
Lyodra melihat itupun tersenyum sinis, "Dasar bodoh," batin Lyodra.
Arana berdiri tepat di samping Lyodra dengan berkacah pinggang meminta Lyodra pindah dari kursi tersebut karena saat ini kursi tersebut adalah miliknya, dia adalah nyonya utama di rumah itu karena Arana akan memberikan keturunan untuk Jhon.
"Pindah, tempatmu bukan di sini lagi".
Lyodra hanya menatapnya tajam, Arana yang melihat itu tidak tinggal diam, dia meraih tangan Lyodra kemudian menariknya untuk pindah dari tempat tersebut, tiba-tiba Lyodra mendengar langkah Jhon memasuki ruangan, dia dengan sengaja menghempaskan dirinya ke lantai,
"Aww.....," teriak Lyodra.
Jhon yang melihat itu dari kejauhan merasa geram, bagaimana bisa Lyodra yang selama ini yang anggun dan bersahaja di perlakukan seperti itu. Jhon mempercepat langkahnya dengan menggunakan bantuan tongkat kemudian menampar Arana sangat keras hingga Arana terjatuh ke lantai dengan darah yang sedikit terlihat di ujung bibirnya akibat tamparan tersebut.
"Lyodra, are you ok?" tanya Jhon.
Lyodra tersenyum licik penuh kemenangan, dia memeluk Jhon dan sedikit terisak, Jhon akhirnya membantu Lyodra untuk duduk di tempatnya, Jhon kembali ingin bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi tapi Arana dengan cepat menimpali Jhon,
"Aku sedang hamil Jhon".
Jhon mendengar itu sangat bahagia, karena tidak akan lama lagi dia akan menjadi penguasa seutuhnya kekayaan keluarganya, Jhon kemudian beralih ke Arana dan meminta maaf kepadanya, Jhon tiba-tiba memperlakukan Arana dengan sangat baik. Lyodra hanya tersenyum karena dia tidak kaget lagi dengan perubahan sikap Jhon,
"Kau benar-benar membuatku muak, setidaknya dia sudah menampar gadis bodoh itu," batin Lyodra.
Beberapa hari berlalu, Arana di perlakukan baik oleh Jhon, dia mendapatkan kekuasaan yang sama dengan Lyodra di rumah tersebut, Dia bahkan berusaha membuat Lyodra menderita tapi dia tidak bisa menandingin kekuasaan Lyodra.
"Hei, wanita mandul. Cepat buatkan aku kudapan enak," ucap Arana yang berjalan ke arah Lyodra yang sedang bersantai di taman bunganya.
Lyodra yang mendengar itupun sedikit tersenyum dan menaruh cangkir yang di tentengnya ke meja yang berada di hadapannya. Lyodra meninggalkan tempatnya membuat Arana merasa bahagia karena berhasil memerintah Lyodra tapi bukannya Lyodra berjalan ke arah dapur, Lyodra berjalan ke arah Arana kemudian menarik rambut kuncirnya,
__ADS_1
"Atas dasar apa kau memerintahku? Ha?! Dasar wanita sialan," ucap Lyodra geram.
"Aw...Lepaskan!. Kau akan menerima akibatnya. Aku akan memberitahu Jhon tentang ini," timpal Arana yang meringis kesakitan.
"Kau pikir dengan begitu kau bisa menang? Ingat. Jhon akan tetap memilihku di banding dirimu, aku pemegang 30 persen kekayaan Jhon. Ingat itu!".
"Kalau anak ini lahir, Jhon akan membuangmu dan dia menjadi penguasa tunggal".
Lyodra yang mendengar itu melepaskan tarikan rambut kuncir Arana kemudian tertawa dengan sangat keras. Dia bahkan sesekali menepuk tangannya membuat Arana memasang wajah yang bingung. Tiba-tiba Lyodra terdiam dan berjalan dengan tatapan sinis ke Arana membuat dia mundur selangkah,
"Kau benar tapi.... jika anak ini lahir," bisik Lyodra.
Arana mendengar itu mematung dengan mata melotot, dia sudah tahu bahwa saat itu nyawanya sedang dalam bahaya, Lyodra yang melihat ekspresi Arana hanya tersenyum dan meninggalkan Arana sendiri yang berdiri dengan kaku.
Dia bisa saja membalas lebih kepada Arana tapi belum saatnya, Lyodra membebaskan dia, biarkan Arana menghamburkan uang Jhon seenaknya dan berlaku seenaknya di mansion tersebut. Lyodra menunggu waktu yang tepat. Dia ingin melakukan hal yang jauh lebih penting dari apapun.
...********...
Saat Lyodra tiba di depan Villa, dia melihat William dan Ronald pun yang baru tiba di tempat tersebut, mereka bertiga saling tersenyum dan melangkah memasuki Villa yang menyuguhkan taman dan pemandangan danau yang indah. Sepanjang jalan, lorong Villa menyuguhkan banyak lukisan besar yang mereka yakin harganya tidak sesimpel gambar yang terpajang, banyak pula lukisan lainnya yang sangat terkenal.
Mereka bertiga memasuki ruangan dan disana seorang lelaki paruh bayah seumuran Kakek Brahma tengah duduk dengan memegang tongkatnya dan sesekali mengesap cerutunya.
"Silahkan duduk," ucap Kakek tersebut.
William, Ronald dan Lyodra saling memandang dan duduk. Lelaki paruh baya itu memperkenalkan diri sebagai tuan Mahendra. Dia membahas banyak hal tentang perusahaan membuat Lyodra lelah mendengar ocehannya,
"Baiklah tuan Mahendra, kita bahas kerja sama kita," ucap Lyodra yang mendapat tatapan William dan Ronald. Mereka berdua sangat sungkan memotong pembicaraan tuan Mahendra yang mereka tahu orang yang memberi mereka keuntungan banyak di banding Jhon.
__ADS_1
Tuan Mahendra yang mendengar itu kembali tersenyum, dia mengatakan bahwa pemilik kekuasaan sebenarnya belum datang, dia hanyalah seseorang yang di titipkan kekuasaan itu untuk menutupi identitasnya.
William dan Ronald pun saling pandang, mereka tidak paham ada apa sebenarnya, mengapa harus menggunakan pihak kedua untuk pekerjaan dengan omset besar, bukankah itu berbahaya? Lyodra pun memegang keningnya yang tidak sakit,
"Lantas tuan Mahendra, apa gunanya kami hadir untuk bernegosiasi dengan anda jika anda bukan pemilik sebenanrnya?" Ucap William.
"Benar, apakah tuan Mahendra ingin bermain-main dengan kami?" Timpal Ronald dengan wajah asli mereka terlihat.
"Sudahlah, kita pergi saja," ucap Lyodra yang merasa di permainkan.
Saat mereka memberikan banyak pertanyaan tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan muncullah seseorang yang merupakan pemegang kekuasaan yang sebenarnya. Sosok tinggi dengan postur yang kokoh dan penuh ketegasan berjalan memasuki ruangan. Dia mengenakan setelan jas hitam yang sempurna, matanya tajam memancarkan kebijaksanaan, memancar dari balik sorotan bayangan.
Bulu mata lebat dan alis yang tebal menambah karisma pada wajahnya. Lyodra yang melihat itupun terhenyak karena dia sangat tahu, siapa sosok lelaki tersebut,
"Kau?"
"Selamat bergabung, Nyonya" timpalnya.
"Kau mengenalnya?," tanya William kepada Lyodra
"Bram Raka Yudistira".
Bram kemudian duduk di hadapan mereka semua, sedangkan tuan Mahendra pamit undur diri, tugasnya sudah selesai. Mahendra mengatakan bahwa semua keuntungan bisnis yang dia berikan berasal dari Bram.
Lyodra memiliki banyak pertanyaan untuk itu tapi di tahannya karena William dan Ronald sudah mulai curiga, akan banyak hambatan untuk mencapai tujuannya jika William dan Ronald mengetahui siapa Bram yang sebenarnya.
"Jadi, apakah kalian saling mengenal?," tanya Ronald dengan wajah curiga.
__ADS_1
"Dia adalah anak sahabatku sewaktu kuliah dulu," timpal Lyodra kemudian senyum simpul.
Bram mendengar itu pun hanya memberi tatapan yang datar. Mereka akhirnya memulai negosiasi, Lyodra bertanya mengapa dia harus bergabung dan apa keuntungan yang akan dia dapatkan. William menjelaskan kepada Lyodra bahwa mereka telah banyak keuntungannya sendiri di banding pemberian Jhon dan jika ingin mendapatkan keuntungan lebih, mereka butuh satu orang lagi untuk mengalahkan saham milik Jhon.