
Harun dan Melani pun sudah sangat resah menunggu informasi kematian Bram, namun media tak kunjung memberitakan. Alea beralasan bahwa mungkin saja berita kematian Bram tidak di tayangkan di media karena kakek Brahma tidak tega melakukan hal itu, atau mungkin saja dia sedang dirawat di rumah sakit karena sekarat. Alea menceritakan rencananya dan apa yang telah dia lakukan membuat Harun dan Melani menyunggingkan senyumnya,
"Sudahlah om, tante. Saatnya kalian nikmati saja kemewahan yang ada saat ini tanpa memikirkan apapun. Om dan Tante adalah penguasa saat ini" ucap Alea yng mencoba memperngaruhi Harun dan Melani.
Harun dan Melani setuju, hanya saja mereka sedikit kesal karena, kenapa cuma ALea yang muncul di media yang di gembar-gemborkan sebagai pemilik perusahaan terbesar, wanita sukses dan kaya, kenapa bukan mereka? pada dasarnya mereka lupa bahwa ketenaran pun bisa menghancurkan.
Bram yang sedang berada di luar Negri sengaja menutup semua akses tentang keluarganya, Bram sudah mengerahkan seluruh bawahannya. Mulai dari perusahaan Media untuk tidak mengekspose apapun, hacker untuk menghapus map jalan ke rumahnya yang penuh liku untuk menghindari hal buruk yang terjadi, direktur rumah sakit serta para dokter yang menangani Naya pun di minta untuk tutup mulut.
Bram saat itu sedang di suatu tempat menjalankan misinya untuk menghancurkan akar hingga sampai ke pucuknya.
"Jhon, saatnya giliranmu! Aku tidak akan kembali menemui istri dan anakku sebelum menghancurkan semua benalu yang akan mengganggu ketenangan kami" gumam Bram dengan tersenyum sinis
...*******...
"uwweekkkk...."
"Uweeeekk....."
Arana yang sibuk mondar-mandir ke dalam toilet untuk mengeluarkan semua isi perutnya karena merasa kurang enak badan. Lyodra yang mengetahui itu sudah merasa curiga bahwa Arana pasti sudah hamil tapi itu tidak membuat Lyodra luluh untuk tidak memberikan perintah kepada Arana untuk mengerjakan semuanya.
"Apa yang harus kita lakukan nyonya?" tanya Olifia
"Tidak ada yang berubah Olifia, kalau dia selamat dengan melahirkan bayi itu berarti keberuntungan berpihak padanya" timpal Lyodra dengan tersenyum
Arana yang mengetahui semua gejala yang di alaminya bukan gejala demam biasa meminta salah satu pelayan di rumah tersebut untuk membeli alat pengetes kehamilan ketika dia mendapatkan tugas berbelanja keperluan rumah.
__ADS_1
Lyodra yang mendapatkan laporan tersebut dari pelayannya memberi izin untuk hal itu, kemudian tersenyum sinis "Aku tahu apa yang kau pikirkan wanita bodoh" batin Lyodra
Tidak berselang lama, Arana mengecek dan melihat hasilnya, "Ha? garis dua?" ucap Arana tersenyum bahagia. Dia memasuki kamarnya dengan menatap barang mewah yang berjejer di dalam kemudian tersenyum lebar dan berbaring tanpa memperdulikan apapun.
...******...
Di taman bersantai Lyodra mengecek ponselnya, dia mendapatkan undangan makan malam dari William dan Ronald tanpa harus hadir bersama Jhon yang saat itu sedang sibuk mengurusi beberapa perusahaan besar miliknya yang dalam masalah, di tambah pengiriman barang haram dunia bawah tanah yang di kelola Jhon mengalami kendala membuat Jhon fokus membereskan itu semua.
"Tumben mereka memintaku bertemu, apa yang mereka rencanakan" gumam Lyodra tersenyum. Lyodra merasa mendapat keberuntungan karena mereka datang sendiri untuk menyerahkan diri tanpa Lyodra bersusah payah memancing mereka berdua.
Lyodra berjalan dengan anggun memasuki sebuah restauran dan menuju arah ruangan VIP yang hanya ada mereka saja di dalam sana. William dan Ronald tersenyum, mereka bertiga duduk kemudian para pelayan menyiapkan makanan.
"Silahkan cicipi menu terbaru restauranku" ucap Ronald
"Apakah ini beracun?"
"Aku hanya takut, karena saat ini aku sedang hamil" ucap Lyodra bohong karena dia tahu, siapa pembunuh bayinya.
William dan Ronald gugup mendengar ucapan Lyodra. Dia akhrinya mengalihkan pembicaraan mereka ke hal yang lain. Basa-basi yang memekakan telinga Lyodra,
"Sudahlah, sebenarnya apa tujuan kalian memanggilku?"
William dan Ronald saling adu pandang, Lyodra yang melihat itu kembali meraih segelas wine yang tersedia di hadapannya dengan memutar-mutar gelas tersebut di tangannya.
"Kami ingin melakukan penawaran"
__ADS_1
Lyodra mendengar itu menaikkan alisnya, tidak biasanya mereka berdua ingin bekerja sama untuk melawan Jhon,
"Atas dasar apa kalian memberikan penawaran itu? aku adalah istri Jhon, tidak mungkin aku menghianatinya".
William tertawa mendengar ucapan Lyodra, dia akhirnya mengeluarkan sebuah informasi yang membuat Lyodra terdiam,
"Aku tahu setelah kematian anakmu, kau pernah mengalami kehamilan lagi tapi kau menggugurkannya karena saat itu kau melihat Jhon tengah menghabiskan malam, malam dan malam lainnya bersama sekretarisnya yang kau lenyapkan nyawanya setelah itu"
Lyodra diam dan menaikkan alisnya. Ronald yang baru mengetahui kebenaran itu pun hanya bisa terhenyak dan membenarkan posisi duduknya, "Ah, aku tidak menyangka kau bisa sesadis itu".
Lyodra pun membenarkan posisi duduknya dan tersenyum, "Aku hanya ingin mendengar apa yang kalian inginkan".
William dan Ronald tahu jika Lyodra tidak mencintai Jhon seperti dulu lagi. Mereka berdua menawarkan kerja sama untuk membuat bisnis dan perusahaan yang lebih besar di banding apa yang JHon miliki, Wiliam dan Ronald siap memberikan bagian dari pembagian harta miliknya dari almarhum ayah mereka, untuk melepaskan diri dari Jhon dan saat Lyodra bergabung itu cukup membantu dan satu orang lagi, yang mereka ceritakan sosok yang memiliki kekuatan di dunia bisnis.
Lyodra mendengar itu tidak percaya apa yang William dan Ronald jelaskan, Lyodra sangat tahu bahwa mereka berdua sangat tamak, serakah jika berurusan dengan harta. Ada tipuan jika menyangkut keuntungan, Lyodra yakin jika mereka berdua mendapatkan keuntungan yang lebih banyak. Bagi Lyodra, ini bukan keuntungan tapi niat Lyodra sebenarnya adalah ingin menghancurkan mereka berdua dan yang lainnya. Karena mereka, Lyodra kehilangan dua anak.
"Aku akan bekerja sama dengan syarat, pertemukan aku dengan salah satu pemegang saham yang akan bergabung dengan kita". ucap Lyodra
William dan Ronald saling adu pandang kembali dan akhirnya mereka mengangguk setuju asalkan, William dan Ronald juga ikut dalam pertemuan tersebut.
...*******...
Ke esokan harinya Arana yang terbangun dari tidurnya sangat bahagia, mengingat dia saat itu sedang mengandung anak seorang penguasa, itu berarti dia pun termasuk seorang penguasa. Arana bernyanyi riang memasuki kamar mandi, meminta para pelayan melayaninya karena saat itu dia sedang hamil.
Para pelayan awalnya tidak ingin menuruti perintah Arana tapi Arana mengancam jika dia akan melaporkan ke Jhon dan Jhon pasti akan menuruti ucapan Arana karena kehamilnnya.
__ADS_1
Layaknya seorang ratu, Arana di manjakan dengan semua pelayanan ekstra, makan dan perawatan tubuh lainnya. Arana menggunakan dress dengan warna yang mencolok, mengenakan berlian dan beberapa pelayan yang berjalan di belakang Arana layaknya pengawal memasuki ruangan makan untuk sarapan.
Lyodra melihat itupun tersenyum sinis, "Dasar bodoh" batin Lyodra.