Menantu Sampah Seorang Millionaire

Menantu Sampah Seorang Millionaire
85. MSSM


__ADS_3

Sore menjelang malam saatnya Naya pamit untuk kembali istirahat, biasanya Bram mengantar Naya untuk kembali ke rumah mereka, Tapi, Naya kekeh bahwa Bram harus menemani kakek dan Rey. Mereka telah sepakat bahwa esok hari, Kakek dan Rey akan di pindahkan ke rumah dengan beberapa Suster dan Dokter spesial yang akan menangani mereka, supaya Naya yang tengah hamil tidak kerepotan harus bolak-balik rumah sakit.


"Sayang aku pulang yaa, kakek, Rey, aku pamit" ucap Naya


"Kamu hati-hati sayang, aku akan menyusul sebentar lagi, para bodyguard siap mengantarmu"


"Bram, sudahlah. Aku hanya butuh sopir. Para bodyguard membuat jalan semakin macet"


"Naya, jangan membantah. Para bodyguard itu khusus untuk menjagamu kalau aku tidak ada"


"Iya-iya, aku pamit dulu" ucap Naya dengan memeluk erat suaminya.


Kepergian Naya membuat Bram merasa ada yang aneh tapi Bram hanya mengenyampingkan perasaan tersebut, dia berusaha untuk menarik nafas untuk mengisi rongga udara di paru-parunya, agar Bram merasa sedikit merasa bisa sedikit mengurangi kekhawatirannya,


"Semoga semuanya baik-baik saja" gumam Bram.


Dalam langit senja yang memperlihatkan corak oranye dan ungu, Naya duduk dengan sesekali tersenyum melihat pemandangan taman yang di lewatinya sambil sesekali mengelus perut buncitnya dengan tersenyum manis,


"Tidak akan lama lagi, kita akan bertemu sayang dan kita bisa bermain bersama di taman itu,ah. Tidak! Pasti Papa mu akan membuatkan taman khusus untukmu" gumam Naya yang sudah mengetahui watak asli suaminya.


Mobil mewah yang di tumpangi Naya melintasi ruas jalan dengan pengawalan ketat, berada di hadapan dan belakang mobil yang Naya tumpangi, mobil kesayangan Bram peninggalan kedua orang tuanya. Kemewahan dengan warnayang berkilauan di bawah sinar matahari terbenam. Pintu mobil yang kokoh ditutup dengan mantap, menciptakan lapisan perlindungan di dalamnya.


Ketika mobil yang di tumpangi Naya melaju di tengah jalan yang sepi, dia mendapati dirinya dalam situasi yang mencekam. Beberapa mobil lainnya sedang berjejer di belakang mobil pengawalan Naya, mereka memancing agar pengawal Naya mengalihkan perhatiannya kemudian mobil yang Naya tumpangi bisa mendapat cela untuk di arahkan ke tempat yang telah mereka rencanakan.


Para mobil yang memancing kemarahan pengawal Naya berhasil berpisah dari formasi awal penjagaan Naya dan hasilnya, Naya hanya dengan sopir pribadinya melaju dengan tenang dalam jalanan yang sepi.Tiba-tiba tanpa peringatan, sebuah truk raksasa meluncur dengan kecepatan tinggi di belakang mobil yang Naya tumpangi. Cahaya lampu truk itu memantul di kaca spion mobil Naya dan memancarkan ancaman yang membelalak dalam waktu yang sudah mulai gelap.


Naya memerintahkan sopir pribadinya untuk memelankan laju mobilnya, namun truk itu semakin mendekat dengan ganasnya. Nyalinya tidak gentar. Trus dia berusaha menyeimbangkan diri dengan mobil Naya dengan berseblahan dengannya, Naya melihat jelas wajah sopir tersebut yang seakan mencerminkan tekad yang tak tergoyahkan untuk menghimpit mobil yang Naya tumpangi.

__ADS_1


Naya sudah mengetahui bahwa saat ini truk itu sedang menargetkan mobil yang di tumpanginya, dia akhirnya meminta sopir pribadinya menginjak pedal gas dengan tegas dan mempercepat mobilnya karena tidak jauh lagi mereka akan memasuki kawasan kekuasaan Bram yang memiliki banyak pengawal yang tengah berjaga di setiap sudut jalan.


Suara mesin mobil yang berdentum bergema di sekitar Naya menciptakan dentuman yang menakutkan. Naya berusaha mengendalikan perasaannya dengan memegang perutnya. Naya kemudian meraih Hp yang berada di dalam tasnya dalam situasi putus asa kemudian menekan tombol yang menampilkan nama Bram.


Truk itu semakin dekat, roda-rodanya berputar dalam gila, dan mereka hampir bersentuhan. Naya yang melihat itu menahan nafasnya tegang, tiba-tiba truknya melewati mobil yang Naya tumpangi membuat Naya sedikit lega, tapi hanya berselang beberapa detik tiba-tiba dari hadapan mobil Naya truk tersebut melaju dengan gila dan sengaja berada di hadapan mobil Naya,


"Halo, sayang...."


"aaaaaaaaaaaaaaaaaaaa" teriak Naya


"Sayang"


"Halo"


"Nay, sayang????" teriak Bram


Naya penuh dengan luka dan goresan. Darah mengalir deras dari luka-luka di tubuhnya terutama di balik kakinya, perut Naya berbenturan dengan jok kemudi sopir.


Naya beberapa detik masih bisa membuka matanya dan meraba perutnya, dia hanya melihat cahaya lampu truk yang berada tidak jauh di hadapannya sedangkan mobil yang Naya tumpangi tengah terbaring yang sebagian telah hancur, sopir pribadinya bisa saja sudah tidak bernyawa lagi,


"To-long, bayiku" ucap Naya dengan suara yang tersenggal-senggal.


Tidak jauh dari kejadian itu, seseorang melaporkan bahwa semua berjalan sesuai rencana, si biang kerok terdengar sangat bahagia. Dia tertawa dnegan sangat kerasnya di balik ponsel pria suruhannya tersebut,


"Aku akan mentransfer sisa uang yang aku janjikan dan ingat, segera tinggalkan negara ini" ucap Alea


"Baik, nona dengan senang hati" timpalnya

__ADS_1


Alea yang merasa sangat bahagia, malam itu membooking sebuah diskotik dan membuat para pengunjung bisa minum dan have fun sepuasnya.


...*****...


Di rumah sakit, Bram berlarian menuju mobil sportnya dan meminta seorang hacker mengirim titik lokasi Naya yang terakhir. Bram heran karena titik lokasi tersebut sudah benar, mengarah jalan ke rumahnya,


"Sebenarnya, apa yang terjadi" gumam Bram dengan melajukan mobil sportnya dengan sangat cepat.


Bram tiba di titik lokasi tersebut dan melihat kekacuan di hadapannya, Bram kemudian menginjak pedal rem dengan sangat keras, nafas Bram menderu dan mata Bram melotot melihat tidak jauh di hadapannya, mobil yang sangat Bram hafal sudah hancur,


"N-a-ya...." ucap Bram terbata-bata yang sudah merasa tidak memiliki jiwa saat melihat mobil tersebut.


Bram berusaha membuka pintu mobil dengan hati yang rapuh. Bram sedikit memiliki trauma kecelakaan karena kematian kedua orang tuanya, tapi Bram melawan hal itu. Kaki Bram terasa berat untuk melangkah, terlebih lagi melihat Naya yang tidak jauh di hadapannya dengan tubuh yang penuh luka, kaca yang tertancap di beberapa bagian dan darah yang mengalir deras.


Bram akhirnya memiliki keberanian dengan berlari, air mata Bram mengalir dengan derasnya, meraih kepala Naya dan memeluknya,


"aaaaaaaaaaaaaaaaaaaargh!" teriak Bram dengan perasaan sesak serta air mata yang mengalir.


"Sayang bertahanlah," ucap Bram kemudian menggendong tubuh Naya.


Di tempat lain Alea kemudian memberitahu Harun dan Melani bahwa misi mereka berhasil,membuat Harun dan Melani bahagia dan merayakan hal tersebut,


"Tante hanya perlu menunggu, media akan mempublikasikan berita kematian Bram" ucap Alea


"Benarkah? ah syukurlah, oh yaa tolong transferkan tante uang ya, tante sudah memesan berlian"


Medengar itu, Alea ingin mematikan telfon tersebut tapi Alea kembali tersenyum sinis, Alea berpikir setidaknya mereka berbahagia atas kematian anaknya.

__ADS_1


__ADS_2