
Jhon dan Lyodra kaget melihat Kakek Brahma.
"Kakek," ucap Bram
"Apakah kakek sudah sanga terlambat?"
"Tidak kakek, tapi-" ucapan Bram terpotong karena seseorang mengeluarkan suaranya dan berjalan ke arah Kakek Brahma,
"Selamat datang tuan Brahma" ucap Harun dengan tersenyum sinis, dia sudah merasa di atas angin.
"Apa kabar tuan Brahma" ucap Jhon yang tiba-tiba menyusul Harun
Kakek Brahma terdiam, dia mengeratkan rahangnya melihat dua sosok yang sudah lama dia lupakan. Jhon adalah sahabat Papa Bram sedangkan Lyodra dulunya adalah kekasih Papa Bram, mereka berdua menghianati Papa Bram kemudian membuat Papa Bram setahun mengalami depresi karena cintanya begitu besar ke Lyodra dan rasa persaudaraannya kepada Jhon terhianati.
Bram pun ikut heran mendengar Jhon mengenal kakek Brahma tapi Bram menunggu waktu yang tepat untuk menyakan hal itu
"Ku ucapkan selamat untuk pertunangan anakmu tuan Harun" ucap Kakek Brahma yang masih berusaha menghargai Harun sebagai ayah dari cucu menantunya.
"Terimah kasih tuan Brahma, perkenalkan Mr. Jhon dia adalah tunangan Arana"
"Ha ha ha" tuan Brahma tertawa cukup keras membuat semua orang yang mendengarnya terhenyak, untuk kali pertama seorang tuan Brahma tertawa sekeras itu
"Apa ada yang lucu?" tanya Harun yang wajahnya mulai terlihat memerah karena emosi
"Bagaimana bisa kau menyerahkan anakmu ke kotoran anjing tuan Harun" timpal tuan Brahma kembali dingin
Harun ingin membalas ucapan Brahma tapi Kakek Brahma sudah mengajak Bram dan Naya meninggalkan tempat tersebut karena menurutnya itu bisa berpengaruh kepada Naya dan janinnya, dia tidak ingin janin yang masih suci, calon pewaris Yudistira mendengar hal-hal yang tidak semestinya saat masih berada dalam kandungan.
"Ayo kita pergi, Aku tidak ingin calon cicitku mendengarkan hal yang menjijikan di ruangan ini" ucap tuan Brahma
Bram dan Naya akhirnya meninggalkan ruangan tersebut mengikuti langkah kakek Brahma, sedangkan Jhon mengeratkan jemarinya dan membatin "Tunggu pembalasanku".
...****...
__ADS_1
Di kediaman Harun, Arana menghancurkan seluruh ruangan kamarnya dengan raungan dan teriakan. Arana tidak terima pertunangan tersebut dan tidak bisa menolak juga, Melani berusaha menenangkan Arana tapi belum bisa sama sekali,
"Sayang sudahlah, ini untuk kebaikan kita semua"
"Ma, Arana malu bertunangan dengan pria beristri di tambah lagi dia sudah tua Ma"
"Arana, dia hanya menginginkan seorang anak, setelah itu kau bisa bercerai kapan saja dan mendapatkan kekayaan yang sangat banyak bahkan bisa mengalahkan Naya"
Melani berusah menjelaskan banyak keuntungan yang Arana akan dapatkan, layaknya seorang sales promotion yang menjelaskan banyak manfaat dari sebuah produk. Arana terdiam dan berusaha mencerna ucapan ibunya itu,
"Apakah itu benar Ma?"
"Iya sayang, hidup kita akan terjamin"
Melani kemudian memeluk Arana dan menenangkannya, dia memberi tahu Arana jika pernikahannya nantipun akan tertutup jadi itu aman untuknya merahasiakan suaminya, untuk sementara waktu sosok Jhon akan di sembunyikan dari pihak teman-teman Arana. Saat mereka bercerai, Arana akan mencari pria yang lebih tampan dan muda kemudian Arana akan pamerkan sebagai suaminya.
...*****...
Bram dan Kakek Brahma sedang berada di ruangan kerja. Bram terlihat serius mendengarkan semua penjelasan kakek Brahma tentang Jhon dan Lyodra, tentang masa lalu kedua orang tuanya yang rumit karena mereka.
"Kau harus berhati-hati Bram, mereka sangat licik, di tambah dia saat ini memiliki kekuasaan" ucap Kakek Brahma,
Bram mengangguk paham, dia kemudian meninggalkan ruangan tersebut dan berjalan menemui Naya yang sedang berada di kamar, Bram yakin Naya saat ini sangat membutuhkannya, tapi sebelum itu Bram meraih Hp yang berada di sakunya dan menekan nama Rey yang masih berada di luar Negri menjalankan misinya.
"Rey, bagimana dengan misimu" sudah berjalan hanya tinggal selangkah lagi, aku ingin kem-"
"Jangan kembali, aku akan memberi tugas baru untukmu, cari tahu tentang Mr.Jhon di Eropa"
"Bagaima-"
Tut...tut...tut....
Rey yang mendengar itu terhenyak, dia sudah paham situasinya. Dia kembali tersenyum dan bergumam "Dasar anak kecil". Sedangkan di tempat lain, Bram tersenyum penuh kemenangan karena dia berhasil membalas Rey.
__ADS_1
Bram memasuki kamar melihat Naya yang sedang berdiri memunggunginya menatap langit yang terlihat hanya beberapa bintang-bintang yang sedang kerlap-kerlip di atas sana. Naya menghembsukan nafasnya berat dan sebagai tanda bahwa pikirannya sedang kalut.
Bram menghampiri Naya dan memeluk Naya, memberikan kehangatan dan ketenangan untuk istrinya itu,
"Sayang, ada apa?"
"Entah lah sayang, aku bahkan tidak bisa mengenal adikku sendiri, apa yang ia pikirkan,mengapa dia bisa menerima pertunangan tersebut"
Bram mendengar itu, menakup kedua pipi Naya dengan gemasnya, kemudian menatap mata Naya dengan lembut, "Sayang, jangan berpikir berat, Arana sudah dewasa, dia sudah tahu keputusan yang dia ambil itu harus siap menerma segala resikonya, kau hanya perlu mengawasinya sebagai kakak" jelas Bram
Mendengar itu, mata Naya mengembun, Bram sangat bijaksana saat menghadapi setiap masalah, pikirnya. DIa hanya belum mengetahui fakta yang sebenarnya saat Bram di hadapan lawan, tidak akan ada kebijaksaan, yang ada hanya keadilan.
"Apa yang Kakek bicarakan denganmu di ruang kerja?"
"Ah tentang Mr.Jhon itu, ternyata dia adalah saingan bisnis Kakek"
"Apakah-"
Bram tiba-tiba menggendong Naya yang membuat Naya sedikit menjerint kaget, Naya memukul dada bidang suaminya itu dan mengomelinya tanpa ampun, sedangkan Bram hanya tersenyum mendengar semua ucapan Naya.
"SUdahlah, kau harus istrahat dan aku yakin anak kita di dalam sana juga menignignkan kau istrahat sayang" jelas Bram kemudian meletakkan Naya dengan lembut di Kingbadnya.
...*****...
Ke esokan harinya, aktifitas sebelum berangkat kerja berjalan seprti biasanya, Bram yag menangani sendiri perusahaan tanpa bantuan Rey sedikit kerepotan dengan jadwal yang padat., Bram memanggil beberapa orang penting untukmenemuinya di dalam ruangan Bram untuk menjalankan misinya mmberi Harun pelajaran,
"Kau ke perusahaan BOF, aku ingin kau mengosongkan tempat itu dalam waktu dua jam" ucap Bram dengan memberikan map yang berisi surat kuasa.
"Kau tutup semua jalur media untuk tidak mempublish masalah ini" ucap Bram dengan duduk di kursi singgasananya menyilangkan kakinya
"Baik tuan"
Dua pria dengan setelan formal itupun meninggalkan ruangan dan masing-masing menjalankan tugasnya dengan cepat. Bram pun memberi perintah kepada para pengawal untuk menjaga pintu perusahaan dengan ketat, tidak ada yang diperbolehkan sama sekali memasuki gedung perusahaan kecuali para karyawan.
__ADS_1
Bram pun telah memberi perintah kepada salah seorang bawahannya untuk mengirim beberapa map ke tiap-tiap perusahaan yang berisi ancaman pemutusan kerja sama dengan perusahaan Yudsitira jika mereka melakukan investasi ke perusahaan milik Harun dan Melani.
"Siap tuan".