
"Apa kah begini cara anak seorang konglomerat sering lakukan? merendahkan dirinya sendiri dan....."
"Gembel sepertimu tidak tahu cara menghabiskan uang, lanjutkan tugasmu melayani tamu, jangan ganggu aku. Aku bukan wanita bodoh seperti kakakku itu"
"Aku beruntung Naya bodoh dalam hal menghabiskan uang dengan sesuatu yang tidak berguna" timpal Bram sinis,
Saat Arana ingin membalas ucapan Bram, seorang manager diskotik mendekati mereka dan memberitahukan masalahnya dimana, Arana merasa malu dan meraih Hpnya untuk meminta bantuan teman untuk meminjam uang. Bram mengeluarkan Black Cardnya yang di saksikan Arana, seketika Arana meraih kartu tersebut dan membulatkan matanya, "Kau habis ngerampok bank?"
Mendengar itu, Bram memutar matanya jengah dan meninggalkan Arana, "Kuperingatkan sekali lagi, jangan memaksaku untuk memberimu pelajaran berharga karena aku tidak segan-segan walau kau adik iparku"
"Cuih, jangan mimpi aku akan menganggapmu ipar, aku tidak berutang apapun padamu, termasuk malam ini" ucap Arana
Bram meninggalkan tempat tersebut dan akhirnya tidak memiliki pilihan lain karena Arana kembali menghinanya, Bram meminta Rey menjalankan rencana mereka.
Yudistira Corp memberikan pengumuman bahwa sebulan lagi kompetisi Proyek raksasa dengan dana Trilliunan tersebut akan mulai, Bram ingin fokus merekrut desainer terbaik termasuk Naya kedalam perusahaannya. Semua tahap telah Naya lalui, perlombaan dengan berbagai tema dilaksanakan selama seminggu, tetap Naya yang menjuarai hingga tahap seleksi Akhir membuat Naya harus ke perusahaan Yudistira dan desainnya akan secara lansung di nilai oleh para petinggi perusahaan tersebut, termasuk Rey.
Drrtt....
Drrrtt....
Naya membuka pesan teks dari bram, "Kau pasti bisa sayang, semangat" dengan banyak lambang hati membuat Naya tersenyum penuh haru, karena selama Naya ikut lomba.
Bram adalah dewan juri yang selalu siap Naya mintai pendapat dan kritikan untuk semua karya berdasarkan tema yang akan di lombakan. Naya sangat bersyukur untuk itu, karena Naya sadari dalam hidup pasangan yang tepat adalah dia yang akan menjadi tempat yang nyaman, pendengar yang baik dan saling berbagi pendapat.
...***...
Sabrina berjalan memasuki gedung Yusditira dengan membawa kotak makan siang menuju lift, Rey tanpa sengaja yang melihat sosok Sabrina merasa bahagia karena untuk pertama kalinya dia memasuki kantor tersebut dengan keyakinan bahwa Sabrina ingin menemui Rey.
Rey menghentikan langkahnya di salah satu dinding kaca dan menghadap untuk melirik setelan hari itu, apakah yang dia kenakan sudah perfect atau tidak. Rey berjalan menuju lift rahasia yang hanya dia, Bram dan Kakek Brahma gunakan. Dengan kecepatan Lift yang berbeda degan lift para karyawan kantor gunakan, Rey lebih dulu tiba di banding Sabrina, Rey berjalan ke Sekretarisnya untuk memberi pesan bahwa jika ada seseorang yang mencarinya, jangan lupa memberi tahukan Rey terlebih dahulu sebelum masuk, Sekretaris tersebut mengangguk paham.
Rey membereskan ruangannya yang sedikit agak berantakan dengan banyak kertas yang berceceran di meja ruangan tersebut ulah Bram yang memberikan banyak tugas untuknya. 20 menit berlalu, Sabrina belum juga tiba di ruangan Rey, membuat Rey gelisah dengan berjalan mondar-mandir dalam ruanganny.
"Vee, apa ada yang mencariku?" tanya Rey melalui telpon kantor kepada sekretarisnya
"Tidak ada Pak". timpal Vee
__ADS_1
Tiba-tiba Hp Rey bergetar memberikan notifikasi pesan dari Bram untuk segera ke ruangannya. Rey kemudian bergegas menuju ruangan Bram.
Bram terlihat sibuk memeriksa beberapa lembaran kertas yang berada di hadapannya. Rey memasuki ruangan tersebut dan siap menerima perintah,
"Rey bagaimana dengan rencana kita?"
"Sebentar lagi, dalam hitungan menit kau anda akan liat sendiri hasilnya Tuan" balas Rey
Bram tersenyum mendengar laporan Rey, tapi tidak dengan guratan wajah Rey yang melihat kotak makan siang yang berada di meja Bram. Rey terdiam dan hanya fokus pada kotak tersebut membuat Bram curiga,
"Ada apa kau melihat kotak makan siang itu?"
"Apakah Sabrina yang memberinya?"
"Iya dan kau pasti mendapat kotak yang lebih spesial" timpal Bram dengan sedikit terkekeh
Rey mengepalkan tangannya dan berlalu. Bram terhenyak melihat tingkah Rey karena tidak biasanya Rey meninggalkan Bram tanpa permisi.
Rey berjalan dengan langkah cepat menuju parkiran dan meninggalkan gedung pencakar langit tersebut. Beberapa menit berlalu, media TV sedang memberitakan seorang anak konglomerat Arana Wicaksana sedang menari erotis di salah satu tempat hiburan malam, membuat Arana mendapat hukuman yang setimpal dari Harun.
Naya hanya sedih karena dia merasa tidak menjadi kakak yang baik untuk Arana.
...****...
Sebuah salon..
Sabrina dan beberapa sahabatnya sedang mendapakan perawatn dalam satu ruangan, mereka sesekali bersenda gurau dan membahas banyak hal termasuk kekasih mereka.
Sabrina terdiam saat mereka saling membanggakan kekasih mereka yang termasuk dalam golongan kleuarga terpandang dan sederajat.
"Rin, gimana dengan kekasihmu itu?"
"Hubungan kami berakhir"
"Ha ha ha bukankah kau sangat mencintai dia?"
__ADS_1
"Tidak ada cinta dalam kamusku".
Banyak pertanyaan untuk Sabrina tapi dia hanya tersenyum mendengar itu kemudian memejamkan matanya. Para sahabatnya kembali membahas tentang pria terbaik yang pada akhirnya jatuh pada sosok Bram yang masih membuat mereka penasaran seperti apa sosoknya.
Sabrina yang sedari tadi tidak memiliki topik pembahasan perihal kekasih karena untuknya Rey tidak ada yang bisa di banggakan sama sekali, karena semua sahabatnya tahu latar belakang Rey yang tidak lebih dari seorang asisten kepercayaan dari perusahaan terbesar di Asia, tidak dengan latar belakng keluarga yang ternama.
"Aku sering bertemu dengannya" ucap Sabrina
Mendengar ucapan itu, semua teman-teman Sabrina yang masih dalam perawatan para maid meminta menghentikan aktifitas mereka untuk sementara waktu kemudian mereka berlomba mendekati Sabrina dengan antusias,
"Benarkah?"
"Apakah dia tampan?"
"Apakah kau punya fotonya?"
"Sangat tampan dan........." ucap Sabrina
"Dan.......?" tanya teman-teman mereka kompak
"Dia milikku" balas Sabrina
"Ha? bagaimana mungkin?" tanya salah satu teman Sabrina
"Kau akan lihat nanti"
Semua perbincangan mereka terdengar jelas di telinga Rey yang berada di balik pintu. Rey datang ingin menemui Sabrina dan meminta penjelasan tentang kedatangannya ke perusahaan tersebut, tapi Rey sudah sangat jelas mendapatkan jawabannya. Rey meninggalkan tempat itu dengan wajah dingin.
...***...
Beberapa hari berlalu, Naya berhasil menjadi pemenang kompetisi menjadi desainer terbaik di perusahaan tersebut, Naya berhasil mendapatkan banyak hadiah termasuk sebuah apartemen yang letaknya tidak jauh dari perusahaan Yudisitira dan sebuah kendaraan mewah, ditambah dengan gaji fantastis.
Naya memberitahu rincian dengan takjub di hadapan Bram, membuat Bram tertawa karena tingkah Naya,
"Nay, kau sepertinya benar-benar menikmati hidupmu menjadi masyarakat biasa hingga hadiah seperti itu sangat membuatmu takjub"
__ADS_1