Menantu Sampah Seorang Millionaire

Menantu Sampah Seorang Millionaire
56. MSSM


__ADS_3

Bram tersenyum melihat Harun yang berada dalam CCTV tengah berjalan menuju ruangannya bersama dengan Rey. Dia menyunggingkan sneyumnya penuh makna bahwa Bram sudah memiliki rencana tersediri untuk Harun.


Rey membuka pintu yang terlihat menjulang tinggi dan kokoh itu di hadapannya membuat Harun terhenyak beberapa detik, mengagumi kemewahan yang berada di ruangan tersebut.


Harun melangkah masuk ke dalam ruangan kantor Bram dengan mata yang terbuka lebar, mengamati setiap detail di sekelilingnya. Ruangan Bram menyapanya dengan kemewahan. Harun terpana, tetapi kemudian dia berusaha untuk menyembunyikan kekagumannya yang tumbuh di dalam hatinya.


Harun melihat langit-langit tinggi yang menggambarkan kemegahan yang memancar, dikelilingi oleh panel kayu yang elegan dengan ukiran halus. Karpet merah mewah dengan motif floral menghiasi lantai marmer, seolah-olah mengundang langkahnya yang lembut. Harun merasakan kehalusan karpet itu saat kakinya menyentuh permukaannya, tapi dia memaksa dirinya untuk menunjukkan ketidakacuhannya.


Di sudut ruangan, Harun melihat lemari kayu gelap yang menjulang tinggi dengan buku-buku berjilid kulit yang teratur di raknya. Dia merasa kegirangan dalam hatinya mengamati kekayaan pengetahuan yang tersimpan di sana, tetapi wajahnya tetap tak berubah, Harun menutupi perasaan kagum yang meluap-luap.


Beberapa detik, Harun megakui kekuasaan menantunya itu dalam hati tapi egois, hati yang selalu meninggikan harga dirinya itu tidak menerima kenyataan bahwa Bayu atau Bram adalah orang yang bisa di banggakan, seorang penguasa dan menantunya sendiri.


"Selamat datang tuan Harun" ucap Bram duduk di atas singgasananya dengan menyilangkan kakinya


Harun berdecih, "Sudahlah, jangan basa-basi. Apa yang kau lakukan dengan perusahaanku?" tanya Harun dengan geram


"Perusahaan anda? yang mana?" tanya Bram dengan candaan nada mengejek


"Kau menantu kurang ajar, di mataku kau teteap sampah walaupun kau berubah menjadi seorang konglomerat".


Mendengar itu, Bram berdiri dan mendekati Harun dengan wajah yang datar dan dingin.


"Kau beruntung karena Naya masih memujamu sebagai seorang ayah, kalau tidak. Aku sudah membuatmu tidak mampu berdiri tegak diruangan ini" ucap Bram dengan penuh penekanan.


Harun mendengar itu tetap pada posisinya dengan menahan diri walaupun sebenarnya nyali Harun sudah menciut tapi dia tetap bertahan dengan keyakinan bahwa Bram tidak akan berani menyentuhnya karena Harun dan Naya memiliki ikatan darah.


"Apa begini caramu membalasku?" tanya Harun


"Cara membalas? tidak!. Kecuali aku hilangkan lidahmu maka itu bisa di sebut dengan pembalasan".


Harun kembali terdiam, tidak menyangka bahwa menantu yang selama ini hanya tahu manut dan tidak banyak bicara itu bisa memiliki aura yang mematikan.

__ADS_1


"Baiklah, aku ingin kau tidak mengganggu perusahaanku" ucap Harun lagi kembali ke topik utama kedatangannya


Bram kembali duduk dan menyilangkan kakinya. Bram memanggil Rey dan membawa sebuah lembaran berupa surat kuasa bahwa perusahaan BOF akan menjadi milik Bram.


"Apa maksud semua ini. Kau melangar kode etik dalam dunia bisnis."


"Kita tidak sedang berbisnis tapi aku mengambil hak untuk Naya, perusahaan itu milik Naya, hasil kerja keras Naya"


"Dan Naya adalah anakku"


"Seorang Ayah tidak akan tega melukai anaknya, bahkan ingin menghilangkan cucunya sendiri"


Harun terdiam dengan mengepalkan tangannya.


"Kau masih beruntung istri dan anakku baik-baik saja, jika terjadi sesuatu. Aku benar-benar akan melenyapkanmu dengan seluruh harta kebanggaanmu itu tanpa memandang kau adalah ayah dari istriku"


Harun kembali diam dan berpikir. Dia tidak mungkin memohon kepada Bram bahkan meminta maaf hanya karena sebuah perusahaan, walau perusahaan tersebut telah menghasilkan banyak keuntungan untuknya. Harun optimis bisa mengalahkan Bram. Dia masih memiliki perusahan milik istrinya yang di kelola Alea dengan baik.


"Aku Harun Wicaksana, memiliki banyak perusahaan lainnya yag tidak bisa kau sentuh sama sekali" ucap Harun sombong


Tiba-tiba suara telpon Harun berbunyi dan tertera nama Melani di sana. Harun mengangkat dan mendengarkan ocehan Melani beberapa detik dan membuatnya terduduk lemas di hadapan Bram.


Melani melaporkan jika perusahaannya usdah tutup karena para pemegang saham pun menarik pendanaannya.


"Baiklah, aku akan menandatangani surat kuasa tersebut, perusahaan itu milikmu".


"Aku akan mencari cara untuk menghancurkanmu" batin Harun


"Well, selamat datang di perusahaan BOF, bekerjalah dengan baik" ucap Bram sinis.


Bram tersenyum dan akhirnya mereka saling menandatangani sebuah kontrak di atas kertas kuat dengan hukum. Harun meninggalkan Bram yang tersenyum sinis menatap kepergian Harun.

__ADS_1


"Perlahan, aku akan membuatmu merangkak di bawah kakiku" ucap Bram


...***...


DI tempat lain, di kediaman Adiguna.


Adiguna menghancurkan semua benda yang berada di ruangan tersebut dengan tongkatnya. Sabrina yang mendengar itu berlari kedalam ruangan dan berusaha menenangkan ayahnya. Adiguna kehabisan cara untuk menstabilkan perusahaannya. Bisa di pastikan bahwa setelah hari itu perusahaan yang menjadi kebanggaannya akan tertutup dan bagaimana dengan nasib para karywaannya.


Bram sudah memikirkan hal tersebut sebelum membuat perusahaan itu bangkrut. Bram meminta Rey untuk merekrut mereka semua kedalam perusahaan Yudistira di beberapa tempat.


"Pa, sudah pa.. tenang. Ingat kesehatan Papa"


"Bagaimana Papa bisa tenang, kita sudah tidak memliki apapun di sini Rin" ucap Adiguna Frustasi


Tiba-tiba ruangan tersebut di ketuk oleh sekretaris Adiguna, dia memasuki dan membisikkan sesuatu kepada Adiguna hasil investigasinya menacari tahu alasan Bram menghancurkan perusahaannya.


Wajah Adiguna merah padam setelah mengetahui hal tersebut. Sekretaris itupun keluar meninggalkan ruangan karena dia tahu jika tuannya itu akan kembali murka saat memberitahukan hasil investigasinya.


"Ada apa Pa?" tanya Sabrina


Adiguna mendengar itu, tiba-tiba melayangkan sebuah tamparan yang cukup keras ke wajah Sabrina. Sabrina terhuyung mendapatkan tamparan dari orang yang selama ini menyayanginya dan tidak pernah sedikit pun berlaku kasar kepadanya.


"Papa......" ucap Sabrina meringis dengan air mata yang telah berjatuhan


"Aku tidak menyangka memeliahara anak yang tidak punya otak sepertimu, mungkin salahku karena terlalu memanjakanmu. Ternyata yang membuat perusahaan yang aku besarkan selama ini justru di hancurkan oleh ketololan anakku sendiri" teriak Adiguna


"Apa maksud papa?"


"Kau telah menyinggung Bram. Sudah aku katakan, gunakan otakmu untuk mendekati dia. Bram bebeda dari penguasa lainnya yang gila akan wanita. Bodoh!".


Hati Sabrina sakit mendengar ucapan ayahnya. Bagaimana bisa Adiguna menyalahkan dia sepenuhnya sedangkan dia yang selalu mendorong Sabrina untuk melakukan hal yang memalukan, di tambah ucapan Adiguna yang lebih memihak kepada perusahaannya di banding anak sendiri.

__ADS_1


"Sudahlah, sekarang kemasi barang-barangmu. Kau lebih baik tinggal di rumah bibimu di Jerman agar otakmu sedikit lebih bisa bekerja dengan baik" jelas tuan Adiguna


Sabrina yang mendengar itu tidak terima tapi Adiguna masih mendominasi dan akhirnya membuat Sabrina tidak memiliki pilihan lain.


__ADS_2