Menantu Sampah Seorang Millionaire

Menantu Sampah Seorang Millionaire
87. MSSM


__ADS_3

Bram kemudian duduk di atas meja mendengar ucapan lelaki tersebut dan memberi tatapan tajam,


"Baiklah bos, aku merasa tidak memiliki masalah denganmu, apakah kita bisa membicarakannya dengan baik-baik? kau mungkin salah orang, atau begini saja bebaskan aku maka aku-"


Bughh.....


Sebuah tendangan keras dari Bram ke lelaki tersebut kembali membuatnya terjatuh dengan sedikit keras dan kembali mengeluarkan darah dari mulutnya,


"Sialan" ucap lelaki tersebut kemudian mendekati Bram ingin membalas BRam, tapi Bram dengan lihai menahan pukulan pria tersebut dan mencekik leher lelaki itu,


"Aku tidak datang untuk bernegosiasi dengan manusia tidak berguna sepertimu, berani sekali kau mengganggu istri dan anakku" ucap Bram dengan tatapan tajam dan ucapan penuh dengan penekanan


Lelaki tersebut akhirnya mengerti, dia gugup dan berusaha memegang tangan Bram dan membalas ucapan Bram dengan terbata-bata bahwa dia hanya suruhan


"Siapa yang membayarmu untuk melakukannya?"


"Kau harus berjanji dulu untuk melepasku" timpal lelaki tersebut


Bram menaikkan alisnya mendengar ucapan tersebut, "Cepat katakan!"


"Nona Alea" timpal lelaki tersebut


Bram berdiri dari tempatnya kemudian ingin melangkah meninggalkan ruangan,


"Ha ha ha aku suka bekerja sama dengan anda, apakah anda ingin membalas nona Alea? aku bisa melakukannya asalkan tuan membayar-"


Bram berbalik dan memberi tatapan tajam kembali "Sepertinya kau sangat senang? apakah kau pikir bisa meninggalkan ruangan ini hidup-hidup?"


"Bukankah tuan telah berjanji?" timpal lelaki tersebut dengan suara yang terbata-bata kembali dengan suasana atmosfer yang berubah


"Dasar bodoh, aku tidak berjanji apapun kepadamu, Hei kalian, lempar dia ke kandang buaya kita. Sudah lama mereka tidak mencicipi daging manusia"


"Ha? buaya? tuan, maafkan saya.. sa-" suaranya telah menghilang karena di seret paksa oleh para bodyguard Bram


"Itu adalah ganjaran untuk manusia yang berani mengganggu keluargaku. Alea. Dasar wanita ular, aku akan membalasmu tapi tidak menggunakan tanganku sendiri, aku tidak akan membunuh seorang wanita tapi kau yang memintanya, aku akan membunuhmu menggunakan tangan orang lain" gumam Bram kemudian tersenyum.

__ADS_1


...******...


Di Inggris....


Jhon berjalan memasuki sebuah mansion di mana telah menunggu para pemegang saham perusahaan yang di bawah kekuasaannya.


Disana telah duduk dua orang lelaki dengan setelan jas formal, bersama istri-istri mereka yang memperlihatkan betapa berkelasnya mereka.


Jhon berjalan memasuki ruangan dan duduk di kursi yang telah di sediakan, Jhon langsung berbicara pada poin penting kenapa ada pertemuan dadakan seperti ini.


"Apa yang kalian inginkan?"


"Sudahlah Jhon, jangan keras kepala. Serahkan stempel semua aset perusahaan dan kita bagi rata"


Jhon tersenyum sinis.


"Iya, William benar, kau juga belum memiliki anak. Sesuai perintah ayah, kau harus membaginya. Kedua ponakanmu itu, Stef atau Zoe siap menggantikanmu" timpal Ronald adik Jhon


"Tidak, aku masih memiliki hak untuk memegang stempel itu, selama aku masih memiliki istri. Anak? tidak akan lama lagi, kaian akan menerima kabar baiknya" ucap Jhon


Tapi, layaknya hutang. Mereka akan memberikan bayaran dari hasil keuntungan perusahaan Jhon walau tak sebesar keuntungan yang didapatkan dari orang tersebut.


Mereka juga bingung saat orang tersebut menawarkan keuntungan dua kali lipat di banding keuntungan yang Jhon berikan. Sedangkan mereka harus membayar setiap hasil yang di jarah dari Jhon, mereka hanya berpikir bahwa jika ada yang lebih baik kenapa tidak? tanpa memikirkan dampak masa depan bagi mereka.


"Baiklah, terserah apa katamu. Saat ini sudah waktunya memberi hasil keuntungan". ucap William


"Ha ha ha tidak akan lagi,"


"Apa maksud kamu JHon?"


"Kalian harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan kalian sendiri tanpa mengandalkan orang lain" timpal Jhon kemudian meninggalkan ruangan tersebut.


William dan Ronald saling adu pandang, istri mereka sudah mulai heboh karena tidak akan mendapatkan keuntungan lebih banyak lagi jika mereka tidak menyetor hasil jarah dari Jhon.


"Bagaimana ini Ronald?"

__ADS_1


"Entahlah kak, kita harus bisa mendapatkan keuntungan dari JHon, supaya orang tersebut bisa memberikan hasil dua kali lipat"


Ronald kembali tersenyum, dia berencana ingin memanfaatkan Lyodra dalam situasi ini.


...*******...


Di rumah sakit.


Ke esokan harinya Naya telah siuman pasca operasinya, Naya membuka matanya pelan dengan sesekali melirik setiap sudut ruangan tersebut. Naya tiba-tiba mematung membayangkan kejadian terakhir saat dia sedang dalam perjalanan mengalami sebuah kecelakaan.


Naya meraba perutnya yang sudah rata saat itu, Naya mulai panik ingin menggerakan tubuhnya tapi tubuhnya sangat terasa kaku dan berat. Naya menarik selang oksigen yang bertenggger di bagian organ pernapasannya kemudian mencari sosok suaminya.


Naya berusaha bergerak, tiba-tiba pintu ruangan Naya terbuka,


"Bi-bi..." ucap Naya lemah


"Astaga nak Naya, jangan bergerak dulu"


Melihat Bibi Nia berada di hadapannya air mata Naya mengalir deras, dia seolah memberi isyarat bahwa bagaimana dengan anak di kandungannya, dimana dia dan apa yang terjadi. Bibi Nia yang melihat Naya meraba perutnya. Dia mengerti dan mengarahkan pandangan Naya di sudut ruangan, terdapat sebuah inkubator besar dengan bayi mungil di dalamnya sedang tertidur pulas,


"Bi--, dia--" ucap Naya yang terbata-bata


"Iya nak Naya, dia adalah anakmu" ucap Bibi Nia


Naya menagis haru, dia sangat ingin berada di dekat anaknya itu tapi Bibi Nia menjelaskan, bahwa Naya harus sembuh terlebih dahulu agar bisa merawat malaikat kecilnya. Mata Naya kembali mencari sosok yang lain, siapa lagi jika bukan suaminya. Bibi Nia juga menjelaskan jika Bram saat ini sedang memiliki hal yang penting untuk di lakukan. Naya sudah paham, bahwa Bram tidak akan diam dengan keadaan dia saat ini, Naya sudah tahu bahwa di balik kecelakaannya ada sebuah rencana besar untuk membunuhnya.


"Sudahlah nak Naya, percayakan semuanya kepada nak Bayu, eh maksudh bibi Nak Bram"


Naya mendengar itu membalas dengan anggukan dan senyuman.


...********...


Alea menghamburkan uang dengan membeli semua barang yang dia inginkan; tas, berlian, mobil, apartemen mewah dan juga menutup beberapa perusahaan yang di anggap tidak memberikan banyak ke untungan. Alea juga telah mempublikasikan diri sebagai penerus Yudistira di Media Televisi, sosial media dan beberapa majalah terkenal. Publik gencar dengn pemberitaan tersebut, sedangkan Bram sendiri tidak ada yang tahu keberadaannya. Alea yang penasaran dengan keadaan Bram, tidak mendapatkan informasi apapun. Terutama tentang kematian Naya,


"Sial. Apakah dia masih hidup? dimana Bram? apakah dia melakukan pengobatan ke luar negri? mengapa aku tidak mendapatkan informasi mereka sama sekali?!" gumam Alea dengan kesal yang berada di ruang kantornya.

__ADS_1


__ADS_2