
"Ma, mengapa acara pertunanganku sangat sepi? bukannya bertunangan dengan penguasa itu harus meriah yaa? ada artis ternama yang akan memandu acara dan memeriahkan acara?"
"Arana, kamu menikah dengan penguasa itu harus hati-hati karena mereka akan menjaga privasi mereka dan lagi nyawanya terancam jika di publish"
"Tapi Ma-"
"Arana, sudahlah. Nanti pesta pernikahanmu Mama yakin akan lebih meriah dari dugaanmu" timpal Melani
Mendengar itu Arana dengan polosnya mengangguk dan tidak mengajukan banyak pertanyaan lagi. Melani sangat mengetahui watak Arana sehingga begitu mudah menebak untuk menaklukkan Arana.
Mereka bertiga telah sampai ke depan podium, Arana masih celngak-celinguk mencari sosok calon tunangannya tersebut tapi belum ada yang terlihat dengan jelas sosok asing dalam ruangan itu, hanya beberapa bodyguard yang terlihat tengah sibuk berlalu lalang,
"Apakah dia sudah akan memasuki gedung ini?" batin Arana yang mulai tidak sabar bertemu dengan calon tunangannya.
Naya mendekati mereka dan menyapa Harun dan Melani yang sedang merapikan setelan mereka, Naya berbasa-basi terdahulu dengan orang tua mereka, membahas tentang perusahaan dan yang lainnya. Harun yang mendengar itu terlihat tidak sudi mendengar ocehan Naya,
"Jika kau ingin bertanya, bertanya saja. Tidak usah berlama-lama seperti ini"
"Pa, apa yang terjadi, bagimana bisa pesta pertunangan Arana seperti ini"
"Ada apa dengan pesta pertunangan ini, bukankah sangat megah?"
"Bukan itu maksud Naya Pa, tapi mengapa hanya beberapa orang saja yang di undang?"
"Sudahlah, bukan urusanmu. Lebih baik kau urus suami sombongmu itu, lihat saja aku akan membuatnya bertekuk lutut" ucap Harun dengan sinis
Naya ingin kembali menimpali Ayahnya tapi kata-katanya serasa tercekat di leher. Ayahnya belum berubah sama sekali. Bram yang berdiri tidak jauh dari hadapan podium, melihat istrinya tengah berbincang dengan keluarganya, tiba-tiba Alea mendekati Bram dari belakang Bram, mengelus pundak Bram.
Bram merasa ada yang menyentuhnya, dia melihat Alea kemudian menghempaskan tangan Alea dari tubuhnya, Tatapan Bram menajam kemudian ingin melangkah meninggalkan Alea tapi dia kembali meraih tangan Bram. Kali dua Bram menghempaskan tangannya.
__ADS_1
Wajah Bram mengeluarkan aura dingin, matanya memicing dan alisnya seakan ingin bertaut,
"Sekali lagi kau menyentuhku, kau akan tau sendiri akibatnya"
"Sayang, mengapa kau begitu dingin padahal dulu kita saling menghangatkandi atas ranjang"
Bram terdiam mendengar itu, dia tidak ingin mnggubris mulut seorang wanita selain Naya karena menurutnya itu tidak bermanfaat sama sekali. Bram hanya berdecih. Alea yang mendengar itu merasa geram karena tidak mendapatkan respon dari Bram.
"Jika kau mengabaikan aku, aku akan memberitahu Naya tentang semuanya" ancam Alea
Bram hanya tersenyum mendengarnya, terukir dengan jelas senyum sindiran kepada Alea, dia seolah memberi tahu ALea bahwa itu bukan masalah sama sekali karena Naya sudah mengetahui segalanya,
"Aku akan-" ucap Alea yang ucapannya di potong oleh Bram
"Jangan sekali-sekali mencoba menyentuh Istriku, baik secara kata ataupun yang lainnya. Karena aku tidak akan segan, apakah kau wanita ataupun pria. Aku tidak peduli dan ingat sekali lagi ucapanku baik-baik, Nyonya Bram Raka Yudistira hanya ada satu. Naya Tungga Dewi".
Bram melangkah mendekati istrinya, tiba-tiba pintu megah yang tidak berada jauh di dekatnya terbuka dengan lebar, terlihat dua sosok suami istri berjalan memasuki ruangan tersebut, Jhon dan Lyodra.
Alea berpindah tempat ke podium untuk menyambut mereka berdua, Jhon berjalan bersama istrinya sampai pada podium dimana Harun dan Milea berada di atas sana menyambut mereka dengan senyuman. Arana yang sudah lelah menunggu kembali menggerutu, mengapa hanya melihat kedua orang tua itu lagi, di mana anaknya? atau calon tunangannya itu.
"Diamlah Arana" ucap Melani dengan suara sedikit penuh penekanan.
Harun menyambut Jhon dan Lyodra dengan menjabat tangan mereka lalu membahas hal yang ringan. Bram dan Naya slaing menatap juga saling mencari di mana sosok penguasa yang mereka maksud, calon tunangan Arana.
"Baik, saya akan perkenalkan. Dia adalah Mr. Jhon. Tunangan Arana"
"Apa?!!!" ucap Arana dengan suara yang lantang
Bram dan Naya pun terhenyak mendengar pengumuman Harun saat itu, Naya berharap tidak mendengar apapun tentang pertunangan itu. Suasana sepi, sunyi, senyap. Jangan tanya lagi tentang ekspresi Arana yang mendengar hal itu,
__ADS_1
"Ma, Arana salah dengar kan?"
Harun kembali menyebutkan bahwa Mr. JHon adalah tunangan Arana. Naya ingin menyahut kedua orang tuanya tapi Bram meraih tengan Naya untuk menenangkannya dan memberi isyarat untuk tidak memberikan tanggapan apapun dulu, menunggu peluang untuk mereka bisa memberi pendapat karena di tengah-tengah podium, suara Arana sudah meninggi dengan pertanyaanya. Bram dan Naya sudah membaca situasi bahwa Arana sendiri pun tidak mengetahui hal tersebut.
"Ma, dia pria beristri ma"
"Dan saya tidak masalah dengan hal itu" timpal Lyodra
"You're freak" ucap Arana dengan nada tegas
Harun menajamkan matanya kepada Arana, "Diamlah dan ikuti apa yang Papa inginkan, ini semua untuk kebaikan kamu".
Arana ingin kembali menyahut tapi Alea tiba-tba berada di samping Arana membisikkan sesuatu, "Aku pikir kau ingin mengalahkan Naya, hanya dia yang bisa memberimu kekuasaan lebih tinggi di banding lelaki manapun, ingat Arana. Naya saat ini sedang menertawakanmu. Kamu kalah"
Arana terdiam dengan mengepalkan tangannya, dia melirik sekilas sosok Naya dan Bram yang berada sedikit jauh di hadapannya, Arana benar merasa iri dengan apa yang Naya dapatkan dan karena hal itu membuat Arana menutup mata untuk lelaki yang berada di hadapannya.
"Sepertinya anak anda menolak pertunangan ini tuan Harun" ucap Jhon
Harun sudah gelagapan karena jika pertunangan itu di batalkan, otomatis dia akan mengembalikan semua dana yang telah Jhon berikan.
"Aku menerimanya" ucap Arana
Harun yang mendengar itu tersenyum dengan sumringah, MElani dan Alea, berbeda dengan Naya dan Bram. Mereka berdua sangat geram tentang apa yang terjadi di hadapannya itu, Naya tidak menyangka Arana bisa senekat itu. Dia belum tahu pasti apa alasan Arana tapi dia sudah merasa gagal menjadi seorang kakak untuk adiknya.
"Sudahlah sayang" ucap Bram yang mengetahui suasana hati Naya yang pendapatnya dan kedatangannya tidak di sambut baik saat itu.
Bram kembali menatap tajam kepada Harun dan berjanji akan membalas apa yang dia lakukan kepada Naya untuk hari itu. Bram dan Naya memutuskan pergi meninggalkan ruangan tapi tiba-tiba pintu kembali terbuka, terlihat sosok kakek Brahma memasuki ruangan dengan salah seorang pengawal keperecayaannya.
Jhon dan Lyodra kaget melihat Kakek Brahma.
__ADS_1