Menantu Sampah Seorang Millionaire

Menantu Sampah Seorang Millionaire
51. MSSM


__ADS_3

Pintu utama yang kokoh terbuat dari kayu ek berukir memperlihatkan keindahan seni tukang kayu yang ulung. Para maid berbaris rapi menyambut Tuan dan Nyonya mereka, karpet merah membentuk garis lurus terlihat.


Ketika pintu terbuka, terungkaplah aula yang luas dengan langit-langit yang tinggi dan lampu kristal yang memantulkan sinar cahaya dengan gemerlap yang memukau. Perabotan mewah dan hiasan dinding yang elegan melengkapi keindahan ruangan itu.


Melalui lorong yang dihiasi dengan lukisan-lukisan bergaya klasik, Naya dibawa ke ruang tamu yang luas dengan perabotan mewah yang mengundang untuk duduk dan bersantai. Kursi-kursi berlapis kain brokat yang lembut dan meja kopi berukiran menjadikan ruangan ini tempat yang sempurna untuk mengadakan perbincangan yang hangat dan intim.


Naya takjub dan merasa berada pada dunia lain. Entah Naya yang selama ini tidak pernah fokus dengan interior megah di beberapa rumah atau tempat mewah lainnya saat menghadiri pertemuan atau Naya yang terlalu fokus dengan dunia bisnis yang membuatnya linglung saat memasuki rumah bak istana milik Bram. Tepatnya, milik mereka.


Naya merasa untuk pertama kalinya melihat ukiran dan gaya Eropa klasik sehebat rumah tersebut. Naya juga takjub dengan banyaknya pelayan yang berada di sana, sehingga membuatnya merasa seperti seorang ratu di sebuah istana di mana semuanya telah siap menghadapinya.


"Sayang..." ucap Bram sambil mengecup kening Naya. "Apakah ini tidak berlebihan untuk dihuni hanya kita berdua?" tanya Naya.


"Tidak, karena nantinya rumah ini akan ramai dengan anak-anak kita," jelas Bram.


"Anak-anak?" tanya Naya dengan menaikkan salah satu alisnya.


"Iya sayang, aku ingin kau melahirkan banyak anak untukku," ujar Bram.


"Tidak, aku hanya menginginkan dua anak," jawab Naya tegas.


"Empat sayang," desak Bram.


"Dua!"


"Enam."


"Bayu!" seru Naya dengan nada kesal.


"Iya sayangku," ucap Bram sebelum ingin mengecup bibir Naya, namun Naya menahannya. "Stop, tunggu. Aku belum memaafkanmu. Sekarang jelaskan kepadaku semua pertanyaan dan alasanmu membohongiku," ucap Naya tegas.

__ADS_1


Bayu mendengar itu, membuang nafasnya berat. Masalah utama wanita adalah tidak melupakan apa yang membuatnya kesal; itu akan terus berlanjut, teringat mungkin sampai ribuan tahun lamanya. Bayu kemudian tersenyum dan meraih lembut jemari Naya, lalu berjalan masuk ke sebuah ruangan yang sangat luas di mana seorang kakek bijaksana duduk di sebuah kursi singgasananya. Wajah Kakek Brahma terlihat datar, membuat Naya susah menelan saliva.


Naya mengeratkan jemari tangannya pada genggaman Bram.


Kakek Brahma kemudian berdiri meninggalkan kursi kekuasaannya saat melihat cucu menantunya memasuki ruangan tersebut. Dia melangkah dengan ketegasan, membuat Naya semakin menegang. Naya merasa sedang berada dalam serial TV di mana ia akan menghadapi musuh keluarga suami yang sebenarnya.


Naya mematung dan berusaha menghembuskan nafasnya pelan. Bram yang melihat itu tersenyum tipis, karena Bram paham bahwa saat ini Naya sedang gugup. Bram baru mengetahui bahwa selain berada di hadapannya, Naya juga bisa merasa gugup dengan orang lain. Bram semakin mencintai Naya dengan sikapnya yang tangguh tanpa menampilkan banyak gerakan, rayuan yang biasanya dilakukan wanita di luar sana yang berusaha merebut perhatian keluarga kekasihnya.


Jarak Kakek Brahma semakin dekat dengan Naya.


"Bayu, lakukan sesuatu," bisik Naya.


"Aku juga takut dengan kakek, sayang. Kita berdua telah melakukan kesalahan karena selama ini kita menyembunyikan hubungan penting ini, ditambah lagi kau sedang mengandung. Dia sangat menginginkan cicit, kita berdua akan dihukum," timpal Bram.


Mendengar itu, Naya semakin menegang, wajahnya sedikit mengeluarkan keringat dan memucat. Naya sangat tahu karakter seorang pemimpin saat dibohongi, apalagi jika dia berasal dari kalangan terhormat. Hukuman pasti akan terjadi, pikir Naya.


"AAHHHHH! Kakek," ucap Bram yang kakinya sedikit terkena tongkat kakek.


"Tuan Brahma, maafkan Bayu, maafkan kami," ucap Naya dengan gugup.


Kakek Brahma mendengar itu tiba-tiba mengelus pucuk kepala Naya dan memperlihatkan senyumnya yang rupawan. Kakek Brahma melihat setiap detail dari wajah Naya. Kakek Brahma kemudian tersenyum yang menunjukkan dia sangat bangga memiliki cucu menantu sepertinya.


"Selamat datang cucu menantuku, mari duduk," ucap Kakek Brahma dengan ramah.


Naya menuruti semua arahan Kakek Brahma. Bram terlihat seperti pengawal yang mendapat tatapan tajam dari Kakeknya dan berdiri di samping Naya.


"Tuan... saya," ujar Bram.


"Panggil saya Kakek, karena kau adalah istri cucuku yang tidak akan lama lagi pensiun ini," ujar Kakek Brahma.

__ADS_1


"Ha?! maksud kakek apa?!" Bentak Bram.


"Hmmm diamlah, aku tidak sedang berbicara denganmu."


"Aku tidak menyangka bisa menjadikanmu cucu menantuku. Tuhan terlalu baik mengabulkan doaku," ucap Kakek Brahma lagi.


"Maksud Kakek?" tanya Naya penasaran.


"Aku pernah melihatmu mengikuti salah satu rapat pimpinan dan aku melihatmu di sana. Aku berharap bisa memiliki cucu perempuan sepertimu yang gigih dan bertanggung jawab. Tidak butuh paksaan atau ancaman untuk berubah, tapi karena kesadaran diri," ujar Kakek Brahma sambil menatap Bram.


Naya kemudian mulai berani bertanya tentang Bram dan alasan Bram mendapat hukuman. Kakek Brahma dengan senang hati menceritakan semuanya. Bram yang berada di tempat itu pun rasanya ingin pindah ke planet lain untuk sementara waktu karena Kakek Brahma menceritakan semua hal buruk tentangnya di hadapan Naya.


Semua orang tua akan membanggakan anaknya dan membahas hal yang menarik tentang anak tersebut. Namun tidak dengan Kakek Brahma yang mengeluarkan semua aib Bram di hadapan Naya.


Naya dan Kakek Brahma terlihat begitu akrab dengan membahas Bram, bahkan tertawa. Satu hal yang membuat Bram khawatir adalah di balik tawa Naya ada tatapan mematikan yang sulit diuraikan oleh Bram. Di mana letak kesalahannya?


Kakek Brahma menceritakan garis keturunan Bram yang harus Naya ketahui. Naya mengangguk paham. "Sudahlah Kek, Naya butuh istirahat," ucap Bram mencoba menghentikan pembicaraan mereka.


"Baiklah Nak, kau harus menjaga cucuku dengan baik dan persiapkan dia. Persiapkan untuk apa Kek?" tanya Bram.


"Menggantikanmu dengan cepat," timpal Kakek Brahma dengan sinis.


Bram mendengarnya dan menghela nafasnya berat. Bram tahu jika Kakek Brahma masih merasa kesal dengannya karena Kakek Brahma merasa telah ditipu saat pembukaan resmi Natuna Beach Hotel. Kakek Brahma yang sedang bersantai diminta untuk membuka acara tersebut sedangkan Bram telah berjanji untuk tidak membuat Kakek Brahma mengatasi masalah apapun saat itu. Ditambah lagi, Kakek Brahma tengah melakukan hobinya, memancing dan mendapat gangguan. Dia bisa saja menghancurkan satu perusahaan karena itu.


"Baiklah, aku harap dia segera menggantikanku supaya aku bisa bersantai dirumah dan menyakiti ibunya di atas kasurku," ucap Bram gamblang.


Kakek Brahma kemudian ingin melayangkan tongkatnya tapi Bram segera meraih pundak Naya dan membawanya segera meninggalkan ruangan tersebut.


"Dasar anak nakal," gumam Kakek Brahma dengan menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2