Menantu Sampah Seorang Millionaire

Menantu Sampah Seorang Millionaire
61. MSSM


__ADS_3

Bunga-bunga berwarna cerah seperti mawar merah dan lili putih dipetik di taman bunga yang letaknya di halaman rumah Naya kemudian diatur dalam rangkaian yang indah, memberikan sentuhan elegan pada meja makan keluarga.


DI TEMPAT lain, Harun dan Melani tengah siap dengan setelan formal mereka dan akan meninggalkan  kediamannya, tiba-tiba Alea muncul yang juga ingin menemuai Harun dan Melani untuk membahas rencana pernikahan Arana dan Mr. Jhon. Harun menjelaskan bahwa dia akan menghadiri sebuah acara makan malam, Alea pun mencari cara agar bisa ikut serta pada acara makan malam tersebut,


"Bagus om, kalau acara makan malam di hadiri oleh para investor, om akan memiliki kesempatan untuk mendapatkan kerja sama dengan mereka"


"Om juga memiliki rencana seperti itu"


"Bagaimana jika aku ikut dan membantu om untuk mendapatkan kerja sama dengan para investor, om kan tahu keahlianku,"


Harun dan Melani tampak berpikir kemudian mengiyakan permintaan Alea untuk turut serta. Harun dan Melanie menggunakan kendaraan yang sama sedangkan Alea juga menggunakan kendaraan yang sama.


Mata Harun dan Melani melotot saat memasuki sebuah area dengan pemandangan dari jarak yang masih termasuk lumayan jauh telah terlit bangunan megah di depan sana. Mereka tidak percaya bahwa benar Naya telah menjadi seorang Ratu yang sebenanarnya. Mereka sekali lagi memuji kekuasaan Bram bahwa dia mampu membangun sebuah bangunan mewah bak istana untuk Naya.


Harun dan MElani serasa menjadi seorang tamu negara yang ingin berkunjung ke stana Negara dengan pemandangan banyak pengawal yang berajaga pada area memasuki rumah Naya dan Bram


Begitupun Alea yang tidak kalah takjub melihat kawasan rumah yang terlihat seperti istana itu. Jalan memasuki halaman rumah yang memiliki interior yang sempurna.


Alea meremas ganggang stir mobilnya dengan tatapan yang tajam ke arah depan, dia merasaa tidak adil tentang apa yang Naya dapatkan,


"Harusnya aku yang menempati rumah itu, harusnya aku yang menjadi Nyonya Bram bukan Naya" teriak Alea yang masih menyetir mobilnya memasuki area depan rumah yang penuh dengan tembok marmer putih.


Alea melihat Harun dan Melani turun terlebih dahulu dan memasuki rumah tersebut yang di arahkan oleh seorang pelayan dengan pakaian khasnya.


"Bram sayang, aku datang" gumam Alea dengan tersenyum devil


Alea yang berjalan lambat tanpa sengaja melihat Bram melitas dari arah yang lain tengah menenteng sebotol wine di tangannya. Alea kemudian mengikuti langkah Bram,


"Bangunan apa ini?" gumam Alea yang langkahnya masih pelan mngikuti Bram.

__ADS_1


Saat mata Alea menatap lurus kedepan, Bram sudah tidak terlihat lagi, tiba-tiba dia membalikkan tubuhnya Bram sudah berdiri dengan tegap berada di hadapannya, Alea sangat syok sehingga dia melangkah mundur dan membuat heelsnya tidak seimbang dan alhasil Alea terjatuh.


"Tolong aku Bram" ucap Alea dengan nada manja kemudian mengulurkan tangannya ke arah Bram


Bram tidak berkutik sama sekali, dia maish dengan wajah yang datar menatap Alea jengah.


"Apa yang kau lakukan disini"


"Setidaknya tolong aku dulu" tipal Alea manja lagi


"Well" ucap Bram kemudian memutar tubuhnya dan ingin meninggalkan Alea.


Melihat Bram yang dengan cepat mengubah arah dan melangkah, Alea cepat berdiri dari tempatnya dan meraih tangan Bram. Bram yang merasakan tangan Alea menyentuhnya lansung menghempaskannya dengan kasar,


"Berani sekali kau menyentuhku"


"Jangan membuang air mata palsumu karena itu tidak ada pengaruhnya sama sekali"


"Bram aku tahu aku salah, maafkan aku" ucap Alea kembali dengan mendekati Bram dan memegang tangannya


Bram kembali menghempaskannya dengan kasar, "Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu itu" ucap Bram dingin dan tajam


"Baiklah, setidaknya aku datang ke sini dengan baik-baik, aku hanya ingin mengucapkan selamat untuk pernikahanmu dengan sepupuku Naya" ucap Alea yang menekankan kata sepupu untuk membuat Bram berpikir bahwa mereka berdua ada ikatan keluarga dan bisa saja bebas berinteraksi.


"Well, tinggalkan tempat ini"


"Aku datang ingin menemui Naya"


"Untuk apa, kau tidak usah bertemu dengan istriku,"

__ADS_1


"Kenapa Bram? apa kau takut aku akan memberitahukan hubungan kita?"


Bram mendengar itupun sekali lagi mengepalkan tangannya dan maju melangkah ke hadapan Alea dengan tatapan garang,


"Sekali ular tetaplah ular, kau tidak akan bisa melakukan apapun untukku dan Naya, satu lagi. Hubungan apa yang kau maksud, aku tidak perlu menutupi hal itu, karena seorang Naya yang terlahir sebagai mutiara tidak akan pernah berpikir sebagai seorang manusia sampah seperti kamu". ucap Bram sinis.


Bram kemudian meninggalkan Alea sendiri yang hanya mematung mendengar ucapan Bram. Wajahnya memerah karena menahan emosi, dia mencengkram erat gaun yang di kenakannya dan Alea juga mengeratkan rahangnya dengan kuat.


"Aku tidak peduli, kau mencintaiku atau tidak, kau harus menjadi milikku. Aku tidak ingin Naya bahagia dengan hidup sempurna" gumam Alea.


...***...


Harun dan Melani berjalan memasuki sebuah rumah bak istana tersebut, mata mereka saling menatap takjb untuk semua hal yang berada dalam lorong menuju sebuah ruangan. Mereka melihat banyak lukisan-lukisan mahal yang bertengger di setiap dinding dan sebuah guci, keramik yang memliki harga jual yang sangat fantastis sedang bertengger.


Para pengawal dan pelayan pun terlihat beberapa dari mereka sibuk mondar-mandir dengan mengerjakan tugas masing-masing Dari jauh, Harun dan Melani melihat tuan Brahma dan Naya duduk di sebuah meja panjang yang sangat mewah dan bagus, tatanan makan malam mengalahkan sebah restauran mewah dan mahal.


Hanya saja Harun dan Melani saling adu pandang karena menurut mereka, acara tersebut di hadiri oleh bebererapa tamu undangan ternyata hanya ada mereka berdua yang datang.


Naya yang tanpa sengaja melihat kedatangan orang tuanya, dia sambut dengan senyum yang mengambang dan sebuah pelukan hangat. Harun dan Melani pun di persilahkan untuk duduk di meja tersebut tapi sebelum itu, tuan Brahma pun ikut menyambut mereka dengan sebuah pelukan hangat.


"Apakah hanya kami berdua yang menghadiri acara ini?" tanya Harun


"Iya, benar. Ada masalah?" tanya tuan Brahma


Harun dan Melani kembali adu pandang dan menjawab spontn pertanyaan tuan Brahma bahwa itu tidaklah masalah.


"Sialan, dia menipuku. Untuk apa aku datang jika hanya bertem mereka, itu hanya membuat penjelasan bahwa benar aku adalah babu mereka" batin Harun


Tuan Brahma memulai pembahasan santai untuk memecahkan situasi yang canggung itu, Naya pun yang rasanya ingin manja kepada Melani tidak mendapatkan apapun. Naya merasa sedih tapi dia berusaha menutupi dirinya dengan senyuman. Naya hanya berharap bisa menjadi ibu yang lebih baik dari ibunya dalam hal memberikan kasih sayang kepada anaknya.

__ADS_1


__ADS_2