
Setelah mengucapkan itu Adiguna meninggalkan ruangan Harun dan membuat Harun tidak bisa menahan emosi lagi, akhirnya dia melampiaskannya dengan menedang keras pintu kantornya, kemudian melangkah dengan cepat keruangan rapat.
"Arghhh siall," teriak Harun
Farah yang melihat itupun hanya terdiam dan sudah membaca banyak mantra kematian di dalam hatinya. Harun berjalan dengan langkah cepat memasuki sebuah ruangan. Di dalam ruangan tersebut juga teradapat beberapa pemegang saham terbesar di perusahaannya sedang menunggu kedatangan Harun.
"Maaf membuat Tuan-tuan sekalian menunggu" ucap Harun ramah
"Tidak masalah tuan Harun," ucap salah satu yang tengah duduk berada tidak jauh dengan Harun
"Apa yang membuat tuan sekalian melakukan meeting dadakan hari ini?"
"Hmm, aku ingin bertanya sesuatu" tanya salah satu yang berada di Hadapan Harun saat itu.
"KIta semua telah mengetahui bahwa anda adalah mertua tuan Bram Yudistira dan itu membuat kami sangat bersemangat menjalankan kerja sama ini, tapi apakah anda memiliki masalah dengannya?"
"E-e tidak sama sekali, hubungan kami sangat baik. Dia bahkan mengundangku dalam acara diner malam ini" timpal Harun dengan gugup
"Mungkin saja menantu tuan Harun ingin memberikan perusahaan yang lebih besar atau asupan dana yang cukup" timpal pemegang saham lainnya yang tengah duduk di hadapan mereka.
Para pemegang saham berceloteh dengan memberi tanggapan yang baik atas hubungan Harun dan Bram, membuat Harun bingung apa yang sebenarnya terjadi. Harun tiba-tiba mengambil alih perhatian para pemegang saham dan kembali bertanya, apa yang mereka maksud.
"Hari ini, kami dengan berat hati mencabut semua kerja sama yang telah kita lakukan"
"Iya, Tuan Harun saya pun akan melakukan itu"
Timpal beberapa pemilik saham yang membuat Harun shocked dengan pemberitahuan mereka. Harun telah membayangkan jika mereka membatalkan projek kerja samanya selama ini, saham mereka di tarik, bisa di pastikan bahwa perusahaan BOF yang sudah cukup besar dan ternama harus segera di tutup.
"Apa alasannya?" tanya Harun yang masih berusaha mengontrol diri
"Kami di tawarkan proyek yang keuntungannya dua kali lipat di banding perusahaan ini, oleh menantu tuan Harun. Kami pikir untuk menolak tapi tujuan bisnis yang sebenarnya adalah kesempatan dan keuntungan"
__ADS_1
"Oh HA HA HA, menantuku itu memang sangat lihai dalam urusan bisnis" balas Harun yang masih berusaha mengontrol diri di hadapan para lawan bisnisnya padahal Harun sudah ingin menghancurkan semua yang ada di hadapannya.
Salah satu pemegang saham menjelaskan. Karena dari itu, mereka menerima tawaran Bram dan meninggalkan projek kerja sama dengan BOF yang saat itu di pimpin oleh Harun yang selama ini tidak memiliki kemajuan, mereka juga yakin bahwa BOF akan bertahan karena ia sudah memiliki penopang yang luar biasa.
"Tidak mugnkin menantu Tuan ingin menghancurkan tuan, kecuali...." ucap salah satu pemegang saham yang ucapannya segera di potong oleh Harun
"Ha ha ha tentu, dia bukan hanya menantu tapi sudah ku anggap sebagai anak kandung" ucap Harun dengan cepat
"Bagaimana dengan pemberitaan di TV tentang ada yang berada dalam peresmian membuat masalah dengannya?"
"Oh itu wajar, keluarga akan selalu seperti itu" kilah Harun menutup pembicaraaan mereka.
Para pemegang saham menutup diskusi mereka dengan berjabat tangan kepada tuan Harun memberi selamat sekali lagi, mereka beranggapan bahwa Harun akan memiliki sebuah perusahaan yang lebih besar di banding bOF karena memiliki seorang menantu penguasa nomor satu di Negaranya.
Harun dengan hati yang panas benar menghancurkan ruangan tersebut, Sekretaris Farah yang sudah menduga hal itu, ikut meninggalkan ruangan saat para pemilik saham juga meninggalkan ruang meeting.
"Awas kau Bram" ucap Harun yang merasa harga dirinya tercabik-cabik oleh Bram.
Harun melangkah keluar dengan wajah suram di tambah setelan baju yang sudah tidak rapi lagi. Dia meninggalkan bangunan tersebut dan pergi menemui Naya yang sudah berada dalam istana.
"Maaf tuan, anda dilarang masuk" ucap penjaga gerbang
"Aku adalah merta tuan kalian, cept buka pintunya, aku ingin bertemu anakku"
"Maaf tuan, kami hanya menjalankan tugas"
"Cepat tefon tuan dan Nyonya kalian bahwa aku datnag berkunjung"
"Maaf tuan, kami tidak memiliki kekuasaan sebesar itu, kami di perintah untuk tidak menerima tamu yang tidak memiliki janji dengan tuan Bram" ucap kepala pengaman
Harun mengusap wajahnya kasar, kemudian memasuki mobil dan menuju perusahaan Yudistira. Tidak ada jalan lain untuk mempertahankan perusahaan BOF, karena bagi Harun perusahaan tersebut memiliki banyak pemasokan dana di banding perusahaannya yang lain.
__ADS_1
Perusahaan Yudisitra....
Sama dengan yang dia alami Adiguna, dia tidak bisa mengakses jalan untuk para VIP, dia akhirny ikut menggunakan lift umum di lobi perusahaan. Tempat para karyawan memasuki perusahaan tersebut, tapi sebelum itu Harun melalui banyak kesulitan oleh para pengawal Bram, memeriksa Harun dan membuat Harun menunggu untuk menemui seorang atasan.
"Kau pikir aku pampok? HA?! Jangan sentuh jasku, kalian tidak pantas" teriak Harun kepada para penjaga
Sedangkan tidak jauh dari mereka seorang penjaga yang lainnya terlihat sedang berinteraksi dengan seseorang melalui telpon genggamnya. Beberapa menit kemudian, dia berjalan dan mendekati Harun,
"Silahkan tuan, ke lantai 25. Di sana akan ada Tuan Rey yang mengawal anda menemui Tuan Bram di lantai 65" ucap Pengawal tersebut
"Kenapa harus seperti itu, aku hanya ingin lansung bertemu dengan Bram."
"Maaf tuan, hanya seperti itu solusinya"
Mau tidak mau, Harun melakukan perintah tersebut. Dia menuju lantai 25 dan bertanya kepada beberapa staff tentang keberadaan Rey. Mereka semua memberi jawaban yang sama bahwa Rey sedang meeting dengan semua manager bagian.
"Jadi maksud kalian, aku harus menunggunya?"
"Iya Tuan"
"Bagaimana bisa aku berurusan dengan manusia-manusia sampah ini. AKu Harun Wicaksana pantang untuk memohon" gumam nya
Tiga puluh menit, Harun masih menunggu kedatangan Rey dengan hati yang memanas, seumur hidup Harun tidak pernah melakukan itu. Tiba-tiba Rey muncul dengan dua orang pengawal, berajalan melewati Harun.
Harun yang liat itupun berlari dan memegang lengan Rey,
"Hey tunggu, kau tidak punya sopan santun ya? aku Harun Wicaksana mertua atasanmu, berikan penghormatanmu sekarang juga" ucap Harun geram
"Penghormatan bisa di berikan jika orang tersebut sudah mati'ucap Rey dingin
Harun mendengar itupun akhirnya menghentikan ucapannya dan mengambil langkah mundur.
__ADS_1
"Sekarang, aku ingin menemui Bram"
"IKut aku"ucap Rey singkat