
Sejak kecil Naya di didik dengan baik dari segi pendidikan dan menjadi seorang yang hebat dalam bidang karir tapi tidak dengan kekeluargaan. Tuntuttan Harun dan Melani kepada Naya begitu besar untuk Naya bisa menjadi seorang pemimpin dan lupa bahwa dia manusia yang berhak untuk menikmati kebahagiaan.
Naya melakukan semua hal karena perintah dan tuntutan, sampai pada akhirnya memilih Bram karena butuh bukan karena sebuah tuntutan dan hasilnya membuat Naya bahagia. Sebuah cinta yang matang akan butuh kemudian cinta sedangkan cinta yang belum matang akan mengatakan cinta lalu butuh, di tambah lagi sebuah tuntutan yang akan mengharapkan perubahan dan itu akan melukai karakter.
Melani sebagai ibu lebih mengutamakan karir dan dirinya, kasih sayang untuk anak-anaknnya di tujukan menjadi sebuah harta benda, bukan sebuah pelukan, teguran, manja ataupun kedekatan yang emosional.
Saat mereka tengah diskusi, Bram datang dengan membawa sebotol wine kemudian di susul oleh Alea.
"Selamat malam Pa, Ma"ucap Bram dengan menjabat tangan kedua tangan mertuanya itu sambil menyunggingkan senyum devilnya.
Harun dan Melani kemudian menyambut tangan Bram dengan ramah kemudian kembali duduk, Bram yang sepintas memperhatikan setelan kedua mertuanya itu membatin. Bram sudah menebak bahwa kedua mertuanya yang hanya memikirkan kekuasaan itu mengira acara makan malam yang di selenggarakan Kakek Brahma formal untuk para investor juga. Sayang sekali tebakan mereka meleset.
"Sepertinya mereka akan merasa rugi hadir tanpa sebuah kerja sama" Batin Bram
"Selamat malam semuanya" ucap Alea dengan menyunggingkan senyum ramah, terutama kepada Naya.
Alea mendekati Naya, memeluk Naya dengan normal layaknya sepupu dan mengelus perut Naya yang sedikit mulai membuncit.
"Nay, maafkan sikapku tempo hari, aku harap kau bisa memaafkanku dan kita bisa seperti dulu lagi" ucap Alea
Naya mendengar itu pun mengangguk, Naya memang tegas saat di perusahaan tapi sosok asli Naya, dia begitu menyayangi keluarganya. Naya awalnya ragu dengan sikap kedua orang tuanya dan Alea begitu ramah dan santun, tapi Naya tidak peduli setidaknya saat nanti dia menyambut anak pertamanya, keluarga Wicaksana semuanya dapat berkumpul dan merasakan kebahagiaan Naya.
"Aku harap ini menjadi awal yang baik" batin Naya
Naya sangat tahu benar, bahwa keluarganya rakus tentang harta dan kekuasaan, itu tidak masalah selagi itu mereka masih menghargai Naya dan Bram sebagai keluarga, jika hanya memanfaatkan nama besar suaminya pun itu tidak masalah, pemikiran Naya sesimpel itu.
Tapi Bagi Harun dan Melani berbeda, mereka ingin menghancurkan Bram yang menganggap harga diri mereka hancur karena ulah Bram, sedangkan Alea ingin merebut Bram dan menjadi Nyonya Bram yang berkuasa.
Kakek Brahma yang melihat kedatangan Alea mengepalkan tangannya karena Kakek Brahma sangat tahu apa yang terjadi dengan Bram saat mengenyam pendidikan di Inggris. Perubahan Bram pun berawal dari pengaruh Alea,
"Siapa dia Nak?" tanya Kakek Brahma kepada Naya untuk memastikan hubungan mereka.
__ADS_1
"Dia adalah sepupu Naya Kek"
"Selamat malam Tuan" ucap Alea ramah
"Silahkan duduk" ucap Kakek Brahma dengan datar untuk menghargai cucu menantunya.
Bram tidak memberitahu apapun kepada Kakek Brahma tentang Alea, tapi Kakek Brahma mengetahui semua detail kejadian dan masa lalu Bram bersama Alea, informasi tersebut Kakek Brahma dapatkan siapa lagi jika bukan Rey.
"Oh ya Alea, kenalkan Bram suamiku" ucap Naya dengan menggandeng tangan Bram
Alea melihat itu sekali lagi mengeratkan tangannya karena geram, dia tidak terima Naya bergelayut manja di lengan Bram, akhirnya Alea memulai keadaan yang membuat Naya merasa curiga,
"Aku sudah mengenalnya, jauh sebelum kau mengenalnya Nay" ucap Alea
"Benarkah?" tanya Naya heran dan kembali menatap Bram
"Nay-" ucapan Bram terpotong dengan ucapan Alea
"Berarti kalian-"
"Ya kami akrab, hanya saja begitu canggung atau mungkin saja Bram masih marah kepadaku" timpal Alea yang kembali memotong ucapan Naya
"Marah? karena apa?"
"Sayang, sudahlah ini hanya masa lalu. Aku tidak pernah marah kepada siapapun itu bukan hal yang penting, lagi pula aku tidak punya waktu untuk itu, satu lagi kami tidak akrab sayang" ucap Bram lembut kepada Naya
"Benarkah Bram? kita pernah camping bersama dan-"
"Sepertinya acara makan malam ini segera kita mulai" ucap Kakek Brahma menghentikan Alea.
Naya masih bingung dan memiliki banyak pertanyaan yang melintas di kepalanya; Siapa, bagaimana, kapan, seperti apa. Semua pertanyaan itu bermunculan, di tambah lagi tatapan Bram yang sangat dingin kepada Alea, sedangkan Alea yang mendapat tatapan itu membalasnya dengan sneyuman manis dan sebuah kedipan mata.
__ADS_1
Naya dan Bram kembali duduk, begitupun Alea yang sudah mengambil posisi tepat berada di sebelah Naya,
"Tolong, tempat kamu di sebelah sana, di sebelah kananku hanya untuk cucu-cucuku" ucap Kakek Brahma yang menegur Alea dan mempersilahkan Alea pindah tepat berseblahan dengan Melani.
"Dasar orang tua brengsek. Liat saja nanti, aku akan membuatmu bisa memanggilku cucu menantu dan aku akan duduk tepat di samping kursi sebelah kananmu". Batin ALea
Bram saat itu lebih banyak terdiam karena khawatir Naya mengetahui masa lalunya bersama Alea. Bram sesekali memegang tangan Naya dengan memberi suggesti bahwa semuanya akan baik-baik saja dan dia tidak akan kehilangan Naya karena Bram sangat mencintai Naya.
"Jadi tujuan kami mengundang tuang Harun dan Nyonya untuk memberitahukan, bahwa aku akan mengadakan perayaan pernikahan Bram dan Naya dengan meriah" jelas Kakek Brahma
"Apa?!" ucap Alea spontan
Semua mata tertuju pada Alea dan membuat Alea salah tingkah dan meminta maaf untuk sikapnya, dia beralasan terkejut karena akan ada perayaan besar-besaran jika tuan Brahma yang mengadakannya dan dia tidak akan sabar menunggu hari itu.
Sedangkan Naya kembali mengertukan alisnya, dia sudah sangat curiga, bahwa ada sesuatu antara Bram dan Alea. Bagian yang tidak bisa di lupakan adalah seorang wanita hamil tingkat sensitifnya lebih tinggi dari pada wanita pada umumnya.
"Bagaimana menurut anda tuan Harun?"
"Saya setuju saja tuan, tapi sebelum itu saya akan mengumumkan sesuatu, bahwa Arana akan bertunangan minggu depan"
"Arana Pa?" tanya Naya syok
"Iya, ada seorang pengusaha yang melamar Arana dan kami menyetujuinya"
"Bagaimana dengan Arana sendiri, dia kan masih sangat muda" timpal Naya
"Arana juga sudah menyetujuinya"
Mendengar ucapan Harun, Naya kembali terdiam dan merasa ada yang menjanggal sedangkan Bram kembali meneguk wine dan tersenyum devil, dia paham bahwa seorang Harun masih berusaha untuk melawannya dengan menjodohkan anaknya kepada salah satu pengusaha dan pastinya pengusaha tersebut memiliki pengaruh yang bisa membuat Bram goyah,
"Aku harus mencari tahu, siapa pengusaha itu dan sebenarnya ap yang dia rencakan" batin Bram
__ADS_1