duduk ditepi ranjang sambil memijiti kaki mertuanya.


Alika melepas pelukannya untuk menatap sang Papa lebih dalam.


"Papa sudah sehat, Nak. Lusa pernikahan adikmu, semua sudah disiapkan. Tidak mungkin di batalkan begitu saja karena keadaan Papa yang seperti ini!"


Papa Luky harus berusaha menguatkan dirinya agar pernikahan Binara tetap terjadi. Walau saat ini tubuh dan kepalanya sangat sakit.


Bukan sakit karena penyakitnya, tetapi sakit karena dirinya tahu sebentar lagi akan diketahui oleh polisi. Ia selalu berdoa agar masalah itu hanya mimpi buruk belaka.


"Pah, sepertinya Binar akan mengerti bagaimana kondisi Papa sekarang. Lebih baik Papa di rawat dulu disini, biar keadaan Papa pulih sempurna, ada Alika yang akan rawat Papa disini."


Alika mencoba membetulkan selang infus yang sedikit macet ditangan sang Papa.


"Papa mau nya di rawat sama kamu, Nak. Apa boleh selama menunggu pernikahan Binar, Papa menginap di rumah kalian?"


"...Boleh Pah!"


"Tentu, Pah!"


Alika dan Bilmar saling bersautan.


"Papa sayang sekali sama Alika, jangan pernah tinggalkan Papa ya, Nak! Apapun yang terjadi.." Kedua tangannya menggenggam tangan Alika dengan erat. "Begitu juga kepada Bilmar, Papa sayang sama kamu, Nak!"


Papa Luky menatap dalam wajah sang menantu. Sejujurnya Bilmar lah yang sedang ia takuti saat ini. Ia belum bisa menerka bagaimana sikap Bilmar jika mengetahui dirinya adalah keladi dari semua ini.


"Insya Allah, Pah..." Alika menatap sendu sang Papa.

__ADS_1


"Bilmar dan Alika akan selalu menjaga Papa!" sambung Bilmar terus memijiti kedua kaki Papa Luky yang sudah tersibak dengan selimut.


"Nak, Papa mau--"


"Mau apa, Pah? Papa mau buah? Mau makan? Mau minum? Mau ke kamar mandi?" selak Alika dengan rentetan pertanyaannya.


Melihat perlakuan Alika yang sebegini perhatian kepadanya, membuat ia urung untuk mengakui semua kesalahan saat ini. Ia merasa masih punya waktu untuk menggagalkan aksi polisi.


Namun sayang sepertinya alam semesta tidak lagi berpihak padanya. Papa Luky harus tetap menerima ganjaran atas apa yang sudah ia perbuat, walau semua itu dari bentuk ketidak sengajaannya.


Bagaimanapun Alika harus menerima permintaan sang Papa untuk secepatnya keluar dari Rumah Sakit. Ia tahu sang Papa hanya berpura-pura kuat untuk memberikan kebahagian untuk Binara.


Drrt..drtt


Ponsel Bilmar kembali bergetar. Di lihat nya nomor tidak di kenal masuk memanggil.


Ia pun bangkit dari ranjang menuju keluar kamar perawatan.


"Hallo, dengan Bapak Bilmar Artanegara?"


"Iya hallo, betul! Dengan saya sendiri--"


Terlihat beberapa kerutan memancar dari dahi Bilmar.


"Saya dari kepolisian, Pak. Ingin memberitahukan bahwa kasus penembakan Ny. Alika dan Tn. Rendi sudah berhasil di lacak, pelakunya sudah kami amankan."


"Setelah di lacak, pelakunya adalah pembunuh bayaran. Maka kami sedang mengintrogasi si penembak lebih lanjut, jika sudah mendapatkan informasi lengkap. Kami akan melakukan proses penangkapan!"


"Segera tangkap, jangan beri celah. Kabarkan saya jika dalangnya sudah di beku kan!"


"Baik, Pak. Segitu saja informasi yang bisa kami berikan. Selebihnya mohon maaf jika ada kekurangan.."


"Saya sangat berterima kasih, Baik Pak, saya tunggu kelanjutannya!"


Tutt...sambungan telepon terputus. Menutup layar ponselnya dan berdiam diri sebentar. Ia masih menerka-nerka siapakah yang menyuruh mereka untuk menghabisi nyawa Alika dan Rendi.


"Kesalahan apa yang telah dibuat istriku? Sampai ia ingin di bunuh secara keji seperti itu?"


Wajah Bilmar kembali geram. Kepalan tangannya kembali membulat. Dada nya terasa berat sedikit, namun semua nya menghilang seketika langkah kaki Binara dan Rendi sudah sampai di hadapannya.


"Kak sudah sampai?" tanya Binar.


"Iya, Bin. Masuklah, Alika sudah di dalam."


"Baik Kak, aku masuk dulu ke dalam."


Binara meninggalkan Bilmar dan Rendi berdua di depan pintu kamar perawatan sang Papa. Mereka hanya menganggukan kepala secara bersamaan.


"Ngapain kamu di sini, Bil?"

__ADS_1


"Tadi aku baru dapat kabar dari kepolisian, kalau pelaku penembakan kalian sudah tertangkap!"


"Hah? Yang benar? Alhamdulillah..aku lega mendengarnya. Lalu siapa pelaku nya?"


Bilmar mendenguskan nafasnya lalu menyandarkan kepalanya di daun pintu.


"Belum tau Ren, kabarnya penembak itu adalah pembunuh bayaran yang di minta untuk menghabisi kalian, lebih tepatnya mungkin adalah nyawa Alika!"


"Hah??" Wajah Rendi seketika panik kembali. "Jadi perkiraan ku salah ya? Masalah ini memang ada dalangnya, bukan karena salah tembak atau peluru tersasar?"


Bilmar hanya mengangguk dan mengusap wajahnya berkali-kali.


"Si penembak sedang di introgasi, jika ia sudah mendapatkan buktinya. Maka yang menyuruh mereka, akan langsung ditangkap oleh polisi!"


"Semoga saja, Bil! Ayo masuk, Papa sudah menunggu kita di dalam!" Rendi memegang bahu Bilmar yang masih setia berdiri disana.


"Akan aku pastikan, siapapun pelakunya akan membusuk dipenjara!!"


***


Sudah 4 episode ya, yang aku Update di hari ini. Please, kalian beri aku vote terbaik❤️❤️..aku aja nggak pelit kok sama kalian, up terus hehehe.


Oh yaa selagi kalian nunggu cerita ini update kalian juga bisa baca karyaku yang lain ya:


1.Bersahabat Dengan Cinta Terlarang


2.Jangan Berhenti Mencintaiku


3.Dua Kali Menikah


Bisa klik di profil aku ya, terus pilih karya


Berikan aku bukti semangat dari kalian dengan cara :


VOTE


LIKE


RATE


dan


KOMEN YA🖤🖤


sekali lagi👇


Thankyou readers kesayangan🥰


With love, gaga😘

__ADS_1


__ADS_2