Menantu Sampah Seorang Millionaire

Menantu Sampah Seorang Millionaire
54. MSSM


__ADS_3

Adiguna berada di tengah-tengah ruangan yang dulu menjadi tempat bersemangatnya melakukan bisnis. Pandangannya penuh dengan keputusasaan dan kemarahan yang tak terbendung. Dalam serentetan emosi yang membara, ia memutuskan untuk melepaskan amarahnya pada segala sesuatu di sekitarnya.


Meja kerja yang dulunya kokoh dan elegan dihantam oleh tinju-tinju yang penuh kemarahan. Kaca-kaca jendela pecah menjadi ribuan serpihan tajam yang menghujani lantai. Arsip-arsip penting terlempar ke udara, menari-nari sebelum akhirnya jatuh berserakan di atas karpet.


Pada saat itu, ruangan itu menjadi panggung untuk kemarahan dan kehancuran yang tak terbendung. Lemari buku yang dipenuhi dengan pengetahuan dan kebijaksanaan, sekarang menjadi tumpukan kayu yang hancur. Patung-patung dan lukisan-lukisan yang dulu menjadi hiasan ruangan kini berakhir sebagai pecahan-pecahan tak berarti.


Adiguna terus melampiaskan amarahnya, merobek-robek benda-benda yang seolah mewakili semua kegagalan dan pengkhianatan yang dialaminya. Suara pecahan kaca dan serbuan barang-barang yang hancur terdengar seperti orkestra kehancuran yang menakutkan.


"Kenapa seperti ini arrrgggghh, aku harus melakukan sesuatu" ucap Adiguna dengan keluar ruangannya.


Flashback...


Adiguna sedang bersantai dengan menyantap sarapannya sebelum menuju perusahaannya tiba-tiba sekretaris Adiguna memberi informasi jika ada rapat para pemegang saham 20 menit lagi, membuat Adiguna tidak panik dan akhirnya menghetikan sarapan tersebut dan segera ke perusahaan.


Sabrina pun mengikuti Adiguna ke perusahaan karena Sabrina memiliki firasat yang aneh jika itu terjadi bisa saja hasil ulahnya yang mengganggu ketenangan Bram sebelumnya tanpa sepengetahuan Adiguna.


Adiguna memasuki ruangan dengan wajah yang terlihat suram, dia menatap satu-persatu para penanam saham dengan geram. Tidak ada kalimat pembuka, sopan santun sebagai etika rapat tapi Adiguna dengan amarah menyakan tentang rapat dadakan yang di lakukan tanpa sepengetahuan dan persetujuannya terlebih dahulu.


"Ada apa ini, apakah aku sudah tidak di anggap lagi sebagai pimpinan di sini?"


"Kami semua sepakat untuk menarik saham kami dari perusahaan ini" ucap salah satu CEO dari salah satu perusahaan ternama


Serasa di sambar petir di pagi hari, Adiguna mengepalkan tangannya.


"Apa alasannya? apakah selama ini perusahaanku tidak memberi keuntungan yang banyak untuk kalian?"


"Kami sudah menemukan tempat kerja sama yang baru dan memberikan keuntungan dua kali lipat"


"Aku tidak mengerti......" ucapan Adiguna di potong oleh satu pimpinan yang lainnya


"Sudahlah, aku tidak ingin lagi bergabung dengan perusahaan ini, kau memang memberikan keuntungan tapi kau juga seenaknya kepada para pemegang saham, kau seenaknya memerintah dan kau yang berkuasa di sini, tidak ada etika dalam relasi ini"


"Keuntungan itu adalah relasi" timpal Adiguna

__ADS_1


"Kami sudah sepakat, kami tidak bisa lagi bergabung, permisi!" ucap salah satu nya dan meninggalkan tempat dan di ikuti oleh semua pemegang saham.


Adiguna panik dan meraih salah satu pemegang saham untuk meminta kembali mendiskusikan kentungan tapi mereka tetap melangkah meninggalkan ruangan tersebut tanpa peduli apapun lagi.


"Tuan, tenanglah...." ucap Sekretaris Adiguna


"Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa seperti ini?"


"Sebelum Tuan datang, saya mendengar mereka menyebut perusahaan Yudistira, aku pikir mereka akan bekerja sama dengan perusahaan tersebut?"


"Yudistira? aku tidak pernah berbuat kesalahan, mengapa dia ingin menjatuhkan perusahaanku?


Flashoff...


...***...


Tuan Adiguna akhirnya bergegas menuju perusahaan Yudistira bersama sekretarisnya. Adiguna beberapa kali melakukan panggilan melalui telfon kepada Rey tapi tidak mendapat respon sama sekali. Adiguna berharap jika Rey masih bisa memberi informasi tentang masalah yang terjadi pada perusahaannya ulah pimpinannya itu.


"Kau benar...." balas Adiguna dengan mencari nomor ponsel Tuan Brahma.


Sekali panggilan tak ada respon, dua, tiga, empat..


"Argghhhh!" Tuan Adiguna mengerang kesal karena tidak mendapat tanggapan apapun dari telfon tersebut.


Di Perusahaan Yudsitira...


Adiguna bergegas memasuki perusahaan tersebut tapi sayangnya Adiguna di halau oleh beberapa pengawal Bram untuk memasuki perusahaan tersebut. Mereka hanya mampu memasuki lantai satu tepatnya Lobi tempat karyawan memasuki perusahaan tersebut, karena jalan alternatif untuk pimpinan di halau oleh para pengawal.


"Sial.!"


Adiguna tidak menyerah, dia bersama sekretarisnya segera menuju ke perusahaan milik Harun Wicaksana. Kedatangan Adiguna di sambut dengan tangan terbuka oleh Harun, tapi bukan Harun namanya jika penyambutan tersebut tanpa niat tertentu.


"Tuan Adiguna berkunjung Tuan" ucap Farah sekretaris Adiguna

__ADS_1


"Untuk apa pak tua sombong dan angkuh itu datang" batin Harun


"Baik, izinkan dia masuk" ucap Harun


Adiguna tiba-tiba memasuki ruangan dan duduk di hadapan Harun tanpa di persilahkan kemudian duduk menyilangkan kakinya.


"Dasar, selain angkuh dia juga tidak memiliki sopan santun", batin Harun kembali


"Jadi, apa gerangan yang membuat Tuan Adiguna yang terhormat ini menginjakan kakinya di perusahaanku?!" tanya Harun dengan menyunggingkan senyum sinisnya.


Adiguna yang mendengar itupun terlihat sangat kesal, karena selama ini Harun adalah salah satu saingan bisnisnya yang sangat penuh dengan tipuan. Adiguna bahkan tidak pernah berpikir bahwa dia akan mengunjunginya dan meminta bantuan jika bukan karena perusahaan Adiguna berada di ujung kebangkrutan.


Perusahaan dan nama baik di hadapan publik jauh lebih berharga di banding bertemu dan meminta bantuan kepada Harun, pikir Adiguna saat itu.


"Aku tahu saat ini, kau berada di atas angin karena memiliki menantu penguasa nomor satu di Asia, tapi kali ini aku ingin kau membantuku untuk mempertahankan perusahaanku"


"Ha ha ha, tentu... bahkan dia telah menghadiahkan anakku sebuah istana, hmmm jika dia berani menghancurkan perusahaanmu mungkin saja kau butuh intropeksi diri, bukan meminta bantuanku" timpal Harun


Adiguna mendengar itu mengeratkan rahangnya. Rasanya Adiguna ingin memberi sebuah bogem mentah ke wajah Harun yang terlihat sombong itu. Adiguna tetap menahan diri untuk melakukan sesuatu yang memicu perdebatan dan akhirnya tidak mendapatkan apapun.


"Baiklah, kita seorang bisnis, saat ini apa yang kau inginkan, aku akan berikan sebagai imbalan."


Harun tertawa dan ingin memberi lebih banyak lagi ucapan yang sengit kepada Adiguna untuk melegakan hatinya karena Harun masih merasa sakit hati selalu di rendahkan oleh Adiguna saat rapat perusahaan proyek perusahaan lain.


Kali ini tatapan Harun lebih mendominasi membawa kesan sombong yang tak terbantahkan. Dalam atmosfer tegang, Haarun dan Adiguna saling melempar serangan dengan ucapanyang sangat menusuk, saling menyindir.


Tok,,, tok,,, tok...


Farah memasuki ruangan dengan wajah yang tegang. Farah kemudian mendekatkan diri seolah berbisik kepada Harun. Seketika wajah Harun memucat dan menjatuhkan gelasnya, saat itu Harun ingin meninggalkan kelas tiba-tiba Adiguna mencegatnya di depan pintu.


Adiguna seolah paham bahwa Harun juga mendapatkan masalah yang sama, Adiguna tersenyum kecut dan sinis.


"Sepertinya kau juga mendapatkan masalah yang sama kawan. Oh ya, salam untuk menantu kesayanganmu itu. Jika ini perbuatannya sangat di sayangkan, bahwa nilai seorang mertua sepertimu sangat rendah di matanya".

__ADS_1


__ADS_2