
Haii, balik lagi ni guyss❤️🖤
selamat baca yah
🤗🤗
***
Air mata terus menetes dari kelopak mata Binara. Membasahi tatanan make up yang sudah menempel di wajahnya. Sesekali Maura menyeka air matanya dengan tissu.
Binara dan Maura masih berada didalam rumah untuk menunggu aba-aba dipanggil keluar oleh penghulu.
Bukan menangis karena gugup, tapi menangisi keberadaan kakaknya yang tak kunjung muncul. "Harusnya kamu disini, Kak! Duduk di samping Papa, menggantikan Mama!!" Binar terus menangis sesegukan.
"Tante--" Maura memeluk Binara. "Kenapa nangis? Di sini tante nangis, tadi dirumah Mama juga nangis, aku jadi bingung--" cicit anak ini dengan kepolosannya.
Sontak ucapan itu membuat Binar berhenti dari isakkan tangisnya. "Mama kenapa?"
Maura hanya bisa mengangkat bahunya dan menggelengkan kepalanya. "Nggak tau tante--"
"Datang lah, Kak. Temani aku!"
Di taman belakang.
Dekorasi mewah telah terpasang. Bisa dikatakan pesta ini lebih mewah dari acara pernikahan Alika dan Bilmar. Terlihat ditengah kerumunan para khalayat yang hadir. Ada sebuah meja akad bernuansa putih bermandikan bunga disetiap sisinya.
Rendi sudah berada disana berhadapan langsung dengan Papa Luky dan penghulu. Tidak ketinggalan Papa Bayu juga duduk bersama mereka menjadi saksi dari pihak Binara.
Helaan nafas berkali-kali keluar begitu saja dari Papa Luky. Berkali-kali juga ia menolehkan wajahnya untuk menoleh ke arah datangnya para tamu. Ia menunggu Alika, anak yang amat ia rindukan.
Papa Bayu hanya mengelus bahu Papa Luky untuk memberi kekuatan kepada Kakaknya yang sedang gundah gulana.
Sungguh kehilangan Alika adalah rasa yang teramat sakit untuk Papa Luky di banding di tinggal oleh Alisa. Buah cintanya, hartanya, hidupnya kini hempas begitu saja terbawa angin kebencian.
"Datang lah, Nak. Kasihani, adikmu.."
Papa Luky masih setia berdoa di dalam lirihan hatinya. Ia terus meminta kepada Allah, agar mengabulkan doanya sekali lagi.
Rendi pun menangkap apa yang ada didalam guratan wajah lelaki yang sebentar lagi akan menjadi mertuanya.
"Pah?" ucapnya cemas.
Papa Luky hanya memberikan anggukan senyum kepada Rendi. Ia harus bisa menguatkan hati Rendi dan Binar. Karena memang bukan hanya dirinya yang sedang bergetar menunggu kedatangan Alika dan Bilmar.
"Baik saya akan memulai akad nikah ini, tolong dipanggil calon mempelai wanitanya!" ucap Bapak penghulu yang sudah siap diantara mereka. MC pun berlalu untuk menjemput Binara.
Rendi kembali menegang, fikirannya kembali dibawa fokus agar bisa mengucap ijab qabul dalam satu tarikan helaan nafas.
Lalu
Dengan kedua mata berkaca-kaca yang sebentar lagi air mata deras akan jatuh membasahi. Seperti keindahan sepasang merpati yang sedang terbang bebas di udara. Saling bersiul membawa cinta yang amat syahdu.
"Ya Allah, begitu cepat engkau mengabulkan doaku..."
Dengan cepat Papa Luky langsung berdiri dari kursinya, ia terus melihati langkah Binara yang tengah berjalan ditemani langkah Alika. Dibelakang mereka ada Bilmar yang menggandeng tangan Maura.
"Lihat Bayu, putriku datang!" seru nya menoleh ke arah Papa Bayu yang saat ini juga tengah melihati langkah mereka untuk mendekat.
__ADS_1
"Kamu memang putraku, Nak. Aku bangga padamu!
Papa Bayu memberikan rasa takjubnya kepada Bilmar. Ia memberikan senyum tak henti-henti untuk sang anak.
Senyum kebahagiaan sudah mengalir lepas di wajah Binara dan Alika sekarang. Semua yang sudah hadir tidak henti-hentinya memuji kecantikan kakak beradik ini.
Blass.
Alika dan Papa Luky kembali bertatap dalam kerinduan. Kedua matanya tak berhenti mengedip melihati Alika yang sekarang sudah tiba di hadapannya.
"Nak?" suara lembut itu menggema. Alika hanya memberikan senyum seperti biasa.
"Kak? Duduklah!" seru Papa Bayu, meminta kembali Kakaknya untuk duduk.
Kini Binara sudah duduk disamping Rendi. Air matanya sudah terhapus dengan baik.
"Biar saya saja!" ucap Alika kepada salah satu orang WO yang akan menyibakkan kain diatas kepala mereka.
Alika pun berdiri dibelakang pengantin, menyibakkan kain brukat putih itu diantara Rendi dan Binara.
"Itu kah putriku? Yang sudah ku sakiti hatinya?"
Papa Luky kemudian menoleh ke arah Bilmar. Sang menantu dengan samar-samar akhirnya memberikan senyum tipisnya. Walau hatinya masih kecewa, tapi ia tidak akan setega itu menyakiti hati istrinya, untuk tidak datang ke pesta pernikahan adiknya.
Alika pun berlalu menuju suaminya.
"Sudah bisa dimulai?" tanya penghulu
Papa Luky pun berjabat tangan dengan Rendi.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandung saya BINARA ARTANEGARA binti LUKY ARTANEGARA, dengan mas kawin tersebut dibayar tunai--"
"Sungguh beruntungnya kamu, Bin! Di nikahkan langsung oleh Papa--"
"Andai saja dulu Bilmar bisa berjabat tangan langsung dengan Papa untuk meminangku, bukan ketika meminangmu--"
"Semua mata bahagia memandang dirimu, ada Rendi yang mencintaimu dan ada Papa tentunya yang akan selalu menjaga kamu---"
"Dan tentunya aku juga punya lelaki hebat--"
Alika menoleh melihati Bilmar yang masih sibuk melihati Binara dan Rendi di meja akad.
"Bil?"
Bilmar menoleh. "Iya sayang?"
Alika langsung berhambur untuk memeluk dadanya, ia menangis sejadi-jadinya. "Janji ya, Bil! Kamu nggak akan ninggalin aku?"
"Kamu kenapa sayang?" Bilmar menenangkan Alika yang suara tangisanya semakin nyaring.
"Aku sedih, Bil!" Alika makin menangis tersedu-sedu
"Mama.." Maura pun ikut menangis, hatinya iba melihat Alika.
Melihat istri dan anaknya menangis. Bilmar pun membawa mereka untuk pindah ke dalam rumah.
Semua mata khalayat memandang tanpa terkecuali para penghuni di meja akad. Papa Luky seketika berdiri namun tangannya di cekal cepat oleh Papa Bayu.
__ADS_1
Papa Luky kembali duduk. Wajah Binara dan Rendi pun kembali menegang ketika melihat Bilmar dan Alika berlalu begitu saja.
"Kamu kenapa sayang?" Bilmar menduduki istrinya dikursi ruang tamu.
"Mau pulang sekarang?"
"Enggak, Bil!"
"Kamu cemburu ya?"
Jagg.
Bagai sebuah tamparan menerpa. Alika kembali tersadar, bahwa saat ini ia sedang dirundung rasa cemburu. Rasa ingin dicintai dan dimiliki oleh sang Papa.
Entah mengapa dengan kejadian kemarin, membuat dadanya berongga untuk kembali merasakan kehangatan dari Papa Luky.
Ia merasa bukanlah putrinya.
Padahal Alika salah besar. Papa Luky amat mencintainya, terus memikirkannya dan selalu berharap berada terus di dekat Alika.
Beginilah karena perbuatannya sendiri, menjadi masalah melebar kemana-mana. Alika pun manusia biasa, ia juga punya rasa sensitiv.
"Hanya kamu yang sayang sama aku, Bil! Bawa aku pergi dari sini ya---"
"Mau pergi kemana?"
"Bawa aku pergi jauh, Bil! Aku ingin menenangkan diri--"
"Iya, aku akan membawamu pergi!"
****
Yang nggak mau ditinggal pergi sama mereka, boleh votenya ya...🖤😘
Oh iyaa selagi kalian nunggu aku Update, bisa loh baca karya ku yang lain:
1.Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
2.Jangan Berhenti Mencintaiku
3.Dua Kali Menikah
Bisa klik di profil aku ya, terus pilih karya
Berikan aku bukti semangat dari kalian dengan cara :
VOTE
LIKE
RATE
dan
KOMEN YA🖤🖤
sekali lagi👇
__ADS_1
Thankyou readers kesayangan🥰
With love, gaga😘