Mantanku PresdirKu Suamiku

Mantanku PresdirKu Suamiku
MPS 2 : Penundaan Kepulangan


__ADS_3

Selamat malam


Selamat baca ya


❤️❤️❤️❤️


.


.


.


.


.


.


.


.


Alika melepaskan papahan tangannya di pinggang sang suami, membantu menyandarkan tubuh Bilmar yang kekar dan tinggi di sofa dengan hati-hati. Layaknya orang yang habis kecelakaan hebat, Bilmar tetap merengek seperti orang yang sedang tertimpa luka di sekujur tubuhnya.


"Aden gak apa-apa?" Tanya Bik Minah yang langsung bergegas menghampiri majikannya yang baru datang.


Alika tersenyum, lebih tepatnya ia ingin tertawa jika mengingat kejadian yang menimpa suaminya barusan. Namun untuk menjaga harga diri suaminya. Ia hanya bisa memberi alasan klise yang lain.


"Iya Bik gak apa-apa, Bilmar hanya mengantuk jadi nabrak pohon!"


"Ya Allah, tapi itu bahaya juga Den..."


Bilmar hanya bisa menimpali ucapan Bik Minah dengan anggukan dan senyuman.


"Oh iya Non, makanan buat Non Binar gimana?"


"Oh iya---sampai lupa!" Alika baru teringat bahwa ia sudah janji akan mengantarkan makanan itu dengan segera.


"Ya udah Bik, minta tolong Mang Dana. Aduh, pasti Binar udah nungguin dari tadi---"


"Iya Non, baik."


Bilmar masih bingung dengan percakapan istri dan art nya.


"Makanan buat Binar?" Tanyanya.


Alika mengangguk sambil mengangkat kedua kaki suaminya agar bisa berbaring dengan nyaman. "Ada yang masih sakit?" Tanya Alika mengalihkan pertanyaan suaminya.


"Makanan apa?" Bilmar kembali ke duduk persoalan pertama.


"Binar meminta kamu untuk membuatkan makanan?" Tanya Bilmar menyelidik, ia pun menatap celemek yang masih bergelayut di tubuh istrinya.


Alika pun duduk di tepi sofa. Tangannya terus memijit-mijit lengan sang suami. Ia takut Bilmar marah, karena dirinya dilarang untuk berlama-lama di dapur. Apalagi jika ia tahu istrinya sampai lemas karena habis memasak banyak makanan.


"Aku tadi buat donat untuk kamu."


Kedua mata Bilmar seketika berbunga-bunga. Ia begitu senang ketika sang istri membuatkan kue kesukaannya.


"Kamu bikin donat sengaja buat aku?"


"Iya---" Alika tersenyum malu.


"Ada hal apa? Kok tumben?" Bilmar terkekeh.


Alika memutar bola matanya jenga. "Kalau gak bikin di tanyain, kalau lagi bikin di nyinyirin----Gak ada yang bener, Ck!"

__ADS_1


Bilmar merentangkan kedua tangannya. "Ayo sini peluk..."


Tanpa menunggu lama, Alika langsung menerjang pelukan sang suami.


"Duh manja banget sih, Pah?"


"Iya nih Papa lagi kangen sama istri cebol ku--"


Blag.


Kening Alika berkerut-kerut tidak berarah. Kepalanya mendongak untuk menatap tajam ke wajah tampan lelaki itu.


"Cebol? Siapa tuh? Aku maksud kamu? Ih-----" Alika meronta-ronta lalu menggigit lengan sang suami. Bilmar hanya tertawa terbahak-bahak.


"Hahaha salah deh bukan cebol..."


Alika menyelak cepat. "...MUNGIL! Aku tuh mungil, Bil! Bukan cebol-----!"


"Nah itu, kate...hahahaha!"


"Ih, apa sih! Gak lucu..." Alika kembali menghela nafasnya panjang. Ia kembali bangkit untuk melepaskan pelukan itu.


"Masih sakit gak, ini..?" Alika kembali menunjuk dahi Bilmar.


"Sedikit sayang.." Bilmar ikut memegang bagian pelipisnya yang masih ditutup perban.


"Sabar ya, besok juga sembuh sayang. Makanya jangan pipis sembarangan, nanti penunggu pohonnya marah! Masih mending burung kamu gak ditarik sama yang punya wilayah---" Gelak tawa Alika kembali menggulung-gulung ruang tamu.


"Udah ah sayang, jangan dibahas. Aku malu!"


Alika menghentikan gelak tawanya dengan paksa.


"Kamu lapar gak?"


Bilmar mengangguk. "Aku ambilin kamu makan dulu ya...nanti aku suapin."


"Iya sayang..." Jawab Alika sambil berlalu ke arah dapur.


*****


Malam pun tiba. Sepertinya ranjang tempat tidur tengah berterima kasih kepada kedua tuan nya karena sudah mau mengakhiri olahraga cinta yang terus menyiksa si ranjang. Alika dan Bilmar terus bergulat, walau nafas di keduanya sudah tersengal-sengal parah dan kasar. Walau kepala Bilmar masih terasa pusing, ia tetap menepati janji agar pertemuan Sassy dan Jagur tetap terjadi.


"Kamu senang sayang?" Tanya Bilmar sambil menarik selimut untuk menutup tubuh polos mereka.


Alika masih terengah-engah. Nafasnya belum kembali ke ritme normal. Ia hanya mengangguk dengan wajah membahagiakan.


Bilmar memiringkan posisinya untuk tidur di satu bantal dengan kepala istrinya. Seperti cicak yang tengah hinggap di dinding tidak mau lepas.


"Kamu capek ya? Perutnya sakit gak?" Bilmar memasukan kembali tangannya untuk mengelus perut Alika.


"Nggak, Bil..." Jawabnya dengan gerakan dada yang masih kembang kempis.


"Kamu sesak nafas, Al?"


Bilmar terlihat panik, ketika merasakan nafas Alika begitu cepat. Dengan sigap ia menyangga kepala Alika dengan dua bantal. Ia meraih piyama Alika dan dipakaikan kembali ke tubuh istrinya.


"Masih sesak?" Tanya Bilmar kembali.


Ia terlihat semakin gelisah, karena wajah Alika tambah pucat dan ada suara ringkihan dari desahan nafasnya. Alika hanya menggeleng lemas dan mengusap-usap pipi suaminya. "Nggak kok.."


"Nggak dari mana sih, orang sesak kaya gitu! Ke Dokter ya?"


Alika menggeleng. "Aku mau tidur aja, aku ngantuk!"


Bilmar pun mengangguk dan membiarkan Alika tertidur dengan pulas. Ia pun merasa bersalah, karena sudah membuat wanitanya lelah dan lemas. Menyesal karena hanya mengedepankan nafsu. Ia semakin aneh dengan fisik Alika, mengapa begitu berbeda ketika sedang mengandung si kembar. Lebih sering terlihat pucat, sering pingsan, berat badan pun tidak naik-naik.

__ADS_1


"Ada apa dengan kamu?" Gumamnya. Ia pun memutuskan untuk terjaga malam ini.


****


Satu bulan berlalu. Kini kehamilan Alika sudah memasuki usia dua bulan. Walau kandungannya masih muda, tapi ia adalah tipe ibu hamil yang mempunyai jenis perut yang besar. Sungguh itu membuat banyak pertanyaan di kepala suaminya.


"Baru dua bulan ya, tapi kok udah buncit begini?" Tanya Bilmar sambil memeluk perut istrinya dari belakang. Alika masih berdiri menatap cermin.


Ada guratan aneh yang muncul di wajahnya. Selama ini ia sama sekali tidak ngeh kalau perutnya agak membesar.


"Mungkin karena bayinya kembar sayang---Jadi perutnya udah kelihatan besar." Alika meyakinkan Bilmar, bahwa ia baik-baik saja.


"Aku juga gak merasakan apapun kok, malah lebih bugar sekarang!"


"Yang benar, Al?"


Alika mengangguk dan memutar tubuhnya, ia menatap Bilmar dengan wajah sumringah. "Oh iya, Bil. Lusa kita jemput Maura jam berapa?"


Pertanyaan itu seketika menghancurkan lamunan Bilmar yang masih terlihat mengkhawatirkan kesehatan istri dan calon bayi kembarnya.


Wajahnya berubah sendu, ia baru teringat. Bahwa tujuannya masuk ke kamar untuk menyampaikan hal yang tidak akan disukai istrinya.


"Bil?" Suara Alika kembali mempertegas lamunan suaminya.


"Tadi Nayla baru aja kirim pesan, Al. Mereka menunda kepulangan karena sedang ada badai angin disana. Kemungkinan mereka akan pulang ke Indonesia 3-7 hari lagi, setelah keadaan disana dikabarkan aman."


Raut kekecewaan nampak menghias wajah si permaisuri hatinya.


"Benar begitu? Bukan hanya alasan Nayla aja kan, untuk memperlama Maura agar lama disana?" Alika tetap menafsirkan kecurigaan.


Bilmar menggelengkan kepalanya.


"Nggak kok. Aku percaya Nayla juga Mama dan Papa Kannya, mereka gak mungkin menyimpang dari kepercayaan yang telah aku berikan." Bilmar mencoba menenangkan sang istri agar tidak stress dan banyak fikiran.


"Kamu harus terus pantau Nayla ya, Bil! Dua hari kemarin kan dia juga susah dihubunginya!"


"Siap Bos!"


"Terus kamu juga bilang sama Nayla, Maura jangan sering-sering dikasih ice cream. Bulan depan Maura akan masuk TK. Aku gak mau dia sakit!"


"Iya sayang, pasti dong---Cerewet banget sih istriku." Bilmar menempelkan dahinya di dahi Alika. Mereka saling beradu pandang dengan senyuman.


"Karena sekarang hari libur, gimana kalau kita jalan-jalan?"


"Mau kemana?" Tanya Alika.


"Ke mall? Nonton, makan, belanja? Aku mau nemenin kamu seharian disana--"


Kedua mata Alika mengerjap bahagia. "Lihat-lihat perlengkapan bayi ya sayang?"


"Ajak Ammar ya?" Pinta Alika.


"...Tapi kamu yang gendong ya?" Alika tertawa.


"Ya udah sekalian bawa Bik Minah, biar gantian sama aku gendong Ammar---"


Alika kembali tertawa. "Baik sayang, tunggu aku setengah jam lagi ya. Aku dan Ammar akan siap!" Alika kembali mengecup pipi suaminya lalu berlalu dengan gembira.


Bilmar melalukan ini karena tidak ingin istrinya bersedih. Ia tahu bahwa Alika sebenarnya masih kecewa karena Maura tidak jadi pulang lusa. Alika tidak merajuk karena alasan Nayla memang masuk akal. Entah apa jadinya jika alasan sebenarnya bukan seperti itu.


Semoga saja Nayla memang benar-benar menepati janjinya! Dan peperangan antara Alika dan keluarga Kannya tidak akan terjadi.


*****


Alika nya aku nih ❤️

__ADS_1



__ADS_2