Menantu Sampah Seorang Millionaire

Menantu Sampah Seorang Millionaire
44. MSSM


__ADS_3

Dia berjalan mendekati Bram dan ingin menyentuh setelan jas yang di kenakan Bram tapi Naya memegang tangan wanita tersebut kemudian tersenyum, Naya meminta Bram melepaskan Jasnya dan memberikan kepada wanita tersebut, Wanita tersebut ikut tersenyum melihat apa yang di lakukan Naya,


"Kau memang harus hati-hati darling, karena suamimu sangat tampan" tungkasnya.


Wanita tersebut meraba setelan Jas yang di kenakan Bram, memeriksa merek yang terjahit rapi pada bagiannya, wanita tersebut memperhatikan dengan teliti setiap detail jahitan pada jas, kancing dan kerahnya.


Wanita itupun meraba lining pada jas dan terakhir dia dengan lantang membaca branded pada Jas tersebut.


"Kiton, ini asli"


"Tidak mungkin" tmpal Nikol


"Kau bisa memeriksanya kepada yang ahli jika kau tidak percaya, tapi sejauh pengalamanku di dunia fashion, ini adalah asli"


Nikol terdiam dan memberi tatapan tajm pada Bram yang membalasnya dengan senyuman Devil.  Nikol sangat paham yang harga branded tersebut bisa mergoh kocek hingga puluhan juta hingga ratusan juta.


Bram kemudian menarik tangan Naya lembut dan berjalan melewati semua orang yang terdiam setelah mendengar ucapan Wanita yang bekerja sebagai mantan seorang desainer senior tersebut di tambah malam itu Bram dengan fasih menggunakan bahasa asing dan berpenampilan yang memukau.


Bram berjalan dengan aura yang dingin dan kekuasaannya begitu terasa. Nikol menghempaskan gelasnya ke lantai dengan geram karena dia gagal membuat Naya berada dalam genggamannya.


"Siapa dia sebenarnya, apa yang terjadi, aku harus mencari tahu yang sebenarnya" gumam Nikol


Saat berjalan meninggalkan gedung Naya masih menatap Bram, terlebih lagi di depan gedung telah terparkir mobil terbaru Lamborgini Veneno Roadster pengeluaran terbaru, membuat Naya diam seribu bahasa, Naya hanya memeprhatikan setiap deteilgerakan Bram yang ternyata juga bisa mengendarai mobil tersebut dengan lincah.


Beberapa mata yang melihat mereka begitu takjub, tanpa terkecuali teman-teman yang menghina Naya mengikuti Naya meninggalkan gedung tersebut dan melhat mereka meninggalkan gedung dengan meggunakan mobil edisi terbatas di dunia.


"Oh My ...... Naya sangat beruntung ya" ucap mereka.


Dalam perjalanan Naya hanya terdiam sedangkan Bram sesekali mengecup jemari Naya. Bram yang sudah memahami apa yang Naya pikirkan memberhentikan Mobil tersebut di sebuah taman yang tidak terlalu ramai.


Dalam suasana senyap yang terbungkus oleh gemerlap bintang, Bram mengajak Naya berjalan dan duduk di sebuah kursi taman. Bram dengan tampilan yang tampan dan maskulin, mengenakan jas yang terhembus oleh angin sepoi-sepoi, begitupun dengan Naya masih terlihat memukau dengan rambut yang melambai-lambai.


Rambut hitamnya yang terusik oleh semilir malam, membiarkan sinar bulan mencermin ketulusan di matanya. Bram mengelus perut yang sudah mulai sedikit membuncit, Naya masih terlihat  anggun mengenakan gaun malam yang memancarkan kemewahan.


Dalam sentuhan yang begitu lembut, tangan Bram merapikan helai rambut Naya dan mengecup bibir Naya lembut, Naya yang mendapat perlakuan itu pun ikut terbuai. Naya membalas ciuman Bram dan akhirnya merek saling berpagutan, tiba-tiba Naya sedikit menggigit bibir Bram dan membuatnya berdesis,

__ADS_1


"Sayang..." ucap Bram dengan menghentikan ciuman tersebut dan ingin kembali memberi balasan atas apa yang Naya lakukan tapi Naya secepatnya menahan Bram dengan menutup bibir Bram menggunakan jemarinya.


"Apakah kau tidak ingin menjelaskan sesuatu padaku?"


"Tentang apa"


Naya mengerutkan alinya membuat Bram gemas dengan mengecup pipi Naya dan mengecup bibir Naya. Bram menggenggam jemari Naya dan menatap Naya,


"Sayang, maafkan aku. Aku membohongimu selama ini"


"Bohong?" timpal Naya


"Kamu punya simpanan?" ucap Naya lagi


"Jadi simpanan?"


"Jadi mafia?"


Mendapatkan rentetan pertanyaan itu, Bram menggelengkan kepalanya dan kembali mengecup bibir Naya untuk mengehentikan pertanyaan anehnya.


Naya terdiam dan menunggu ucapan Bram kembali.


"Aku sebenarnya memiliki kekayaan yang tidak akan mampu kau habiskan"


"Benarkah?"


Bram mengangguk dan mengecup jemari Naya kembali "Maafkan aku, karena selama ini membuatmu menanggung banyak hal, aku menjadi beban dan membuatmu malu".


Naya terdiam dengan tatapan yang haru, dia memegang wajah Bram dan mengecup bibir Bram, air mata Naya berjatuhan membuat Bram panik.


"Sayang, kenapa menangis? maafkan aku, aku tidak bermaksud...."


"Hiks, hiks hiks... setidaknya walaupun kau bohong aku tetap bahagia, aku bahagia karena itu aku menangis, hikss hikss"


"sayang, terimah kasih karena kau menerima kebohonganku"

__ADS_1


"hiks his hiks, makasih sayang, setidaknya kau berbhong untuk membuatku bahagia"


Bram memeluk Naya dan mengelus pundaknya untuk menenankan Naya.


"Aku lakukan semua itu, untuk kita, agar aku bisa menjadi leader di keluarga kecil kita nanti dan....."


"Iya sayang, sudahlah...cepat katakan, setelan jas dan mobil siapa kau pinjam, aku akan membantumu berterimah kasih dan setelah itu jngan memaksakan diri lagi, aku mencintaimu Bayu karena kamu bukan karena kamu memiliki harta benda"


"Ha?!"


"Iya, cepat katakan..mobil itu milik siapa dan pakaian ini milik siapa"


"Ini milikku sayang dan aku sudah katakan, aku mampu membeli apapun ynag aku dan kamu, kita inginkan"


Naya mendengar itu mendengus dan kembali memegang wajah Bram dengan tatapan sendu,


"Sayang, terobsesi itu bagus tapi tidak bagus untuk kesehatan yaa, kalau kau ada maslaah saat mengembalikan semua ini, katakan padaku, aku pasti akan membantumu"


Bram menggaruk kepalanya yang tidak gatal, karena Naya masih belum percaya padanya. Naya melihat Bram terdiam mendekat dan mengecup bibir Bram lembut dan menuntut, Bram seketika lupa dengan niatnya yang ingin memberitahu Naya semuanya. Bram memeluk Naya dan menggendongnya kembali ke mobil.


Bram meletakkan Naya pelan dan membisik "Kau akan mendapat hukuman untuk malam ini"


"Hukuman? kenapa?"


"Karena kau sangat cantik sayang" bisik Bram dengan kembali mengecup bibir Naya kemudian beralih ke leher dan memberi tanda di sana.


Bram menghentikan aksinya karena dan mengedipkan mata kepada Naya, "Bersiaplah sayang" bisik Bram kemudian tersenyum devil membuat bulu kuduk Naya memberi respon seakan arwah nenek moyang Naya melintas saat itu juga.


Bram memutar tombol yang menghidupkan keajaiban mekanik di atas mobil mereka. Atap Lamborghini meluncur dengan kemantapan dan mulai terbuka seperti sayap malaikat yang membebaskan mereka dari batas-batas dunia. Dalam detik itu, mereka merasakan kebebasan dan petualangan yang menantang, serta menyatu dengan aliran angin malam yang menggelitik kulit mereka.


Bram dan Naya tersenyum satu sama lain seperti dua jiwa yang saling menyapa.


Mobil tersebut melaju memasuki sebuah Hotel berbintang lima, Naya kembali mengertukan alisnya dan bertanya tapi Bram menjawabnya dengan gamblang bahwa itu juga termasuk bagian dari kebohongan bahwa Bram mendapatkan undian.


Naya dengan polosnya masih beranggapan bahwa semua yang Bram gunakan adalah bonus dari pekerjaannya.

__ADS_1


__ADS_2